Tampilkan postingan dengan label Pekata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pekata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2020

Berjumpa Pemilik Hati Samudra, Mbah MH Ainun Najib ( Cak Nun)

5:57:00 AM 0


Foto Bersama Mbah Nun 

Alhamdulillah, itulah ucapan yang kerap disampaikan ketika merasakan kebahagian sebagai rasa syukur, atas nikmat Allah SWT yang telah melimpahkan segala bentuk nikmatNYA. Begitupun saya, kemarin ketika berjumpa dengan salah satu Tokoh Panutan yang selalu mengingatkan anak cucunya ini dengan senyuman, pelukan , bahkan guyonan. Bangsa ini sangat beruntung memiliki manusia seperti beliau yang setiap hari sibuk dengan tangisan anak cucu bangsanya. Setiap hari pindah lokasi, kadang di Jawa kadang diluar Jawa juga bahkan jadwalnya hampir penuh setiap bulannya, tetapi Yogyakarta menjadi pilihan beliau untuk menjadi lokasi perenungan mbah bersama anak cucunya. Tepatnya di kota Sleman, beliau bersama uti kami dan dulur-dulur kiaikanjeng selalu bersamanya.
                Saya bersyukur dapat berjumpa dengan keadaan beliau sehat wal afiat, mengingat salah satu nadzar saya menjumpai atau sowan para tokoh-tokoh bangsa, terutama Tokoh Nahdlatul Ulama setelah dinyatakan lulus dari kuliah yang cukup panjang ini. Alhamduillah, kemarin dapat berjumpa Mbah Nun dalam pelaksanaan  Festival Sains dan Budaya 2020  di komplek Kharisma Bangsa School tempat digelarnya acara Kompetisi tahunan bergengsi yakni Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia ( OSEBI). Berjumpa mbah Nun merupakan ketidak sengajaan yang harus disengaja untuk berjumpa dengan beliau,  sebagaimana disetiap maiyah acara sinau bareng biasanya bersalaman dengan beliau adalah moment sangat sulit, karena pengawalan ketat dari panitia.
Berjumpa langsung dengan beliau merupakan suatu moment yang tidak bisa dilupakan dan harapan semua sedulur maiyah disegala penjuru dunia, begitu juga saya yang masih amatiran jadi jamaah maiyahan menjadi moment spesial banget dalam perjalanan kelana selama di Jakarta. Kemarin penuh drama untuk ketemu beliau, karena tidak disengaja bahkan seperti mimpi ketemu beliau. Jadi, kemarin hari Ahad 23 Januari 2020, sekitar jam sebelas siang nyonya saya dihubungi kakak kelasnya yang kebetulan guru di Kharisma Bangsa School (KBS), dia bilang kalau acara itu dihadiri oleh Mbah Nun, tetapi temen nyonya biasa saja. Mendengar itu sayapun segera mandi, bersih diri dan tibalah sekitar jam 12 an saya berangkat ke lokasi acara FSB 2020 tersebut. Tanpa diduga, ada kabar  hampir sampai lokasi, kakak kelasnya nyonya bilang kalau acara udah hampir kelar, jadi agak lemes tubuh ini tetapi saya masih berusaha kesana, bagaimanpun yang penting bisa ketemu mbah Nun dan salaman dengan beliau. Syukur Alhamdulillah, acara sedikit diperpanjang dan masih menyempatkan diri melihat  persembahan medali Emas Bagi para pemenang FSB 2020. Mbah Nun menyampaikan orasi penutupan FSB 2020 tersebut, dengan banyak wejangan yang diberikan kepada adek-adek hebat dari seluruh Indonesia ini, yang nantinya mewakili Indonesia di olimpiade Internasional.
Foto Booth FSN 2020 

