Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Belajar Bercerita Bersama Kak Bimo: Ketika Waktu Menemukan Jodohnya

11:10:00 PM 0

 

“Waktu itu ada jodohnya.”

Mungkin ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan perjumpaan saya dengan seorang maestro dongeng yang selama ini hanya saya kenal melalui cerita, video, dan karya-karyanya. Tepat pada 19 September 2026, akhirnya saya berjumpa langsung dengan Kak Bimo, seorang trainer, motivator, dan dikenal luas sebagai master dongeng nasional.  Bagi sebagian orang, perjumpaan itu mungkin hanya sebuah pertemuan biasa dalam sebuah pelatihan. Tetapi bagi saya, ada cerita panjang di baliknya.

Saya memang sengaja datang. Saya mengikuti pelatihan bercerita bersama Kak Bimo yang diinisiasi oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Cabang Bondowoso bersama IGTKI Bondowoso. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas guru TK, SD, RA, MI, PAUD, dan para pendidik lainnya. Di antara ratusan peserta itu, mungkin saya termasuk salah satu yang agak “berbeda”.

Saya bukan guru resmi.Setidaknya bukan guru yang setiap pagi memakai seragam, masuk kelas dengan daftar hadir, kemudian pulang setelah bel berbunyi. Saya mengajar secara lepas. Di mana ada ruang, di situ saya bisa belajar dan mengajar. Saya memiliki sebuah ruang belajar sederhana bernama Sakola Pekarangan. Sebuah ruang belajar nonformal yang saya bayangkan sebagai tempat siapa saja boleh menjadi guru dan siapa saja boleh menjadi murid. Karena bagi saya, belajar tidak selalu harus menunggu ruang kelas. dan guru tidak selalu harus berdiri di depan papan tulis.

Beruntung Bisa Duduk di Tengah Para Guru

Terus terang, saya merasa sangat terhormat berada di tengah ratusan guru yang hadir dalam pelatihan tersebut.Saya melihat para pendidik yang setiap hari berhadapan dengan anak-anak.Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga ikut membentuk karakter, imajinasi, keberanian, dan cara anak memandang dunia. Saya datang sebagai pembelajar.Dan mungkin justru karena itulah saya bisa duduk dengan tenang, mendengarkan, mencatat, dan menikmati setiap materi.

Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebab sebenarnya saya sudah cukup lama menantikan perjumpaan dengan Kak Bimo. Bahkan pernah terlintas dalam pikiran saya untuk datang ke Yogyakarta hanya untuk bisa bertemu dan belajar langsung kepada beliau. Tetapi ternyata waktu memang punya jodohnya. Saya tidak perlu pergi jauh ke Yogyakarta. Kak Bimo justru datang ke Bondowoso. Dan saya dipertemukan dengannya dalam sebuah ruang pelatihan.

Ilmunya “Daging” Semua

Ada satu kesan yang paling kuat saya rasakan setelah mengikuti pelatihan kemarin:Ilmunya daging semua. Bukan sekadar teori. Bukan sekadar motivasi. Bukan pula pelatihan yang membuat peserta duduk, mendengarkan, kemudian pulang membawa sertifikat. Sejak materi dimulai sampai praktik berlangsung, peserta seperti tidak ingin beranjak dari tempat duduk. Ada yang tertawa, Ada yang mencoba, Ada yang salah, Ada yang malu, Ada yang kemudian berani tampil.Dan di situlah saya merasakan bahwa bercerita ternyata bukan sekadar membuka mulut dan mengucapkan kalimat.

Bercerita adalah seni.

Ada teknik.

Ada penghayatan.

Ada ekspresi.

Ada suara.

Ada gerak tubuh.

Ada ritme.

Dan yang paling penting, ada kemampuan untuk membawa orang lain masuk ke dalam cerita.

Cerita, Dongeng, dan Kisah Ternyata Berbeda

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah ketika Kak Bimo mengajak peserta memahami perbedaan antara cerita, dongeng, dan kisah. Selama ini mungkin kita sering menggunakan ketiga istilah tersebut secara bergaantian, cerita merupakan rangkain peristiwa yang disampaikan secara utuh, sementara dongeng adalah karangan fiktif yang tidak benar-benar terjadi didunia nyata sementara kisah adalah cerita atau kejadian yang benar-benar terjadi baik pengalaman hidup atau sebuah peristiwa,

Saya kemudian berpikir: Ternyata selama ini saya banyak bercerita, tetapi belum tentu memahami hakikat bercerita. Ini seperti seseorang yang setiap hari memasak, tetapi belum tentu memahami ilmu memasak.Bisa memasak, tetapi belum tentu tahu mengapa sebuah bumbu harus dimasukkan lebih dahulu dan bumbu lainnya belakangan.Begitu pula dengan bercerita.Kita bisa bercerita.Tetapi untuk membuat orang lain tertarik, terlibat, tertawa, terharu, bahkan mengingat cerita, ternyata ada ilmunya.

Membongkar Dunia Dongeng

Materi berikutnya yang membuat saya semakin tertarik adalah ketika dongeng diurai menjadi beberapa jenis.

Kami belajar tentang:

1. Mitos

Cerita yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan atau berkaitan dengan asal-usul tertentu.

2. Legenda

Cerita yang berkembang di masyarakat dan biasanya dikaitkan dengan asal-usul suatu tempat, tokoh, atau peristiwa.

3. Hikayat

Cerita tradisional yang banyak berkembang dalam khazanah sastra lama dan sering berkaitan dengan kehidupan raja, kepahlawanan, atau tokoh luar biasa.

4. Fabel

Cerita yang menggunakan tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia dan biasanya membawa pesan moral.

5. Sage

Cerita yang berkaitan dengan kepahlawanan atau tokoh sejarah yang berkembang dalam tradisi masyarakat dan kemudian diwariskan sebagai cerita.

6. Epos

Cerita panjang yang mengangkat kepahlawanan, perjuangan, atau perjalanan besar seorang tokoh.

7. Parabel

Cerita yang menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan pesan atau nilai tertentu.

Ternyata dunia dongeng begitu luas, selama ini saya mengira dongeng hanyalah cerita untuk anak-anak sebelum tidur, ternyata tidak sesederhana itu. Dongeng adalah bagian dari kebudayaan manusia.

Ia membawa ingatan.

Ia membawa nilai.

Ia membawa pesan.

Bahkan bisa menjadi cara sebuah masyarakat mewariskan pandangan hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ketika Tubuh Ikut Bercerita

Hal lain yang membuat saya semakin menikmati pelatihan tersebut adalah materi praktik.Kak Bimo tidak hanya menjelaskan bagaimana menyusun atau membawakan cerita. Kami juga diajak mempraktikkan gestur atau olah gerak dan olah suara. Di sinilah saya baru benar-benar merasakan bahwa seorang pendongeng ternyata bekerja dengan seluruh tubuhnya.Tangan bisa berbicara.Mata bisa berbicara.Wajah bisa berbicara.Cara berdiri bisa berbicara. Bahkan diam pun bisa menjadi bagian dari cerita.Kemudian suara.Suara bukan hanya soal keras atau pelan.

Ada tekanan.

Ada tempo.

Ada jeda.

Ada karakter.

Ada perubahan suasana.

Suara seorang raksasa tentu tidak harus sama dengan suara seekor anak kecil.

Suara tokoh yang sedang marah tentu berbeda dengan tokoh yang sedang ketakutan.

Dan seorang pendongeng harus mampu membawa semua karakter itu hidup di hadapan penonton.

Saya jadi teringat:

Ternyata ketika bercerita, kita bukan hanya menyampaikan kata-kata. Kita menghidupkan kata-kata.

Saya Bukan Guru, Tetapi Saya Ingin Terus Belajar

Ada satu hal yang saya rasakan kuat dalam pelatihan itu.Saya mungkin bukan guru resmi.

Tetapi saya selalu ingin belajar menjadi manusia yang bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Sakola Pekarangan yang saya jalankan juga lahir dari semangat itu.

Saya percaya bahwa pendidikan tidak harus selalu berada di gedung sekolah.

Belajar bisa berlangsung di halaman.

Di kebun.

Di teras rumah.

