Tampilkan postingan dengan label Jejak Abadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak Abadi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Ijen Geopark : Pesona Kaldera Ijen Purba di Bondowoso

6:21:00 AM 0

Bondowoso memiliki bentang alam yang luar biasa. Di wilayah timur kabupaten ini, kawasan pegunungan Ijen menghadirkan perpaduan antara lanskap vulkanik, hutan, perkebunan kopi, air terjun, sumber air panas,s avana, serta kehidupan masyarakat yang telah berabad-abad beradaptasi dengan lingkungan pegunungan.

Kawasan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari Ijen UNESCO Global Geopark, sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita tentang proses geologi, keanekaragaman hayati, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.

Ijen UNESCO Global Geopark berada di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. UNESCO menetapkan Ijen sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2023. Kawasan ini memiliki nilai geologi yang sangat penting, terutama karena bentang alamnya terbentuk dari aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Di kawasan ini terdapat konsentrasi kerucut vulkanik, kawah, dan aliran lava yang memperlihatkan bagaimana aktivitas gunung api membentuk wajah wilayah Ijen. Salah satu pusat perhatian utamanya tentu saja adalah Kawah Ijen. Bagi masyarakat Bondowoso, Ijen bukan sekadar gunung atau kawasan wisata. Ijen adalah ruang hidup yang mempertemukan alam, perkebunan, budaya, sejarah, dan aktivitas masyarakat.

Kawah Ijen, Pesona Kaldera yang Mendunia

Kawah Ijen merupakan salah satu ikon wisata alam Jawa Timur. Kawah ini berada di dalam sistem kaldera Ijen dan memiliki danau kawah berwarna biru kehijauan yang memiliki tingkat keasaman sangat tinggi. UNESCO menyebut Danau Kawah Ijen sebagai danau kawah paling asam di dunia.

Keindahan Kawah Ijen semakin lengkap dengan dinding-dinding kaldera yang menjulang dan membentuk lanskap dramatis. Ketika cahaya matahari pagi mulai menyentuh lereng dan permukaan kawah, warna-warna alam berubah perlahan. Kabut yang menggantung di antara pepohonan dan tebing menciptakan suasana yang sulit dilupakan. Namun, ada satu fenomena yang membuat Ijen begitu terkenal di dunia: blue fire atau api biru.

Fenomena tersebut bukanlah lava berwarna biru. Api biru muncul ketika gas sulfur bersuhu tinggi keluar dari kawasan vulkanik dan terbakar ketika bertemu dengan oksigen di atmosfer. Karena fenomena tersebut paling mudah terlihat pada malam hari, pengunjung yang ingin menyaksikannya biasanya harus melakukan perjalanan sebelum matahari terbit.

Fenomena api biru Ijen merupakan salah satu fenomena vulkanik yang sangat langka dan menjadi daya tarik utama kawasan ini. Tetapi Ijen bukan hanya tentang api biru. Ada perjalanan menuju puncak, udara dingin, suara langkah kaki, aktivitas penambang belerang, hutan pegunungan, matahari terbit, serta panorama kaldera yang perlahan terbuka ketika kabut mulai menipis. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari cerita perjalanan menuju Kawah Ijen.

Paltuding, Gerbang Pendakian Kawah Ijen

Salah satu titik penting dalam perjalanan menuju Kawah Ijen adalah Paltuding. Paltuding menjadi kawasan awal pendakian yang sangat dikenal oleh wisatawan yang hendak menuju Kawah Ijen. Dari sinilah perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan kawah.

Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas pendukung wisata di kawasan Ijen juga terus dikembangkan. Pemerintah Kabupaten Bondowoso, misalnya, telah mengembangkan fasilitas pelayanan kesehatan wisatawan di kawasan Paltuding melalui Pos Kesehatan Pariwisata Ijen Geopark.

Bagi wisatawan, Paltuding bukan hanya tempat memulai pendakian. Tempat ini juga menjadi titik untuk mempersiapkan kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan menuju kawah. Dan menariknya, Ijen dapat dinikmati dari berbagai sisi. Bagi wisatawan yang datang dari Bondowoso, perjalanan menuju Ijen membawa kita melewati kawasan pegunungan dan perkebunan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.

Menikmati Ijen dari Jalur Bondowoso

Perjalanan menuju kawasan Ijen dari Bondowoso menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebelum mencapai kawasan Paltuding, perjalanan melewati jalan pegunungan, perkebunan kopi, hutan, dan permukiman masyarakat. Semakin mendekati kawasan Ijen, udara semakin sejuk dan lanskap pegunungan semakin dominan. Inilah salah satu alasan mengapa perjalanan menuju Ijen dari Bondowoso layak dianggap sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar perjalanan menuju sebuah destinasi.

Kawasan Bondowoso juga memiliki hubungan yang kuat dengan perkebunan kopi. UNESCO mencatat Kopi Bondowoso  sebagai salah satu bagian dari warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark, dengan perkebunan kopi yang juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Maka, perjalanan ke Ijen dapat menjadi sebuah perjalanan yang lengkap: 

dari kopi, perkebunan, pegunungan, hutan, hingga kawah vulkanik.

Kawah Wurung: Savana di Kaldera Ijen

Tidak jauh dari kawasan Kawah Ijen terdapat salah satu destinasi yang menjadi favorit wisatawan di Bondowoso, yaitu Kawah Wurung. Kawah Wurung merupakan bentang alam berupa cekungan yang dihiasi hamparan padang rumput. Pada musim tertentu, kawasan ini tampak hijau dan luas, sehingga sering diasosiasikan oleh wisatawan dengan sebutan “Bukit Teletubbies.”

Pemandangan Kawah Wurung sangat berbeda dengan Kawah Ijen. Jika Kawah Ijen menawarkan panorama kawah vulkanik dan danau berwarna biru kehijauan, Kawah Wurung menawarkan hamparan savana dan perbukitan. Di sekitar kawasan wisata, wisatawan juga dapat menikmati kopi Arabika yang menjadi salah satu komoditas khas pegunungan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri memasukkan Kawah Wurung sebagai salah satu kawasan pariwisata penting dalam kawasan Ijen-Raung. Kawah Wurung juga menjadi bagian dari pengembangan Ijen Caldera Adventure, termasuk paket perjalanan menggunakan jeep yang menyusuri kawasan savana dan lanskap Ijen.

Puncak Megasari: Menatap Ijen dari Ketinggian

Bagi mereka yang ingin menikmati kawasan Ijen dari sudut pandang yang berbeda, Puncak Megasari menawarkan pengalaman menarik.Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan bentang alam Ijen dari ketinggian.

Puncak Megasari juga telah menjadi salah satu destinasi yang mendapatkan perhatian dalam pengembangan pariwisata kawasan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkannya dalam kawasan pariwisata Ijen-Raung. Dari sini, Ijen tidak lagi sekadar terlihat sebagai sebuah kawah. Kita dapat melihatnya sebagai sebuah bentang alam besar yang tersusun atas gunung, lembah, hutan, perkebunan, dan permukiman masyarakat.

Air Terjun Blawan dan Aliran Kalipait

Perjalanan menyusuri kawasan Ijen tidak berhenti di gunung. Di Kecamatan Ijen terdapat Air Terjun Blawan, salah satu destinasi alam yang memiliki karakter unik. Air Terjun Blawan berada di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen. Air terjun ini memiliki hubungan dengan aliran air dari kawasan Ijen dan dikenal memiliki kandungan mineral serta sulfur yang membuat karakter airnya berbeda dari air terjun pada umumnya.

Yang membuat Air Terjun Blawan menarik adalah alirannya yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Karena karakter tersebut, masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai air terjun yang “hilang ke bumi”.

Tidak jauh dari kawasan ini terdapat Pemandian Air Panas Blawan. Setelah perjalanan menyusuri pegunungan dan berbagai destinasi Ijen, berendam di air hangat dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pemandian Air Hangat Blawan juga tercatat sebagai salah satu destinasi wisata alam di Kecamatan Ijen. Sementara itu, Kalipait juga menjadi bagian dari kawasan wisata Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkan Kalipait bersama Kawah Ijen, Kawah Wurung, Air Terjun Blawan, Puncak Megasari, dan agrowisata kopi sebagai bagian dari kawasan pariwisata Ijen-Raung.

