Belajar Bercerita Bersama Kak Bimo: Ketika Waktu Menemukan Jodohnya
“Waktu itu ada jodohnya.”
Mungkin ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan perjumpaan saya dengan seorang maestro dongeng yang selama ini hanya saya kenal melalui cerita, video, dan karya-karyanya. Tepat pada 19 September 2026, akhirnya saya berjumpa langsung dengan Kak Bimo, seorang trainer, motivator, dan dikenal luas sebagai master dongeng nasional. Bagi sebagian orang, perjumpaan itu mungkin hanya sebuah pertemuan biasa dalam sebuah pelatihan. Tetapi bagi saya, ada cerita panjang di baliknya.
Saya memang sengaja datang. Saya mengikuti pelatihan bercerita bersama Kak Bimo yang diinisiasi oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Cabang Bondowoso bersama IGTKI Bondowoso. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas guru TK, SD, RA, MI, PAUD, dan para pendidik lainnya. Di antara ratusan peserta itu, mungkin saya termasuk salah satu yang agak “berbeda”.
Saya bukan guru resmi.Setidaknya bukan guru yang setiap pagi memakai seragam, masuk kelas dengan daftar hadir, kemudian pulang setelah bel berbunyi. Saya mengajar secara lepas. Di mana ada ruang, di situ saya bisa belajar dan mengajar. Saya memiliki sebuah ruang belajar sederhana bernama Sakola Pekarangan. Sebuah ruang belajar nonformal yang saya bayangkan sebagai tempat siapa saja boleh menjadi guru dan siapa saja boleh menjadi murid. Karena bagi saya, belajar tidak selalu harus menunggu ruang kelas. dan guru tidak selalu harus berdiri di depan papan tulis.
Beruntung Bisa Duduk di Tengah Para Guru
Terus terang, saya merasa sangat terhormat berada di tengah ratusan guru yang hadir dalam pelatihan tersebut.Saya melihat para pendidik yang setiap hari berhadapan dengan anak-anak.Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga ikut membentuk karakter, imajinasi, keberanian, dan cara anak memandang dunia. Saya datang sebagai pembelajar.Dan mungkin justru karena itulah saya bisa duduk dengan tenang, mendengarkan, mencatat, dan menikmati setiap materi.
Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebab sebenarnya saya sudah cukup lama menantikan perjumpaan dengan Kak Bimo. Bahkan pernah terlintas dalam pikiran saya untuk datang ke Yogyakarta hanya untuk bisa bertemu dan belajar langsung kepada beliau. Tetapi ternyata waktu memang punya jodohnya. Saya tidak perlu pergi jauh ke Yogyakarta. Kak Bimo justru datang ke Bondowoso. Dan saya dipertemukan dengannya dalam sebuah ruang pelatihan.
Ilmunya “Daging” Semua
Ada satu kesan yang paling kuat saya rasakan setelah mengikuti pelatihan kemarin:Ilmunya daging semua. Bukan sekadar teori. Bukan sekadar motivasi. Bukan pula pelatihan yang membuat peserta duduk, mendengarkan, kemudian pulang membawa sertifikat. Sejak materi dimulai sampai praktik berlangsung, peserta seperti tidak ingin beranjak dari tempat duduk. Ada yang tertawa, Ada yang mencoba, Ada yang salah, Ada yang malu, Ada yang kemudian berani tampil.Dan di situlah saya merasakan bahwa bercerita ternyata bukan sekadar membuka mulut dan mengucapkan kalimat.
Bercerita adalah seni.
Ada teknik.
Ada penghayatan.
Ada ekspresi.
Ada suara.
Ada gerak tubuh.
Ada ritme.
Dan yang paling penting, ada kemampuan untuk membawa orang lain masuk ke dalam cerita.