                Tidak hanya sampai disana, selepas acara saya coba lihat mbah Nun turun panggung dari sebelah mana. Beliau turun dari sebelah kiri panggung, saya pun menuju pintu keluar acara, ternyata beliau tidak lewat jalan itu. Lalu sayapun menuju pintu masuk utama sekolah tersebut, bertanya kepada satpam, kendaraan yang membawa mbah Nun yang mana, ternayata masih berada diparkiran dengan Nopol Bogor (F ), selang beberapa menit ada juga salah satu guru pendamping lomba puisi ingin menemui mbah Nun juga, untuk bertanya Puisi yang dibawakan anak didiknya dibuat tahun berapa. Saya bersama mas Opic nama guru tersebut, menunggu hingga kurang lebih jam setengah dua, tetapi mbah Nun belum juga tampak keluar dari sekolah tersebut, dan kita tunggu di depan mobil yang dimaksud, karena sangat mepet dengan waktu sholat dhuhur, secara gentian sholat di Mushollah, sampai mas Opic selesai sholat, beliau belum juga meninggalkan lokasi acara. Akhirnya saya sholat dhuhur dulu, sekitar 10 menitan, dan ketika keluar selesai sholat terasa surprise banget, ternyata mbah Nun udah berada dipintu keluar sekolah dengan banyak Guru dan tentunya mas-mas yang tadi ikutan foto bersama beliau. Tanpa pikir panjang, saya langsung salim ke beliau, ternyata ada momen lainnya yang mebuat saya tidak bisa ngomong, ketika saya ingin memeluk beliau dan beliau memegang kedua pundak saya, menatap mata saya dan tanpa mengatakan apa-apa beliau seperti menyasehati. Luas banget hati beliau,  dengan sibuknya yang luar biasa, masih bisa memanusiakan cucunya yang penuh amarah, dan dosa ini. Dengan Niatan, tadinya selain salaman dan meminta nasehat “pernikahan “ bagi kami berdua, dengan kejadian luar bisa tersebut saya tidak bisa berbicara apa-apa, hanya bersalaman dan berfoto dengan beliau sebagai catatan momen bersama beliau.
“Segala pertemuan itu adalah percintaan_Cak Nun”
                Ini merupakan moment luar biasa bagi saya, moment sangat langka berjumpa dengan beliau dan salaman langsung dengan beliau bahkan dipeluk, di tepuk pundak saya dua kali oleh beliau. Dengan tatapan beliau yang membuat saya optimis, sekaligus badan gemeter menahan rasa haru yang luar biasa bisa berjumpa dengan beliau. Moment ini juga dirasakan oleh teman dan sahabat saya dengan perasaan “cemburu dan iri “ katanya. Sampai tulisan ini terbit, telah ada 3 sahabat dan teman yang bilang seperti itu. Insyallah dilain waktu kalian bisa berjumpa beliau ya, dengan keadaan beliau sehat wal afiat. Terima kasih mbah Nun, telah memberikan optimis kepada kami cucumu ini.

Kamis, 20 Februari 2020

SARJANA TUA : Almamater Tercecer Di Ruang Busuk

11:24:00 PM 0

Wisuda Unej 2020 edit By Canva

Menjadi sarjana dambaan anak-anak desa yang ingin merubah jalan hidupnya lebih baik (katanya), begitupun saya sebagai anak desa yang ingin merubah mindset , perilaku bahkan ekonomi keluarga di masa yang akan datang. Meskipun dulu keinginan menjadi Tentara Nasional Indonesia dengan prestise yang didambakan oleh anak-anak desa dimasa itu,  menginginkan punya tambang dan penguasaan lahan seperti Jendral-jendral di Ibukota sana. Beruntungnya, meskipun tidak menjadi TNI akan tetapi saya memiliki harapan besar menjadi seorang sarjana Sosial lebih tepatnya Sosiolog bidang lingkungan dan bencana, meskipun perjalanan berliku selama perjalanan yang saya lalui selama ini di dunia akademisi.

Tepat pada tanggal 26 Januari 2020, saya dinyatakan lulus dengan wisuda pertama sampai saat ini.  perjalanan berdarah-darah menuju wisuda menjadi kenangan tersendiri selama menempuh strata satu di kampus, dengan lama studi 7 Tahun 3 Bulan 28 hari hampir dua periode penuh menemani rektor saya. Perjalanan ini memang sangat melelahkan tapi menjadi kenangan indah yang mungkin tidak terulang dalam catur kehidupan saya. Almamater yang saya rasakan lusuh saat wisuda menjadi bukti bahwa telah lama tercecer diruang busuk perpolitikan kampus, yang membuat saya merasa bahwa ilmu yang didapat dibangku kuliah itu hanya 30 persen, sisanya mendapatkan di sudut-sudut ruang hampa kehidupan luar kampus dan entitas yang penuh makna di segala  pelosok-pelosok bersamai mereka yang katanya tidak berpendidikan.