Air Terjun Gentongan dan Pesona Alam di Lereng Ijen

Selain Blawan, kawasan Ijen juga menyimpan sejumlah air terjun dan bentang alam lain yang menarik untuk dijelajahi. Salah satunya adalah Air Terjun Gentongan.Keberadaan air terjun, aliran sungai, hutan, dan lembah menunjukkan bahwa kawasan Ijen tidak hanya memiliki kekayaan geologi, tetapi juga kekayaan hidrologi dan ekosistem.

Daftar destinasi resmi Kabupaten Bondowoso mencatat sejumlah objek wisata alam di kawasan ini, termasuk Air Terjun Gentongan, Kalipait, Mini Niagara, Air Terjun Pelangi, serta sejumlah destinasi lainnya. Dengan demikian, wisata Ijen sebenarnya dapat dikembangkan menjadi perjalanan beberapa hari, bukan hanya kunjungan singkat untuk melihat kawah.

Kebun Kopi Arabika: Ijen dan Aroma yang Mendunia

Ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berbicara mengenai kawasan Ijen di Bondowoso: 

kopi. Perkebunan kopi Arabika tumbuh di kawasan dataran tinggi Bondowoso. Udara sejuk, kondisi tanah vulkanik, serta lingkungan pegunungan menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan perkebunan kopi. Kopi bukan hanya komoditas pertanian. Di kawasan Ijen, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas kawasan.

UNESCO secara khusus mencatat Bondowoso Coffee sebagai salah satu unsur warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark. Perkebunan kopi di kawasan tersebut juga memiliki hubungan dengan keanekaragaman flora dan fauna. Karena itu, perjalanan ke Ijen akan terasa lebih lengkap apabila disertai dengan pengalaman menikmati kopi Arabika di tengah perkebunan.

Bayangkan:

pagi yang dingin, kabut yang perlahan terangkat, hamparan kebun kopi, dan secangkir kopi Arabika hangat.

Itulah wajah lain Ijen yang mungkin tidak selalu terlihat dari puncak kawah.

Ijen Bukan Hanya Tentang Geologi

Keistimewaan Ijen UNESCO Global Geopark tidak hanya terletak pada gunung dan kawahnya. Konsep geopark menghubungkan warisan geologi dengan warisan alam dan budaya, serta menggunakannya sebagai sarana pendidikan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Karena itu, ketika kita berbicara mengenai Ijen Geopark, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah kawasan yang jauh lebih luas daripada Kawah Ijen.

Ada masyarakat.

Ada perkebunan.

Ada tradisi.

Ada cerita sejarah.

Ada flora dan fauna.

Ada situs geologi.

Ada situs budaya.

Dan semuanya saling berhubungan.

Situs Geologi, Biologi, dan Budaya

Kawasan Bondowoso yang termasuk dalam Ijen Geopark memiliki berbagai situs yang memperlihatkan hubungan antara alam dan kehidupan masyarakat. Dari sisi geologi, terdapat berbagai bentuk bentang alam vulkanik seperti kawah, lava, dinding kaldera, dan sumber air panas.

Dari sisi biologi, kawasan Ijen memiliki hutan pegunungan, perkebunan kopi, serta berbagai jenis flora dan fauna. UNESCO mencatat keberadaan beragam flora dan fauna di kawasan perkebunan kopi Bondowoso.

Sementara dari sisi budaya, Bondowoso memiliki berbagai tradisi dan kesenian masyarakat yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Dengan demikian, perjalanan Ijen bukan hanya perjalanan melihat pemandangan.

Ia adalah perjalanan untuk membaca cerita bumi dan manusia.

Ijen sebagai Ruang Belajar

Salah satu gagasan penting dalam konsep geopark adalah menjadikan kawasan sebagai ruang pendidikan. UNESCO menjelaskan bahwa UNESCO Global Geopark bukan sekadar kawasan wisata. Geopark juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bumi, warisan geologi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, perjalanan ke Ijen dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik.

Anak-anak dapat belajar mengenai gunung api. Pelajar dapat memahami proses pembentukan kaldera.

Wisatawan dapat melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan kawasan pegunungan.

Petani dapat memperkenalkan proses budidaya kopi. Dan masyarakat lokal dapat menjadi bagian penting dalam menjaga serta memperkenalkan warisan daerahnya.

Menikmati Ijen dari Bondowoso

Jika ingin menjelajahi kawasan Ijen dari sisi Bondowoso, banyak pilihan yang dapat disusun dalam sebuah perjalanan.

Misalnya:

Hari pertama

Bondowoso – Sumberwringin – perkebunan kopi – Kawah Wurung – Puncak Megasari.

Hari kedua

Paltuding – pendakian Kawah Ijen – menikmati panorama kaldera – turun menuju kawasan Blawan.

Hari ketiga

Pemandian Air Panas Blawan – Air Terjun Blawan – Kalipait – perjalanan kembali menuju Bondowoso.

Tentu saja susunan perjalanan perlu menyesuaikan kondisi cuaca, aturan pengelola, kondisi jalur, serta status operasional masing-masing destinasi.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri pada 2025 memperkenalkan perjalanan GeoTrip Ijen Caldera Adventure yang menghubungkan beberapa destinasi, antara lain Paltuding, Kalipait, Kawah Wurung, Jabal Kirmit, dan Air Panas Blawan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Ijen dapat dinikmati sebagai satu rangkaian perjalanan, bukan sebagai destinasi yang berdiri sendiri.

Menjaga Pesona Ijen untuk Generasi Mendatang

Keindahan Ijen membawa tanggung jawab.

Semakin terkenal sebuah kawasan wisata, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga lingkungan dan mengatur aktivitas wisata secara berkelanjutan.

Kita datang ke Ijen untuk menikmati alam, tetapi pada saat yang sama kita juga harus menjaga alam tersebut.

Tidak membuang sampah.

Tidak merusak vegetasi.

Tidak mengambil bagian dari lingkungan sebagai cendera mata.

Mengikuti aturan kawasan konservasi.

Menghormati masyarakat lokal.

Dan yang tidak kalah penting, menghargai para pekerja serta masyarakat yang menggantungkan kehidupan mereka pada kawasan Ijen.

Inilah semangat penting dari sebuah geopark: menikmati, memahami, melestarikan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Ijen, Cerita Panjang di Bumi Bondowoso

Pada akhirnya, Ijen bukan hanya tentang foto di tepi kawah.

Bukan hanya tentang blue fire.

Bukan hanya tentang sunrise.

Bukan pula hanya tentang hamparan savana Kawah Wurung.

Ijen adalah sebuah cerita panjang tentang bumi.

Cerita tentang gunung api yang membentuk bentang alam.

Cerita tentang air dan lava.

Cerita tentang hutan dan perkebunan.

Cerita tentang kopi Arabika yang tumbuh di lereng pegunungan.

Cerita tentang masyarakat yang hidup dan bekerja di kawasan ini.

Dan cerita tentang bagaimana sebuah wilayah menjaga warisan alamnya untuk generasi berikutnya.

Dari Kawah Ijen, Kawah Wurung, Puncak Megasari, Kalipait, Air Terjun Blawan, Pemandian Air Panas Blawan, hingga perkebunan kopi, semuanya merupakan kepingan dari satu cerita besar bernama Ijen Geopark.

Bondowoso memiliki pintu untuk memasuki cerita itu.

Sebuah perjalanan yang dimulai dari kota, kemudian melewati perkebunan, menanjak menuju pegunungan, hingga akhirnya berhadapan dengan bentang alam vulkanik yang luar biasa.

Dan di sana kita akan memahami bahwa keindahan Ijen bukan hanya apa yang terlihat oleh mata.

Ijen adalah jejak panjang bumi yang dapat kita baca, kita nikmati, dan kita jaga bersama.

Senin, 26 Juni 2023

Bondowoso dan Persoalan Sampah: Jangan Semua Berakhir di TPA

9:12:00 PM 0

Bank Sampah Batu Katak Edit By Canva


Oleh: Holidi

Persoalan sampah tidak pernah bisa dipisahkan dari aktivitas manusia sehari-hari. Di mana manusia hidup, di situ sampah dihasilkan. Persoalannya bukan semata-mata tentang berapa banyak sampah yang kita hasilkan, tetapi bagaimana kita memperlakukannya setelah tidak lagi kita gunakan.

Manusia diberi akal dan kemampuan untuk mengelola kehidupan. Karena itu, seharusnya kecerdasan tersebut juga mendorong kita untuk lebih arif memperlakukan lingkungan. Namun dalam banyak keadaan, hubungan manusia dengan alam justru berubah menjadi hubungan eksploitatif: gunung dikeruk, hutan ditebang, sungai dijadikan tempat pembuangan, sementara pola konsumsi terus meningkat dan menghasilkan sampah dalam jumlah yang semakin besar.