Cerita, Dongeng, dan Kisah Ternyata Berbeda
Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah ketika Kak Bimo mengajak peserta memahami perbedaan antara cerita, dongeng, dan kisah. Selama ini mungkin kita sering menggunakan ketiga istilah tersebut secara bergaantian, cerita merupakan rangkain peristiwa yang disampaikan secara utuh, sementara dongeng adalah karangan fiktif yang tidak benar-benar terjadi didunia nyata sementara kisah adalah cerita atau kejadian yang benar-benar terjadi baik pengalaman hidup atau sebuah peristiwa,
Saya kemudian berpikir: Ternyata selama ini saya banyak bercerita, tetapi belum tentu memahami hakikat bercerita. Ini seperti seseorang yang setiap hari memasak, tetapi belum tentu memahami ilmu memasak.Bisa memasak, tetapi belum tentu tahu mengapa sebuah bumbu harus dimasukkan lebih dahulu dan bumbu lainnya belakangan.Begitu pula dengan bercerita.Kita bisa bercerita.Tetapi untuk membuat orang lain tertarik, terlibat, tertawa, terharu, bahkan mengingat cerita, ternyata ada ilmunya.
Membongkar Dunia Dongeng
Materi berikutnya yang membuat saya semakin tertarik adalah ketika dongeng diurai menjadi beberapa jenis.
Kami belajar tentang:
1. Mitos
Cerita yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan atau berkaitan dengan asal-usul tertentu.
2. Legenda
Cerita yang berkembang di masyarakat dan biasanya dikaitkan dengan asal-usul suatu tempat, tokoh, atau peristiwa.
3. Hikayat
Cerita tradisional yang banyak berkembang dalam khazanah sastra lama dan sering berkaitan dengan kehidupan raja, kepahlawanan, atau tokoh luar biasa.
4. Fabel
Cerita yang menggunakan tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia dan biasanya membawa pesan moral.
5. Sage
Cerita yang berkaitan dengan kepahlawanan atau tokoh sejarah yang berkembang dalam tradisi masyarakat dan kemudian diwariskan sebagai cerita.
6. Epos
Cerita panjang yang mengangkat kepahlawanan, perjuangan, atau perjalanan besar seorang tokoh.
7. Parabel
Cerita yang menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan pesan atau nilai tertentu.
Ternyata dunia dongeng begitu luas, selama ini saya mengira dongeng hanyalah cerita untuk anak-anak sebelum tidur, ternyata tidak sesederhana itu. Dongeng adalah bagian dari kebudayaan manusia.
Ia membawa ingatan.
Ia membawa nilai.
Ia membawa pesan.
Bahkan bisa menjadi cara sebuah masyarakat mewariskan pandangan hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Ketika Tubuh Ikut Bercerita
Hal lain yang membuat saya semakin menikmati pelatihan tersebut adalah materi praktik.Kak Bimo tidak hanya menjelaskan bagaimana menyusun atau membawakan cerita. Kami juga diajak mempraktikkan gestur atau olah gerak dan olah suara. Di sinilah saya baru benar-benar merasakan bahwa seorang pendongeng ternyata bekerja dengan seluruh tubuhnya.Tangan bisa berbicara.Mata bisa berbicara.Wajah bisa berbicara.Cara berdiri bisa berbicara. Bahkan diam pun bisa menjadi bagian dari cerita.Kemudian suara.Suara bukan hanya soal keras atau pelan.
Ada tekanan.
Ada tempo.
Ada jeda.
Ada karakter.
Ada perubahan suasana.
Suara seorang raksasa tentu tidak harus sama dengan suara seekor anak kecil.
Suara tokoh yang sedang marah tentu berbeda dengan tokoh yang sedang ketakutan.
Dan seorang pendongeng harus mampu membawa semua karakter itu hidup di hadapan penonton.
Saya jadi teringat:
Ternyata ketika bercerita, kita bukan hanya menyampaikan kata-kata. Kita menghidupkan kata-kata.
Saya Bukan Guru, Tetapi Saya Ingin Terus Belajar
Ada satu hal yang saya rasakan kuat dalam pelatihan itu.Saya mungkin bukan guru resmi.
Tetapi saya selalu ingin belajar menjadi manusia yang bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.
Sakola Pekarangan yang saya jalankan juga lahir dari semangat itu.
Saya percaya bahwa pendidikan tidak harus selalu berada di gedung sekolah.
Belajar bisa berlangsung di halaman.
Di kebun.
Di teras rumah.
Di bawah pohon.
Di warung.
Di ruang komunitas.
Bahkan di tempat-tempat yang tidak pernah kita sebut sebagai sekolah.
Dan bercerita adalah salah satu cara paling sederhana untuk membuka pintu belajar.
Sebuah cerita bisa membuat anak bertanya.
Pertanyaan membuat anak berpikir.
Berpikir membuat anak ingin tahu.
