Tampilkan postingan dengan label Wisata Buatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Buatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Ijen Geopark : Pesona Kaldera Ijen Purba di Bondowoso

6:21:00 AM 0

Bondowoso memiliki bentang alam yang luar biasa. Di wilayah timur kabupaten ini, kawasan pegunungan Ijen menghadirkan perpaduan antara lanskap vulkanik, hutan, perkebunan kopi, air terjun, sumber air panas,s avana, serta kehidupan masyarakat yang telah berabad-abad beradaptasi dengan lingkungan pegunungan.

Kawasan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari Ijen UNESCO Global Geopark, sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita tentang proses geologi, keanekaragaman hayati, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.

Ijen UNESCO Global Geopark berada di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. UNESCO menetapkan Ijen sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2023. Kawasan ini memiliki nilai geologi yang sangat penting, terutama karena bentang alamnya terbentuk dari aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Di kawasan ini terdapat konsentrasi kerucut vulkanik, kawah, dan aliran lava yang memperlihatkan bagaimana aktivitas gunung api membentuk wajah wilayah Ijen. Salah satu pusat perhatian utamanya tentu saja adalah Kawah Ijen. Bagi masyarakat Bondowoso, Ijen bukan sekadar gunung atau kawasan wisata. Ijen adalah ruang hidup yang mempertemukan alam, perkebunan, budaya, sejarah, dan aktivitas masyarakat.

Kawah Ijen, Pesona Kaldera yang Mendunia

Kawah Ijen merupakan salah satu ikon wisata alam Jawa Timur. Kawah ini berada di dalam sistem kaldera Ijen dan memiliki danau kawah berwarna biru kehijauan yang memiliki tingkat keasaman sangat tinggi. UNESCO menyebut Danau Kawah Ijen sebagai danau kawah paling asam di dunia.

Keindahan Kawah Ijen semakin lengkap dengan dinding-dinding kaldera yang menjulang dan membentuk lanskap dramatis. Ketika cahaya matahari pagi mulai menyentuh lereng dan permukaan kawah, warna-warna alam berubah perlahan. Kabut yang menggantung di antara pepohonan dan tebing menciptakan suasana yang sulit dilupakan. Namun, ada satu fenomena yang membuat Ijen begitu terkenal di dunia: blue fire atau api biru.

Fenomena tersebut bukanlah lava berwarna biru. Api biru muncul ketika gas sulfur bersuhu tinggi keluar dari kawasan vulkanik dan terbakar ketika bertemu dengan oksigen di atmosfer. Karena fenomena tersebut paling mudah terlihat pada malam hari, pengunjung yang ingin menyaksikannya biasanya harus melakukan perjalanan sebelum matahari terbit.

Fenomena api biru Ijen merupakan salah satu fenomena vulkanik yang sangat langka dan menjadi daya tarik utama kawasan ini. Tetapi Ijen bukan hanya tentang api biru. Ada perjalanan menuju puncak, udara dingin, suara langkah kaki, aktivitas penambang belerang, hutan pegunungan, matahari terbit, serta panorama kaldera yang perlahan terbuka ketika kabut mulai menipis. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari cerita perjalanan menuju Kawah Ijen.

Paltuding, Gerbang Pendakian Kawah Ijen

Salah satu titik penting dalam perjalanan menuju Kawah Ijen adalah Paltuding. Paltuding menjadi kawasan awal pendakian yang sangat dikenal oleh wisatawan yang hendak menuju Kawah Ijen. Dari sinilah perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan kawah.

Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas pendukung wisata di kawasan Ijen juga terus dikembangkan. Pemerintah Kabupaten Bondowoso, misalnya, telah mengembangkan fasilitas pelayanan kesehatan wisatawan di kawasan Paltuding melalui Pos Kesehatan Pariwisata Ijen Geopark.

Bagi wisatawan, Paltuding bukan hanya tempat memulai pendakian. Tempat ini juga menjadi titik untuk mempersiapkan kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan menuju kawah. Dan menariknya, Ijen dapat dinikmati dari berbagai sisi. Bagi wisatawan yang datang dari Bondowoso, perjalanan menuju Ijen membawa kita melewati kawasan pegunungan dan perkebunan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.

Menikmati Ijen dari Jalur Bondowoso

Perjalanan menuju kawasan Ijen dari Bondowoso menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebelum mencapai kawasan Paltuding, perjalanan melewati jalan pegunungan, perkebunan kopi, hutan, dan permukiman masyarakat. Semakin mendekati kawasan Ijen, udara semakin sejuk dan lanskap pegunungan semakin dominan. Inilah salah satu alasan mengapa perjalanan menuju Ijen dari Bondowoso layak dianggap sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar perjalanan menuju sebuah destinasi.

Kawasan Bondowoso juga memiliki hubungan yang kuat dengan perkebunan kopi. UNESCO mencatat Kopi Bondowoso  sebagai salah satu bagian dari warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark, dengan perkebunan kopi yang juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Maka, perjalanan ke Ijen dapat menjadi sebuah perjalanan yang lengkap: 

dari kopi, perkebunan, pegunungan, hutan, hingga kawah vulkanik.

Kawah Wurung: Savana di Kaldera Ijen

Tidak jauh dari kawasan Kawah Ijen terdapat salah satu destinasi yang menjadi favorit wisatawan di Bondowoso, yaitu Kawah Wurung. Kawah Wurung merupakan bentang alam berupa cekungan yang dihiasi hamparan padang rumput. Pada musim tertentu, kawasan ini tampak hijau dan luas, sehingga sering diasosiasikan oleh wisatawan dengan sebutan “Bukit Teletubbies.”