Sampah akhirnya menjadi konsekuensi dari cara kita menjalani kehidupan.

Masalah ini bukan hanya milik kota-kota besar. Kabupaten kecil pun menghadapinya, termasuk Bondowoso.

Di sejumlah tempat, persoalan sampah masih mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tempat penampungan yang penuh, sampah yang meluber, serta sampah yang masuk ke saluran air dan sungai menjadi pemandangan yang seharusnya tidak kita anggap biasa.

Sampah plastik, popok sekali pakai, kemasan makanan, dan berbagai jenis sampah rumah tangga lainnya dapat dengan mudah berpindah dari halaman rumah ke selokan, dari selokan ke sungai, dan akhirnya menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar.

Pertanyaannya kemudian:

Apakah semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir?

Menurut saya, jawabannya adalah tidak.

TPA Bukan Satu-Satunya Jawaban

Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA memang tetap diperlukan. Akan selalu ada residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dan membutuhkan tempat pengelolaan akhir.

Namun, menjadikan TPA sebagai tujuan hampir seluruh sampah bukanlah solusi jangka panjang.

Sampah seharusnya mulai dikelola sejak dari sumbernya.

Rumah tangga harus menjadi titik pertama.

Kemudian lingkungan RT.

Desa atau kelurahan.

Pasar.

Sekolah.

Perkantoran.

Hotel.

Restoran.

Perusahaan.

Semua menghasilkan jenis sampah yang berbeda dan karena itu membutuhkan pola pengelolaan yang berbeda pula.

Jika seluruh sampah dikumpulkan tanpa pemilahan sejak dari sumbernya, beban pengelolaan di tingkat TPS maupun TPA tentu menjadi semakin berat.

Karena itu, saya melihat persoalan sampah Bondowoso bukan hanya persoalan “di mana sampah dibuang?”, tetapi lebih jauh:

“Mengapa sampah harus dibuang seluruhnya?”


Mulai dari Rumah

Saya membayangkan pengelolaan sampah Bondowoso dimulai dari sesuatu yang sederhana: pemilahan di rumah.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan bahan mudah terurai dapat diproses menjadi kompos atau pupuk organik.

Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan dikumpulkan melalui bank sampah.

Sementara sampah residu yang memang tidak dapat dimanfaatkan dapat diarahkan ke sistem pengangkutan dan pengolahan akhir.

Dengan pola seperti itu, sampah yang masuk ke TPS dan TPA dapat dikurangi sejak awal.

Konsepnya sederhana:

Kurangi dari sumbernya.
Pilah sejak rumah.
Olah yang masih bisa dimanfaatkan.
Buang hanya residunya.

Memang, praktiknya tidak semudah menuliskannya.

Dibutuhkan kebiasaan baru.

Dibutuhkan fasilitas.

Dibutuhkan petugas.

Dibutuhkan edukasi.

Dan yang paling penting, dibutuhkan sistem yang membuat masyarakat merasa bahwa memilah sampah bukan pekerjaan sia-sia.


Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah

Salah satu gagasan yang menurut saya layak dipertimbangkan adalah mendorong konsep “Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah.”

Tidak harus selalu berupa fasilitas besar.

Setiap desa dapat memiliki sistem pengelolaan sesuai kemampuan dan karakter wilayahnya.

Misalnya:

Sampah organik → kompos atau pupuk.

Sampah plastik dan anorganik bernilai → bank sampah.

Sampah yang masih dapat digunakan → didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Sampah residu → dikirim ke fasilitas pengolahan akhir.

Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi tempat penghasil sampah, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.

Bank sampah dapat menjadi salah satu instrumennya.

Namun bank sampah jangan berhenti pada kegiatan menimbang dan menjual sampah. Jika memungkinkan, pengelolaannya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi masyarakat: pemilahan, pengolahan, kerajinan, kompos, hingga produk daur ulang.

Dengan begitu, sampah tidak selalu dipandang sebagai beban.

Sebagian dapat berubah menjadi sumber ekonomi.


Sampah Plastik: Jangan Berhenti pada “Dibuang”

Salah satu tantangan terbesar adalah sampah plastik.

Plastik memiliki nilai guna yang tinggi, tetapi sekaligus menjadi persoalan ketika digunakan secara berlebihan dan tidak dikelola dengan benar.

Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif.

Sampah plastik tertentu dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, sepanjang memenuhi standar keamanan dan teknis. Salah satu gagasan yang dapat diteliti lebih lanjut adalah pemanfaatan material plastik tertentu sebagai bagian dari bahan produk konstruksi atau material alternatif.

Tetapi saya kira kita juga harus berhati-hati.

Tidak semua plastik dapat begitu saja dijadikan bahan bangunan. Harus ada kajian teknis mengenai jenis plastik, komposisi, keamanan, ketahanan, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Artinya, prinsipnya bukan:

“Semua sampah plastik harus dibuat menjadi barang.”

Tetapi:

“Sampah yang masih memiliki potensi harus dicari nilai gunanya melalui teknologi yang aman.”

Di sinilah perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dapat bekerja bersama.


Sungai Bukan Tempat Sampah

Ada satu persoalan yang menurut saya harus mendapat perhatian khusus:

sungai.

Sungai bukan tempat pembuangan sampah.

Sesederhana itu.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampah masih dapat ditemukan di sekitar aliran sungai dan sempadannya.

Ketika sampah dibuang ke sungai, persoalannya tidak selesai.

Ia hanya berpindah tempat.

Sampah yang dibuang hari ini mungkin akan menjadi masalah di hilir beberapa hari kemudian.

Plastik dapat menyumbat aliran.

Popok dan sampah rumah tangga mencemari lingkungan.

Sampah organik yang menumpuk dapat menurunkan kualitas lingkungan perairan.

Ketika hujan besar datang, sampah yang menumpuk di saluran air dapat memperbesar persoalan banjir dan pencemaran.

Karena itu, perlu ada kampanye yang konsisten dan sederhana:

“Sungai dan sempadannya bukan tempat sampah.”

Kampanye tersebut jangan hanya dilakukan melalui spanduk.

Harus ada pendidikan.

Harus ada pengawasan.

Harus ada fasilitas pembuangan yang memadai.

Dan ketika aturan sudah dibuat, harus ada penegakan yang konsisten.


Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Pengelolaan sampah bukan pekerjaan satu dinas.

Dinas Lingkungan Hidup tentu memiliki peran penting, tetapi persoalan sampah jauh lebih luas.

Pemerintah desa memiliki peran.

Sekolah memiliki peran.

Dunia usaha memiliki peran.

Pengelola pasar memiliki peran.

Hotel dan restoran memiliki peran.

Komunitas memiliki peran.

Dan masyarakat sebagai penghasil sampah juga memiliki tanggung jawab.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya program pemerintah, melainkan ekosistem pengelolaan sampah.

Pemerintah menyediakan regulasi dan infrastruktur.

Desa mengembangkan sistem pengelolaan di tingkat lokal.

Masyarakat memilah dari rumah.

Bank sampah mengelola sampah bernilai ekonomi.

Pelaku usaha mengurangi penggunaan bahan sekali pakai.

Sekolah mendidik generasi muda.

Perguruan tinggi membantu penelitian dan inovasi.

Komunitas menggerakkan kesadaran publik.

Sementara pemerintah melakukan pengawasan dan memastikan sistem berjalan.


APBD Harus Mendorong Perubahan Sistem

Pengelolaan sampah membutuhkan anggaran.

Tetapi menurut saya, anggaran tidak seharusnya hanya habis untuk mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lain.

Anggaran juga perlu diarahkan pada perubahan sistem.

Misalnya untuk:

  • fasilitas pemilahan sampah;

  • penguatan TPS berbasis pengolahan;

  • bank sampah desa;

  • pengolahan sampah organik;

  • pelatihan pengelola sampah;

  • edukasi masyarakat;

  • pengembangan teknologi daur ulang;

  • penguatan sistem pengangkutan;

  • pemeliharaan fasilitas;

  • serta pengawasan terhadap pembuangan sampah ilegal.

Dengan demikian, APBD tidak sekadar membiayai “sampah yang sudah menjadi masalah”, tetapi juga membiayai upaya agar sampah tidak menjadi masalah sejak awal.


Jangan Hanya Menyalahkan Masyarakat

Saya juga tidak sepakat jika persoalan sampah selalu dikembalikan kepada perilaku masyarakat.