Di bawah pohon.

Di warung.

Di ruang komunitas.

Bahkan di tempat-tempat yang tidak pernah kita sebut sebagai sekolah.

Dan bercerita adalah salah satu cara paling sederhana untuk membuka pintu belajar.

Sebuah cerita bisa membuat anak bertanya.

Pertanyaan membuat anak berpikir.

Berpikir membuat anak ingin tahu.

Dan rasa ingin tahu adalah salah satu pintu menuju pengetahuan.

Pertemuan yang Sudah Lama Ditunggu

Ketika pelatihan selesai, saya semakin menyadari bahwa pertemuan dengan Kak Bimo bukan sekadar pertemuan antara seorang peserta dan trainer.

Bagi saya, ini adalah pertemuan dengan sebuah penantian.

Ada banyak hal yang ingin saya pelajari.

Ada banyak hal yang selama ini hanya saya bayangkan.

Dan akhirnya kesempatan itu datang.

Bukan di Yogyakarta.

Bukan di tempat yang jauh.

Tetapi di Bondowoso.

Di sebuah ruang yang dipenuhi para guru.

Di sana saya duduk sebagai pembelajar.

Mendengarkan.

Mencatat.

Tertawa.

Berlatih.

Dan sesekali merasa malu ketika harus mempraktikkan gerakan atau suara.

Tetapi justru di situlah belajar terasa hidup.

Terima Kasih Kak Bimo

Saya berterima kasih kepada Kak Bimo atas ilmu yang dibagikan.

Bukan hanya karena saya akhirnya bisa bertemu dengan sosok yang selama ini ingin saya temui.

Tetapi karena pertemuan tersebut kembali mengingatkan saya bahwa menjadi pembelajar tidak mengenal usia dan status.

Saya datang bukan sebagai guru.

Saya datang sebagai murid.

Dan ternyata menjadi murid adalah sesuatu yang menyenangkan.

Saya juga berterima kasih kepada YDSF Cabang Bondowoso dan IGTKI Bondowoso yang telah menghadirkan ruang belajar tersebut.

Saya merasa beruntung bisa berada di tengah para guru hebat.

Saya belajar dari Kak Bimo.

Tetapi saya juga belajar dari para peserta.

Tentang kesungguhan.

Tentang keberanian.

Tentang bagaimana seorang guru terus belajar meskipun setiap hari dirinya sendiri menjadi tempat orang lain belajar.

Waktu Memang Ada Jodohnya

Mungkin benar.

Waktu memang ada jodohnya.

Ada orang yang kita tunggu bertahun-tahun, tetapi baru bisa bertemu ketika waktunya tiba.

Ada ilmu yang ingin kita pelajari, tetapi baru datang ketika kita benar-benar siap menerimanya.

Ada pertemuan yang kita rencanakan, tetapi Tuhan mempertemukannya melalui jalan yang tidak pernah kita duga.

Saya pernah ingin pergi ke Yogyakarta untuk bertemu Kak Bimo.

Ternyata tidak perlu.

Kak Bimo datang ke Bondowoso.

Dan saya datang sebagai peserta pelatihan.

Sederhana.

Tetapi berkesan.

Mungkin beginilah cara waktu menemukan jodohnya.

Bukan selalu seperti yang kita rencanakan.

Tetapi seperti yang akhirnya terjadi.

Pulang Membawa Cerita

Saya pulang dari pelatihan itu bukan hanya membawa sertifikat.

Saya membawa sesuatu yang jauh lebih penting:

semangat untuk terus bercerita.

Saya ingin membawa ilmu itu ke ruang-ruang kecil tempat saya mengajar.

Ke Sakola Pekarangan.

Ke anak-anak.

Ke masyarakat.

Ke siapa pun yang mau belajar.

Sebab mungkin suatu hari nanti, dari sebuah cerita sederhana yang kita sampaikan kepada seorang anak, lahir sebuah keberanian.

Dari sebuah dongeng, lahir imajinasi.

Dari sebuah kisah, lahir karakter.

Dan dari seorang pendongeng, lahir generasi yang mencintai cerita dan pengetahuan.

Kak Bimo mungkin telah bertemu dengan ratusan peserta pada hari itu.

Tetapi bagi saya, pertemuan itu akan saya simpan sebagai salah satu cerita penting dalam perjalanan belajar.

Sebuah cerita tentang guru dan murid.

Tentang dongeng dan kehidupan.

Tentang penantian dan pertemuan.

Dan tentu saja...

tentang waktu yang akhirnya menemukan jodohnya.

19 September 2026.

Hari ketika saya akhirnya bisa berkata:

“Saya pernah belajar bercerita langsung bersama Kak Bimo.”

Dan sekarang...

saatnya saya membawa cerita itu pulang.

Ijen Geopark : Pesona Kaldera Ijen Purba di Bondowoso

6:21:00 AM 0

Bondowoso memiliki bentang alam yang luar biasa. Di wilayah timur kabupaten ini, kawasan pegunungan Ijen menghadirkan perpaduan antara lanskap vulkanik, hutan, perkebunan kopi, air terjun, sumber air panas,s avana, serta kehidupan masyarakat yang telah berabad-abad beradaptasi dengan lingkungan pegunungan.

Kawasan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari Ijen UNESCO Global Geopark, sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita tentang proses geologi, keanekaragaman hayati, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.

Ijen UNESCO Global Geopark berada di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. UNESCO menetapkan Ijen sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2023. Kawasan ini memiliki nilai geologi yang sangat penting, terutama karena bentang alamnya terbentuk dari aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Di kawasan ini terdapat konsentrasi kerucut vulkanik, kawah, dan aliran lava yang memperlihatkan bagaimana aktivitas gunung api membentuk wajah wilayah Ijen. Salah satu pusat perhatian utamanya tentu saja adalah Kawah Ijen. Bagi masyarakat Bondowoso, Ijen bukan sekadar gunung atau kawasan wisata. Ijen adalah ruang hidup yang mempertemukan alam, perkebunan, budaya, sejarah, dan aktivitas masyarakat.

Kawah Ijen, Pesona Kaldera yang Mendunia

Kawah Ijen merupakan salah satu ikon wisata alam Jawa Timur. Kawah ini berada di dalam sistem kaldera Ijen dan memiliki danau kawah berwarna biru kehijauan yang memiliki tingkat keasaman sangat tinggi. UNESCO menyebut Danau Kawah Ijen sebagai danau kawah paling asam di dunia.

Keindahan Kawah Ijen semakin lengkap dengan dinding-dinding kaldera yang menjulang dan membentuk lanskap dramatis. Ketika cahaya matahari pagi mulai menyentuh lereng dan permukaan kawah, warna-warna alam berubah perlahan. Kabut yang menggantung di antara pepohonan dan tebing menciptakan suasana yang sulit dilupakan. Namun, ada satu fenomena yang membuat Ijen begitu terkenal di dunia: blue fire atau api biru.

Fenomena tersebut bukanlah lava berwarna biru. Api biru muncul ketika gas sulfur bersuhu tinggi keluar dari kawasan vulkanik dan terbakar ketika bertemu dengan oksigen di atmosfer. Karena fenomena tersebut paling mudah terlihat pada malam hari, pengunjung yang ingin menyaksikannya biasanya harus melakukan perjalanan sebelum matahari terbit.

Fenomena api biru Ijen merupakan salah satu fenomena vulkanik yang sangat langka dan menjadi daya tarik utama kawasan ini. Tetapi Ijen bukan hanya tentang api biru. Ada perjalanan menuju puncak, udara dingin, suara langkah kaki, aktivitas penambang belerang, hutan pegunungan, matahari terbit, serta panorama kaldera yang perlahan terbuka ketika kabut mulai menipis. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari cerita perjalanan menuju Kawah Ijen.

Paltuding, Gerbang Pendakian Kawah Ijen

Salah satu titik penting dalam perjalanan menuju Kawah Ijen adalah Paltuding. Paltuding menjadi kawasan awal pendakian yang sangat dikenal oleh wisatawan yang hendak menuju Kawah Ijen. Dari sinilah perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan kawah.

Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas pendukung wisata di kawasan Ijen juga terus dikembangkan. Pemerintah Kabupaten Bondowoso, misalnya, telah mengembangkan fasilitas pelayanan kesehatan wisatawan di kawasan Paltuding melalui Pos Kesehatan Pariwisata Ijen Geopark.

Bagi wisatawan, Paltuding bukan hanya tempat memulai pendakian. Tempat ini juga menjadi titik untuk mempersiapkan kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan menuju kawah. Dan menariknya, Ijen dapat dinikmati dari berbagai sisi. Bagi wisatawan yang datang dari Bondowoso, perjalanan menuju Ijen membawa kita melewati kawasan pegunungan dan perkebunan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.

Menikmati Ijen dari Jalur Bondowoso

Perjalanan menuju kawasan Ijen dari Bondowoso menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebelum mencapai kawasan Paltuding, perjalanan melewati jalan pegunungan, perkebunan kopi, hutan, dan permukiman masyarakat. Semakin mendekati kawasan Ijen, udara semakin sejuk dan lanskap pegunungan semakin dominan. Inilah salah satu alasan mengapa perjalanan menuju Ijen dari Bondowoso layak dianggap sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar perjalanan menuju sebuah destinasi.

Kawasan Bondowoso juga memiliki hubungan yang kuat dengan perkebunan kopi. UNESCO mencatat Kopi Bondowoso  sebagai salah satu bagian dari warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark, dengan perkebunan kopi yang juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Maka, perjalanan ke Ijen dapat menjadi sebuah perjalanan yang lengkap: 

dari kopi, perkebunan, pegunungan, hutan, hingga kawah vulkanik.

Kawah Wurung: Savana di Kaldera Ijen

Tidak jauh dari kawasan Kawah Ijen terdapat salah satu destinasi yang menjadi favorit wisatawan di Bondowoso, yaitu Kawah Wurung. Kawah Wurung merupakan bentang alam berupa cekungan yang dihiasi hamparan padang rumput. Pada musim tertentu, kawasan ini tampak hijau dan luas, sehingga sering diasosiasikan oleh wisatawan dengan sebutan “Bukit Teletubbies.”

Pemandangan Kawah Wurung sangat berbeda dengan Kawah Ijen. Jika Kawah Ijen menawarkan panorama kawah vulkanik dan danau berwarna biru kehijauan, Kawah Wurung menawarkan hamparan savana dan perbukitan. Di sekitar kawasan wisata, wisatawan juga dapat menikmati kopi Arabika yang menjadi salah satu komoditas khas pegunungan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri memasukkan Kawah Wurung sebagai salah satu kawasan pariwisata penting dalam kawasan Ijen-Raung. Kawah Wurung juga menjadi bagian dari pengembangan Ijen Caldera Adventure, termasuk paket perjalanan menggunakan jeep yang menyusuri kawasan savana dan lanskap Ijen.

Puncak Megasari: Menatap Ijen dari Ketinggian

Bagi mereka yang ingin menikmati kawasan Ijen dari sudut pandang yang berbeda, Puncak Megasari menawarkan pengalaman menarik.Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan bentang alam Ijen dari ketinggian.

Puncak Megasari juga telah menjadi salah satu destinasi yang mendapatkan perhatian dalam pengembangan pariwisata kawasan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkannya dalam kawasan pariwisata Ijen-Raung. Dari sini, Ijen tidak lagi sekadar terlihat sebagai sebuah kawah. Kita dapat melihatnya sebagai sebuah bentang alam besar yang tersusun atas gunung, lembah, hutan, perkebunan, dan permukiman masyarakat.

Air Terjun Blawan dan Aliran Kalipait

Perjalanan menyusuri kawasan Ijen tidak berhenti di gunung. Di Kecamatan Ijen terdapat Air Terjun Blawan, salah satu destinasi alam yang memiliki karakter unik. Air Terjun Blawan berada di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen. Air terjun ini memiliki hubungan dengan aliran air dari kawasan Ijen dan dikenal memiliki kandungan mineral serta sulfur yang membuat karakter airnya berbeda dari air terjun pada umumnya.

Yang membuat Air Terjun Blawan menarik adalah alirannya yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Karena karakter tersebut, masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai air terjun yang “hilang ke bumi”.

Tidak jauh dari kawasan ini terdapat Pemandian Air Panas Blawan. Setelah perjalanan menyusuri pegunungan dan berbagai destinasi Ijen, berendam di air hangat dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pemandian Air Hangat Blawan juga tercatat sebagai salah satu destinasi wisata alam di Kecamatan Ijen. Sementara itu, Kalipait juga menjadi bagian dari kawasan wisata Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkan Kalipait bersama Kawah Ijen, Kawah Wurung, Air Terjun Blawan, Puncak Megasari, dan agrowisata kopi sebagai bagian dari kawasan pariwisata Ijen-Raung.

Air Terjun Gentongan dan Pesona Alam di Lereng Ijen

Selain Blawan, kawasan Ijen juga menyimpan sejumlah air terjun dan bentang alam lain yang menarik untuk dijelajahi. Salah satunya adalah Air Terjun Gentongan.Keberadaan air terjun, aliran sungai, hutan, dan lembah menunjukkan bahwa kawasan Ijen tidak hanya memiliki kekayaan geologi, tetapi juga kekayaan hidrologi dan ekosistem.

Daftar destinasi resmi Kabupaten Bondowoso mencatat sejumlah objek wisata alam di kawasan ini, termasuk Air Terjun Gentongan, Kalipait, Mini Niagara, Air Terjun Pelangi, serta sejumlah destinasi lainnya. Dengan demikian, wisata Ijen sebenarnya dapat dikembangkan menjadi perjalanan beberapa hari, bukan hanya kunjungan singkat untuk melihat kawah.

Kebun Kopi Arabika: Ijen dan Aroma yang Mendunia

Ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berbicara mengenai kawasan Ijen di Bondowoso: 

kopi. Perkebunan kopi Arabika tumbuh di kawasan dataran tinggi Bondowoso. Udara sejuk, kondisi tanah vulkanik, serta lingkungan pegunungan menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan perkebunan kopi. Kopi bukan hanya komoditas pertanian. Di kawasan Ijen, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas kawasan.

UNESCO secara khusus mencatat Bondowoso Coffee sebagai salah satu unsur warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark. Perkebunan kopi di kawasan tersebut juga memiliki hubungan dengan keanekaragaman flora dan fauna. Karena itu, perjalanan ke Ijen akan terasa lebih lengkap apabila disertai dengan pengalaman menikmati kopi Arabika di tengah perkebunan.

Bayangkan:

pagi yang dingin, kabut yang perlahan terangkat, hamparan kebun kopi, dan secangkir kopi Arabika hangat.

Itulah wajah lain Ijen yang mungkin tidak selalu terlihat dari puncak kawah.

Ijen Bukan Hanya Tentang Geologi

Keistimewaan Ijen UNESCO Global Geopark tidak hanya terletak pada gunung dan kawahnya. Konsep geopark menghubungkan warisan geologi dengan warisan alam dan budaya, serta menggunakannya sebagai sarana pendidikan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Karena itu, ketika kita berbicara mengenai Ijen Geopark, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah kawasan yang jauh lebih luas daripada Kawah Ijen.

Ada masyarakat.

Ada perkebunan.

Ada tradisi.

Ada cerita sejarah.

Ada flora dan fauna.

Ada situs geologi.

Ada situs budaya.

Dan semuanya saling berhubungan.

Situs Geologi, Biologi, dan Budaya

Kawasan Bondowoso yang termasuk dalam Ijen Geopark memiliki berbagai situs yang memperlihatkan hubungan antara alam dan kehidupan masyarakat. Dari sisi geologi, terdapat berbagai bentuk bentang alam vulkanik seperti kawah, lava, dinding kaldera, dan sumber air panas.

Dari sisi biologi, kawasan Ijen memiliki hutan pegunungan, perkebunan kopi, serta berbagai jenis flora dan fauna. UNESCO mencatat keberadaan beragam flora dan fauna di kawasan perkebunan kopi Bondowoso.

Sementara dari sisi budaya, Bondowoso memiliki berbagai tradisi dan kesenian masyarakat yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Dengan demikian, perjalanan Ijen bukan hanya perjalanan melihat pemandangan.