Pemandangan Kawah Wurung sangat berbeda dengan Kawah Ijen. Jika Kawah Ijen menawarkan panorama kawah vulkanik dan danau berwarna biru kehijauan, Kawah Wurung menawarkan hamparan savana dan perbukitan. Di sekitar kawasan wisata, wisatawan juga dapat menikmati kopi Arabika yang menjadi salah satu komoditas khas pegunungan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri memasukkan Kawah Wurung sebagai salah satu kawasan pariwisata penting dalam kawasan Ijen-Raung. Kawah Wurung juga menjadi bagian dari pengembangan Ijen Caldera Adventure, termasuk paket perjalanan menggunakan jeep yang menyusuri kawasan savana dan lanskap Ijen.

Puncak Megasari: Menatap Ijen dari Ketinggian

Bagi mereka yang ingin menikmati kawasan Ijen dari sudut pandang yang berbeda, Puncak Megasari menawarkan pengalaman menarik.Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan bentang alam Ijen dari ketinggian.

Puncak Megasari juga telah menjadi salah satu destinasi yang mendapatkan perhatian dalam pengembangan pariwisata kawasan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkannya dalam kawasan pariwisata Ijen-Raung. Dari sini, Ijen tidak lagi sekadar terlihat sebagai sebuah kawah. Kita dapat melihatnya sebagai sebuah bentang alam besar yang tersusun atas gunung, lembah, hutan, perkebunan, dan permukiman masyarakat.

Air Terjun Blawan dan Aliran Kalipait

Perjalanan menyusuri kawasan Ijen tidak berhenti di gunung. Di Kecamatan Ijen terdapat Air Terjun Blawan, salah satu destinasi alam yang memiliki karakter unik. Air Terjun Blawan berada di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen. Air terjun ini memiliki hubungan dengan aliran air dari kawasan Ijen dan dikenal memiliki kandungan mineral serta sulfur yang membuat karakter airnya berbeda dari air terjun pada umumnya.

Yang membuat Air Terjun Blawan menarik adalah alirannya yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Karena karakter tersebut, masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai air terjun yang “hilang ke bumi”.

Tidak jauh dari kawasan ini terdapat Pemandian Air Panas Blawan. Setelah perjalanan menyusuri pegunungan dan berbagai destinasi Ijen, berendam di air hangat dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pemandian Air Hangat Blawan juga tercatat sebagai salah satu destinasi wisata alam di Kecamatan Ijen. Sementara itu, Kalipait juga menjadi bagian dari kawasan wisata Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkan Kalipait bersama Kawah Ijen, Kawah Wurung, Air Terjun Blawan, Puncak Megasari, dan agrowisata kopi sebagai bagian dari kawasan pariwisata Ijen-Raung.

Air Terjun Gentongan dan Pesona Alam di Lereng Ijen

Selain Blawan, kawasan Ijen juga menyimpan sejumlah air terjun dan bentang alam lain yang menarik untuk dijelajahi. Salah satunya adalah Air Terjun Gentongan.Keberadaan air terjun, aliran sungai, hutan, dan lembah menunjukkan bahwa kawasan Ijen tidak hanya memiliki kekayaan geologi, tetapi juga kekayaan hidrologi dan ekosistem.

Daftar destinasi resmi Kabupaten Bondowoso mencatat sejumlah objek wisata alam di kawasan ini, termasuk Air Terjun Gentongan, Kalipait, Mini Niagara, Air Terjun Pelangi, serta sejumlah destinasi lainnya. Dengan demikian, wisata Ijen sebenarnya dapat dikembangkan menjadi perjalanan beberapa hari, bukan hanya kunjungan singkat untuk melihat kawah.

Kebun Kopi Arabika: Ijen dan Aroma yang Mendunia

Ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berbicara mengenai kawasan Ijen di Bondowoso: 

kopi. Perkebunan kopi Arabika tumbuh di kawasan dataran tinggi Bondowoso. Udara sejuk, kondisi tanah vulkanik, serta lingkungan pegunungan menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan perkebunan kopi. Kopi bukan hanya komoditas pertanian. Di kawasan Ijen, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas kawasan.

UNESCO secara khusus mencatat Bondowoso Coffee sebagai salah satu unsur warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark. Perkebunan kopi di kawasan tersebut juga memiliki hubungan dengan keanekaragaman flora dan fauna. Karena itu, perjalanan ke Ijen akan terasa lebih lengkap apabila disertai dengan pengalaman menikmati kopi Arabika di tengah perkebunan.

Bayangkan:

pagi yang dingin, kabut yang perlahan terangkat, hamparan kebun kopi, dan secangkir kopi Arabika hangat.

Itulah wajah lain Ijen yang mungkin tidak selalu terlihat dari puncak kawah.

Ijen Bukan Hanya Tentang Geologi

Keistimewaan Ijen UNESCO Global Geopark tidak hanya terletak pada gunung dan kawahnya. Konsep geopark menghubungkan warisan geologi dengan warisan alam dan budaya, serta menggunakannya sebagai sarana pendidikan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Karena itu, ketika kita berbicara mengenai Ijen Geopark, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah kawasan yang jauh lebih luas daripada Kawah Ijen.

Ada masyarakat.

Ada perkebunan.

Ada tradisi.

Ada cerita sejarah.

Ada flora dan fauna.

Ada situs geologi.

Ada situs budaya.

Dan semuanya saling berhubungan.

Situs Geologi, Biologi, dan Budaya

Kawasan Bondowoso yang termasuk dalam Ijen Geopark memiliki berbagai situs yang memperlihatkan hubungan antara alam dan kehidupan masyarakat. Dari sisi geologi, terdapat berbagai bentuk bentang alam vulkanik seperti kawah, lava, dinding kaldera, dan sumber air panas.

Dari sisi biologi, kawasan Ijen memiliki hutan pegunungan, perkebunan kopi, serta berbagai jenis flora dan fauna. UNESCO mencatat keberadaan beragam flora dan fauna di kawasan perkebunan kopi Bondowoso.

Sementara dari sisi budaya, Bondowoso memiliki berbagai tradisi dan kesenian masyarakat yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Dengan demikian, perjalanan Ijen bukan hanya perjalanan melihat pemandangan.