Memang, membuang sampah sembarangan adalah perilaku yang harus diperbaiki.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan sistem.

Sulit meminta orang memilah sampah jika tidak tersedia tempat pemilahan.

Sulit meminta warga mengolah sampah jika tidak ada pendampingan.

Sulit meminta masyarakat menggunakan bank sampah jika sistem pengambilannya tidak berjalan.

Dan sulit meminta orang menjaga sungai jika sungai itu sendiri tidak pernah dibersihkan dan diawasi.

Karena itu, perubahan perilaku dan perubahan sistem harus berjalan bersamaan.

Jangan hanya berkata:

“Masyarakat harus sadar.”

Tetapi pemerintah juga harus bertanya:

“Apakah sistem yang kita bangun sudah memungkinkan masyarakat untuk sadar dan bertindak?”


Bondowoso Bisa Memulai dari Hal Sederhana

Saya tidak sedang membayangkan Bondowoso memiliki teknologi pengolahan sampah paling canggih di Indonesia.

Tidak harus.

Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana.

Satu rumah memilah.

Satu RT mengelola.

Satu desa memiliki bank sampah.

Sekolah memiliki sistem pemilahan.

Pasar mengurangi sampah sekali pakai.

Warung menyediakan pilihan penggunaan ulang.

Hotel mengelola sampah organiknya.

Pemerintah memperbaiki TPS.

Sungai dijaga.

Dan sampah residu benar-benar menjadi bagian terakhir yang dikirim ke TPA.

Jika satu desa berhasil, desa lain dapat belajar.

Jika satu kecamatan berhasil, kecamatan lain dapat meniru.

Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari proyek besar.

Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.


Sampah Adalah Cermin Peradaban

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya persoalan lingkungan.

Sampah adalah cermin bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan ruang hidupnya.

Kita dapat membangun jalan yang bagus.

Membangun gedung yang megah.

Membangun destinasi wisata.

Mempromosikan kota.

Tetapi jika sungai dipenuhi sampah, TPS meluber ke jalan, dan sampah rumah tangga dibuang sembarangan, maka ada sesuatu yang belum selesai dalam pembangunan kita.

Pembangunan tidak cukup hanya membuat lingkungan terlihat maju.

Pembangunan juga harus membuat masyarakat mampu hidup berdampingan dengan lingkungannya.

Bondowoso memiliki alam yang layak dijaga.

Pegunungan.

Sungai.

Pertanian.

Perkebunan.

Kawasan wisata.

Dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada semuanya.

Karena itu, pengelolaan sampah seharusnya menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah, bukan sekadar urusan mengangkut sampah setiap hari.

Kita perlu mengubah cara berpikir:

Sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

Sampah adalah material yang harus dikurangi, dipilah, dimanfaatkan, diolah, dan hanya sisanya yang dibuang.

Mungkin inilah saatnya Bondowoso berhenti bertanya:

“Di mana kita akan membuang sampah?”

Dan mulai bertanya:

“Bagaimana agar sampah yang kita buang semakin sedikit?”

Karena kota yang bersih bukan kota yang paling banyak memiliki tempat pembuangan.

Kota yang bersih adalah kota yang masyarakatnya mampu menghasilkan lebih sedikit sampah, mengelolanya dengan benar, dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan mereka sendiri.

Dan perubahan itu...

bisa dimulai dari rumah kita masing-masing.

Minggu, 01 Maret 2020

Berjumpa Pemilik Hati Samudra, Mbah MH Ainun Najib ( Cak Nun)

5:57:00 AM 0


Foto Bersama Mbah Nun 

Alhamdulillah, itulah ucapan yang kerap disampaikan ketika merasakan kebahagian sebagai rasa syukur, atas nikmat Allah SWT yang telah melimpahkan segala bentuk nikmatNYA. Begitupun saya, kemarin ketika berjumpa dengan salah satu Tokoh Panutan yang selalu mengingatkan anak cucunya ini dengan senyuman, pelukan , bahkan guyonan. Bangsa ini sangat beruntung memiliki manusia seperti beliau yang setiap hari sibuk dengan tangisan anak cucu bangsanya. Setiap hari pindah lokasi, kadang di Jawa kadang diluar Jawa juga bahkan jadwalnya hampir penuh setiap bulannya, tetapi Yogyakarta menjadi pilihan beliau untuk menjadi lokasi perenungan mbah bersama anak cucunya. Tepatnya di kota Sleman, beliau bersama uti kami dan dulur-dulur kiaikanjeng selalu bersamanya.
                Saya bersyukur dapat berjumpa dengan keadaan beliau sehat wal afiat, mengingat salah satu nadzar saya menjumpai atau sowan para tokoh-tokoh bangsa, terutama Tokoh Nahdlatul Ulama setelah dinyatakan lulus dari kuliah yang cukup panjang ini. Alhamduillah, kemarin dapat berjumpa Mbah Nun dalam pelaksanaan  Festival Sains dan Budaya 2020  di komplek Kharisma Bangsa School tempat digelarnya acara Kompetisi tahunan bergengsi yakni Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia ( OSEBI). Berjumpa mbah Nun merupakan ketidak sengajaan yang harus disengaja untuk berjumpa dengan beliau,  sebagaimana disetiap maiyah acara sinau bareng biasanya bersalaman dengan beliau adalah moment sangat sulit, karena pengawalan ketat dari panitia.
Berjumpa langsung dengan beliau merupakan suatu moment yang tidak bisa dilupakan dan harapan semua sedulur maiyah disegala penjuru dunia, begitu juga saya yang masih amatiran jadi jamaah maiyahan menjadi moment spesial banget dalam perjalanan kelana selama di Jakarta. Kemarin penuh drama untuk ketemu beliau, karena tidak disengaja bahkan seperti mimpi ketemu beliau. Jadi, kemarin hari Ahad 23 Januari 2020, sekitar jam sebelas siang nyonya saya dihubungi kakak kelasnya yang kebetulan guru di Kharisma Bangsa School (KBS), dia bilang kalau acara itu dihadiri oleh Mbah Nun, tetapi temen nyonya biasa saja. Mendengar itu sayapun segera mandi, bersih diri dan tibalah sekitar jam 12 an saya berangkat ke lokasi acara FSB 2020 tersebut. Tanpa diduga, ada kabar  hampir sampai lokasi, kakak kelasnya nyonya bilang kalau acara udah hampir kelar, jadi agak lemes tubuh ini tetapi saya masih berusaha kesana, bagaimanpun yang penting bisa ketemu mbah Nun dan salaman dengan beliau. Syukur Alhamdulillah, acara sedikit diperpanjang dan masih menyempatkan diri melihat  persembahan medali Emas Bagi para pemenang FSB 2020. Mbah Nun menyampaikan orasi penutupan FSB 2020 tersebut, dengan banyak wejangan yang diberikan kepada adek-adek hebat dari seluruh Indonesia ini, yang nantinya mewakili Indonesia di olimpiade Internasional.
Foto Booth FSN 2020 

                Tidak hanya sampai disana, selepas acara saya coba lihat mbah Nun turun panggung dari sebelah mana. Beliau turun dari sebelah kiri panggung, saya pun menuju pintu keluar acara, ternyata beliau tidak lewat jalan itu. Lalu sayapun menuju pintu masuk utama sekolah tersebut, bertanya kepada satpam, kendaraan yang membawa mbah Nun yang mana, ternayata masih berada diparkiran dengan Nopol Bogor (F ), selang beberapa menit ada juga salah satu guru pendamping lomba puisi ingin menemui mbah Nun juga, untuk bertanya Puisi yang dibawakan anak didiknya dibuat tahun berapa. Saya bersama mas Opic nama guru tersebut, menunggu hingga kurang lebih jam setengah dua, tetapi mbah Nun belum juga tampak keluar dari sekolah tersebut, dan kita tunggu di depan mobil yang dimaksud, karena sangat mepet dengan waktu sholat dhuhur, secara gentian sholat di Mushollah, sampai mas Opic selesai sholat, beliau belum juga meninggalkan lokasi acara. Akhirnya saya sholat dhuhur dulu, sekitar 10 menitan, dan ketika keluar selesai sholat terasa surprise banget, ternyata mbah Nun udah berada dipintu keluar sekolah dengan banyak Guru dan tentunya mas-mas yang tadi ikutan foto bersama beliau. Tanpa pikir panjang, saya langsung salim ke beliau, ternyata ada momen lainnya yang mebuat saya tidak bisa ngomong, ketika saya ingin memeluk beliau dan beliau memegang kedua pundak saya, menatap mata saya dan tanpa mengatakan apa-apa beliau seperti menyasehati. Luas banget hati beliau,  dengan sibuknya yang luar biasa, masih bisa memanusiakan cucunya yang penuh amarah, dan dosa ini. Dengan Niatan, tadinya selain salaman dan meminta nasehat “pernikahan “ bagi kami berdua, dengan kejadian luar bisa tersebut saya tidak bisa berbicara apa-apa, hanya bersalaman dan berfoto dengan beliau sebagai catatan momen bersama beliau.
“Segala pertemuan itu adalah percintaan_Cak Nun”
                Ini merupakan moment luar biasa bagi saya, moment sangat langka berjumpa dengan beliau dan salaman langsung dengan beliau bahkan dipeluk, di tepuk pundak saya dua kali oleh beliau. Dengan tatapan beliau yang membuat saya optimis, sekaligus badan gemeter menahan rasa haru yang luar biasa bisa berjumpa dengan beliau. Moment ini juga dirasakan oleh teman dan sahabat saya dengan perasaan “cemburu dan iri “ katanya. Sampai tulisan ini terbit, telah ada 3 sahabat dan teman yang bilang seperti itu. Insyallah dilain waktu kalian bisa berjumpa beliau ya, dengan keadaan beliau sehat wal afiat. Terima kasih mbah Nun, telah memberikan optimis kepada kami cucumu ini.

