Selasa, 21 Oktober 2025

Menumbuhkan Suara, Imajinasi, dan Cinta Buku: Catatan dari Bimbingan Teknis Membaca Nyaring di Bondowoso


Ada yang istimewa di bulan Oktober ini bagi dunia literasi Bondowoso. Selama sepekan penuh, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso menggelar Bimbingan Teknis Membaca Nyaring (Reading Aloud) — sebuah kegiatan yang bukan hanya mengajarkan cara membaca, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk mencintai buku dan berbagi cerita. Kegiatan ini dibagi menjadi tiga gelombang dengan total 150 peserta dari berbagai kalangan.

Gelombang pertama (13–14 Oktober 2025) diikuti oleh para ibu rumah tangga yang tergabung dalam anggota PKK dari 5 kecamatan, yakni Kecamatan Kota, Curahdami, Tegalampel, Tenggarang, dan Grujugan

Gelombang kedua (15–16 Oktober 2025) diikuti oleh guru PAUD dan TK Kabupaten Bondowoso.

Gelombang ketiga (17 dan 20 Oktober 2025) melibatkan pegiat literasi dari berbagai taman baca, komunitas, dan lembaga pendidikan.

Belajar dari Para Narasumber Inspiratif

Pada kegiatan ini, dua narasumber utama hadir membawakan materi yang begitu bernas dan menggugah. 

Materi pertama berjudul “Memasyarakatkan Literasi untuk Membangun Negeri” disampaikan oleh Ibu Evy Yulistiowati Pramono, S.Pd. Beliau adalah fasilitator Parenting dari Save the Children Indonesia, guru Bimbingan Konseling, Instruktur Nasional Bimbingan Konseling, sekaligus pengelola PAUD dan TK Anak Sholeh Bondowoso.

Dalam paparannya, Ibu Evy mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kecakapan hidup — bekal untuk berpikir kritis, bijak menggunakan informasi, dan menjadi manusia yang berdaya. Beliau juga membagikan tips-tips sejahtera dengan literasi, membangun kebiasaan membaca dalam keluarga, dan bagaimana menumbuhkan anak-anak yang cinta ilmu.

Materi kedua, “Reading Aloud (Membaca Nyaring)”, dibawakan oleh Ibu Ludfi Dian Wahyuni G., S.Pd., M.Pd. Seorang pegiat literasi, guru TK, pencipta lagu anak, penulis buku cerita anak, sekaligus praktisi pendidikan yang sangat berpengalaman. Dengan gaya ceria dan interaktif, Ibu Dian mengajak peserta mempraktikkan langsung membaca nyaring — bagaimana memainkan intonasi, logat, tempo, dan karakter suara saat bercerita. Suasana pelatihan berubah menjadi penuh tawa, antusiasme, dan energi positif.

Transparansi dan Komitmen: Literasi dari Dana ke Aksi

Menurut Ibu Nuriya Ima Shinta, S.T., M.T., atau yang akrab disapa Ibu Ita, selaku Kepala Bidang Perpustakaan, kegiatan ini didanai melalui DAK Non Fisik.
Beliau menegaskan bahwa seluruh penggunaan dana dilaksanakan secara transparan dan terbuka, dan yang lebih penting, kegiatan ini memiliki dampak nyata bagi penguatan gerakan literasi di Bondowoso.

“Ibu-ibu PKK, guru PAUD, TK, dan pegiat literasi adalah ujung tombak dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat,” ujar beliau.
“Dengan membaca nyaring, anak-anak bisa tumbuh dengan imajinasi yang lebih luas, dan para pendidik bisa menjadi fasilitator yang inspiratif. Ini juga bagian dari dukungan terhadap Perda Gerakan Literasi Daerah (GELIDA), agar literasi benar-benar hidup sampai ke akar rumput.”

Sambutan dan Harapan untuk Gerakan Literasi Daerah

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bondowoso, Ibu Nunung Setianingsih, M.M., menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan ini. Beliau berharap agar hasil bimtek tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi bisa diterapkan di sekolah, taman baca, dan komunitas masing-masing.

“Semoga kegiatan seperti ini menjadi bagian dari gerakan literasi yang berkelanjutan, mendukung Perda Literasi, dan menguatkan Bondowoso sebagai daerah yang cakap literasi.”


Refleksi Pribadi: Small is Beautiful

Sebagai salah satu pegiat literasi dan pendongeng dari TBM Sakola Pekarangan sekaligus pendiri Pekarangan Institute, saya merasa kegiatan ini seperti menanam benih di taman pengetahuan. Setiap peserta membawa pulang semangat baru, dan saya percaya dari ruang-ruang kecil inilah perubahan besar berawal.

Saya sering menyebutnya, “Small is Beautiful.” Dari membaca satu buku bersama anak, dari satu dongeng yang dibacakan dengan cinta, dari satu guru yang berani mencoba membaca nyaring di kelas — semua itu bisa menumbuhkan gelombang literasi yang indah.

Semoga ke depan, kegiatan seperti ini terus berkembang menjadi Festival Literasi, Talkshow Buku, dan pelatihan relawan literasi, melibatkan orang tua, guru,ustadz, aktivis, dan tentu saja anak-anak Bondowoso. 
Karena literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi tentang menyemai harapan dan menumbuhkan manusia yang berdaya.

____

Salam Literasi, 
Holidi
Pegiat Literasi | Pendongeng | Pendiri Pekarangan Institute
Bondowoso, Oktober 2025


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih Telah berkunjung ke blog saya.
Semoga anda Sehat Selalu.

Salam Hangat,

Mas Holidi