Ia adalah perjalanan untuk membaca cerita bumi dan manusia.

Ijen sebagai Ruang Belajar

Salah satu gagasan penting dalam konsep geopark adalah menjadikan kawasan sebagai ruang pendidikan. UNESCO menjelaskan bahwa UNESCO Global Geopark bukan sekadar kawasan wisata. Geopark juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bumi, warisan geologi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, perjalanan ke Ijen dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik.

Anak-anak dapat belajar mengenai gunung api. Pelajar dapat memahami proses pembentukan kaldera.

Wisatawan dapat melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan kawasan pegunungan.

Petani dapat memperkenalkan proses budidaya kopi. Dan masyarakat lokal dapat menjadi bagian penting dalam menjaga serta memperkenalkan warisan daerahnya.

Menikmati Ijen dari Bondowoso

Jika ingin menjelajahi kawasan Ijen dari sisi Bondowoso, banyak pilihan yang dapat disusun dalam sebuah perjalanan.

Misalnya:

Hari pertama

Bondowoso – Sumberwringin – perkebunan kopi – Kawah Wurung – Puncak Megasari.

Hari kedua

Paltuding – pendakian Kawah Ijen – menikmati panorama kaldera – turun menuju kawasan Blawan.

Hari ketiga

Pemandian Air Panas Blawan – Air Terjun Blawan – Kalipait – perjalanan kembali menuju Bondowoso.

Tentu saja susunan perjalanan perlu menyesuaikan kondisi cuaca, aturan pengelola, kondisi jalur, serta status operasional masing-masing destinasi.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri pada 2025 memperkenalkan perjalanan GeoTrip Ijen Caldera Adventure yang menghubungkan beberapa destinasi, antara lain Paltuding, Kalipait, Kawah Wurung, Jabal Kirmit, dan Air Panas Blawan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Ijen dapat dinikmati sebagai satu rangkaian perjalanan, bukan sebagai destinasi yang berdiri sendiri.

Menjaga Pesona Ijen untuk Generasi Mendatang

Keindahan Ijen membawa tanggung jawab.

Semakin terkenal sebuah kawasan wisata, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga lingkungan dan mengatur aktivitas wisata secara berkelanjutan.

Kita datang ke Ijen untuk menikmati alam, tetapi pada saat yang sama kita juga harus menjaga alam tersebut.

Tidak membuang sampah.

Tidak merusak vegetasi.

Tidak mengambil bagian dari lingkungan sebagai cendera mata.

Mengikuti aturan kawasan konservasi.

Menghormati masyarakat lokal.

Dan yang tidak kalah penting, menghargai para pekerja serta masyarakat yang menggantungkan kehidupan mereka pada kawasan Ijen.

Inilah semangat penting dari sebuah geopark: menikmati, memahami, melestarikan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Ijen, Cerita Panjang di Bumi Bondowoso

Pada akhirnya, Ijen bukan hanya tentang foto di tepi kawah.

Bukan hanya tentang blue fire.

Bukan hanya tentang sunrise.

Bukan pula hanya tentang hamparan savana Kawah Wurung.

Ijen adalah sebuah cerita panjang tentang bumi.

Cerita tentang gunung api yang membentuk bentang alam.

Cerita tentang air dan lava.

Cerita tentang hutan dan perkebunan.

Cerita tentang kopi Arabika yang tumbuh di lereng pegunungan.

Cerita tentang masyarakat yang hidup dan bekerja di kawasan ini.

Dan cerita tentang bagaimana sebuah wilayah menjaga warisan alamnya untuk generasi berikutnya.

Dari Kawah Ijen, Kawah Wurung, Puncak Megasari, Kalipait, Air Terjun Blawan, Pemandian Air Panas Blawan, hingga perkebunan kopi, semuanya merupakan kepingan dari satu cerita besar bernama Ijen Geopark.

Bondowoso memiliki pintu untuk memasuki cerita itu.

Sebuah perjalanan yang dimulai dari kota, kemudian melewati perkebunan, menanjak menuju pegunungan, hingga akhirnya berhadapan dengan bentang alam vulkanik yang luar biasa.

Dan di sana kita akan memahami bahwa keindahan Ijen bukan hanya apa yang terlihat oleh mata.

Ijen adalah jejak panjang bumi yang dapat kita baca, kita nikmati, dan kita jaga bersama.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso: Menelusuri Sejarah Para Pemimpin Bondowoso

5:44:00 AM 0



Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis dan sejarah yang menarik. Kabupaten ini menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai.

Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.

Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.

Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.

Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.

Jejak Para Pemimpin Bondowoso

No.Masa JabatanNama/Jabatan
11819–1830Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra)
21830–1850Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra)
31850–1866Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
41866–1879Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
51879–1891Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo
61891–1908Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail)
71908–1925Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro
81925–1928Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo
91928–1934Bupati RT. Prodjodininggrat
101934–1938Bupati RT. Herman Hidajat
111938–1945Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo
121945–1946Bupati R. Soetandoko
131946–1949Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo
141949–1950Bupati RT. Badroes Sapari
151950–1951Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo
161951–1956Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo
171957Bupati Soejarwo
181957–1958Bupati R. Soetowo
191958–1959Bupati Djomadi Moespan
201959–1964Bupati Soetowo
211964–1965Bupati Soemarto Partomihardjo
221965–1973Bupati Mayor R. Arifin Djauharman
231973–1978Bupati Kolonel R. Surono
241978–1983Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi
251983–1988Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai
261988–1993Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
271993–1998Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
281998–2003Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
292003–2008Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
302008–2013Bupati H. Amin Said Husni
312013–2018Bupati H. Amin Said Husni
322018–2023Bupati KH. Salwa Arifin
332025–2030Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag

Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini

Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.

Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.

Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.

Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.

Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Jejak itu masih ada.

Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

Senin, 26 Juni 2023

Bondowoso dan Persoalan Sampah: Jangan Semua Berakhir di TPA

9:12:00 PM 0

Bank Sampah Batu Katak Edit By Canva


Oleh: Holidi

Persoalan sampah tidak pernah bisa dipisahkan dari aktivitas manusia sehari-hari. Di mana manusia hidup, di situ sampah dihasilkan. Persoalannya bukan semata-mata tentang berapa banyak sampah yang kita hasilkan, tetapi bagaimana kita memperlakukannya setelah tidak lagi kita gunakan.

Manusia diberi akal dan kemampuan untuk mengelola kehidupan. Karena itu, seharusnya kecerdasan tersebut juga mendorong kita untuk lebih arif memperlakukan lingkungan. Namun dalam banyak keadaan, hubungan manusia dengan alam justru berubah menjadi hubungan eksploitatif: gunung dikeruk, hutan ditebang, sungai dijadikan tempat pembuangan, sementara pola konsumsi terus meningkat dan menghasilkan sampah dalam jumlah yang semakin besar.

Sampah akhirnya menjadi konsekuensi dari cara kita menjalani kehidupan.

Masalah ini bukan hanya milik kota-kota besar. Kabupaten kecil pun menghadapinya, termasuk Bondowoso.

Di sejumlah tempat, persoalan sampah masih mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tempat penampungan yang penuh, sampah yang meluber, serta sampah yang masuk ke saluran air dan sungai menjadi pemandangan yang seharusnya tidak kita anggap biasa.

Sampah plastik, popok sekali pakai, kemasan makanan, dan berbagai jenis sampah rumah tangga lainnya dapat dengan mudah berpindah dari halaman rumah ke selokan, dari selokan ke sungai, dan akhirnya menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar.

Pertanyaannya kemudian:

Apakah semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir?

Menurut saya, jawabannya adalah tidak.

TPA Bukan Satu-Satunya Jawaban

Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA memang tetap diperlukan. Akan selalu ada residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dan membutuhkan tempat pengelolaan akhir.

Namun, menjadikan TPA sebagai tujuan hampir seluruh sampah bukanlah solusi jangka panjang.

Sampah seharusnya mulai dikelola sejak dari sumbernya.

Rumah tangga harus menjadi titik pertama.

Kemudian lingkungan RT.

Desa atau kelurahan.

Pasar.

Sekolah.

Perkantoran.

Hotel.

Restoran.

Perusahaan.

Semua menghasilkan jenis sampah yang berbeda dan karena itu membutuhkan pola pengelolaan yang berbeda pula.

Jika seluruh sampah dikumpulkan tanpa pemilahan sejak dari sumbernya, beban pengelolaan di tingkat TPS maupun TPA tentu menjadi semakin berat.

Karena itu, saya melihat persoalan sampah Bondowoso bukan hanya persoalan “di mana sampah dibuang?”, tetapi lebih jauh:

“Mengapa sampah harus dibuang seluruhnya?”


Mulai dari Rumah

Saya membayangkan pengelolaan sampah Bondowoso dimulai dari sesuatu yang sederhana: pemilahan di rumah.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan bahan mudah terurai dapat diproses menjadi kompos atau pupuk organik.

Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan dikumpulkan melalui bank sampah.

Sementara sampah residu yang memang tidak dapat dimanfaatkan dapat diarahkan ke sistem pengangkutan dan pengolahan akhir.

Dengan pola seperti itu, sampah yang masuk ke TPS dan TPA dapat dikurangi sejak awal.

Konsepnya sederhana:

Kurangi dari sumbernya.
Pilah sejak rumah.
Olah yang masih bisa dimanfaatkan.
Buang hanya residunya.

Memang, praktiknya tidak semudah menuliskannya.

Dibutuhkan kebiasaan baru.

Dibutuhkan fasilitas.

Dibutuhkan petugas.

Dibutuhkan edukasi.

Dan yang paling penting, dibutuhkan sistem yang membuat masyarakat merasa bahwa memilah sampah bukan pekerjaan sia-sia.


Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah

Salah satu gagasan yang menurut saya layak dipertimbangkan adalah mendorong konsep “Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah.”

Tidak harus selalu berupa fasilitas besar.

Setiap desa dapat memiliki sistem pengelolaan sesuai kemampuan dan karakter wilayahnya.

Misalnya:

Sampah organik → kompos atau pupuk.

Sampah plastik dan anorganik bernilai → bank sampah.

Sampah yang masih dapat digunakan → didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Sampah residu → dikirim ke fasilitas pengolahan akhir.

Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi tempat penghasil sampah, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.

Bank sampah dapat menjadi salah satu instrumennya.

Namun bank sampah jangan berhenti pada kegiatan menimbang dan menjual sampah. Jika memungkinkan, pengelolaannya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi masyarakat: pemilahan, pengolahan, kerajinan, kompos, hingga produk daur ulang.

Dengan begitu, sampah tidak selalu dipandang sebagai beban.

Sebagian dapat berubah menjadi sumber ekonomi.


Sampah Plastik: Jangan Berhenti pada “Dibuang”

Salah satu tantangan terbesar adalah sampah plastik.

Plastik memiliki nilai guna yang tinggi, tetapi sekaligus menjadi persoalan ketika digunakan secara berlebihan dan tidak dikelola dengan benar.

Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif.

Sampah plastik tertentu dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, sepanjang memenuhi standar keamanan dan teknis. Salah satu gagasan yang dapat diteliti lebih lanjut adalah pemanfaatan material plastik tertentu sebagai bagian dari bahan produk konstruksi atau material alternatif.

Tetapi saya kira kita juga harus berhati-hati.

Tidak semua plastik dapat begitu saja dijadikan bahan bangunan. Harus ada kajian teknis mengenai jenis plastik, komposisi, keamanan, ketahanan, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Artinya, prinsipnya bukan:

“Semua sampah plastik harus dibuat menjadi barang.”

Tetapi:

“Sampah yang masih memiliki potensi harus dicari nilai gunanya melalui teknologi yang aman.”

Di sinilah perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dapat bekerja bersama.