Kamis, 13 Februari 2020

Menghargai Proses Bersama Swayanaka Jember II

7:55:00 PM 0

Struktur Organisasi Swayanaka Indonesia regional Jember

Foto By Panitia Oprec, Edit by Canva


Divisi Kesehatan

Divisi kesehatan merupakan divisi yang menangani dengan masalah kesehatan tumbuh kembang anak serta lingkungan sekitar desa binaan. Banyak program yang muncul dalam kepengurusan periode saya saat itu, salah satunya pembuatan Taman Toga bersama anaka-anak dan cek kesehatan mata anak. Divisi diisi oleh orang –orang berkompeten dibidangnya saat itu. karena saya rasa ketika itu Jember masih tinggkan kebersihan anak dll masih rendah, mari ikuti saya untuk mengenal siapa saja yang menjadi bagian divisi ini. silakan simak!

Finty Arfian

Panggilan akrabnya Finty, perempuan asal Magetan ini merupakan mahasiswa Kedokteran yang secara nanti dia akan menjadi dokter. Ia menjabat sebagai Kepala divisi Kesehatan, cukup ekuavalenkan dengan jurusannya dia. anggota satu ini merupakan anggota yang sangat aktif dalam berswayanaka. Selain kesibukannya dia di swayanaka ia juga sibuk di organisasi internal kampusnya. Dia juga perekat anggota ketika anggota waktu menjadi blok-blok, dengan upaya dia bisa menjadi anggota rekat. Sebelum menjadi kadiv, ia pernah menjadabat sebagai anggota saya di Danus di pengurusan sebelumnya. Selain itu ia juga idaman di swayanaka, idaman kakak-kakak dan beberapa anggota tetapi  tidak ada yang berani ta’aruf sama dia hehehe. Anggota yang pernah nangis karena acaranya tidak berjalan dengan baik ketika menjadi penanggung jawab acara di sekolah binaan. Kesibukan saat ini Dokter Muda dan selain itu sepertinya sangat sibuk dirumah sakit.. sukses terus ya  Dokter, ojok nangisan maneh yo….hehehe

Alfita Rahmawati

Alfita panggilan akrabnya, perempuan ini berasal dari kota Tulungagung dan notabane ia merupakan satu kota sama mbak Emma ketua swayanaka periode sebelum saya. Dia mahasiswa farmasi yang cukup satu jalur dengan divisi yang ia tangani. Dia merupakan anggota satu-satunya dari farmasi setelah generasi seangkatannya pada hilang entah kemana, selain aktif diswayanaka ia juga katif dibanyak kegiatan salah satunya di UKM kesenian fakultasnya. Ia juga sangat hobi menari. Terkahir ia menajabat ketua swayanaka periode setelah saya, anggota yang sering telat kalau janjian karena ketiduran hehehe. Kesibukan saat ini mungkin berada di Tulungagung apa Blitar dengan persiapan menjadi apoteker Handal.. sukses yoo sering ngeracik obat anti Tidur ya dekk biar tidurnya gak kelewatan...

Rima Aprilia H

Rima panggilan akrbanya Rima, mahasiwa asal Blitar ini merupakan mahasiwa kedokteran yang satu angkatan sama finty, sewaktu dipengurusan saya dia sangat aktif dalam memenej sesuatu, terkahir ia mengikuti kegiatan pada Oprec anggota baru, alasannya karena sangat sibuk di organisasi dlam kampus karena juga tuntutan kuliah yang berat. Perempuan satu ini tidak banyak saya ketahui karena jarang berkomunikasinya dengan saya dan mengikuti proses di swayanaka tidak sampai akhir dan ia mengajukan pengunduran diri setelah nilai ujian Bloknya menurun. Menurut saya dibalik kesibukannya ia masih bisa membagi waktu dengan baik.. baik baik ya DMnya .. kalau ketemu dijalan sapa yaa sukses terus menjadi Dokternya.

Presesiaji

Aji panggilan akrabnya, merupakan satu-satunya anggota laki-laki yang berasala dari Kedokteran waktu itu. Pria asli Sidoarjo ini merupakan mahasiswa sangat aktif, selain menjadi bagian dari swayanaka ia juga menjadi bagian penting organisasi BEM kampusnya. Ia juga aktif dalam kegiaatan rohanian di kampus bahkan setiap langkahnya ia pegang Al Qur’an. Oleh karena itu waktu itu menjadi idaman perempuan diswayanaka. Kesibukan saat ini menjalani Praktek Dokter Muda, sukses terus yo ji, pertahankan sikap Cool mu yo hehe

Divisi Pendidikan

Divisi pendidikan merupakan divisi yang bertugas menyelenggarakan Belajar Mengajar di Desa Binaan dengan metode belajar, bermain dan berkarya. Disini adek-adek di desa binaan diajak berkreativitas, menngenali sesuatu dan berkarya Sesutu yang tidak ia dapatkan di pendidikan formal. Salah satu contoh adek-adek diberikan kesempatan untuk mendongeng dan mebuat kreasi dari barnag bekas. Selain itu tantangnanya juga banyak ketika kami dihadapakan dengan adek-adek di desa binanan yang superaktif, tingkat keingintahuannya tinggi dan masih mencari jati diri mereka. Tak jarang dulu sewaktu kami di desa binaan sebelum mengajar adek-adek ini mengusir kami dari desa, tidak mau terbuka kepada kami bahkan kami sempat dihadang dan ditantang berkalahi oleh adek-adek yang menamakan dirinya “panitia Hari Kiamat”, padahal mereka masih kelas 4-6 sekolah dasar. Darisana kami belajar pendekatan emosional dengan mereka, dan pendekatan secara manusiawi kita lakukan, mereka tumbuh dan berkembang bersama kami, lamban laut mereka sangat terbuka dengan kami, bahkan kalau jadwal ke desa binaan kami tidak hadir diminggu berikutnya mereka menyanyakan kami. Bahkan seperti hubungan kakak dan adik. Tujuan kami tidak banyak, cuckup memberikan ruang bagi mereka, dan menjadi kakak penyayang bagi mereka. Alhamdulillah, ketika mereka lulus dari sekolah dan berpamitan mau mondok dan melanjutkan sekolah ke menengah pertama, kami merasa sangat bahagia dan ada tangis haru bahagia diantara kami. Sampai saat inipun mereka masih sering menyapa kami di Media Sosial dan tak jarang ketika mereka dirumah menanyakan kapan kami bisa bertemu mereka. Mungkin itu sedikit kisah di desa binaan yang menjadi memori dan kebanggan tersendiri bagi kami. Selanjutnya saya menyebutkan satu-persatu yang berkecipung di divisi pendidikan.

