Senin, 26 Juni 2023

Bondowoso dan Persoalan Sampah: Jangan Semua Berakhir di TPA


Bank Sampah Batu Katak Edit By Canva


Oleh: Holidi

Persoalan sampah tidak pernah bisa dipisahkan dari aktivitas manusia sehari-hari. Di mana manusia hidup, di situ sampah dihasilkan. Persoalannya bukan semata-mata tentang berapa banyak sampah yang kita hasilkan, tetapi bagaimana kita memperlakukannya setelah tidak lagi kita gunakan.

Manusia diberi akal dan kemampuan untuk mengelola kehidupan. Karena itu, seharusnya kecerdasan tersebut juga mendorong kita untuk lebih arif memperlakukan lingkungan. Namun dalam banyak keadaan, hubungan manusia dengan alam justru berubah menjadi hubungan eksploitatif: gunung dikeruk, hutan ditebang, sungai dijadikan tempat pembuangan, sementara pola konsumsi terus meningkat dan menghasilkan sampah dalam jumlah yang semakin besar.

Sampah akhirnya menjadi konsekuensi dari cara kita menjalani kehidupan.

Masalah ini bukan hanya milik kota-kota besar. Kabupaten kecil pun menghadapinya, termasuk Bondowoso.

Di sejumlah tempat, persoalan sampah masih mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tempat penampungan yang penuh, sampah yang meluber, serta sampah yang masuk ke saluran air dan sungai menjadi pemandangan yang seharusnya tidak kita anggap biasa.

Sampah plastik, popok sekali pakai, kemasan makanan, dan berbagai jenis sampah rumah tangga lainnya dapat dengan mudah berpindah dari halaman rumah ke selokan, dari selokan ke sungai, dan akhirnya menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar.

Pertanyaannya kemudian:

Apakah semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir?

Menurut saya, jawabannya adalah tidak.

TPA Bukan Satu-Satunya Jawaban

Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA memang tetap diperlukan. Akan selalu ada residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dan membutuhkan tempat pengelolaan akhir.

Namun, menjadikan TPA sebagai tujuan hampir seluruh sampah bukanlah solusi jangka panjang.

Sampah seharusnya mulai dikelola sejak dari sumbernya.

Rumah tangga harus menjadi titik pertama.

Kemudian lingkungan RT.

Desa atau kelurahan.

Pasar.

Sekolah.

Perkantoran.

Hotel.

Restoran.

Perusahaan.

Semua menghasilkan jenis sampah yang berbeda dan karena itu membutuhkan pola pengelolaan yang berbeda pula.

Jika seluruh sampah dikumpulkan tanpa pemilahan sejak dari sumbernya, beban pengelolaan di tingkat TPS maupun TPA tentu menjadi semakin berat.

Karena itu, saya melihat persoalan sampah Bondowoso bukan hanya persoalan “di mana sampah dibuang?”, tetapi lebih jauh:

“Mengapa sampah harus dibuang seluruhnya?”


Mulai dari Rumah

Saya membayangkan pengelolaan sampah Bondowoso dimulai dari sesuatu yang sederhana: pemilahan di rumah.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan bahan mudah terurai dapat diproses menjadi kompos atau pupuk organik.

Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan dikumpulkan melalui bank sampah.

Sementara sampah residu yang memang tidak dapat dimanfaatkan dapat diarahkan ke sistem pengangkutan dan pengolahan akhir.

Dengan pola seperti itu, sampah yang masuk ke TPS dan TPA dapat dikurangi sejak awal.

Konsepnya sederhana:

Kurangi dari sumbernya.
Pilah sejak rumah.
Olah yang masih bisa dimanfaatkan.
Buang hanya residunya.

Memang, praktiknya tidak semudah menuliskannya.

Dibutuhkan kebiasaan baru.

Dibutuhkan fasilitas.

Dibutuhkan petugas.

Dibutuhkan edukasi.

Dan yang paling penting, dibutuhkan sistem yang membuat masyarakat merasa bahwa memilah sampah bukan pekerjaan sia-sia.


Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah

Salah satu gagasan yang menurut saya layak dipertimbangkan adalah mendorong konsep “Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah.”

Tidak harus selalu berupa fasilitas besar.

Setiap desa dapat memiliki sistem pengelolaan sesuai kemampuan dan karakter wilayahnya.