Sungai Bukan Tempat Sampah

Ada satu persoalan yang menurut saya harus mendapat perhatian khusus:

sungai.

Sungai bukan tempat pembuangan sampah.

Sesederhana itu.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampah masih dapat ditemukan di sekitar aliran sungai dan sempadannya.

Ketika sampah dibuang ke sungai, persoalannya tidak selesai.

Ia hanya berpindah tempat.

Sampah yang dibuang hari ini mungkin akan menjadi masalah di hilir beberapa hari kemudian.

Plastik dapat menyumbat aliran.

Popok dan sampah rumah tangga mencemari lingkungan.

Sampah organik yang menumpuk dapat menurunkan kualitas lingkungan perairan.

Ketika hujan besar datang, sampah yang menumpuk di saluran air dapat memperbesar persoalan banjir dan pencemaran.

Karena itu, perlu ada kampanye yang konsisten dan sederhana:

“Sungai dan sempadannya bukan tempat sampah.”

Kampanye tersebut jangan hanya dilakukan melalui spanduk.

Harus ada pendidikan.

Harus ada pengawasan.

Harus ada fasilitas pembuangan yang memadai.

Dan ketika aturan sudah dibuat, harus ada penegakan yang konsisten.


Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Pengelolaan sampah bukan pekerjaan satu dinas.

Dinas Lingkungan Hidup tentu memiliki peran penting, tetapi persoalan sampah jauh lebih luas.

Pemerintah desa memiliki peran.

Sekolah memiliki peran.

Dunia usaha memiliki peran.

Pengelola pasar memiliki peran.

Hotel dan restoran memiliki peran.

Komunitas memiliki peran.

Dan masyarakat sebagai penghasil sampah juga memiliki tanggung jawab.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya program pemerintah, melainkan ekosistem pengelolaan sampah.

Pemerintah menyediakan regulasi dan infrastruktur.

Desa mengembangkan sistem pengelolaan di tingkat lokal.

Masyarakat memilah dari rumah.

Bank sampah mengelola sampah bernilai ekonomi.

Pelaku usaha mengurangi penggunaan bahan sekali pakai.

Sekolah mendidik generasi muda.

Perguruan tinggi membantu penelitian dan inovasi.

Komunitas menggerakkan kesadaran publik.

Sementara pemerintah melakukan pengawasan dan memastikan sistem berjalan.


APBD Harus Mendorong Perubahan Sistem

Pengelolaan sampah membutuhkan anggaran.

Tetapi menurut saya, anggaran tidak seharusnya hanya habis untuk mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lain.

Anggaran juga perlu diarahkan pada perubahan sistem.

Misalnya untuk:

  • fasilitas pemilahan sampah;

  • penguatan TPS berbasis pengolahan;

  • bank sampah desa;

  • pengolahan sampah organik;

  • pelatihan pengelola sampah;

  • edukasi masyarakat;

  • pengembangan teknologi daur ulang;

  • penguatan sistem pengangkutan;

  • pemeliharaan fasilitas;

  • serta pengawasan terhadap pembuangan sampah ilegal.

Dengan demikian, APBD tidak sekadar membiayai “sampah yang sudah menjadi masalah”, tetapi juga membiayai upaya agar sampah tidak menjadi masalah sejak awal.


Jangan Hanya Menyalahkan Masyarakat

Saya juga tidak sepakat jika persoalan sampah selalu dikembalikan kepada perilaku masyarakat.

Memang, membuang sampah sembarangan adalah perilaku yang harus diperbaiki.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan sistem.

Sulit meminta orang memilah sampah jika tidak tersedia tempat pemilahan.

Sulit meminta warga mengolah sampah jika tidak ada pendampingan.

Sulit meminta masyarakat menggunakan bank sampah jika sistem pengambilannya tidak berjalan.

Dan sulit meminta orang menjaga sungai jika sungai itu sendiri tidak pernah dibersihkan dan diawasi.

Karena itu, perubahan perilaku dan perubahan sistem harus berjalan bersamaan.

Jangan hanya berkata:

“Masyarakat harus sadar.”

Tetapi pemerintah juga harus bertanya:

“Apakah sistem yang kita bangun sudah memungkinkan masyarakat untuk sadar dan bertindak?”


Bondowoso Bisa Memulai dari Hal Sederhana

Saya tidak sedang membayangkan Bondowoso memiliki teknologi pengolahan sampah paling canggih di Indonesia.

Tidak harus.

Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana.

Satu rumah memilah.

Satu RT mengelola.

Satu desa memiliki bank sampah.

Sekolah memiliki sistem pemilahan.

Pasar mengurangi sampah sekali pakai.

Warung menyediakan pilihan penggunaan ulang.

Hotel mengelola sampah organiknya.

Pemerintah memperbaiki TPS.

Sungai dijaga.

Dan sampah residu benar-benar menjadi bagian terakhir yang dikirim ke TPA.

Jika satu desa berhasil, desa lain dapat belajar.

Jika satu kecamatan berhasil, kecamatan lain dapat meniru.

Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari proyek besar.

Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.


Sampah Adalah Cermin Peradaban

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya persoalan lingkungan.

Sampah adalah cermin bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan ruang hidupnya.

Kita dapat membangun jalan yang bagus.

Membangun gedung yang megah.

Membangun destinasi wisata.

Mempromosikan kota.

Tetapi jika sungai dipenuhi sampah, TPS meluber ke jalan, dan sampah rumah tangga dibuang sembarangan, maka ada sesuatu yang belum selesai dalam pembangunan kita.

Pembangunan tidak cukup hanya membuat lingkungan terlihat maju.

Pembangunan juga harus membuat masyarakat mampu hidup berdampingan dengan lingkungannya.

Bondowoso memiliki alam yang layak dijaga.

Pegunungan.

Sungai.

Pertanian.

Perkebunan.

Kawasan wisata.

Dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada semuanya.