Faiz Al Amjad

Pemuda asal Jogja ini merupakan Kepala divisi pendidikan yang selanjutnya menggantikanku menjabat ketua Umum setelahku tetapi tidak berjalan mulus, dia hanya bisa mempertahankan jabatannya hanya beberapa bulan, karena beberapa alasan yang menjadikan dia mundur dari jabatan terserbut. Dia ikut swayanaka mulai ketua umumnya masih mbak Emma. Selang berapa bulan setelah ia memundurkan diri daya dapati ia tengah memeperdalam ilmu Al Qur’ann dan dia menjadi perwakilan Kampusnya untuk mengikuti lomba MTQ Nasional. Selain itu waktu diswayanaka di memang tidak banyak bicara jadi dia memiliki skretaris divisi yang bantu komunikasi denganku yakni Ella. Pria ini merupakan mahasiswa jurusan Hubungan Internasional. Terima kasih Iz, wes sanggup dadi kepala divisi Pendidikan sek jamanku yo.. lek ketemu ndek ndi ae nyopo iz, ra usah sungkan-sungkan…

Ella Izza Asfarina

Mahasiswi asal Lumajang ini merupakan anggota divisi pendidikan yang juga sering membuat ide mengembangkan pendidikan anak. Pernah menulis buku dongeng anak yang iya tulis dengan temen-temen UKM Kesenian Universitas Jember. dia sangat cerdas menejemen waktu antara kuliah dan beberapa organisasi. Dia menjadi perantara komunikasiku dengan faiz ketika dipengurusan, karena dia merupakan anggota yang cukup sering obrak-abrik divisinya untuk berkegiatan. Kalau tidak salah jabatan terakhir di swayanaka regional jember adalah sebagai kadiv pendidikan. cukup sabar menghadapi adek-adek binaan, mungkin karena memang sesuai jurusannya PG PAUD UNEJ. Mungkin banyak lagi yang tidak bisa saya tulis tentang perempuan ini. el, baik-baik dengan gelar terbarunya ya, dan semoga semangatmu sek ndek Jember, iso di gowo neng kotamu Lumajang .

Muhlisin

Mahasiswa Magister Hukum Universitas Jember ini merupakan pemuda asli Kota Gandrung Banyuwangi dan sekaligus Pendekar Tapak Suci. Saat ini dia aktif sebagai penasehat hukum disalahsatu lembaga Bantuan Hukum di Banyuwangi. Semasa bersama diswayanaka banyak kritikan yang membangun untuk berkembangnya swayanaka saat itu. dibalik kesibukannya kuliah dna kerja dia masih aktif berorganisasi, didalam kejombloan saat itu juga ingin meminang swayanakers juga tetapi, tidak ada jalan kesana. Sin lek dadi pangacara kudu adil, tetap menjadi pengacara yang baik hati dan tidak sombong yo sin. Mugo tahun iki wes entuk jodoh lan rabi hehehe

Lika indria

Perempuan cantik mungil ini merupakan anggota swayanaka pada periode saya yang sempat tidak aktif beberapa bulan di karena tidak malu untuk bergabung kembali sejak vakum pasca oprec saat itu. perempuan asal Kota Gresik ini merupakan sarjana pendidikan Fisika Universitas Jember. setelah beberapa lama tidak mengikuti kegiatan swayanaka kala itu, terbayar dengan  aktifnya berkegitan setelah itu. saat ini dia kembali ke kampung halamannya di Gresik sekitar Kecamatan cermee yang merupakan lokasi yang pernah saya singgahi sewaktu bekerja disana. masio adoh teko Jember, tetep bermanfaat bagi sesame yo lik, menowo enek kegitan swayanaka Surabaya iso melok lan kontak bu Yessy senior swayanaka sing stay ndek Gresik pisan lik. Lek rabi undang-undang yoo.. insyaallah teko kok hehe


Divisi Dana Dan Usaha

                Divisi ini merupakan divisi yang bertanggung jawab atas pendanaan yang diberikan dari pusat dan dana dari donatur untuk di kelola dan dikembangkan, Untuk menunjang operasional kita berkegiatan selama kepengurusan. Ketika itu kegiatan mereka usaha mandiri, EO kegitan kecil-kecilan, dan beberapa kegiatan untuk mendapatkan sponsor dan dana dari luar donasi tetap. Saat itu ada yang bergerak memebuat lukisan, jualan cilok sampai jualan bros, krudung serta usaha lain yang halalan toyibban. Untuk berkenalan dengan beberapa orang yang telah berjasa kala itu mari saya kenalkan satu-satu;

Aprilian Dwi Cahyono

            Pria Gentlemen kelahiran Jember ini merupakan koordinator divisi ini atau ketua divisi Danus ini. dia merupakan salahsatu sahabat saya di Perkumpulan anak muda kala itu bernama KOERAWA, yang sampai ini masih aktif berkontribusi menelong umat yang sedang kelaparan diperantauan. Dia merupakan satu-satunya cowok yang berada di Divisi tersebut. seorang sahabat yang sama-sama berjuang menjalani masa akhir purna kampus saat itu, salahsatu sahabat yang super kalem dalam segala hal, panggilan akrabnya adalah Pak RT, dia merupakan seorang mahasiswa Sosiologi dan calon S.Sos tahun ini, selain kesibukannya tugas akhir, saat ini sibuk menata masa depan untuk menjadi bapakable. Perannya di Danus waktu itu sangatlah strategis, saya memilih mempercayakan danus kepada dia, karena dia pernah menjadi anggota danus ketika saya masih menjadi Kadiv danus di periode sebelumnya. Pokok’e pak RT iki kalem-kalem menghanyutkan dalam memimpin divisinya. Ayo te semangat, Insyaallah sukses bareng kok, ojok baperan lan putus asaan, sukses sukses.. lek gak sukses yo kudu sukses te…

Arlin M.

Perempuan asli Jember ini merupakan mahasiswa dari Jurusan Fisika, di fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan. merupakan anggota danus yang memiliki bakat dalam karya seni lukis dan gambar. Saat menjadi anggota swayanaka dikepengurusan dia cukup aktif memebriakn kontribusi, selain kesibukannya kuliah dan swayanaka dia juga sering ikutan lomba yang mewakili kampus di luar kota serta pernah menjadi peserta pepsiminal category seni. Ia juga aktif kegitan di UKM kesenian UNEJ. Dari skill melukisnya ia jual melalui swayanaka dan beberapa penghasilnya masuk ke kas Swayanaka, sebuah skill yang membawa berkah. Lin, lek ketemu aku maneh sopo yo, kapan-kapan aku tak tuku lukisanmu maneh..

Lely Yuliati

Perempuan asli pulau Garam ini tetaptnya Kota Sumenep, merupakan mahasiswi dari FKIP Fisika Unej yang saat ini stay di Kota Malang. Dia merupakan bagian dari beberapa anggota swayanaka yang berasal dari Fisika, memang kebetulan squad kepengurusan saya banyak dari pendidikan fisika ketika itu, dan selaluaktif membantu mbak siti dalam melakukan kegiatan.Semasa di Jember kita kalau ketemu sering memakai bahasa ibu yakni bahasa Madura, dan Alhamdulillah dia juga sebagai penerjemah bagi temen-temen yang tidak mengerti bahasa Madura ketika turun ke Desa Binaan. Dia bertahan dari oprec sampai akhir kepengurusan, terima kasih ya lek.. telah meluangkan waktu untuk berswayanaka. Jek kalopaaen lek, insyallah sukses masenah bede e malang, le bileh mun bedeh bektoh kok nyepperah lek..

Siti Maimunah

Siti Maimunah nama Aslinya, teman-temannya se angkatannya memanggilnya Mbak Siti dan swayanakers yang lainnya biasanya memanggilnya mbak My Moon. Perempuan asal Probolinggo ini merupakan mahasiswi Jurusan FKIP Fisika dan merupakan yang  dituakan diantara beberapa swayanakers asal jurusan fisika. Ia menjabat sebagai Ibu DANUS yang seringkali mau direpotkan membuat kreasi untuk pengadan kas. Kos-kosannya yang menjadi tempat Inventaris Swayanaka. Kisahnya diswayanaka memang slow-slow but Sure, dia cepat tanggap sigap dalam melaksanakan program kerja, kalau bagian nagih uang baju kepengurusan serahkan dia, pasti dipepet terus.. cocoklah jadi bagian penagihann.. pepet terus sitt. Baru-baru ini ia menyandang status baru yakni sebagai seorang istri, lelaki yang selalu dicuekin ketika telpon dan selalu kurang direspon kita ngomong sekarang menjadi imam dalam berkeluarga. Sepurane yo sit durung iso teko neng Probolinggo langgeng yo sama mas Arif.. ojok lali uang baju yang belum lunas di tagih ya hehe..