Ruang-ruang dikampus mungkin sangatlah menjunjung tinggi akademik dan sering dibilang kalau setiap akademisi itu agent perubahan, nyatanya tidak begitu juga. Kegelisahan yang saya rasakan ketika berada di dalam kampus dan dipisah jarak antara mereka yang butuh akan pendidikan, dibatasi pagar betis akademik dan menjadi kesombongan diri ketika baru menjadi mahasiswa membuat saya menyebutnya ruang busuk yang penuh dengan kehampaan. Seiring berjalannya waktu, saya juga belajar pada masyarakat yang katanya tidak berpendidikan menjadikan almamater itu  tercecer diruang busuk hingga lama.

"Terima Kasih Ruang Entitas, Menjadikan Lebih Bijak Dalam Berpijak" 
Tapi, saya tidak akan terlalu mengutuk ruang-ruang itu, sedikit banyak juga membuat perubahan di hidup saya salah satunya membuat tulisan ini. tetapi saya juga tidak melupakan ucapan terima kasih ruang-ruang entitas yang telah menjadikan lebih bijak dalam berpijak. terima kasih para manusia-manusia yang telah peduli dengan kehidupan manusia lainnya, sehingga membuatku berkaca kepada anda, bahwa bukan hanya gelar yang menjadi kebanggaan akan tetapi kebermanfaatan terhadap manusia lainnya yang menjadi catatan dihadapan pemilik semesta. Selamat di wisuda dan sampai jumpa kehidupan yang penuh ketidakpastian di masa akan datang. Semoga engkau menjalani dengan kemerdekaan!
"Baca Juga; Sarjana Gagal, Gagal Sarjana, atau Pengangguran Bergelar"