Karena itu, pengelolaan sampah seharusnya menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah, bukan sekadar urusan mengangkut sampah setiap hari.

Kita perlu mengubah cara berpikir:

Sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

Sampah adalah material yang harus dikurangi, dipilah, dimanfaatkan, diolah, dan hanya sisanya yang dibuang.

Mungkin inilah saatnya Bondowoso berhenti bertanya:

“Di mana kita akan membuang sampah?”

Dan mulai bertanya:

“Bagaimana agar sampah yang kita buang semakin sedikit?”

Karena kota yang bersih bukan kota yang paling banyak memiliki tempat pembuangan.

Kota yang bersih adalah kota yang masyarakatnya mampu menghasilkan lebih sedikit sampah, mengelolanya dengan benar, dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan mereka sendiri.

Dan perubahan itu...

bisa dimulai dari rumah kita masing-masing.

Jumat, 16 Maret 2018

Mendadak Survei: Jadi Pergi Berlibur Ke Kota Batu

10:04:00 PM 0


Selamat pagi, semoga kita masih menjadi manusia yang selalu bersyukur.
                Kali ini, saya akan bercerita perjalanan bekerja sebagai surveyor salah satu Lembaga survei dan sekaligus berwisata gratis ala surveyor.  Tepatnya pada tahun 2016, saya bersama sahabat-sahabat koerawa mendadak survei ke salah satu kota yang dikenal dengan kota wisata yaitu Kota Batu. Kota yang terletak di Malang Raya ini, merupakan kota yang baru saja di bangun dan baru saja berdiri sebagai kota. nah, waktu itu kita mendadak survei kesana untuk pelayan publik dan masalah sosial yang terjadi disana. Kita ditugaskan oleh salah satu lembaga survei swasta, dengan gaji cukup buat seorang mahasiswa tingkat galau waktu itu.

                Sehari sebelum kita berangkat, kita diberi kabar oleh satu sahabat kita di koerawa kalau mau ada survei ke kota Batu. Setelah itu, kita semua mendaftar kecuali beberapa yang tidak ikut mendadak survei. Kita training untuk melakukan survei setelah itu ternyata kita tandom kerjanya, jadi satu desa dua surveyor. Dan pada akhirnya Kita berangkat bareng ke Batu menggunakan Bis Akas Malang-Jember. waktu itu kita sempatkan dulu berswafoto di dalam bis, kita berangkat bertujuh yang salah satunya merupakan surveyor sejati diantara sahabat-sahabat koerawa yang lain yaitu si jangkung Fahmi. Kebetulan saya pada saat itu tandem dengan salah satu surveyor cewek dari kota lain. Dengan membawa kuesioner dan hadiah untuk responden berupa kaus, saya berangkat dari Jember dengan 20 kuesioner di dalam tas dan 20 lembar kaus di tangan.
Rekan Tandem

                Sesampainya di kota Malang, saya masih mencari tempat beristirahat sejenak sebelum berangkat ke Desa yang di tuju. Kebetulan waktu itu saya diajak ke kontrakan temennya Bli Irham yang waktu itu kontrakannya deket UMM. Dengan rasa lelah Jember-Malang, kita masih istirahat meluruskan otot yang tegang. Pada akhirnya, kita sudah siap tempur untuk turun ke desa masing -masing.  Kalau tidak salah waktu itu bli Irham ke daerah Tretes, sementara saya berangkat ke Desa Tulungrejo Kecamatan Bumi aji. Kita berpencar kesemuanya mulai melakukan rekam data ke balai desa, bahkan ada yang di tolak meminta surat dari bakesbangpol kota batu, sementara waktu itu kita sudah memiliki surat ijin dari bakesbangpol Jawa Timur. Dengan perasaan capek kita meloby perangkat desa, mereka masih ngotot minta surat dari  Bakesbangpol Kota Batu. Akhinya saya berangkat ke balai kota untuk meminta kepada tim yang telah mengurus disana. akhirnya dengan perasaaan lega kita dapat meloby perangkat desa dengan menghubungi kepala desa langsung dan yang menjadi pihak lobiying saat itu temen tandem saya yang cewek tersebut.

                Setelah itu kita mulai mengacak Dusun untuk dibagi menjadi dua dengan tandem saya. Akhirnya kita mendapatkan lokasi yang akan menjadi objek dan responden kita. tetapi hari telah sore, dengan secepatnya saya dan kawan tandem saya, yang waktu itu saya belum tau asalnya darimana dan namanya siapa, ikut saya mencari tempat berteduh untuk beberapa hari ke depan. Kita menuju rumah Kasun yang berada tidak jauh dari Selecta. Selecta merupakan tempat wisata yang terkenal di kota Batu. Tepatnya dirumah pak kasun Khamim, orangnya tinggi besar dan kasun yang perlu di contoh oleh kasun dikota saya mungkin. Akhirnya, kita di terima langsung oleh beliau, beliau merupakan kasun yang memiliki jiwa politik yang tinggi dan juga pengusaha.
Visi dan Misi Perusahaan Roti Pak Kasun

                Waktu itu, kita dipersilahkan menempati rumah ketiganya. Untuk beberapa hari kedepan dengan ditemani oleh Sam Wawan yang waktu penuh tato di tubuhnya, tetapi dia baik banget. Dia mengatakan dia menyukai seni tattoo, tapi sudut pandangku waktu itu orang bertatto pasti orang gak bener, tetapi sejak itu saya baru menyadari bahwa otak saya selama ini sakit, mengenal orang Cuma melalui penampilan dhohirnya. Mas wawan mempersilahkan kita untuk memilih kamarnya, yang kebetulan waktu itu rumah tersebut juga sebagai tempat produksi kripik Apel. Ya, pak kasun Khamim ini merupakan kasun sekaligus pengusaha beberapa usaha, dari kontraktor sampai produksi makanan. Tiga rumah yang di miliki itu, dua diantaranya merupakan rumah usahanya. Rumahnya berdekatan, antra satu dengan yang lain, Rumah utama merupakan rumah untuk pak kasun sekeluarga dan yang dua rumah produksinya merupakan tempat memproduksi kripik dan roti.