Ia adalah perjalanan untuk membaca cerita bumi dan manusia.

Ijen sebagai Ruang Belajar

Salah satu gagasan penting dalam konsep geopark adalah menjadikan kawasan sebagai ruang pendidikan. UNESCO menjelaskan bahwa UNESCO Global Geopark bukan sekadar kawasan wisata. Geopark juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bumi, warisan geologi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, perjalanan ke Ijen dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik.

Anak-anak dapat belajar mengenai gunung api. Pelajar dapat memahami proses pembentukan kaldera.

Wisatawan dapat melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan kawasan pegunungan.

Petani dapat memperkenalkan proses budidaya kopi. Dan masyarakat lokal dapat menjadi bagian penting dalam menjaga serta memperkenalkan warisan daerahnya.

Menikmati Ijen dari Bondowoso

Jika ingin menjelajahi kawasan Ijen dari sisi Bondowoso, banyak pilihan yang dapat disusun dalam sebuah perjalanan.

Misalnya:

Hari pertama

Bondowoso – Sumberwringin – perkebunan kopi – Kawah Wurung – Puncak Megasari.

Hari kedua

Paltuding – pendakian Kawah Ijen – menikmati panorama kaldera – turun menuju kawasan Blawan.

Hari ketiga

Pemandian Air Panas Blawan – Air Terjun Blawan – Kalipait – perjalanan kembali menuju Bondowoso.

Tentu saja susunan perjalanan perlu menyesuaikan kondisi cuaca, aturan pengelola, kondisi jalur, serta status operasional masing-masing destinasi.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri pada 2025 memperkenalkan perjalanan GeoTrip Ijen Caldera Adventure yang menghubungkan beberapa destinasi, antara lain Paltuding, Kalipait, Kawah Wurung, Jabal Kirmit, dan Air Panas Blawan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Ijen dapat dinikmati sebagai satu rangkaian perjalanan, bukan sebagai destinasi yang berdiri sendiri.

Menjaga Pesona Ijen untuk Generasi Mendatang

Keindahan Ijen membawa tanggung jawab.

Semakin terkenal sebuah kawasan wisata, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga lingkungan dan mengatur aktivitas wisata secara berkelanjutan.

Kita datang ke Ijen untuk menikmati alam, tetapi pada saat yang sama kita juga harus menjaga alam tersebut.

Tidak membuang sampah.

Tidak merusak vegetasi.

Tidak mengambil bagian dari lingkungan sebagai cendera mata.

Mengikuti aturan kawasan konservasi.

Menghormati masyarakat lokal.

Dan yang tidak kalah penting, menghargai para pekerja serta masyarakat yang menggantungkan kehidupan mereka pada kawasan Ijen.

Inilah semangat penting dari sebuah geopark: menikmati, memahami, melestarikan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Ijen, Cerita Panjang di Bumi Bondowoso

Pada akhirnya, Ijen bukan hanya tentang foto di tepi kawah.

Bukan hanya tentang blue fire.

Bukan hanya tentang sunrise.

Bukan pula hanya tentang hamparan savana Kawah Wurung.

Ijen adalah sebuah cerita panjang tentang bumi.

Cerita tentang gunung api yang membentuk bentang alam.

Cerita tentang air dan lava.

Cerita tentang hutan dan perkebunan.

Cerita tentang kopi Arabika yang tumbuh di lereng pegunungan.

Cerita tentang masyarakat yang hidup dan bekerja di kawasan ini.

Dan cerita tentang bagaimana sebuah wilayah menjaga warisan alamnya untuk generasi berikutnya.

Dari Kawah Ijen, Kawah Wurung, Puncak Megasari, Kalipait, Air Terjun Blawan, Pemandian Air Panas Blawan, hingga perkebunan kopi, semuanya merupakan kepingan dari satu cerita besar bernama Ijen Geopark.

Bondowoso memiliki pintu untuk memasuki cerita itu.

Sebuah perjalanan yang dimulai dari kota, kemudian melewati perkebunan, menanjak menuju pegunungan, hingga akhirnya berhadapan dengan bentang alam vulkanik yang luar biasa.

Dan di sana kita akan memahami bahwa keindahan Ijen bukan hanya apa yang terlihat oleh mata.

Ijen adalah jejak panjang bumi yang dapat kita baca, kita nikmati, dan kita jaga bersama.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso: Menelusuri Sejarah Para Pemimpin Bondowoso

5:44:00 AM 0



Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis dan sejarah yang menarik. Kabupaten ini menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai.

Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.

Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.

Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.

Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.

Jejak Para Pemimpin Bondowoso

No.Masa JabatanNama/Jabatan
11819–1830Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra)
21830–1850Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra)
31850–1866Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
41866–1879Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
51879–1891Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo
61891–1908Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail)
71908–1925Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro
81925–1928Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo
91928–1934Bupati RT. Prodjodininggrat
101934–1938Bupati RT. Herman Hidajat
111938–1945Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo
121945–1946Bupati R. Soetandoko
131946–1949Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo
141949–1950Bupati RT. Badroes Sapari
151950–1951Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo
161951–1956Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo
171957Bupati Soejarwo
181957–1958Bupati R. Soetowo
191958–1959Bupati Djomadi Moespan
201959–1964Bupati Soetowo
211964–1965Bupati Soemarto Partomihardjo
221965–1973Bupati Mayor R. Arifin Djauharman
231973–1978Bupati Kolonel R. Surono
241978–1983Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi
251983–1988Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai
261988–1993Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
271993–1998Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
281998–2003Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
292003–2008Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
302008–2013Bupati H. Amin Said Husni
312013–2018Bupati H. Amin Said Husni
322018–2023Bupati KH. Salwa Arifin
332025–2030Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag

Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini

Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.

Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.

Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.

Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.

Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Jejak itu masih ada.

Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

Kamis, 13 Desember 2018

Menghargai Proses Bersama Swayanaka Jember I

4:24:00 PM 0
Pengurus Swayanaka Indonesia 
Regional Jember Periode 2016-2017

Bertahun-tahun menemani Swayanaka Regional Jember dengan suka dan dukanya membuat saya ketagihan bergerak dan ikut urun tangan mengentaskan permasalahan anak Indonesia dari kota tempat saya menimba ilmu. Senyuman tulus malaikat kecil dan ekspresi mereka membuat kita ingin terus menemuinya, terkadang disaat seperti sekarang masih sering merindukan mereka. pada awal 2016, saya diberikan amanah dan tanggung jawab untuk menahkodai kapal besar ini, yang bernama Swayanaka. Banyak kisah suka dan duka bersama Swayanaka 1 tahun terakhir sebelum menjadikan diri demesioner raga. Saya dan Tim terus mengembangkan swayanaka yang telah di bangun sejak 2013 tersebut.

[ Baca Juga : Bersama Mereka di Swayanaka Indonesia  ]
Saya merasa sangat beruntung memiliki tim kerja yang sangat responsive dan aktif. Bejuta-juta terima kasih saya ucapkan pada mereka para Pejuang Hak Anak Indonesia. sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka, Izinkan saya mengukir nama mereka masing-masing didinding rumah maya saya ini. untuk tetap berkobar semangat dalam  merawat, memperjuangkan, dan mencerdaskan anak bangsa dimanapun mereka berada (nantinya).