Rabu, 23 Oktober 2019

Gus Dur, Aku merindukanmu Gus

7:39:00 PM 0
Sewindu Gus Dur

KH. Abdurahman Wahid yang akrab di panggil Gus Dur,  Merupakan presiden Keempat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Beliau terlahir di Jombang di kalangan keluarga pesantren. Kakeknya merupakan pendiri dari Ormas Islam Nahdlatul Ulama, yang Bergelar Hadrasyatussyeh sementara Gus Dur  di kenal sebagai Guru Bangsa. Mengajarkan toleransi antar umat di muka bumi, Memanusiakan manusia seutuhnya. Gus Dur yang dikenal dan Cintai oleh penghuni alam semesta, dari berbagai golongan, ras , etnis Agama, diantara meraka banyak yang mengenang bahkan mencintai seorang Gus Dur yang sangat toleransi, dan merawat dengan sungguh kemanusiaan dalam diri manusia diatas muka bumi. Di Bumi Papua beliau di Cintai karena memeluk erat saudara kita disana bahkan mengembalikan kepercayaan masyarakat papua kepada pemerintah dan menjadikan hari Raya Imlek sebagai libur Nasional. Menurut Manuel Kaisiepo , yang saya kutip dari nu.or.id, “saya sangat bersyukur memiliki presiden seperti beliau”.
Dalam diri ini terkadang merasa sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa bangsa ini. yang tak pelak berbagai perselisihan antar anak bangsa. Setiap hari dihadapkan dengan cemoohan antar anak bangsa karena perpolitikan yang sangat panas dan buas, bahkan ulama dijelekkan karena urusan politik, bahkan Tuhan pun ditegur oleh CiptaanNya karena alasan politik. Intoleransi juga semakin hari semakin banyak, mengkhawatirkan negeri ini. Apa yang mereka perebutkan sebenarnya. Sementara sarapan pagi cukup makan sepiring sudah kenyang. Haruskah mengorbankan nilai kemanusiaan untuk membangun negeri ini, haruskah hilang kepekaan diri hingga runtuh negeri ini. pertikaian tanpa henti, perpecahan diciptakan dan membuat kekeruhan dalam negeri, dahi mengkerut seakan negeri ini hanya dititipkan pada nenek moyang mereka. Semua dijadikan serba repot, tak seperti dulu semenjak ada engkau, Gus! Dulu engkau mengatakan “gitu aja Kok repot” semua jadi tidak repot gus dan penuh guyu (tawa) diantara kami. Akan tetapi semenjak kau meninggalakan kami kami tidak sering guyu gus, karena melihat peliknya antar anak negeri saling maki.
Yang Lebih Penting dari Politik adalah Kemanusiaan
Mungkin sampai saat ini namamu masih terukir dihati Orang Papua, karena perjuangan kemanusiaan yang kau lakukan, engkau memanusiakan manusia Papua gus. Sekarang kita merindukan itu gus, sajak yang membuat kami bahagia ketika melihat antar anak negeri bergembira,  hari ini kami melaporkan gus, bahwa tanah  papua yang mulai tenang kemarin sempat berdebar kembali gus, kami hanya mendo’akan ning Alysa keluarga besar panjenengan dan seluruh Gusdurian tetap diberi kesehatan merawat negeri ini , Toleransi antar anak bangsa yang engkau ajarkan gus. Kami memang merindukanmu gus, nilai-nilai yang kau ajarkan kami pahami dengan cara kami ngopi santai saat ini gus. “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” yang pernah engkau ucapkan saat ini benar adanya gus. Tetapi saat ini banyak yang lebih mementingkan politik daripada kemanusiaan gus, Bukan politiknya tapi manusianya yang berpolitik tidak memeiliki kesopanan dalam berpolitik gus. Beberapa kejadian bulan yang lalu mengajarkan bahwa kemanusiaan memang lebih penting daripada politik, maka pantaslah kau kami sebut Guru bangsa, karena kau mengajarkan kami kasih sayang tanpa melihat warna kulit, ras, suku dan agama. Tingkah lucu menghadapi politik negeri ini saat engkau masih ada, membuat kami merindukannya gus. Kami rindu tertawa gus dengan perbedaan di negeri ini gus, Gus Dur Aku merindukanmu! 

Jumat, 01 Maret 2019

TERIAKKU

12:30:00 AM 0

Sumber

Jangan mencari dalam sunyi
Karena aku tak berada disana
Jangan mencari di keramaian
Karena aku juga tak berada disana
Tapi, aku berada diantaranya, iya diantara
Aku berada diatas rusuk kananmu,
Bersemayam di dalam qolbu

Teriakku padamu!
Hentikan pertikaian
Hentikan permusuhan
Hentikan olok-olokan
Hentikan! Hentikan ! hentikan!
Tapi, kau tak pernah mendengar
Aku dipenjara  nafsumu
Aku digembok akalmu
hingga kau tak dengar lagi, teriakku.

Bondowoso, 17 November 2018

Rabu, 16 Mei 2018

Pemilik Rahim

1:08:00 PM 2

Pemilik rahim itu menagis
Menangis karena air hina yang pernah singgah di rahimnya
Air hina itupun tumbuh menjadi daging keras
Bahkan sekeras Batuan Karst
Pemilik rahim itu menangis 
Menangis bukan karena kerasnya airhina yang menjelma itu
Tetapi, menagis karena daging yang ia harapkan pernah bersanding dengan daging lembut
Iya, daging lembut yang hampir membusuk itu.
Pemilik rahim itu menangis
Karena, aroma tak sedap dari daging lembut itu
Daging lembut yang selama ini disangka akan menjadi pelembut daging keras yang pernah singgah dirahimnya
Daging lembut itu telah diangkat menjadi darah dagingnya sendiri.
Karena, prasangka baik pemilik rahim yang menangis.
Pemilik rahimpun gelisah
Gelisah daging keras itu tidak seperti dahulu
Tak sepeti karst menghadapi hidupnya
Karst yang dididik oleh kehidupan
Karst yang menjelma dari daging keras itu mulai tangguh karena daging lembut yang hampir membusuk.
Pemilik rahimpun seakan ikut tangguh
Setelah melihat karst yang masih berdirik tegak di tengah kemarau
Kemarau yang melanda tiga tahun lamanya.
Selamat pagi, pemilik rahim