Dan rasa ingin tahu adalah salah satu pintu menuju pengetahuan.
Pertemuan yang Sudah Lama Ditunggu
Ketika pelatihan selesai, saya semakin menyadari bahwa pertemuan dengan Kak Bimo bukan sekadar pertemuan antara seorang peserta dan trainer.
Bagi saya, ini adalah pertemuan dengan sebuah penantian.
Ada banyak hal yang ingin saya pelajari.
Ada banyak hal yang selama ini hanya saya bayangkan.
Dan akhirnya kesempatan itu datang.
Bukan di Yogyakarta.
Bukan di tempat yang jauh.
Tetapi di Bondowoso.
Di sebuah ruang yang dipenuhi para guru.
Di sana saya duduk sebagai pembelajar.
Mendengarkan.
Mencatat.
Tertawa.
Berlatih.
Dan sesekali merasa malu ketika harus mempraktikkan gerakan atau suara.
Tetapi justru di situlah belajar terasa hidup.
Terima Kasih Kak Bimo
Saya berterima kasih kepada Kak Bimo atas ilmu yang dibagikan.
Bukan hanya karena saya akhirnya bisa bertemu dengan sosok yang selama ini ingin saya temui.
Tetapi karena pertemuan tersebut kembali mengingatkan saya bahwa menjadi pembelajar tidak mengenal usia dan status.
Saya datang bukan sebagai guru.
Saya datang sebagai murid.
Dan ternyata menjadi murid adalah sesuatu yang menyenangkan.
Saya juga berterima kasih kepada YDSF Cabang Bondowoso dan IGTKI Bondowoso yang telah menghadirkan ruang belajar tersebut.
Saya merasa beruntung bisa berada di tengah para guru hebat.
Saya belajar dari Kak Bimo.
Tetapi saya juga belajar dari para peserta.
Tentang kesungguhan.
Tentang keberanian.
Tentang bagaimana seorang guru terus belajar meskipun setiap hari dirinya sendiri menjadi tempat orang lain belajar.
Waktu Memang Ada Jodohnya
Mungkin benar.
Waktu memang ada jodohnya.
Ada orang yang kita tunggu bertahun-tahun, tetapi baru bisa bertemu ketika waktunya tiba.
Ada ilmu yang ingin kita pelajari, tetapi baru datang ketika kita benar-benar siap menerimanya.
Ada pertemuan yang kita rencanakan, tetapi Tuhan mempertemukannya melalui jalan yang tidak pernah kita duga.
Saya pernah ingin pergi ke Yogyakarta untuk bertemu Kak Bimo.
Ternyata tidak perlu.
Kak Bimo datang ke Bondowoso.
Dan saya datang sebagai peserta pelatihan.
Sederhana.
Tetapi berkesan.
Mungkin beginilah cara waktu menemukan jodohnya.
Bukan selalu seperti yang kita rencanakan.
Tetapi seperti yang akhirnya terjadi.
Pulang Membawa Cerita
Saya pulang dari pelatihan itu bukan hanya membawa sertifikat.
Saya membawa sesuatu yang jauh lebih penting:
semangat untuk terus bercerita.
Saya ingin membawa ilmu itu ke ruang-ruang kecil tempat saya mengajar.
Ke Sakola Pekarangan.
Ke anak-anak.
Ke masyarakat.
Ke siapa pun yang mau belajar.
Sebab mungkin suatu hari nanti, dari sebuah cerita sederhana yang kita sampaikan kepada seorang anak, lahir sebuah keberanian.
Dari sebuah dongeng, lahir imajinasi.
Dari sebuah kisah, lahir karakter.
Dan dari seorang pendongeng, lahir generasi yang mencintai cerita dan pengetahuan.
Kak Bimo mungkin telah bertemu dengan ratusan peserta pada hari itu.
Tetapi bagi saya, pertemuan itu akan saya simpan sebagai salah satu cerita penting dalam perjalanan belajar.
Sebuah cerita tentang guru dan murid.
Tentang dongeng dan kehidupan.
Tentang penantian dan pertemuan.
Dan tentu saja...
tentang waktu yang akhirnya menemukan jodohnya.
19 September 2026.
Hari ketika saya akhirnya bisa berkata:
“Saya pernah belajar bercerita langsung bersama Kak Bimo.”
Dan sekarang...
saatnya saya membawa cerita itu pulang.