Badan Pengurus Harian Swayanaka Indonesia
Regional Jember 2016-2017

Didalam berorganisasi juga perlu beberapa orang sebagai tonggak utama sebelum pembentukan divisi yakni Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Dimanapun organisasi, komunitas, kumpulan mungkin perlu itu dan kali ini saya akan mengenalkan mereka yang tetap menghibahkan waktunya untuk memperjuangakan Hak Anak Indonesia dibagian wilayah Jember. Inilah jajaran Tim Swayanaka periode 2016, dan mereka yang sampai titik terakhir masih bertahan dan terus berkarya bersama dalam menghadapi suka duka berorganisasi. mereka yang berproses dan terus berproses akan merasakan proses itu. berikut adalah nama-nama yang berjuang bersama kami sampai akhir kepengurusan di tahun-tahun tersebut;

Wakil Ketua

Ahmad Aldi Fauzi

Dia merupakan wakil ketua swayanaka periode saya, serta seorang sahabat yang multitasking. Dia salah satu sahabat di koerawa yang di tuakan oleh sahabat yang lainnya, dia pemuda asli Kalibaru,Banyuwangi dan Pembina “RECIDA (Remaja Cinta Desa)”. saat di swayanaka dia bertugas mengontrol didalam organisasi, sementara saya betugas mengontrol dari eksternal, kita membagi tugas sendiri saling mengisi satu sama lainnya. kita pernah satu kontrakan sewaktu masih kuliah semester akhir, dengan banyak cerita saat kita berorganisasi bersama, bersaudara bersama dalam “koerawa” serta menjadi tim netralisatas di kampus. Sehingga, cukup banyak yang aku ketahui tentangnya dan banyak diskusi yang kadang membuat kita bersitegang. etapi, mencair ketika kita sruput kopi di warung depan kontrakan. Kalau masalah percintaan, insyallah dalam waktu dekat dia akan segera menikah dengan wanita yang dia temani saat di bangku SMA, do’akan saja disegerakan  biar segera insyaf.. kan iya mo  ?

Sekretaris

Aisatul Haidariyah

Seorang santriwati yang menjadi sekretaris di kepengurusanku. Sangat energik dalam berkegiatan dan jadwalnya padat selain kesibukannya kuliah dan organisasi, ia juga aktif merintis les privat yang dicita-citakan menjadi LBB berkelas nantinya. Saat ini ia sangat sibuk nomaden dari kota satu ke kota satunya, dengan kesibukan LBB yang ia tekuni sedari menjadi Mahasiswa itu. nah dalam urusan administratif sangat cag-ceg. Tanpa saya memberikan contoh dia langsung gaspoll dan mau belajar. Selamat ya Ais semoga Tahun Depan Sudah selesai mbolang sendiriannya…

Bendahara Umum

Alifa Juliana


Swayanaka Jember
Perempuan asal Probolinggo ini merupakan sarjana pendidikan fisika . Bendahara Umum yang bertahan sepanjang pengurusan, kalau masalah duit sangat rijik dan detail banget. Apalagi, soal sisa dari uang anggaran yang masih ada di setiap individu dia sangat crewet. Tapi, dengan crewet, pelitnya serta detailnya dia menangani masalah keuangan organisasi, organisasi bisa tetap survive dan lancar dalam berkegiatan. tak ayal, mantan bendahara ini, sekarang menjadi karyawan salah satu bank di Surabaya. Terima kasih bendahara umum yang selalu mengingatkan sisa anggaran kegiatan kepada kami. Sisa anggaran di saya sudah lunas ya buk hahaha

Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia

Dari Kiri ( Malik, Nisrina, Habibah, Syari, Andri)

Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia, ini merupakan divisi yang berperan penuh kepada pengkaderan dan pengeratan dalam jajaran organ diswayanaka, yang sering di istilahkan sebagai bapak dan ibu Swayanaka Jember. dari jajaran ini akan saya perkenalkan beberapa yang menjadi pemeran penuh dibalik suksesi kaderisasi di Swayanaka Jember.

Malik Naharul

Mosok lik ?

Nah , ini adalah Malik Naharul yang berperan penuh dalam pimpinan sebagai Kepala divisi PSDM Swayanaka regional Jember. Mahasiswa Fisip Universitas Jember jurusan Sosiologi ini, berasal dari Kota Blitar dan selama ini aktif di kegiatan olahraga sepak bola dan futsal selain kegiatannya sebagai kepala divisi PSDM. Mahkluk satu ini sangat absurd, dan sering membuat bingung anggotanya dalam bertindak. Ucapannya yang khas “ mosok”, mosok adalah kata ecean dia jika ada yang berpendapat. Dia adalah punggawa di divisi PSDM dan menjadi bapak bagi anggota swayanaka yang lainnya. dan pada akhirnya dia  menemukan ibu Negara di kapal besar ini, semoga mereka berjumpa untuk selamannya. Tak dunga’no lik, ndang budal neng Jeporo, arek arek Kurowo wis podo siap budal neng kono.

Nisrina

Nisrina ini merupakan anggota dari divisi PSDM, Gadis yang akrab disapa Irin ini merupakan mahasiswa Poltekes kemenkes Malang Di Jember, gadis penggemar eskrim ini,  merupakan mahasiswa satu-satunya yang berasal dari kemenkes malang yang bertahan sampai akhir dalam kepengurusan. Dia berasal dari kota Jember dan aktif berorganisasi sejak menempuh sekolah menegah Atas Di Madrasah Aliyah Negeri Jember yang terkenal karena sebuah pengungkapan bersejarah disekolahnya, membuat dia terus aktif berorganisasi. kesibukannya saat ini menempuh semester akhir sebagai calon Bidan professional.

Syarifatul Laili

Syarifatul laili, perempuan Jepara yang cukup mirip kisahnya dengan kartini, karena setiap berkegiatan sangat energik dan cukup feminis kalau saya liat. Dia sering disebut ibu dari swayanaka Jember kala itu, karena ke ibuannya dan ketelatennannya mengingatkan anggota yang menjadi tugasnya di PSDM membuat dia harus bekerja ektra membuat anggota terus rekat dengan banyak inovasi program yang dituangkan bersama di divisi PSDM. Syar, ojok lali lek wesan kakang prabu rawuh neng jeporo di sambut yo sar, eh koyok’e wes mari tekan kono. Semoga kalian jadi keluarga yaaa.

Habibah Z

Habibah , panggilan akrabnya bibah merupakan anggota dari divisi PSDM yang paling kritis jika ada kejadian internal yang tidak bagus, mahasiswa asal Jember Barat yang sampai saat inipun janji saya berkunjung tak kunjung sampai. Mahasiswa jurusan pendidikan fisika ini merupakan mahasiswa yang cukup aktif dalam selama kuliah dan di pengurusan saya ia mengikuti sampai akhir, kesibukan saat ini menjadi salah satu guru di daerah Tanggul. Lama tak ada kabar, semoga ada kabar baik ya bib yang datang ke Meja kerja saya ditahun depan, oiya kang jibur iniloh masih kosong hahaha

Moh. Andri F

Panggilan akrabnya andri atau landro, dia merupakan mahasiswa angkatan saya dan saya menyeret ke swayanaka waktu awal sawayanaka di dirikan, berawal dari penelitiannya tentang swayanaka regional Jember, lambat laun ia mengikuti kegiatannya swayanaka. Mahasiswa ini adalah pasukan dari kurowo “pasukan berani mati, takut lapar”. Sahabat yang baik ini sering memberikan saya utangan ketika saya susah diperantauan. Beberapa kali saya meminjam kalau tidak salah sampai saaat ini masih ada sisa ke dia. selain aktif berorganisasi ia juga aktif dalam bisnis online (dulu) sewaktu masih bersama sang mantan. Mahasiswa ini merupakan salahsatu sahabat kurowo yang dari Genteng, kalau saya ke Banyuwangi pasti ia jemput saya, bahkan suatu hari pernah mengantarkan saya ke daerah songgon, sahabat sangat baik bagi saya. Saat ini ia sibuk menjadi Bos dan NgGojek di sekitar Genteng, lagi mencari tambatan hati kembali, karena kegagalan ditinggal rabi. Sabaro yo ndri, sisa utangku engko yoo…

Fahmi N.H

Panggilan akrabnya Parmai, pria asal Ajung Jember yang memiliki berhektar tanah yang sering telat hadir ketika ada kegiatan. Dia merupakan sahabat baik saya juga di Kurowo, meskipun kadang sering ngilang saat dipengurusan saya. Sewaktu menjabat di pengurusan saya, ia juga aktif di organisasi yang lain serta kesibukannya menjadi surveyor professional. Dia merupakan penyelamat kami "kurowo" disaat uang kita menipis di perantauan dengan penawaran berangkat survei ke luar kota. pernah kita bareng survei ke Kota Batu Malang, waktu itu Edi rumpoko masih belum menjadi tersangka. Selain sibuk dengan organisasi, survei dan olahraga ia juga aktif bertani. Ia pengurus yang paling tinggi tubuhnya dan di kurowo juga sepertinya. Bagi saya dia banyak berperan penuh di ekternal kepengurusan meskipun posisinya di PSDM. Saat ini ia sibuk mengurusi sawahnya yang hektaran bertani sereh. Ojok lali skripsi yukk men..