Faiq Najibur

Mas faiq banyak swayankers perempuan memanggilnya, pria kelahiran Banyuawangi dan mahasiswa jurusan Kesejahteraan sosial ini merupakan anggota paling cool di divisi Danus. Ia tidak banyak bicara dalam melaksanakan proker, tetapi lebih banyak bekerja dan full inisiatif, tentatif dalam bekerja. Dia salah satu anggota siaga yang kapanpun bisa dipanggil untuk kegiatan kami. Ketika swayanaka hampir mendapatkan seseorang tetapi, diagantung dalam hubungannya hehe. Beberapa kali saya pernah singgah dirumahnya dan menumpang nginep disana, perawakananya tetap cool sampai saat ini. Kesibukannya setelah ia lulus menjadi seorang pengusaha ayam dan Driver ojol yang enerjik.. kabar terbaru sih sudah bekerja di Finance salah satu bank di Banyuwangi. Ojok lali kang tak enteni ndek Bondowoso, samean sing durung teko omahku, lek sek mau berjuang yang itu tuh masih kosong kabarnya kemarin kang hehe

Yeri Suhartin

Yeri itu panggilan akrabnya, perempuan asal Jmebr ini merupakan mahasiswa dari jurusan fisika 2013, sewaktu dikepengurusan jarang berargumen, berebeda dengan anggota yang lainnya. Waktu itu pernah membantu Danus dalam inovasi produk untuk mnunjang perekonomian organisasi eyaaaa.. kalau tidak salah ketiak itu membuat es pisang ijo yang di Jual waktu acara Bulan Berbagi atau Lebih di Kenal Baksos yang adakan setahun sekali. Yari cukup pendian, sangat jarang ngobrol dengan saya. Samapai demesioner kalau dihitung jari masih bisa, ngobril dengna saya. Yer kalau masih di Jember sering-sering ya lihat swayanakanya, terus kalau ketemu nyapa yaa.. ojok macak gak kenal hehe
       

Divisi Hubungan Masyarakat

Divisi Humas merupakan divisi untuk publikasi kegiatan dan penghubung organisasi dengan masyarakat, komunitas lainnya. Publikasi kegiatan oleh tim humasBaik dalam bentuk foto, video, informasi grafis dan dapat diakses oleh semua. Selain itu humas dalam bekerja selama periode kepengurusan saya, cukup banyak prestasi yang mereka berikan. Berupa penghubung dengan pihak sponsor, media online maupun cetak dan video kegiatan selama satu periode tersebut. dan biasanya tim humas jarang muncul di media sendiri. Baik saya akan kenalkan anggota yang keren-keren dari Humas ini satu-satu.

Sendy Martin

Pria kelahiran Kota Santri Jombang ini merupakan kepala divisi Hubungan Masyarakat periode saya. Dia merupakan sarjana Sosiologi yang saat ini telah bekerja di salah satu perusahaan semen bertempat di Solo. Dia membantu saya sebagai ketua Hubunganj masyarakat, dan telah muncul karya-karya dia ketika berproses diswayanaka bisa kalian akses di Youtube.  2019 kemarin dia menikah dan selamat sen, wes entok konco dewe. Semoga tahun ini bisa main ke Jombang aku bro,,

Siti Nailatul

Perempuan kelahiran Ambulu, Jember ini merupakan sarjana Biologi yang saat ini sibuk-berproses ditempat lainnya. Dia merupakan salah dua mahasiswa yang bertahan dengan dikepengurusan saya bersama Syari, tak lain merupakan sahabatnya yang sekarang telah menjadi Istri dari bapak SDM yakni Malik naharul. Perempuan ini paling sering memberikan masukan terhadap swayanaka khususnya ketika tim humas kendor. Tak do’akan nai semoga segera menyusul bapak ibu PSDM ya, biar bisa double date.

Hikmah Yanti

Perempuan kelahiran Puger Jember ini merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Fisika, yang tak laia pasukan terbesar dikepngurusan saya. Diluar kegiatannya menjalani kuliah di FKIP dia juga memeiliki skill desain grafis yang menjadikan dia seorang Humas bagian desain pada masanya, sering sekali saya hubungi ketika desainnya belum muncul di Instagram kami. Saat ini dia telah sibuk menajdai seorang guru di salahsatu sekolah SMA di kecamatan Puger, dan semoga ada kabar baik ditahun ini, tentang laki-laki yang sering saya lihat di status Whatsappnya.  

Hendrik

Pria asal Jember ini merupakan mahasiswa jurusan fisika dan satu-satunya anggota humas yang laki-laki, sehingga menjadikan dia lebih sering diminta tolong oleh kang sendi untuk membantunya, terlebih jika tugas calon istrinya tidak terselasaikan, pada saaat ini dia sibuk menjadi seorang pengusaha. Semoga ditahun ini dapat menikmati pelaminan bersama itu-tuh yaa

Ervina


Perempuan asal Sidoarjo ini merupakan mahasiswa FKIP yang telah lulus ditahun 2017 bersama teman-teman pasukan dari pendidikan fisika, dia membantu sendy di humas sebagai anggota yang memilki tugas mengelola media sosial swaanaka regional saat itu, nah uniknya ervina ini merupakan pasangan dari hendrik yang juga anggota Humas, dimana ada rapat humas, mereka harus lengkap kalau tidak lengkap biasanya pada tidak hadir. Vina, semoga tahun ini bisa bersma dipelaminan bersama hendrik yaaa

Sekian catatan saya tentang orang-orang hebat yang telah mendidikasikan paruh waktunya, disamping kewajiban untuk menimba ilmu dan segera lulus, tetapi mereka memilih mendidikasikan paruh waktunya untuk kamanusiaan, masa depan pendidikan anak indonesia.
terima kasih atas dedikasi kalian para pejuang kemerdekaan hak anak Indonesia!

Rabu, 23 Oktober 2019

Gus Dur, Aku merindukanmu Gus

7:39:00 PM 0
Sewindu Gus Dur

KH. Abdurahman Wahid yang akrab di panggil Gus Dur,  Merupakan presiden Keempat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Beliau terlahir di Jombang di kalangan keluarga pesantren. Kakeknya merupakan pendiri dari Ormas Islam Nahdlatul Ulama, yang Bergelar Hadrasyatussyeh sementara Gus Dur  di kenal sebagai Guru Bangsa. Mengajarkan toleransi antar umat di muka bumi, Memanusiakan manusia seutuhnya. Gus Dur yang dikenal dan Cintai oleh penghuni alam semesta, dari berbagai golongan, ras , etnis Agama, diantara meraka banyak yang mengenang bahkan mencintai seorang Gus Dur yang sangat toleransi, dan merawat dengan sungguh kemanusiaan dalam diri manusia diatas muka bumi. Di Bumi Papua beliau di Cintai karena memeluk erat saudara kita disana bahkan mengembalikan kepercayaan masyarakat papua kepada pemerintah dan menjadikan hari Raya Imlek sebagai libur Nasional. Menurut Manuel Kaisiepo , yang saya kutip dari nu.or.id, “saya sangat bersyukur memiliki presiden seperti beliau”.
Dalam diri ini terkadang merasa sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa bangsa ini. yang tak pelak berbagai perselisihan antar anak bangsa. Setiap hari dihadapkan dengan cemoohan antar anak bangsa karena perpolitikan yang sangat panas dan buas, bahkan ulama dijelekkan karena urusan politik, bahkan Tuhan pun ditegur oleh CiptaanNya karena alasan politik. Intoleransi juga semakin hari semakin banyak, mengkhawatirkan negeri ini. Apa yang mereka perebutkan sebenarnya. Sementara sarapan pagi cukup makan sepiring sudah kenyang. Haruskah mengorbankan nilai kemanusiaan untuk membangun negeri ini, haruskah hilang kepekaan diri hingga runtuh negeri ini. pertikaian tanpa henti, perpecahan diciptakan dan membuat kekeruhan dalam negeri, dahi mengkerut seakan negeri ini hanya dititipkan pada nenek moyang mereka. Semua dijadikan serba repot, tak seperti dulu semenjak ada engkau, Gus! Dulu engkau mengatakan “gitu aja Kok repot” semua jadi tidak repot gus dan penuh guyu (tawa) diantara kami. Akan tetapi semenjak kau meninggalakan kami kami tidak sering guyu gus, karena melihat peliknya antar anak negeri saling maki.
Yang Lebih Penting dari Politik adalah Kemanusiaan
Mungkin sampai saat ini namamu masih terukir dihati Orang Papua, karena perjuangan kemanusiaan yang kau lakukan, engkau memanusiakan manusia Papua gus. Sekarang kita merindukan itu gus, sajak yang membuat kami bahagia ketika melihat antar anak negeri bergembira,  hari ini kami melaporkan gus, bahwa tanah  papua yang mulai tenang kemarin sempat berdebar kembali gus, kami hanya mendo’akan ning Alysa keluarga besar panjenengan dan seluruh Gusdurian tetap diberi kesehatan merawat negeri ini , Toleransi antar anak bangsa yang engkau ajarkan gus. Kami memang merindukanmu gus, nilai-nilai yang kau ajarkan kami pahami dengan cara kami ngopi santai saat ini gus. “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” yang pernah engkau ucapkan saat ini benar adanya gus. Tetapi saat ini banyak yang lebih mementingkan politik daripada kemanusiaan gus, Bukan politiknya tapi manusianya yang berpolitik tidak memeiliki kesopanan dalam berpolitik gus. Beberapa kejadian bulan yang lalu mengajarkan bahwa kemanusiaan memang lebih penting daripada politik, maka pantaslah kau kami sebut Guru bangsa, karena kau mengajarkan kami kasih sayang tanpa melihat warna kulit, ras, suku dan agama. Tingkah lucu menghadapi politik negeri ini saat engkau masih ada, membuat kami merindukannya gus. Kami rindu tertawa gus dengan perbedaan di negeri ini gus, Gus Dur Aku merindukanmu! 