Jember, 13 April 2018

Sabtu, 14 April 2018

PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI

6:54:00 PM 0

PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI


PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI
Garis tak selalu sejajar, ketika makhluk Tuhan sampaikan.
Bahkan bumi dan langitpun ia jauhkan,  agar ia belajar tentang kehidupan.
Begitupun pria bertuhan saat menyampaikan, kepadamu perempuan berpayung pelangi.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Jangan pernah menangis karena Tuhan mendidikmu
Saat makhluk Tuhan  dari jenis sebangsamu menyampaikan kisahnya.
Karena, takkan pernah berhenti menangis  sampai kisah itu berakhir.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Jangan pernah berjanji bertuhan, ketika kau masih dalam pelukan kisah itu.
Karena, janji bertuhan seakan tak jelas bersamamu sampai kau menemukan hakikatnya.
Janji dalam pelukan kisah pilu itu mengajarkan bahwa, Tuhan masih bersama pemilik kisah itu.
Untukmu perempuan berpayung pelangi,
Seakan tiada henti kau mencoba untuk menghiasi bumi dan langit dengan payungmu
Meskipun bumi seakan hancur melihat langit memeluk warna itu.
Kau abadikan Tuhan dalam kisah payungmu, seakan  warna itu menjadi penghias dalam diri makluk Tuhan yang lain.
Akan tetapi, pemilik kisah itu masih dalam didikan Tuhan yang tetap di peluk bumi yang hancur karena warna payungmu.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Malam itu, Tuhan mendidik langsung pemilik kisah yang pernah menjadi warna payungmu.
Tapi, sayang warna itu tak muncul karena di tutupi gelapnya malam.
Hanya cahaya bintang yang menjadi perantara dialog pemilik kisah dengan Tuhannya.
Ia tak memikirkan warna itu kembali, karena Tuhan mendidik pemilik kisah itu.
Pemilik kisah itu dididik dengan mengenalkan Ibrahim dan Musa agar dieja di waktu subuhnya.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Pemilik kisah itu telah berdamai dengan bulan perjuangan, yang kau sebut rembulan di hari rabu.
Bulan perjuangan itu menjadi saksi kekejamanmu dengan dalih bertuhan.
Pemilik kisah itupun menyadari, bumipun tak akan bisa memeluk warna pelangi itu, kecuali langit yang bisa memeluknya.
Untukmu Perempuan berpayung pelangi
Saatnya kau berdamai dengan mimpimu dalam pelukan langit yang kau pancarkan dari warna payungmu.
Pelukan yang kau nisbahkan sebagai kesempurnaan yang di semogakan.
Kesempurnaan yang kau libatkan Tuhan dalam janjimu.
Selamat pagi, perempuan berpayung pelangi.
Semoga selamat dengan janjimu, selamat jalan dengan hantaran curhat Subuh pemilik kisah.
                                                                                               
Jember, 13 April 2018

Sabtu, 10 Maret 2018

Mimpi Yang Tergadaikan

8:33:00 PM 0

 Selamat Malam, salam sejahtera semoga  Tuhan selalu menyertai kita.

                Mimpi menuju masa depan tentu semua orang memiliki. Manusia di muka bumi ini tentu semua memiliki mimpi. Bahkan anak kecilpun ia telah memiliki mimpi di masa depan. Begitupun dengan saya, berangkat dari mimpi yang dulu penuh rintangan meskipun sampai saat ini masih memiliki rintangan.  Mimpi tentunya harus di perjuangkan, mimpi merupakan jelmaan dari cita-cita, yang terkadang di tanyakan waktu kita masih di dalam perut ibu, “nak nanti kamu ingin menjadi apa atau ingin membuat apa” harapan seorang ibu yang mengandung selama beberapa bulan. Setelah kita lahirpun kita telah di do’akan untuk memiliki mimpi yang menjelma menjadi cita-cita. Karena semua orang tua ingin anak-anaknya memiliki mimpi yang lebih dari dia. begitupun orang tua saya. Ingin anaknya memiliki mimpi yang  lebih darinya.
NKRI harga Mati