        Divisi yang lain mana? kok cuma divisi PSDM yang ada, ditunggu ya di up date selanjutnya, masih ada divisi Kesehatan, divisi Pendidikan, divisi DANUS dan divisi HUMAS.. ditunggu ya....
Selamat Baraktifitas 

Selasa, 16 Oktober 2018

Ngartis Di Aula Apung Universitas Indonesia

12:35:00 PM 0

            Tepat pada hari Rabu 8 Maret 2017 saya dapat undangan mendadak oleh temen Mapala UI, untuk mengisi acara mereka. Sementara acara mereka mulai tanggal 9 maret atau keesokan harinya, bagamana tidak kaget dapet undangan mendadak, untuk berangkat ke UI Depok. Sementara mereka ingin saya mengisi materi mengenalkan potensi wisata kawasan Ijen, tetapi saya merasa belum memiliki kapasitas untuk menyampaikan itu. akhirnya dengan kepala tenang saya melakukan konfirmasi ke Pak Hary Patriantono selaku kadisparpora Bondowoso, untuk menjadi pemateri di acara temen Mapala UI, namun dengan berat hati waktu itu beliau ada acara diklat kenaikan jabatan di pemprov. Akhirnya dengan perasaan nekat sayapun memutuskan berangkat. sebenarnya acaranya ini adalah serangkaian dari acara perjalanan panjang jelajah pegunungan ijen, dengan tema “Belantara Ijen” yang disi dengan pameran foto, talkshow dan acaranya keren lainnya. oleh karena itu ini kesempatan emas untuk mengenalkakan potensi lain dari diskitar Kawasan Ijen melalui jalur tradisional yakni Bondowoso. Akan saya awali dengan beberapa cerita perjalanan mendadak yang banyak menyita waktu, tenaga , pikiran dan biaya.

Masih di hari Rabu, saya ditelpon oleh salah satu narahubung acara belanatara ijen, dia meminta kepada saya untuk membawa kopi untuk di display pada acara tersebut, dengan keadaan stok kopi di tempat pemasaran dalam keadaan offer stok, dan saya terdesak untuk berangkat hari kamisnya, tetapi saya menolak agar diundur Karena stok kopi sudah habis, akhirnya saya memutuskan mengambil kopi di petani, agar bisa memenuhi permintaan mereka. akhirnya kamis pagi saya berangkat untuk mengambil kopi di Petani tetapi baru ketemu petani sekitar Jam 2 Siang, dengan dikejar waktu akhirnya ambil kopi dengan menelan biaya yang cukup tinggi dan itupun masih membawa kopi rakyat dengan hutang dulu. Akhirnya diberikan dan dengan waktu yang terkejar karena harus berangkat Jum’at pagi. Dengan keadaan itu saya mencoba tenang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, mengingat perjalanan Bondowoso-Jember dengan keadaan tenaga sudah mulai tersita dan membawa kopi ke Jember untuk di packing, hingga packingnya memakan waktu hingga larut malam sekitar jam 01;00, karena hari itu  bertepatnya juga dengan salah satu ulang tahun sahabat saya , akhirnya jam satu nyamperin dia dikosan tetapi dia tidak ada, akhirnya balik lagi ke tempat packing. Sekitar jam 02;30, saya mulai terlelap karena besok paginya harus berangkat pagi. Akhirnya sudah beres semua untuk berangkat keesokan harinya.

            Jam dinding menunjukkan Jam 4.30 pagi, mata sudah terbangun dengan persiapan kopi yang di pakcing rapi dengan kardus dan dengan rasa lelah 1 hari penuh dengan tenaga yang tersisa, saya bangkit untuk berangkat ke Jakarta. Perjalanan kereta Jember-Jakarta tidak ada, saya  transit kereta di Purwakarta menuju stasiun Pasar senen. Sesampainya di stasiun pasar senen, dengan barang bawaan cukup banyak. Seperti orang mau mudik. Saya di jemput oleh salah satu calon anggota baru Mapala UI saat itu, yaitu Ghazi. Saya dijemput ke stasiun pasar senen dengan teman-teman kosnya, yang saya ingat saat itu nama temannya adalah Anis dan Abdul selebihnya saya lupa. Dengan keadaan Jakarta dan Depok malam hari yang terasa masih pukul sebelas malam kalau di Jember, saya di bawa menginap di kosannya Ghazi dan di kamarnya Anies sebagai tempat istirahat malam itu. Setelah itu pagi harinya saya di bawa ke skretariat MAPALA UI, terlebih dahulu.
Skertariat MAPALA UI

            Skretariat Mapala UI ini berada di sekitar danau yang memisah antara Fakultas Sastra dan Fakultas MIPA UI, yang dihubungkan dengan jembatan besi. berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA). Skretariat ini juga penuh dengan alat-alat yang berkaitan dengan Kepecinta alaman. Dari buku tua sampai alat untuk mendaki yang melegenda juga berada disana. Kalau mau disebut museum pendaki Indonesia cukup mewakililah. Yang membuat saya kaget waktu itu, pertama kali masuk kes skretariat Mapala UI melihat gambar yang cukup besar menghias dindingnya, setelah saya lihat dan baca quotesnya, ternyata digambar itu adalah Soe Hok Gie, dia alumni Fakultas Sastra UI dan merupakan salah satu orang yang mendirikan Mapala UI. Dia adalah seorang aktivis yang selalu mengkritisi pemerintah pada eranya. Dia adalah seorang tokoh pergerakan yang sangat nasionalis. Hingga saat ini nama Gie, masih melekat namanya di teman-teman aktivis. Gie meninggal dunia di puncak semeru dengan berbagai cerita. 
Sumber : www.goodreads.com

Lebih lengkapnya bisa baca sosok gie di Internet dan buku-buku, salah satunya terbitan TEMPO Edisi tokoh. 

Diskertatariat itu saya berjumpa dengan salah satu putra daerah dari Jember namanya Firman. Dan saya sedikit berdiskusi tentang Jember dengan dia,  menggunakan bahasa Madura dan menjadi pusat perhatian teman-teman disana. Dan saya juga berjumpa dengan putra daerah dari Lumajang, lupa namanya. Tetapi tidak begitu banyak diskusi dengan dia. diskertariat saya lanjut ke Aula Apung untuk menyampaikan misi, memperkenalkan potensi wisata dan potensi lainnya di kawasan lereng Ijen.

Tunggu cerita saya selanjutnya 

Rabu, 16 Mei 2018

Pemilik Rahim

1:08:00 PM 2

Pemilik rahim itu menagis
Menangis karena air hina yang pernah singgah di rahimnya
Air hina itupun tumbuh menjadi daging keras
Bahkan sekeras Batuan Karst
Pemilik rahim itu menangis 
Menangis bukan karena kerasnya airhina yang menjelma itu
Tetapi, menagis karena daging yang ia harapkan pernah bersanding dengan daging lembut
Iya, daging lembut yang hampir membusuk itu.
Pemilik rahim itu menangis
Karena, aroma tak sedap dari daging lembut itu
Daging lembut yang selama ini disangka akan menjadi pelembut daging keras yang pernah singgah dirahimnya
Daging lembut itu telah diangkat menjadi darah dagingnya sendiri.
Karena, prasangka baik pemilik rahim yang menangis.
Pemilik rahimpun gelisah
Gelisah daging keras itu tidak seperti dahulu
Tak sepeti karst menghadapi hidupnya
Karst yang dididik oleh kehidupan
Karst yang menjelma dari daging keras itu mulai tangguh karena daging lembut yang hampir membusuk.
Pemilik rahimpun seakan ikut tangguh
Setelah melihat karst yang masih berdirik tegak di tengah kemarau
Kemarau yang melanda tiga tahun lamanya.
Selamat pagi, pemilik rahim