Merek Roti Milik Pak Kasun

                Pagi selepas jam tujuh waktu itu, datang beberapa ibu-ibu dengan membawa pisau kecil untuk mengupas kulit apel di rumah yang saya tempati semalam tersebut. Tidak lupa saya mengabadikan moment tersebut. di tempat ini yang menjadi penaggung jawab produksi adalah mas wawan, mas wawan yang mengatur beberapa kegiatan disini dengan di temani beberapa karyawan lainnya di produksi. Dalam produksi keripik ini ada sisi pemberdayaan ibu-ibu lanjut yang menjadi pekerja harian di dalam produksi ini. waktu itu saya tidak bertanya berapa gaji mereka, tetapi waktu yang terlintas bagi otak saya adalah bagaimana saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan seperti pak khamim tersebut. selepas dari rumah respon yang dekat-dekat, malam hari itu saya diajak mas wawan untuk melihat langsung prosuksi diruangan belakang dan sekaligus menikmati kripik apel sepuasnya. Waktu itu saya di tunjukkan satu persatu prosesnya dari pencucian sampai bisa di nikmati dan menjadi oelh-oleh khas kota Wisata Batu.
Ibu-ibu yang asyik mengupas Apel

                Selepas itu, saya juga dipersilahkan oleh Pak Khamim untuk melihat usaha yang di rumah keduanya yaitu Roti. Roti tersebut bermerek Roterdam yang beralamatkan Jalan Selecta Kota Batu. Saya masuk ke bagian gudang tepung yang berada dia lantas atas dan masuk ke ruang produksi di bawah, kebetulan rumahnya ini berada di bukit, jadi ruang produksinya berada di bawah. Saya melihat bagaimana prosesnya sampai di kemas dengan higenis. Setelah saya Tanya sudah sampai mana produknya tersebut, ternyata sudah sampai ke luar kota Batu dan Malang. Di rumah produksi Roti ini, banyak karyawan laki-laki beda dengan di rumah produksi kripiknya. Mungkin karena yang memiliki usaha roti ini atas nama Pak Khamim dan Produksi kripik kata pak khamim di pasrah kepada sang istri.  Setelah itu, berlanjut menjelaskan beberapa visi misi perusahaannya dan beberapa tujuan yang ingin memberdayakan orang-orang sekitarnya.
Perusahaan Roti Pak Kasun

                Dua hari telah berlalu di lokasi dusun dekat saya tinggal, saya masih memiliki tugas mewawancarai dua responden di Dusun terjauh yakni Dusun Wonorejo yang berada di jalan menuju Wisata Coban Talun. Dari dusun dekat balai Tulungrejo rumah pak Khamim tersebut, saya berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilo meter. Waktu itu mau naik ojek eman uangnya sudah mepet. Akhirnya berjalan kaki sejauh itu, tetapi kurang sepertiga perjalan bertemu bapak yang baik hati, dengan mempersilahkan bonceng sampai ke dusun Wonorejo. Akhirnya, saya sampai disana sekitar jam dua siang, akhirnya saya mengacak siapa yang mau diwawancarai, dengan cuaca dingin kota Batu kalau sudah menjelang malam, mulai terasa. Saya memewancai baru selesai sekitar jam delapan malam, dengan cuaca berkabut disana, akhirnya saya memutuskan untuk tidur di Masjid terdekat. Karena, sampai saat ini, tempat teraman sepanjang berkelana adalah masjid. Meskipun akhir-akhir ini masih terjadi kekerasan dirumah ibadah, Tetapi waktu itu tidak.  Saya berpamitan untuk tinggal di masjid tersebut ke RT setempat, tetapi malah waktu itu diajak ngobrol dan di suguhi apel segar malam-malam dengan suasana dinginnya Kota Batu dan makanan ringan bernuansa pedesaan. Kita ngobrol sampai kira-kira sampai jam 9, akhirnya dengan besar hati dan baik hati saya diantarkan oleh pak RT Tersebut kerumah Pak Khamim, karena keesokan harinya saya harus menyelesaikan di dusun yang berada di tengah, karena mengejar target juga. Akhirnya, sesampainya di rumah produksi kripik apel tersebut sudah di siapkan nasi Goreng dan teh panas yang mulai dingin karena sejuknya kota Batu.
 Bahan Kripik Apel

                Kamipun makan bersama di akhir malam-malam bersama sebelum besok siang cabut, untuk cleaning data bersama bang Muhlisin. Bercerita banyak dengan mas wawan dan rekan tandem saya sampai larut malam, banyak yang kita bicarakan mulai produksi sampai masalah tattoo sebagai seni. Dengan keadaaan malam yang dingin itu, aku masih menyempatkan untuk ke tempat produksi lagi dibelakang  menemani mas wawan. Dengan mesin berkapasitas kurang lebih 20 liter minyak nabati.
 Tulungrejo

                Mentaripun meyingsing, pagi saat itu seakan menjadi hal yang indah dikota orang dengan beban survei masih belum rampung keseluruhan. Setelah sarapan saya berpamitan kepada Pak Khamim dan keluarga di Rumah utama untuk melanjutkan di dusun yang belum selesai sekaligus pamit untuk pulang ke Jember. kamipun masih di suruh membawa beberapa apel segar untuk cemilan, dengan sigap saya memasukkan apel-apel segar tersebut ke dalam tas saya yang mulai luas, karena kuesioner sudah berkurang dan kaus sudah tinggal beberapa.
Desa Sejuta Apel

        Setelah saya pamit, HP saya bunyi ternyata kabar dari sahabat-sahabat koerawa mereka sudah selesai dan beberapa yang lainnya tinggal satu. Saya mengabari mereka kalau punya saya masih tinggal beberapa, karena kendala tidak ada kendaraan. Akhirnya mereka yang selesai, meyusul saya dengan membawa kendaraan pribadi. Fauzi, lian dan Bli Irham ketempat saya. Kebetulan pas telpon saya lagi berada dirumah responden, yang kebetulan juga saya harus bersuara lirih menerima telpon dari mereka. Akhirnya mereka dengan rasa khawatir mereka menjemput saya. Tapi waktu itu saya lagi menikmati buah apel dan beberapa buah hasil kebun responden. Kebetulan yang saya wawancarai anak SMA kelas tiga waktu itu, mereka datang lalu dengan suara lirih ketelinga saya bilang “ tak Kiro wes smaput kon, suaramu barusan seperti orang mari smaput, malah wawancarai wedok ayu  kon iki”. Saya Cuma bisa senyum kecil ke mereka. Oiya ada yang lupa, kota batu ini merupakan tempat pejuang HAM Munir, disana saat ini berada Omah Munir yang terletak di kanan jalan dari arah kota Batu Menuju Rumah Pak khamim.
Akhirnya semua telah selesai, kitapun berempat balik ke kota dan melakukan cleaning data. Tidak lupa kita masih mampir ke ketan legenda yang antrinya  Masyallah. Kita mulai kembali berkemas diri untuk balik lagi malam itu ke jember, tetapi kita putuskan balik pagi hari, malah itu kita menginap di rumah saudara dan teman-teman kenalan di Malang.
                Perjalan ini sunggguh berkesan bagi saya, banyak pelajaran dan tentunya ini yang dinamakan mendadak survei dan traveling gratis ala surveyor.  Terima Kasih Saiful Mujani, Ngalam,Kota Batu, Pak Kasun Khamim, Pak Amri Selecta, Pak RT di Wonorejo, responden dan semua pihak yang telah berbuat baik pada saat itu. kapan-kapan saya kesana lagi, Insyallah dengan cerita berbeda.

Batu, itu namamu.
Kota dengan seribu cerita.
Meskipun, hanya beberapa hari aku berada di pelukanmu.
Kota Wisata, Julukanmu.
Penuh inspirasi yang tumbuh dalam otakku ketika aku menyertaimu.
Omah munir, menjadi saksi bahwa kamu kota pahlawan HAM.
Roti Roterdam Dan Kripik Apel, menjadi saksi bahwa kamu kota berdikari.
Batu, itu namamu.
Alam nan indah, elok menawan hati.
Dinginmu, seakan menyihirku untuk memelukmu.
Batu, baik-baiklah dengan pemimpin barumu.
Suatu saat aku akan kembali menyambangimu dengan cerita baru.


Sabtu, 04 Februari 2017

KEINDAHAN DAN SEJARAH NUSANTARA BUMI PATRIA #3

12:49:00 AM 0
          Belum puas sampai disitu  aku diajak keliling kota Blitar, sama temenku. Masih tak luput dengan rutinitas kita yakni ngopi, kita singgah disudut kota dengan harga murah meriah dan menikmati senja di sudut kota Blitar. Kiranya kurang afdol kalau ke suatu kota belum main ke titik pusat kota tersebut, selanjutnya kita memutuskan ke alun-alun kota dengan cuaca yang gerimis kita menyusuri jalanan. Karena belum melaksanakan sholat magrib, kita memutuskan meneduh dan melakasanakan sholat di masjid Agung, setelah cukup lama memotret sudut Masjid Agung ini. dan mengelililingi sudut kota patria ini dengan hamparan alun-alun kota yang berhadapan dengan kantor Bupati, Walikota Blitar dan masjid Agung, tak selang beberapa lama kita balik kerumah temenku, karena masih ada titipan dari ibunya temenku.
Ruang Depan Masjid Agung Blitar

Sesampai dirumah mulai istirahat karena keesokan harinya ada rencana ke candi Panataran dan rumah bungkarno, tetapi dengan berat hati mengurungakan niat itu, karena keesokan harinya hujan seharian mengguyur Blitar. Sampailah pada hari terakhir aku di Blitar, malam minggu aku diajak kerumah temenku, dan paginya persiapan balik Kota Suwar Suwir.
Gong Perdamaian Di Komplek Makam Bung Karno

Pagi Jam 6.13 WIB, kita  pulang ke Jember disepanajng perjalanan saya disuguhi perbicangan temenku ala pemandu wisata. Ditunjukkan Kampung Coklat yang tak jauh dari desa temenku dan masih satu kecamatan dengan desanya. Setelah itu tak luput banyak cerita tentang bukit yang mirip Raja Ampat di Papua, cerita Desa di Lereng gunung kelud yang penuh mistis sampai Goa yang konon ada seekor macannya. Sesampainya di bendungan Waduk karangkates kita sempat berselfie ria disana. Kita lanjutkan perjalanan menuju jember dengan Sepeda Motor Honda Supra Mesin 1900an ini.

Teman Perjalanan Si Gresik 


sepanjang perjalanan saya mencoba menghitung berapa truk pasir yang beropersi tersbut kurang lebih 30an itu hari libur, apalagi hari aktif bisa dibayangkan. Sesampainya di Pronojiwo Lumajang kita menyempatkan diri membeli oleh-oleh  Salak dari kebun langsung,  untuk oleh-oleh camer dan temen-temen kebetulan aku tak langsung pulang ke Jember, karena masih singgah ke rumah camer dan ke resepsiannya temen. Sekitar pukul 4 sore kita sampai dikosan jawa 6, kita tepar sebentar karena setelah magrib masih ada agenda bantu-bantu dirumah temen juga. Perjalanan Jember-Blitar-Jember cukup mengesankan dan cukup menghilangkan penat di tahun 2016.
Kawasan Waduk Karang Kates (Malang-Blitar)

Karena masih banyak tempat wisata di Blitar yang belum tersinggahi, nantia anterkan aku ya Rul menyusuri kotamu Kembali.


Sampai Jumpa lagi di #catatanholidy selanjutnya,….