Sabtu, 04 Februari 2017

KEINDAHAN DAN SEJARAH NUSANTARA BUMI PATRIA #3

12:49:00 AM 0
          Belum puas sampai disitu  aku diajak keliling kota Blitar, sama temenku. Masih tak luput dengan rutinitas kita yakni ngopi, kita singgah disudut kota dengan harga murah meriah dan menikmati senja di sudut kota Blitar. Kiranya kurang afdol kalau ke suatu kota belum main ke titik pusat kota tersebut, selanjutnya kita memutuskan ke alun-alun kota dengan cuaca yang gerimis kita menyusuri jalanan. Karena belum melaksanakan sholat magrib, kita memutuskan meneduh dan melakasanakan sholat di masjid Agung, setelah cukup lama memotret sudut Masjid Agung ini. dan mengelililingi sudut kota patria ini dengan hamparan alun-alun kota yang berhadapan dengan kantor Bupati, Walikota Blitar dan masjid Agung, tak selang beberapa lama kita balik kerumah temenku, karena masih ada titipan dari ibunya temenku.
Ruang Depan Masjid Agung Blitar

Sesampai dirumah mulai istirahat karena keesokan harinya ada rencana ke candi Panataran dan rumah bungkarno, tetapi dengan berat hati mengurungakan niat itu, karena keesokan harinya hujan seharian mengguyur Blitar. Sampailah pada hari terakhir aku di Blitar, malam minggu aku diajak kerumah temenku, dan paginya persiapan balik Kota Suwar Suwir.
Gong Perdamaian Di Komplek Makam Bung Karno

Pagi Jam 6.13 WIB, kita  pulang ke Jember disepanajng perjalanan saya disuguhi perbicangan temenku ala pemandu wisata. Ditunjukkan Kampung Coklat yang tak jauh dari desa temenku dan masih satu kecamatan dengan desanya. Setelah itu tak luput banyak cerita tentang bukit yang mirip Raja Ampat di Papua, cerita Desa di Lereng gunung kelud yang penuh mistis sampai Goa yang konon ada seekor macannya. Sesampainya di bendungan Waduk karangkates kita sempat berselfie ria disana. Kita lanjutkan perjalanan menuju jember dengan Sepeda Motor Honda Supra Mesin 1900an ini.

Teman Perjalanan Si Gresik 


sepanjang perjalanan saya mencoba menghitung berapa truk pasir yang beropersi tersbut kurang lebih 30an itu hari libur, apalagi hari aktif bisa dibayangkan. Sesampainya di Pronojiwo Lumajang kita menyempatkan diri membeli oleh-oleh  Salak dari kebun langsung,  untuk oleh-oleh camer dan temen-temen kebetulan aku tak langsung pulang ke Jember, karena masih singgah ke rumah camer dan ke resepsiannya temen. Sekitar pukul 4 sore kita sampai dikosan jawa 6, kita tepar sebentar karena setelah magrib masih ada agenda bantu-bantu dirumah temen juga. Perjalanan Jember-Blitar-Jember cukup mengesankan dan cukup menghilangkan penat di tahun 2016.
Kawasan Waduk Karang Kates (Malang-Blitar)

Karena masih banyak tempat wisata di Blitar yang belum tersinggahi, nantia anterkan aku ya Rul menyusuri kotamu Kembali.


Sampai Jumpa lagi di #catatanholidy selanjutnya,….

Rabu, 06 April 2016

Tentang Sahabat dan Teman

11:08:00 PM 1

Sahabat apakah engkau baik-baik saja disana?, semoga kau sehat selalu disana. Sekarang aku akan menceritakan padamu sebuah kejadian yang pernah menjadi kisah klasik tentang kita. Engkau akan kusebut sahabat di dalam lembaran kehidupanku, entah kau anggap aku apa dalam lembaran hidupmu, bukan berbicara tentang lembaran yang kita tulis bersama untuk menjadi sebuah memori kelak, tetapi aku akn bercerita kepada Tuhanku dan Alam semesta, bahawa aku pernah bertemu dengan sahabat yang belum tentu di pertemukan kembali.
Taken By ; dhanasatria


Aku akan berbincang dengan tuhanku tantangmu sahabat dan tentangmu teman  “ Tuhan, apa yang engkau akan  tunjukkan tentang orang yang datang dengan membawa jiwa, raga bahkan hartanya untukku ini, aku tak secerdas kekasihmu yang tau segalanya tentangmu dan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tuhan aku juga tidak tahu apa yang engkau rencanakan untukku, kenapa engkau datangkan mereka yang hanya datang untuk bertemu sepintas denganku, aku kadang hanya mempunyai fakir piker tentang mereka, jika engaku memberikan kefakiran pada pikerku ini tolong tunjukkan tuhan siapa Sahabat, siapa teman. Tuhan aku takut ancamanmu kelak dan akupun takut pada nerakamu apabila aku fakir Piker, apabila aku selalu fakir piker tentang sahabat atau teman, karena aku bukan kekasihmu yang sudah di jamin surge seperti dia dan sahabanya. Tuhan aku tak ingin berhenti berbincang dengamu, aku akan menyampaikan keluh kesah sahabat dan temanku malam ini, bolehkah tuhanku? Kalau boleh aku senang dan terima kasih. Tetapi tuhan aku akan bercerita setelah aku menberitahu tentang sahabat dan temanku di semesta ini.”

Sahabatku banyak dan temanku juga banyak, kayaknya! Semoga mereka juga anggap aku sahabat ataupun Teman. Mereka bermacam-macam orangnya, karakternya berbeda-beda, sikapnya berbeda. Entahlah siapa, kapan mereka mengenal aku dan akupun sudah lupa kyaknya kenal pertama dengan mereka, ah sudahlah lupakan tentang kapan kita kenal dan  di pertemukan dan dalam momen apa kita bertemu. Mereka sebenarnya hadir dalam kehidupanku membawa cat warna kehidupan yang terus mewarnai hidupku sampai saat ini, ada yangmembawa warna kuning, hijau, biru bahkan merah muda. Cat warna itu ternyata menjadi sesuatu yang indah pada kehidupanku, mereka melengkapi warna sebelumnya, entahlah warna itu indah atau tidak bagi orang lain bahkan umat di belahan arasy ini. Sekali lagi aku hanya ingin berbicara tentang sahabat dan teman.

Sahabat berjalan terus menemani setiap langkah yang kita rencanakan, saling dukung dan tolong menolong dalam kebaikan, bahkan sampai berbicarapun tak terkontrol dengan mereka. Mereka sebenarnya sudah biasa dengan celotehan yang penting dan celotehan yang cukup tidak penting tentang apapun itu. Mereka selalu memberi perhatian pada kita, meskipun perhatian itu berupa ancaman, sorakan, gojlokan dan bullyan. Ya bagaimanpun juga sahabat merupakan patner perang di dunia ini mengubah atau berubah untuk memberikan manfaat. Sahabat memberikan pengetahuan tentang kejujuran, kemunafikan yang dibungkus kemunafikan.

Salam Kepada SAHABAT dan salam Kepada Teman.