Jember, 13 April 2018

Sabtu, 14 April 2018

PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI

6:54:00 PM 0

PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI


PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI
Garis tak selalu sejajar, ketika makhluk Tuhan sampaikan.
Bahkan bumi dan langitpun ia jauhkan,  agar ia belajar tentang kehidupan.
Begitupun pria bertuhan saat menyampaikan, kepadamu perempuan berpayung pelangi.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Jangan pernah menangis karena Tuhan mendidikmu
Saat makhluk Tuhan  dari jenis sebangsamu menyampaikan kisahnya.
Karena, takkan pernah berhenti menangis  sampai kisah itu berakhir.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Jangan pernah berjanji bertuhan, ketika kau masih dalam pelukan kisah itu.
Karena, janji bertuhan seakan tak jelas bersamamu sampai kau menemukan hakikatnya.
Janji dalam pelukan kisah pilu itu mengajarkan bahwa, Tuhan masih bersama pemilik kisah itu.
Untukmu perempuan berpayung pelangi,
Seakan tiada henti kau mencoba untuk menghiasi bumi dan langit dengan payungmu
Meskipun bumi seakan hancur melihat langit memeluk warna itu.
Kau abadikan Tuhan dalam kisah payungmu, seakan  warna itu menjadi penghias dalam diri makluk Tuhan yang lain.
Akan tetapi, pemilik kisah itu masih dalam didikan Tuhan yang tetap di peluk bumi yang hancur karena warna payungmu.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Malam itu, Tuhan mendidik langsung pemilik kisah yang pernah menjadi warna payungmu.
Tapi, sayang warna itu tak muncul karena di tutupi gelapnya malam.
Hanya cahaya bintang yang menjadi perantara dialog pemilik kisah dengan Tuhannya.
Ia tak memikirkan warna itu kembali, karena Tuhan mendidik pemilik kisah itu.
Pemilik kisah itu dididik dengan mengenalkan Ibrahim dan Musa agar dieja di waktu subuhnya.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Pemilik kisah itu telah berdamai dengan bulan perjuangan, yang kau sebut rembulan di hari rabu.
Bulan perjuangan itu menjadi saksi kekejamanmu dengan dalih bertuhan.
Pemilik kisah itupun menyadari, bumipun tak akan bisa memeluk warna pelangi itu, kecuali langit yang bisa memeluknya.
Untukmu Perempuan berpayung pelangi
Saatnya kau berdamai dengan mimpimu dalam pelukan langit yang kau pancarkan dari warna payungmu.
Pelukan yang kau nisbahkan sebagai kesempurnaan yang di semogakan.
Kesempurnaan yang kau libatkan Tuhan dalam janjimu.
Selamat pagi, perempuan berpayung pelangi.
Semoga selamat dengan janjimu, selamat jalan dengan hantaran curhat Subuh pemilik kisah.
                                                                                               
Jember, 13 April 2018

Jumat, 16 Maret 2018

Mendadak Survei: Jadi Pergi Berlibur Ke Kota Batu

10:04:00 PM 0


Selamat pagi, semoga kita masih menjadi manusia yang selalu bersyukur.
                Kali ini, saya akan bercerita perjalanan bekerja sebagai surveyor salah satu Lembaga survei dan sekaligus berwisata gratis ala surveyor.  Tepatnya pada tahun 2016, saya bersama sahabat-sahabat koerawa mendadak survei ke salah satu kota yang dikenal dengan kota wisata yaitu Kota Batu. Kota yang terletak di Malang Raya ini, merupakan kota yang baru saja di bangun dan baru saja berdiri sebagai kota. nah, waktu itu kita mendadak survei kesana untuk pelayan publik dan masalah sosial yang terjadi disana. Kita ditugaskan oleh salah satu lembaga survei swasta, dengan gaji cukup buat seorang mahasiswa tingkat galau waktu itu.

                Sehari sebelum kita berangkat, kita diberi kabar oleh satu sahabat kita di koerawa kalau mau ada survei ke kota Batu. Setelah itu, kita semua mendaftar kecuali beberapa yang tidak ikut mendadak survei. Kita training untuk melakukan survei setelah itu ternyata kita tandom kerjanya, jadi satu desa dua surveyor. Dan pada akhirnya Kita berangkat bareng ke Batu menggunakan Bis Akas Malang-Jember. waktu itu kita sempatkan dulu berswafoto di dalam bis, kita berangkat bertujuh yang salah satunya merupakan surveyor sejati diantara sahabat-sahabat koerawa yang lain yaitu si jangkung Fahmi. Kebetulan saya pada saat itu tandem dengan salah satu surveyor cewek dari kota lain. Dengan membawa kuesioner dan hadiah untuk responden berupa kaus, saya berangkat dari Jember dengan 20 kuesioner di dalam tas dan 20 lembar kaus di tangan.
Rekan Tandem

                Sesampainya di kota Malang, saya masih mencari tempat beristirahat sejenak sebelum berangkat ke Desa yang di tuju. Kebetulan waktu itu saya diajak ke kontrakan temennya Bli Irham yang waktu itu kontrakannya deket UMM. Dengan rasa lelah Jember-Malang, kita masih istirahat meluruskan otot yang tegang. Pada akhirnya, kita sudah siap tempur untuk turun ke desa masing -masing.  Kalau tidak salah waktu itu bli Irham ke daerah Tretes, sementara saya berangkat ke Desa Tulungrejo Kecamatan Bumi aji. Kita berpencar kesemuanya mulai melakukan rekam data ke balai desa, bahkan ada yang di tolak meminta surat dari bakesbangpol kota batu, sementara waktu itu kita sudah memiliki surat ijin dari bakesbangpol Jawa Timur. Dengan perasaan capek kita meloby perangkat desa, mereka masih ngotot minta surat dari  Bakesbangpol Kota Batu. Akhinya saya berangkat ke balai kota untuk meminta kepada tim yang telah mengurus disana. akhirnya dengan perasaaan lega kita dapat meloby perangkat desa dengan menghubungi kepala desa langsung dan yang menjadi pihak lobiying saat itu temen tandem saya yang cewek tersebut.

                Setelah itu kita mulai mengacak Dusun untuk dibagi menjadi dua dengan tandem saya. Akhirnya kita mendapatkan lokasi yang akan menjadi objek dan responden kita. tetapi hari telah sore, dengan secepatnya saya dan kawan tandem saya, yang waktu itu saya belum tau asalnya darimana dan namanya siapa, ikut saya mencari tempat berteduh untuk beberapa hari ke depan. Kita menuju rumah Kasun yang berada tidak jauh dari Selecta. Selecta merupakan tempat wisata yang terkenal di kota Batu. Tepatnya dirumah pak kasun Khamim, orangnya tinggi besar dan kasun yang perlu di contoh oleh kasun dikota saya mungkin. Akhirnya, kita di terima langsung oleh beliau, beliau merupakan kasun yang memiliki jiwa politik yang tinggi dan juga pengusaha.
Visi dan Misi Perusahaan Roti Pak Kasun

                Waktu itu, kita dipersilahkan menempati rumah ketiganya. Untuk beberapa hari kedepan dengan ditemani oleh Sam Wawan yang waktu penuh tato di tubuhnya, tetapi dia baik banget. Dia mengatakan dia menyukai seni tattoo, tapi sudut pandangku waktu itu orang bertatto pasti orang gak bener, tetapi sejak itu saya baru menyadari bahwa otak saya selama ini sakit, mengenal orang Cuma melalui penampilan dhohirnya. Mas wawan mempersilahkan kita untuk memilih kamarnya, yang kebetulan waktu itu rumah tersebut juga sebagai tempat produksi kripik Apel. Ya, pak kasun Khamim ini merupakan kasun sekaligus pengusaha beberapa usaha, dari kontraktor sampai produksi makanan. Tiga rumah yang di miliki itu, dua diantaranya merupakan rumah usahanya. Rumahnya berdekatan, antra satu dengan yang lain, Rumah utama merupakan rumah untuk pak kasun sekeluarga dan yang dua rumah produksinya merupakan tempat memproduksi kripik dan roti.