                Saya masih ingat, waktu kelas satu sekolah Dasar, kebetulan saya tidak masuk TK ataupun PAUD,  saya belajar mengenal profesi itu kelas satu SD. Waktu itu orangtua ingin saya menjadi seorang Dokter, di tulislah oleh ibu di buku saya waktu itu “cita-cita : Dokter ”. tetapi, selang berapa tahun, sayapun berproses menjadi anak-anak yang harus memilih mimpi atau cita-cita dari hati. Waktu itu saya masih ingat, waktu kelas tiga SD sering melihat acara yang waktu itu  tayangan khusus Tentata, kalau tidak salah di salah satu stasiun televisi Swasta, saya paling  senang melihat pengabdian Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas di perbatasan atau teras negeri ini.  waktu itu saya bertekat memiliki mimpi menjadi seorang TNI yang betugas di perbatasan atau teras negeri ini, mengajar anak di perbatasan, berinteraksi dengan masyarakat perbatasan  dan sebagainya dilakukan disana. Waktu terus berproses,  mengejar mimpi itu. bahkan  di salah satu kesempatan saya berjumpa dengan seorang bapak tentara dari kesatuan apa, batalyon apa saya tidak tahu. Saya bertanya cukup banyak tentang tentara kepada beliau, waktu itu di dalam bis antar kota.

Saya : Pak sampeyan dulu sekolahnya selepas SMA kemana pak?
TNI : saya sekolahnya di secaba Jember. saya prajurit tempur di kodam saat ini.
Saya : kalau ingin seperti Panglima Sudirman atau Pangkat Jendral itu dimana sekolahnya pak?
TNI : sekolahnya Di Magelang  Jawa Tengah dek Akademi Militer, tapi seleksi masuknya kesana  sangat ketat dek.

Itu, percakapan yamg masih saya ingat sampai saat ini, tentu masih banyak percakapan yang tidak di ingat oleh saya. Dan hampir setiap kesempatan saya menuliskan dari kels 3 SD sampai SMA masih memiliki mimpi menjadi seorang TNI. Hingga SMA saya di pastikan tidak bisa ikut menjadi Tentara Karena postur Tubuh tidak memungkinkan. Tapi, mimpi itu tidak padam, mekipun semakin hari bertambahlah mimpi –mimpi itu. bukan hanya menjadi seorang TNI lagi, tetapi berproses mimpi untuk masa depan itu semakin menjadi-jadi.  Setelah di pastikan saya tidak bisa mengikuti seleksi menjadi seorang TNI, karena jurusan saya IPS waktu SMA dan Postur Tubuh tidak memungkinkan. Tentu mimpi menjadi seorang TNI masih ada, Karena tertanam mimpi itu sampai saya memutusakan untuk lanjut kuliah karena ajakan teman. Saya masih bermimpi menjadi seorang TNI  karier dari  S1 dan menyusun mimpi-mimpi yang lain, untuk mempersiapkan di masa depan, ketidak pastian yang akan datang. Karena belajar dari mimpi sebelumnya.


                Akan tetapi, saya membiarkan atau bahkan mengubur mimpi yang sangat membuatku bersemangat meraihnya .  saya menguburnya,  Cuma karena tangisan seorang perempuan yang saya anggap ingin menggapai mimpi bersama saat itu. dia tidak mau kalau nantinya jauh dari saya. Dengan perasaan yang sangat berat, saya harus merelakan itu semua bahkan menyusun mimpi yang lain. saya terus berproses menjadi sorang yang terus kritis terhadap keadaan, karena saya menganggap mimpi saya selanjutnya yakni memperhatikan kemakmuran masyarakat dan keberpihakan pada kaum yang tertindas,. Karena itu, asupan bahkan virus yang di tularkan waktu saya di bangku kuliah.
                Saya merangkai mimpi-mimpi kembali, karena telah mengubur mimpi besar saya , saat usia masih di bawah 22 tahun. Karena mimpi itu bisa tercapai maksimal di usia 22 untuk menjadi seorang TNI. Tapi saya merelakan bahkan mengubur sangat dalam. Meskipun awalnya  mimpi saya di tentang oleh orang tua, tetapi setelah saya jelaskan mereka mengiklaskan dan mengijinkan. akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur dan saya menggadaikan mimpi itu.