Misalnya:

Sampah organik → kompos atau pupuk.

Sampah plastik dan anorganik bernilai → bank sampah.

Sampah yang masih dapat digunakan → didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Sampah residu → dikirim ke fasilitas pengolahan akhir.

Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi tempat penghasil sampah, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.

Bank sampah dapat menjadi salah satu instrumennya.

Namun bank sampah jangan berhenti pada kegiatan menimbang dan menjual sampah. Jika memungkinkan, pengelolaannya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi masyarakat: pemilahan, pengolahan, kerajinan, kompos, hingga produk daur ulang.

Dengan begitu, sampah tidak selalu dipandang sebagai beban.

Sebagian dapat berubah menjadi sumber ekonomi.


Sampah Plastik: Jangan Berhenti pada “Dibuang”

Salah satu tantangan terbesar adalah sampah plastik.

Plastik memiliki nilai guna yang tinggi, tetapi sekaligus menjadi persoalan ketika digunakan secara berlebihan dan tidak dikelola dengan benar.

Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif.

Sampah plastik tertentu dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, sepanjang memenuhi standar keamanan dan teknis. Salah satu gagasan yang dapat diteliti lebih lanjut adalah pemanfaatan material plastik tertentu sebagai bagian dari bahan produk konstruksi atau material alternatif.

Tetapi saya kira kita juga harus berhati-hati.

Tidak semua plastik dapat begitu saja dijadikan bahan bangunan. Harus ada kajian teknis mengenai jenis plastik, komposisi, keamanan, ketahanan, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Artinya, prinsipnya bukan:

“Semua sampah plastik harus dibuat menjadi barang.”

Tetapi:

“Sampah yang masih memiliki potensi harus dicari nilai gunanya melalui teknologi yang aman.”

Di sinilah perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dapat bekerja bersama.


Sungai Bukan Tempat Sampah

Ada satu persoalan yang menurut saya harus mendapat perhatian khusus:

sungai.

Sungai bukan tempat pembuangan sampah.

Sesederhana itu.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampah masih dapat ditemukan di sekitar aliran sungai dan sempadannya.

Ketika sampah dibuang ke sungai, persoalannya tidak selesai.

Ia hanya berpindah tempat.

Sampah yang dibuang hari ini mungkin akan menjadi masalah di hilir beberapa hari kemudian.

Plastik dapat menyumbat aliran.

Popok dan sampah rumah tangga mencemari lingkungan.

Sampah organik yang menumpuk dapat menurunkan kualitas lingkungan perairan.

Ketika hujan besar datang, sampah yang menumpuk di saluran air dapat memperbesar persoalan banjir dan pencemaran.

Karena itu, perlu ada kampanye yang konsisten dan sederhana:

“Sungai dan sempadannya bukan tempat sampah.”

Kampanye tersebut jangan hanya dilakukan melalui spanduk.

Harus ada pendidikan.

Harus ada pengawasan.

Harus ada fasilitas pembuangan yang memadai.

Dan ketika aturan sudah dibuat, harus ada penegakan yang konsisten.


Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Pengelolaan sampah bukan pekerjaan satu dinas.

Dinas Lingkungan Hidup tentu memiliki peran penting, tetapi persoalan sampah jauh lebih luas.

Pemerintah desa memiliki peran.

Sekolah memiliki peran.

Dunia usaha memiliki peran.

Pengelola pasar memiliki peran.

Hotel dan restoran memiliki peran.

Komunitas memiliki peran.

Dan masyarakat sebagai penghasil sampah juga memiliki tanggung jawab.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya program pemerintah, melainkan ekosistem pengelolaan sampah.

Pemerintah menyediakan regulasi dan infrastruktur.

Desa mengembangkan sistem pengelolaan di tingkat lokal.

Masyarakat memilah dari rumah.

Bank sampah mengelola sampah bernilai ekonomi.

Pelaku usaha mengurangi penggunaan bahan sekali pakai.

Sekolah mendidik generasi muda.

Perguruan tinggi membantu penelitian dan inovasi.

Komunitas menggerakkan kesadaran publik.

Sementara pemerintah melakukan pengawasan dan memastikan sistem berjalan.


APBD Harus Mendorong Perubahan Sistem

Pengelolaan sampah membutuhkan anggaran.