Merek Roti Milik Pak Kasun

                Pagi selepas jam tujuh waktu itu, datang beberapa ibu-ibu dengan membawa pisau kecil untuk mengupas kulit apel di rumah yang saya tempati semalam tersebut. Tidak lupa saya mengabadikan moment tersebut. di tempat ini yang menjadi penaggung jawab produksi adalah mas wawan, mas wawan yang mengatur beberapa kegiatan disini dengan di temani beberapa karyawan lainnya di produksi. Dalam produksi keripik ini ada sisi pemberdayaan ibu-ibu lanjut yang menjadi pekerja harian di dalam produksi ini. waktu itu saya tidak bertanya berapa gaji mereka, tetapi waktu yang terlintas bagi otak saya adalah bagaimana saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan seperti pak khamim tersebut. selepas dari rumah respon yang dekat-dekat, malam hari itu saya diajak mas wawan untuk melihat langsung prosuksi diruangan belakang dan sekaligus menikmati kripik apel sepuasnya. Waktu itu saya di tunjukkan satu persatu prosesnya dari pencucian sampai bisa di nikmati dan menjadi oelh-oleh khas kota Wisata Batu.
Ibu-ibu yang asyik mengupas Apel

                Selepas itu, saya juga dipersilahkan oleh Pak Khamim untuk melihat usaha yang di rumah keduanya yaitu Roti. Roti tersebut bermerek Roterdam yang beralamatkan Jalan Selecta Kota Batu. Saya masuk ke bagian gudang tepung yang berada dia lantas atas dan masuk ke ruang produksi di bawah, kebetulan rumahnya ini berada di bukit, jadi ruang produksinya berada di bawah. Saya melihat bagaimana prosesnya sampai di kemas dengan higenis. Setelah saya Tanya sudah sampai mana produknya tersebut, ternyata sudah sampai ke luar kota Batu dan Malang. Di rumah produksi Roti ini, banyak karyawan laki-laki beda dengan di rumah produksi kripiknya. Mungkin karena yang memiliki usaha roti ini atas nama Pak Khamim dan Produksi kripik kata pak khamim di pasrah kepada sang istri.  Setelah itu, berlanjut menjelaskan beberapa visi misi perusahaannya dan beberapa tujuan yang ingin memberdayakan orang-orang sekitarnya.
Perusahaan Roti Pak Kasun

                Dua hari telah berlalu di lokasi dusun dekat saya tinggal, saya masih memiliki tugas mewawancarai dua responden di Dusun terjauh yakni Dusun Wonorejo yang berada di jalan menuju Wisata Coban Talun. Dari dusun dekat balai Tulungrejo rumah pak Khamim tersebut, saya berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilo meter. Waktu itu mau naik ojek eman uangnya sudah mepet. Akhirnya berjalan kaki sejauh itu, tetapi kurang sepertiga perjalan bertemu bapak yang baik hati, dengan mempersilahkan bonceng sampai ke dusun Wonorejo. Akhirnya, saya sampai disana sekitar jam dua siang, akhirnya saya mengacak siapa yang mau diwawancarai, dengan cuaca dingin kota Batu kalau sudah menjelang malam, mulai terasa. Saya memewancai baru selesai sekitar jam delapan malam, dengan cuaca berkabut disana, akhirnya saya memutuskan untuk tidur di Masjid terdekat. Karena, sampai saat ini, tempat teraman sepanjang berkelana adalah masjid. Meskipun akhir-akhir ini masih terjadi kekerasan dirumah ibadah, Tetapi waktu itu tidak.  Saya berpamitan untuk tinggal di masjid tersebut ke RT setempat, tetapi malah waktu itu diajak ngobrol dan di suguhi apel segar malam-malam dengan suasana dinginnya Kota Batu dan makanan ringan bernuansa pedesaan. Kita ngobrol sampai kira-kira sampai jam 9, akhirnya dengan besar hati dan baik hati saya diantarkan oleh pak RT Tersebut kerumah Pak Khamim, karena keesokan harinya saya harus menyelesaikan di dusun yang berada di tengah, karena mengejar target juga. Akhirnya, sesampainya di rumah produksi kripik apel tersebut sudah di siapkan nasi Goreng dan teh panas yang mulai dingin karena sejuknya kota Batu.
 Bahan Kripik Apel

                Kamipun makan bersama di akhir malam-malam bersama sebelum besok siang cabut, untuk cleaning data bersama bang Muhlisin. Bercerita banyak dengan mas wawan dan rekan tandem saya sampai larut malam, banyak yang kita bicarakan mulai produksi sampai masalah tattoo sebagai seni. Dengan keadaaan malam yang dingin itu, aku masih menyempatkan untuk ke tempat produksi lagi dibelakang  menemani mas wawan. Dengan mesin berkapasitas kurang lebih 20 liter minyak nabati.
 Tulungrejo

                Mentaripun meyingsing, pagi saat itu seakan menjadi hal yang indah dikota orang dengan beban survei masih belum rampung keseluruhan. Setelah sarapan saya berpamitan kepada Pak Khamim dan keluarga di Rumah utama untuk melanjutkan di dusun yang belum selesai sekaligus pamit untuk pulang ke Jember. kamipun masih di suruh membawa beberapa apel segar untuk cemilan, dengan sigap saya memasukkan apel-apel segar tersebut ke dalam tas saya yang mulai luas, karena kuesioner sudah berkurang dan kaus sudah tinggal beberapa.
Desa Sejuta Apel

        Setelah saya pamit, HP saya bunyi ternyata kabar dari sahabat-sahabat koerawa mereka sudah selesai dan beberapa yang lainnya tinggal satu. Saya mengabari mereka kalau punya saya masih tinggal beberapa, karena kendala tidak ada kendaraan. Akhirnya mereka yang selesai, meyusul saya dengan membawa kendaraan pribadi. Fauzi, lian dan Bli Irham ketempat saya. Kebetulan pas telpon saya lagi berada dirumah responden, yang kebetulan juga saya harus bersuara lirih menerima telpon dari mereka. Akhirnya mereka dengan rasa khawatir mereka menjemput saya. Tapi waktu itu saya lagi menikmati buah apel dan beberapa buah hasil kebun responden. Kebetulan yang saya wawancarai anak SMA kelas tiga waktu itu, mereka datang lalu dengan suara lirih ketelinga saya bilang “ tak Kiro wes smaput kon, suaramu barusan seperti orang mari smaput, malah wawancarai wedok ayu  kon iki”. Saya Cuma bisa senyum kecil ke mereka. Oiya ada yang lupa, kota batu ini merupakan tempat pejuang HAM Munir, disana saat ini berada Omah Munir yang terletak di kanan jalan dari arah kota Batu Menuju Rumah Pak khamim.
Akhirnya semua telah selesai, kitapun berempat balik ke kota dan melakukan cleaning data. Tidak lupa kita masih mampir ke ketan legenda yang antrinya  Masyallah. Kita mulai kembali berkemas diri untuk balik lagi malam itu ke jember, tetapi kita putuskan balik pagi hari, malah itu kita menginap di rumah saudara dan teman-teman kenalan di Malang.
                Perjalan ini sunggguh berkesan bagi saya, banyak pelajaran dan tentunya ini yang dinamakan mendadak survei dan traveling gratis ala surveyor.  Terima Kasih Saiful Mujani, Ngalam,Kota Batu, Pak Kasun Khamim, Pak Amri Selecta, Pak RT di Wonorejo, responden dan semua pihak yang telah berbuat baik pada saat itu. kapan-kapan saya kesana lagi, Insyallah dengan cerita berbeda.

Batu, itu namamu.
Kota dengan seribu cerita.
Meskipun, hanya beberapa hari aku berada di pelukanmu.
Kota Wisata, Julukanmu.
Penuh inspirasi yang tumbuh dalam otakku ketika aku menyertaimu.
Omah munir, menjadi saksi bahwa kamu kota pahlawan HAM.
Roti Roterdam Dan Kripik Apel, menjadi saksi bahwa kamu kota berdikari.
Batu, itu namamu.
Alam nan indah, elok menawan hati.
Dinginmu, seakan menyihirku untuk memelukmu.
Batu, baik-baiklah dengan pemimpin barumu.
Suatu saat aku akan kembali menyambangimu dengan cerita baru.