Dokumentasi Folder Kenangan

                Ketika saya memutuskan untuk mengejar mimpi itu di bangku kuliah. Saya teringat pesan orangtua , “ Nak, cobaannya laki-laki itu perempuan dan cobaannya perempuan itu laki-laki”. Itu pesan yang saya ingat waktu itu tentang kehidupan. Saya tidak begitu mempercayai pesan itu. tetapi, baru saya rasakan waktu saya menggadaikan mimpi saya, demi mimpi seorang yang telah menangis di bahu saya dan saya mencoba mempercayai bahwa mimpi dia adalah mimpi saya. Apapun yang menjadi menjadi mimpi dia, itu adalah mimpi saya juga. Sehingga , saya menggadaikan mimpi saya sendiri. setelah saya flashback mengingat semuanya, ternyata saya terlalu egois pada diri saya yang telah rela menggadaikan mimpi saya sendiri.
 Cukuplah, mimpi ini tergadaikan saat ini. terlalu jauh untuk mengejarnya sudah. Aku iklaskan mungkin ini adalah sebuah pembelajaran kehidupan. Entah mimpi itu datang lambat laun bahkan cepat. Terserah Tuhan. Karena aku percaya, Tuhan saya dengan Tuhan Dia sama. Semoga semua do’a yang baik di amini oleh malaikat-malaikat-NYA.
                Bunga Tidur itu, berubah Mimpi.
                Mimpi yang ku gadaikan, karena ku yakin mimpimu adalah mimpiku, waktu itu.
                Namun, satu per satu mimpi itu tak hanya bunga tidur, akan tetapi, kenyataan.
                Saatnya kau merawat mimpimu, sementara aku masih menggadaikan mimpiku.
                Sebentar, mimpi itu belum berbuah kenyataan semua  ya ?.
                Mungkin mimpiku hanya bunga tidur.
Karena , yang terpaksa ku gadaikan, demi mimpimu.
Rawat mimpimu yang telah menjadi kenyataan.
Aku masih akan memperjuangkan bunga tidurku, yang bersemi menjadi mimpi.
Iya, mimpi!
Mimpi yang masih tergadaikan.
_Halte PB Soedirman Jember, 09 Maret 2018.

Sekian, pembaca yang budiman apabila ada salah kata dan salah ketik mohon dimaafkan. Karena, kebenaran yang hakiki hanya milik Tuhan. Saya Cuma manusia yang berlumur dosa, dosa kepada manusia, semesta dan dosa kepada tuhan.
Mak tak iyeh!
Wassalam

Selasa, 12 Juli 2016

LAMUNAN

10:23:00 AM 0
LAMUNAN
                                                                                                [puisi]
Pagi demi pagi Ku jalani
Hari demi hari kulalui
Hanya lamunan yang menemani
Hanya sendiri menjalani hidup
Dinginnyanya malam selalu menyiksa
Tiupan angin yang selalu menyakitkan
Termenung dalam lamunan
Ku pandang sesaat rembulan
Hanya separuh yang dia tampakkan
Yang setia menemani


                                                                                                              Bondowoso, 25 Agustus 2011

Minggu, 10 Juli 2016

KEINDAHAN ;)

9:37:00 PM 0
KEINDAHAN
[PUISI]
Hidup Ini takkan Selurus garis Vertikal
Hidup ini tak sebening Mutiara
Hidup Ini Takkan seindah langit
Keindahan takkan selalu bersama
                Ada kala Keindahan itu datang
                Ada kala Keindahan itu pergi
                Bersyukurlah kala keindahan datang
                Bersabarlah kala keindahan itu pergi
Karena keindahan takkan selalu bersama
                Kau akan terseyum kala keindahan itu datang
                Kegelisahan akan menyertaimu kala keindahan itu tak lagi bersama
Tetaplah bersyukur walau keindahan tak selalu bersama.


                                                                                                                Bondowoso, 13 April 2011