Tetapi menurut saya, anggaran tidak seharusnya hanya habis untuk mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lain.

Anggaran juga perlu diarahkan pada perubahan sistem.

Misalnya untuk:

  • fasilitas pemilahan sampah;

  • penguatan TPS berbasis pengolahan;

  • bank sampah desa;

  • pengolahan sampah organik;

  • pelatihan pengelola sampah;

  • edukasi masyarakat;

  • pengembangan teknologi daur ulang;

  • penguatan sistem pengangkutan;

  • pemeliharaan fasilitas;

  • serta pengawasan terhadap pembuangan sampah ilegal.

Dengan demikian, APBD tidak sekadar membiayai “sampah yang sudah menjadi masalah”, tetapi juga membiayai upaya agar sampah tidak menjadi masalah sejak awal.


Jangan Hanya Menyalahkan Masyarakat

Saya juga tidak sepakat jika persoalan sampah selalu dikembalikan kepada perilaku masyarakat.

Memang, membuang sampah sembarangan adalah perilaku yang harus diperbaiki.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan sistem.

Sulit meminta orang memilah sampah jika tidak tersedia tempat pemilahan.

Sulit meminta warga mengolah sampah jika tidak ada pendampingan.

Sulit meminta masyarakat menggunakan bank sampah jika sistem pengambilannya tidak berjalan.

Dan sulit meminta orang menjaga sungai jika sungai itu sendiri tidak pernah dibersihkan dan diawasi.

Karena itu, perubahan perilaku dan perubahan sistem harus berjalan bersamaan.

Jangan hanya berkata:

“Masyarakat harus sadar.”

Tetapi pemerintah juga harus bertanya:

“Apakah sistem yang kita bangun sudah memungkinkan masyarakat untuk sadar dan bertindak?”


Bondowoso Bisa Memulai dari Hal Sederhana

Saya tidak sedang membayangkan Bondowoso memiliki teknologi pengolahan sampah paling canggih di Indonesia.

Tidak harus.

Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana.

Satu rumah memilah.

Satu RT mengelola.

Satu desa memiliki bank sampah.

Sekolah memiliki sistem pemilahan.

Pasar mengurangi sampah sekali pakai.

Warung menyediakan pilihan penggunaan ulang.

Hotel mengelola sampah organiknya.

Pemerintah memperbaiki TPS.

Sungai dijaga.

Dan sampah residu benar-benar menjadi bagian terakhir yang dikirim ke TPA.

Jika satu desa berhasil, desa lain dapat belajar.

Jika satu kecamatan berhasil, kecamatan lain dapat meniru.

Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari proyek besar.

Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.


Sampah Adalah Cermin Peradaban

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya persoalan lingkungan.

Sampah adalah cermin bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan ruang hidupnya.

Kita dapat membangun jalan yang bagus.

Membangun gedung yang megah.

Membangun destinasi wisata.

Mempromosikan kota.

Tetapi jika sungai dipenuhi sampah, TPS meluber ke jalan, dan sampah rumah tangga dibuang sembarangan, maka ada sesuatu yang belum selesai dalam pembangunan kita.

Pembangunan tidak cukup hanya membuat lingkungan terlihat maju.

Pembangunan juga harus membuat masyarakat mampu hidup berdampingan dengan lingkungannya.

Bondowoso memiliki alam yang layak dijaga.

Pegunungan.

Sungai.

Pertanian.

Perkebunan.

Kawasan wisata.

Dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada semuanya.

Karena itu, pengelolaan sampah seharusnya menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah, bukan sekadar urusan mengangkut sampah setiap hari.

Kita perlu mengubah cara berpikir:

Sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

Sampah adalah material yang harus dikurangi, dipilah, dimanfaatkan, diolah, dan hanya sisanya yang dibuang.

Mungkin inilah saatnya Bondowoso berhenti bertanya:

“Di mana kita akan membuang sampah?”

Dan mulai bertanya:

“Bagaimana agar sampah yang kita buang semakin sedikit?”

Karena kota yang bersih bukan kota yang paling banyak memiliki tempat pembuangan.

Kota yang bersih adalah kota yang masyarakatnya mampu menghasilkan lebih sedikit sampah, mengelolanya dengan benar, dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan mereka sendiri.

Dan perubahan itu...

bisa dimulai dari rumah kita masing-masing.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: