Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Belajar Bercerita Bersama Kak Bimo: Ketika Waktu Menemukan Jodohnya

11:10:00 PM 0

 

“Waktu itu ada jodohnya.”

Mungkin ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan perjumpaan saya dengan seorang maestro dongeng yang selama ini hanya saya kenal melalui cerita, video, dan karya-karyanya. Tepat pada 19 September 2026, akhirnya saya berjumpa langsung dengan Kak Bimo, seorang trainer, motivator, dan dikenal luas sebagai master dongeng nasional.  Bagi sebagian orang, perjumpaan itu mungkin hanya sebuah pertemuan biasa dalam sebuah pelatihan. Tetapi bagi saya, ada cerita panjang di baliknya.

Saya memang sengaja datang. Saya mengikuti pelatihan bercerita bersama Kak Bimo yang diinisiasi oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Cabang Bondowoso bersama IGTKI Bondowoso. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas guru TK, SD, RA, MI, PAUD, dan para pendidik lainnya. Di antara ratusan peserta itu, mungkin saya termasuk salah satu yang agak “berbeda”.

Saya bukan guru resmi.Setidaknya bukan guru yang setiap pagi memakai seragam, masuk kelas dengan daftar hadir, kemudian pulang setelah bel berbunyi. Saya mengajar secara lepas. Di mana ada ruang, di situ saya bisa belajar dan mengajar. Saya memiliki sebuah ruang belajar sederhana bernama Sakola Pekarangan. Sebuah ruang belajar nonformal yang saya bayangkan sebagai tempat siapa saja boleh menjadi guru dan siapa saja boleh menjadi murid. Karena bagi saya, belajar tidak selalu harus menunggu ruang kelas. dan guru tidak selalu harus berdiri di depan papan tulis.

Beruntung Bisa Duduk di Tengah Para Guru

Terus terang, saya merasa sangat terhormat berada di tengah ratusan guru yang hadir dalam pelatihan tersebut.Saya melihat para pendidik yang setiap hari berhadapan dengan anak-anak.Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga ikut membentuk karakter, imajinasi, keberanian, dan cara anak memandang dunia. Saya datang sebagai pembelajar.Dan mungkin justru karena itulah saya bisa duduk dengan tenang, mendengarkan, mencatat, dan menikmati setiap materi.

Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebab sebenarnya saya sudah cukup lama menantikan perjumpaan dengan Kak Bimo. Bahkan pernah terlintas dalam pikiran saya untuk datang ke Yogyakarta hanya untuk bisa bertemu dan belajar langsung kepada beliau. Tetapi ternyata waktu memang punya jodohnya. Saya tidak perlu pergi jauh ke Yogyakarta. Kak Bimo justru datang ke Bondowoso. Dan saya dipertemukan dengannya dalam sebuah ruang pelatihan.

Ilmunya “Daging” Semua

Ada satu kesan yang paling kuat saya rasakan setelah mengikuti pelatihan kemarin:Ilmunya daging semua. Bukan sekadar teori. Bukan sekadar motivasi. Bukan pula pelatihan yang membuat peserta duduk, mendengarkan, kemudian pulang membawa sertifikat. Sejak materi dimulai sampai praktik berlangsung, peserta seperti tidak ingin beranjak dari tempat duduk. Ada yang tertawa, Ada yang mencoba, Ada yang salah, Ada yang malu, Ada yang kemudian berani tampil.Dan di situlah saya merasakan bahwa bercerita ternyata bukan sekadar membuka mulut dan mengucapkan kalimat.

Bercerita adalah seni.

Ada teknik.

Ada penghayatan.

Ada ekspresi.

Ada suara.

Ada gerak tubuh.

Ada ritme.

Dan yang paling penting, ada kemampuan untuk membawa orang lain masuk ke dalam cerita.

Cerita, Dongeng, dan Kisah Ternyata Berbeda

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah ketika Kak Bimo mengajak peserta memahami perbedaan antara cerita, dongeng, dan kisah. Selama ini mungkin kita sering menggunakan ketiga istilah tersebut secara bergaantian, cerita merupakan rangkain peristiwa yang disampaikan secara utuh, sementara dongeng adalah karangan fiktif yang tidak benar-benar terjadi didunia nyata sementara kisah adalah cerita atau kejadian yang benar-benar terjadi baik pengalaman hidup atau sebuah peristiwa,

Saya kemudian berpikir: Ternyata selama ini saya banyak bercerita, tetapi belum tentu memahami hakikat bercerita. Ini seperti seseorang yang setiap hari memasak, tetapi belum tentu memahami ilmu memasak.Bisa memasak, tetapi belum tentu tahu mengapa sebuah bumbu harus dimasukkan lebih dahulu dan bumbu lainnya belakangan.Begitu pula dengan bercerita.Kita bisa bercerita.Tetapi untuk membuat orang lain tertarik, terlibat, tertawa, terharu, bahkan mengingat cerita, ternyata ada ilmunya.

Membongkar Dunia Dongeng

Materi berikutnya yang membuat saya semakin tertarik adalah ketika dongeng diurai menjadi beberapa jenis.

Kami belajar tentang:

1. Mitos

Cerita yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan atau berkaitan dengan asal-usul tertentu.

2. Legenda

Cerita yang berkembang di masyarakat dan biasanya dikaitkan dengan asal-usul suatu tempat, tokoh, atau peristiwa.

3. Hikayat

Cerita tradisional yang banyak berkembang dalam khazanah sastra lama dan sering berkaitan dengan kehidupan raja, kepahlawanan, atau tokoh luar biasa.

4. Fabel

Cerita yang menggunakan tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia dan biasanya membawa pesan moral.

5. Sage

Cerita yang berkaitan dengan kepahlawanan atau tokoh sejarah yang berkembang dalam tradisi masyarakat dan kemudian diwariskan sebagai cerita.

6. Epos

Cerita panjang yang mengangkat kepahlawanan, perjuangan, atau perjalanan besar seorang tokoh.

7. Parabel

Cerita yang menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan pesan atau nilai tertentu.

Ternyata dunia dongeng begitu luas, selama ini saya mengira dongeng hanyalah cerita untuk anak-anak sebelum tidur, ternyata tidak sesederhana itu. Dongeng adalah bagian dari kebudayaan manusia.

Ia membawa ingatan.

Ia membawa nilai.

Ia membawa pesan.

Bahkan bisa menjadi cara sebuah masyarakat mewariskan pandangan hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ketika Tubuh Ikut Bercerita

Hal lain yang membuat saya semakin menikmati pelatihan tersebut adalah materi praktik.Kak Bimo tidak hanya menjelaskan bagaimana menyusun atau membawakan cerita. Kami juga diajak mempraktikkan gestur atau olah gerak dan olah suara. Di sinilah saya baru benar-benar merasakan bahwa seorang pendongeng ternyata bekerja dengan seluruh tubuhnya.Tangan bisa berbicara.Mata bisa berbicara.Wajah bisa berbicara.Cara berdiri bisa berbicara. Bahkan diam pun bisa menjadi bagian dari cerita.Kemudian suara.Suara bukan hanya soal keras atau pelan.

Ada tekanan.

Ada tempo.

Ada jeda.

Ada karakter.

Ada perubahan suasana.

Suara seorang raksasa tentu tidak harus sama dengan suara seekor anak kecil.

Suara tokoh yang sedang marah tentu berbeda dengan tokoh yang sedang ketakutan.

Dan seorang pendongeng harus mampu membawa semua karakter itu hidup di hadapan penonton.

Saya jadi teringat:

Ternyata ketika bercerita, kita bukan hanya menyampaikan kata-kata. Kita menghidupkan kata-kata.

Saya Bukan Guru, Tetapi Saya Ingin Terus Belajar

Ada satu hal yang saya rasakan kuat dalam pelatihan itu.Saya mungkin bukan guru resmi.

Tetapi saya selalu ingin belajar menjadi manusia yang bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Sakola Pekarangan yang saya jalankan juga lahir dari semangat itu.

Saya percaya bahwa pendidikan tidak harus selalu berada di gedung sekolah.

Belajar bisa berlangsung di halaman.

Di kebun.

Di teras rumah.

Di bawah pohon.

Di warung.

Di ruang komunitas.

Bahkan di tempat-tempat yang tidak pernah kita sebut sebagai sekolah.

Dan bercerita adalah salah satu cara paling sederhana untuk membuka pintu belajar.

Sebuah cerita bisa membuat anak bertanya.

Pertanyaan membuat anak berpikir.

Berpikir membuat anak ingin tahu.

Dan rasa ingin tahu adalah salah satu pintu menuju pengetahuan.

Pertemuan yang Sudah Lama Ditunggu

Ketika pelatihan selesai, saya semakin menyadari bahwa pertemuan dengan Kak Bimo bukan sekadar pertemuan antara seorang peserta dan trainer.

Bagi saya, ini adalah pertemuan dengan sebuah penantian.

Ada banyak hal yang ingin saya pelajari.

Ada banyak hal yang selama ini hanya saya bayangkan.

Dan akhirnya kesempatan itu datang.

Bukan di Yogyakarta.

Bukan di tempat yang jauh.

Tetapi di Bondowoso.

Di sebuah ruang yang dipenuhi para guru.

Di sana saya duduk sebagai pembelajar.

Mendengarkan.

Mencatat.

Tertawa.

Berlatih.

Dan sesekali merasa malu ketika harus mempraktikkan gerakan atau suara.

Tetapi justru di situlah belajar terasa hidup.

Terima Kasih Kak Bimo

Saya berterima kasih kepada Kak Bimo atas ilmu yang dibagikan.

Bukan hanya karena saya akhirnya bisa bertemu dengan sosok yang selama ini ingin saya temui.

Tetapi karena pertemuan tersebut kembali mengingatkan saya bahwa menjadi pembelajar tidak mengenal usia dan status.

Saya datang bukan sebagai guru.

Saya datang sebagai murid.

Dan ternyata menjadi murid adalah sesuatu yang menyenangkan.

Saya juga berterima kasih kepada YDSF Cabang Bondowoso dan IGTKI Bondowoso yang telah menghadirkan ruang belajar tersebut.

Saya merasa beruntung bisa berada di tengah para guru hebat.

Saya belajar dari Kak Bimo.

Tetapi saya juga belajar dari para peserta.

Tentang kesungguhan.

Tentang keberanian.

Tentang bagaimana seorang guru terus belajar meskipun setiap hari dirinya sendiri menjadi tempat orang lain belajar.

Waktu Memang Ada Jodohnya

Mungkin benar.

Waktu memang ada jodohnya.

Ada orang yang kita tunggu bertahun-tahun, tetapi baru bisa bertemu ketika waktunya tiba.

Ada ilmu yang ingin kita pelajari, tetapi baru datang ketika kita benar-benar siap menerimanya.

Ada pertemuan yang kita rencanakan, tetapi Tuhan mempertemukannya melalui jalan yang tidak pernah kita duga.

Saya pernah ingin pergi ke Yogyakarta untuk bertemu Kak Bimo.

Ternyata tidak perlu.

Kak Bimo datang ke Bondowoso.

Dan saya datang sebagai peserta pelatihan.

Sederhana.

Tetapi berkesan.

Mungkin beginilah cara waktu menemukan jodohnya.

Bukan selalu seperti yang kita rencanakan.

Tetapi seperti yang akhirnya terjadi.

Pulang Membawa Cerita

Saya pulang dari pelatihan itu bukan hanya membawa sertifikat.

Saya membawa sesuatu yang jauh lebih penting:

semangat untuk terus bercerita.

Saya ingin membawa ilmu itu ke ruang-ruang kecil tempat saya mengajar.

Ke Sakola Pekarangan.

Ke anak-anak.

Ke masyarakat.

Ke siapa pun yang mau belajar.

Sebab mungkin suatu hari nanti, dari sebuah cerita sederhana yang kita sampaikan kepada seorang anak, lahir sebuah keberanian.

Dari sebuah dongeng, lahir imajinasi.

Dari sebuah kisah, lahir karakter.

Dan dari seorang pendongeng, lahir generasi yang mencintai cerita dan pengetahuan.

Kak Bimo mungkin telah bertemu dengan ratusan peserta pada hari itu.

Tetapi bagi saya, pertemuan itu akan saya simpan sebagai salah satu cerita penting dalam perjalanan belajar.

Sebuah cerita tentang guru dan murid.

Tentang dongeng dan kehidupan.

Tentang penantian dan pertemuan.

Dan tentu saja...

tentang waktu yang akhirnya menemukan jodohnya.

19 September 2026.

Hari ketika saya akhirnya bisa berkata:

“Saya pernah belajar bercerita langsung bersama Kak Bimo.”

Dan sekarang...

saatnya saya membawa cerita itu pulang.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso: Menelusuri Sejarah Para Pemimpin Bondowoso

5:44:00 AM 0



Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis dan sejarah yang menarik. Kabupaten ini menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai.

Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.

Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.

Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.

Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.

Jejak Para Pemimpin Bondowoso

No.Masa JabatanNama/Jabatan
11819–1830Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra)
21830–1850Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra)
31850–1866Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
41866–1879Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
51879–1891Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo
61891–1908Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail)
71908–1925Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro
81925–1928Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo
91928–1934Bupati RT. Prodjodininggrat
101934–1938Bupati RT. Herman Hidajat
111938–1945Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo
121945–1946Bupati R. Soetandoko
131946–1949Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo
141949–1950Bupati RT. Badroes Sapari
151950–1951Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo
161951–1956Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo
171957Bupati Soejarwo
181957–1958Bupati R. Soetowo
191958–1959Bupati Djomadi Moespan
201959–1964Bupati Soetowo
211964–1965Bupati Soemarto Partomihardjo
221965–1973Bupati Mayor R. Arifin Djauharman
231973–1978Bupati Kolonel R. Surono
241978–1983Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi
251983–1988Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai
261988–1993Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
271993–1998Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
281998–2003Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
292003–2008Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
302008–2013Bupati H. Amin Said Husni
312013–2018Bupati H. Amin Said Husni
322018–2023Bupati KH. Salwa Arifin
332025–2030Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag

Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini

Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.

Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.

Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.

Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.

Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Jejak itu masih ada.

Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

Minggu, 01 Maret 2020

Berjumpa Pemilik Hati Samudra, Mbah MH Ainun Najib ( Cak Nun)

5:57:00 AM 0


Foto Bersama Mbah Nun 

Alhamdulillah, itulah ucapan yang kerap disampaikan ketika merasakan kebahagian sebagai rasa syukur, atas nikmat Allah SWT yang telah melimpahkan segala bentuk nikmatNYA. Begitupun saya, kemarin ketika berjumpa dengan salah satu Tokoh Panutan yang selalu mengingatkan anak cucunya ini dengan senyuman, pelukan , bahkan guyonan. Bangsa ini sangat beruntung memiliki manusia seperti beliau yang setiap hari sibuk dengan tangisan anak cucu bangsanya. Setiap hari pindah lokasi, kadang di Jawa kadang diluar Jawa juga bahkan jadwalnya hampir penuh setiap bulannya, tetapi Yogyakarta menjadi pilihan beliau untuk menjadi lokasi perenungan mbah bersama anak cucunya. Tepatnya di kota Sleman, beliau bersama uti kami dan dulur-dulur kiaikanjeng selalu bersamanya.
                Saya bersyukur dapat berjumpa dengan keadaan beliau sehat wal afiat, mengingat salah satu nadzar saya menjumpai atau sowan para tokoh-tokoh bangsa, terutama Tokoh Nahdlatul Ulama setelah dinyatakan lulus dari kuliah yang cukup panjang ini. Alhamduillah, kemarin dapat berjumpa Mbah Nun dalam pelaksanaan  Festival Sains dan Budaya 2020  di komplek Kharisma Bangsa School tempat digelarnya acara Kompetisi tahunan bergengsi yakni Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia ( OSEBI). Berjumpa mbah Nun merupakan ketidak sengajaan yang harus disengaja untuk berjumpa dengan beliau,  sebagaimana disetiap maiyah acara sinau bareng biasanya bersalaman dengan beliau adalah moment sangat sulit, karena pengawalan ketat dari panitia.
Berjumpa langsung dengan beliau merupakan suatu moment yang tidak bisa dilupakan dan harapan semua sedulur maiyah disegala penjuru dunia, begitu juga saya yang masih amatiran jadi jamaah maiyahan menjadi moment spesial banget dalam perjalanan kelana selama di Jakarta. Kemarin penuh drama untuk ketemu beliau, karena tidak disengaja bahkan seperti mimpi ketemu beliau. Jadi, kemarin hari Ahad 23 Januari 2020, sekitar jam sebelas siang nyonya saya dihubungi kakak kelasnya yang kebetulan guru di Kharisma Bangsa School (KBS), dia bilang kalau acara itu dihadiri oleh Mbah Nun, tetapi temen nyonya biasa saja. Mendengar itu sayapun segera mandi, bersih diri dan tibalah sekitar jam 12 an saya berangkat ke lokasi acara FSB 2020 tersebut. Tanpa diduga, ada kabar  hampir sampai lokasi, kakak kelasnya nyonya bilang kalau acara udah hampir kelar, jadi agak lemes tubuh ini tetapi saya masih berusaha kesana, bagaimanpun yang penting bisa ketemu mbah Nun dan salaman dengan beliau. Syukur Alhamdulillah, acara sedikit diperpanjang dan masih menyempatkan diri melihat  persembahan medali Emas Bagi para pemenang FSB 2020. Mbah Nun menyampaikan orasi penutupan FSB 2020 tersebut, dengan banyak wejangan yang diberikan kepada adek-adek hebat dari seluruh Indonesia ini, yang nantinya mewakili Indonesia di olimpiade Internasional.
Foto Booth FSN 2020 

                Tidak hanya sampai disana, selepas acara saya coba lihat mbah Nun turun panggung dari sebelah mana. Beliau turun dari sebelah kiri panggung, saya pun menuju pintu keluar acara, ternyata beliau tidak lewat jalan itu. Lalu sayapun menuju pintu masuk utama sekolah tersebut, bertanya kepada satpam, kendaraan yang membawa mbah Nun yang mana, ternayata masih berada diparkiran dengan Nopol Bogor (F ), selang beberapa menit ada juga salah satu guru pendamping lomba puisi ingin menemui mbah Nun juga, untuk bertanya Puisi yang dibawakan anak didiknya dibuat tahun berapa. Saya bersama mas Opic nama guru tersebut, menunggu hingga kurang lebih jam setengah dua, tetapi mbah Nun belum juga tampak keluar dari sekolah tersebut, dan kita tunggu di depan mobil yang dimaksud, karena sangat mepet dengan waktu sholat dhuhur, secara gentian sholat di Mushollah, sampai mas Opic selesai sholat, beliau belum juga meninggalkan lokasi acara. Akhirnya saya sholat dhuhur dulu, sekitar 10 menitan, dan ketika keluar selesai sholat terasa surprise banget, ternyata mbah Nun udah berada dipintu keluar sekolah dengan banyak Guru dan tentunya mas-mas yang tadi ikutan foto bersama beliau. Tanpa pikir panjang, saya langsung salim ke beliau, ternyata ada momen lainnya yang mebuat saya tidak bisa ngomong, ketika saya ingin memeluk beliau dan beliau memegang kedua pundak saya, menatap mata saya dan tanpa mengatakan apa-apa beliau seperti menyasehati. Luas banget hati beliau,  dengan sibuknya yang luar biasa, masih bisa memanusiakan cucunya yang penuh amarah, dan dosa ini. Dengan Niatan, tadinya selain salaman dan meminta nasehat “pernikahan “ bagi kami berdua, dengan kejadian luar bisa tersebut saya tidak bisa berbicara apa-apa, hanya bersalaman dan berfoto dengan beliau sebagai catatan momen bersama beliau.
“Segala pertemuan itu adalah percintaan_Cak Nun”
                Ini merupakan moment luar biasa bagi saya, moment sangat langka berjumpa dengan beliau dan salaman langsung dengan beliau bahkan dipeluk, di tepuk pundak saya dua kali oleh beliau. Dengan tatapan beliau yang membuat saya optimis, sekaligus badan gemeter menahan rasa haru yang luar biasa bisa berjumpa dengan beliau. Moment ini juga dirasakan oleh teman dan sahabat saya dengan perasaan “cemburu dan iri “ katanya. Sampai tulisan ini terbit, telah ada 3 sahabat dan teman yang bilang seperti itu. Insyallah dilain waktu kalian bisa berjumpa beliau ya, dengan keadaan beliau sehat wal afiat. Terima kasih mbah Nun, telah memberikan optimis kepada kami cucumu ini.

Rabu, 23 Oktober 2019

Gus Dur, Aku merindukanmu Gus

7:39:00 PM 0
Sewindu Gus Dur

KH. Abdurahman Wahid yang akrab di panggil Gus Dur,  Merupakan presiden Keempat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Beliau terlahir di Jombang di kalangan keluarga pesantren. Kakeknya merupakan pendiri dari Ormas Islam Nahdlatul Ulama, yang Bergelar Hadrasyatussyeh sementara Gus Dur  di kenal sebagai Guru Bangsa. Mengajarkan toleransi antar umat di muka bumi, Memanusiakan manusia seutuhnya. Gus Dur yang dikenal dan Cintai oleh penghuni alam semesta, dari berbagai golongan, ras , etnis Agama, diantara meraka banyak yang mengenang bahkan mencintai seorang Gus Dur yang sangat toleransi, dan merawat dengan sungguh kemanusiaan dalam diri manusia diatas muka bumi. Di Bumi Papua beliau di Cintai karena memeluk erat saudara kita disana bahkan mengembalikan kepercayaan masyarakat papua kepada pemerintah dan menjadikan hari Raya Imlek sebagai libur Nasional. Menurut Manuel Kaisiepo , yang saya kutip dari nu.or.id, “saya sangat bersyukur memiliki presiden seperti beliau”.
Dalam diri ini terkadang merasa sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa bangsa ini. yang tak pelak berbagai perselisihan antar anak bangsa. Setiap hari dihadapkan dengan cemoohan antar anak bangsa karena perpolitikan yang sangat panas dan buas, bahkan ulama dijelekkan karena urusan politik, bahkan Tuhan pun ditegur oleh CiptaanNya karena alasan politik. Intoleransi juga semakin hari semakin banyak, mengkhawatirkan negeri ini. Apa yang mereka perebutkan sebenarnya. Sementara sarapan pagi cukup makan sepiring sudah kenyang. Haruskah mengorbankan nilai kemanusiaan untuk membangun negeri ini, haruskah hilang kepekaan diri hingga runtuh negeri ini. pertikaian tanpa henti, perpecahan diciptakan dan membuat kekeruhan dalam negeri, dahi mengkerut seakan negeri ini hanya dititipkan pada nenek moyang mereka. Semua dijadikan serba repot, tak seperti dulu semenjak ada engkau, Gus! Dulu engkau mengatakan “gitu aja Kok repot” semua jadi tidak repot gus dan penuh guyu (tawa) diantara kami. Akan tetapi semenjak kau meninggalakan kami kami tidak sering guyu gus, karena melihat peliknya antar anak negeri saling maki.
Yang Lebih Penting dari Politik adalah Kemanusiaan
Mungkin sampai saat ini namamu masih terukir dihati Orang Papua, karena perjuangan kemanusiaan yang kau lakukan, engkau memanusiakan manusia Papua gus. Sekarang kita merindukan itu gus, sajak yang membuat kami bahagia ketika melihat antar anak negeri bergembira,  hari ini kami melaporkan gus, bahwa tanah  papua yang mulai tenang kemarin sempat berdebar kembali gus, kami hanya mendo’akan ning Alysa keluarga besar panjenengan dan seluruh Gusdurian tetap diberi kesehatan merawat negeri ini , Toleransi antar anak bangsa yang engkau ajarkan gus. Kami memang merindukanmu gus, nilai-nilai yang kau ajarkan kami pahami dengan cara kami ngopi santai saat ini gus. “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” yang pernah engkau ucapkan saat ini benar adanya gus. Tetapi saat ini banyak yang lebih mementingkan politik daripada kemanusiaan gus, Bukan politiknya tapi manusianya yang berpolitik tidak memeiliki kesopanan dalam berpolitik gus. Beberapa kejadian bulan yang lalu mengajarkan bahwa kemanusiaan memang lebih penting daripada politik, maka pantaslah kau kami sebut Guru bangsa, karena kau mengajarkan kami kasih sayang tanpa melihat warna kulit, ras, suku dan agama. Tingkah lucu menghadapi politik negeri ini saat engkau masih ada, membuat kami merindukannya gus. Kami rindu tertawa gus dengan perbedaan di negeri ini gus, Gus Dur Aku merindukanmu! 

Minggu, 28 April 2019

Bagus Sajiwo : Catatan Sang Juara, Dedikasikan Diri Untuk Menulis

1:55:00 PM 0
Foto penganugerahan Dari Kementerian Pendidikan

           
Bagus Sajiwo itu nama penanya, tempaan demi tempaan yang ia rasakan semenjak nyantri di Pondok pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, menghantarkan dia menjadi sang juara dalam berbagai tulisan karya jurnalistik. Saat ini dia bekerja di Jawa Pos Radar Jember,  penghargaan demi penghargaan dia raih dengan beberapa honorarium yang telah mengantarkan ia pada kehidupan lebih mapan, dengan Menulis ia dapat mewakili Indonesia dalam salah satu forum Internasional di Polandia. Karya jurnalistiknya sangat apik dan sangat menarik disetiap karya yang ia sajikan, ada beberapa karya yang sempat di bukukan bersama penulis atau jurnalis lainnya.

            Sebenarnya saya baru mengenal dia pada bulan November 2015, waktu itu saya masih awal menjadi ketua umum Swayanaka regional Jember yang secara kebetulan meliputan kagiatan kami bersama Migrant Care pada acara Jambore buruh Migran di Universitas Jember. saya juga tahu dia merupakan jurnalis produktif saat itu ketika mleihat beberapa artikel dan diberitahu salah satu Teman. Ia merupakan jurnalis yang terlahir dari rahim Lembaga Pers Mahasiswa ( Persma) Al Fikr, di Institut Agama Islam Nurul Jadid yang saat ini telah menjadi Unversitas Nurul Jadid ( UNUJA) Paiton Probolinggo. Tepat pada tahun 2017 saya dihubungi kembali oleh dia, entah waktu itu dikira oleh saya berkenaan dengan berita yang mungkin butuh kontak narasumbernya, tetapi beda. Saat itu saya dihubungi dalam rangka syukuran atas Rumah Baru yang ia beli di perumahan sekitar Tegal gede, Semeejak itu ia juga mempersilahkan saya untuk tinggal di rumah barunya. Dengan benyaknya kegiatan full dikantor sehingga tak jarang ia hanya pulang tidur dalam artian, (liputan, Menulis dan ngopi) jadi memang hidupnya di dedikasikan untuk menulis. Selain itu ia juga sempat menjadi Humas bidang media disalahsatu ormas pemberdayaan masyarakat.  kadang banyak obrolan atau diskusi menarik saat saya ulik darinya dari hal yang bersumber dari buku maupun berita yang ia liput. Di sela kesibukannya sebagai Jurnalis profesional Pria bernama asli Bagus Supriyadi ini, juga masih menyempatkan menempuh pendidikan strata dua di IAIN Jember. dengan minat Tulis yang tinggi, tentunya harus dibarengi dengan minat Baca juga, maka tak heran jika hidupnya tidak bisa dipisahkan dengan buku.

Beberapa Foto Piagam Penghargaan Karya
Hidupnya pun tidak luput dari yang namanya Buku, buku merupakan teman terbaiknya dalam segala hal. yang menarik dari Pria kelahiran Bondowoso 28 April 30 Tahun lalu ini, ketika sebagian dari gajinya harus menjadi buku, jadi setiap lepas gajian, buku itu pasti dia beli. Dalam satu hari dia bisa menghabiskan membaca satu buku disela-sela kesibukannya dalam melakukan ativitas sebagai jurnalis. Beberapa penghargaaan telah ia raih merupakan buah dari kegigihannya dalam membaca dan menuliskan yang ia baca. Dengan passion yang ia miliki dalam dunia kepenulisan menghantarkan ia menjadi sang juara. Prestasi terakhir yang menghantarkan dia ke Eropa Mewakili Indonesia dalam forum Perubahan Iklim yang dilakukan oleh PBB, prestasi ICCTF Media Award 2018 ia menjadi pemenang 1, ICCTF Media Award merupakan sabuah ajang pengharagaan karya jurnalistik tentang program-program penanggulangan perubahana iklim, yang dberikan kepada jurnalis media cetak maupun olnline yang ikut berperan menyebarluaskan tentang perubahan iklim di Indonesia. 

Diusianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun, mas Jiwo sapaan akrabnya di laman website ini, telah menorehkan banyak prestasi, dan berjuta pengalaman di dunia kepenulisan. dihari kelahirannya ini saya hanya mendo'akan semoga segera mendapatkan pendamping hidup yang sholehah yang bisa mendukung karir dan masa depannya. ucapan terima kasih juga saya sampaikan, yang telah memberikan tempat sekaligus perpustakaan yang nyaman dirumah pribadinya selam dua tahun ini.  

Kamis, 13 Desember 2018

Menghargai Proses Bersama Swayanaka Jember I

4:24:00 PM 0
Pengurus Swayanaka Indonesia 
Regional Jember Periode 2016-2017

Bertahun-tahun menemani Swayanaka Regional Jember dengan suka dan dukanya membuat saya ketagihan bergerak dan ikut urun tangan mengentaskan permasalahan anak Indonesia dari kota tempat saya menimba ilmu. Senyuman tulus malaikat kecil dan ekspresi mereka membuat kita ingin terus menemuinya, terkadang disaat seperti sekarang masih sering merindukan mereka. pada awal 2016, saya diberikan amanah dan tanggung jawab untuk menahkodai kapal besar ini, yang bernama Swayanaka. Banyak kisah suka dan duka bersama Swayanaka 1 tahun terakhir sebelum menjadikan diri demesioner raga. Saya dan Tim terus mengembangkan swayanaka yang telah di bangun sejak 2013 tersebut.

[ Baca Juga : Bersama Mereka di Swayanaka Indonesia  ]
Saya merasa sangat beruntung memiliki tim kerja yang sangat responsive dan aktif. Bejuta-juta terima kasih saya ucapkan pada mereka para Pejuang Hak Anak Indonesia. sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka, Izinkan saya mengukir nama mereka masing-masing didinding rumah maya saya ini. untuk tetap berkobar semangat dalam  merawat, memperjuangkan, dan mencerdaskan anak bangsa dimanapun mereka berada (nantinya).


Badan Pengurus Harian Swayanaka Indonesia
Regional Jember 2016-2017

Didalam berorganisasi juga perlu beberapa orang sebagai tonggak utama sebelum pembentukan divisi yakni Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Dimanapun organisasi, komunitas, kumpulan mungkin perlu itu dan kali ini saya akan mengenalkan mereka yang tetap menghibahkan waktunya untuk memperjuangakan Hak Anak Indonesia dibagian wilayah Jember. Inilah jajaran Tim Swayanaka periode 2016, dan mereka yang sampai titik terakhir masih bertahan dan terus berkarya bersama dalam menghadapi suka duka berorganisasi. mereka yang berproses dan terus berproses akan merasakan proses itu. berikut adalah nama-nama yang berjuang bersama kami sampai akhir kepengurusan di tahun-tahun tersebut;

Wakil Ketua

Ahmad Aldi Fauzi

Dia merupakan wakil ketua swayanaka periode saya, serta seorang sahabat yang multitasking. Dia salah satu sahabat di koerawa yang di tuakan oleh sahabat yang lainnya, dia pemuda asli Kalibaru,Banyuwangi dan Pembina “RECIDA (Remaja Cinta Desa)”. saat di swayanaka dia bertugas mengontrol didalam organisasi, sementara saya betugas mengontrol dari eksternal, kita membagi tugas sendiri saling mengisi satu sama lainnya. kita pernah satu kontrakan sewaktu masih kuliah semester akhir, dengan banyak cerita saat kita berorganisasi bersama, bersaudara bersama dalam “koerawa” serta menjadi tim netralisatas di kampus. Sehingga, cukup banyak yang aku ketahui tentangnya dan banyak diskusi yang kadang membuat kita bersitegang. etapi, mencair ketika kita sruput kopi di warung depan kontrakan. Kalau masalah percintaan, insyallah dalam waktu dekat dia akan segera menikah dengan wanita yang dia temani saat di bangku SMA, do’akan saja disegerakan  biar segera insyaf.. kan iya mo  ?

Sekretaris

Aisatul Haidariyah

Seorang santriwati yang menjadi sekretaris di kepengurusanku. Sangat energik dalam berkegiatan dan jadwalnya padat selain kesibukannya kuliah dan organisasi, ia juga aktif merintis les privat yang dicita-citakan menjadi LBB berkelas nantinya. Saat ini ia sangat sibuk nomaden dari kota satu ke kota satunya, dengan kesibukan LBB yang ia tekuni sedari menjadi Mahasiswa itu. nah dalam urusan administratif sangat cag-ceg. Tanpa saya memberikan contoh dia langsung gaspoll dan mau belajar. Selamat ya Ais semoga Tahun Depan Sudah selesai mbolang sendiriannya…

Bendahara Umum

Alifa Juliana


Swayanaka Jember
Perempuan asal Probolinggo ini merupakan sarjana pendidikan fisika . Bendahara Umum yang bertahan sepanjang pengurusan, kalau masalah duit sangat rijik dan detail banget. Apalagi, soal sisa dari uang anggaran yang masih ada di setiap individu dia sangat crewet. Tapi, dengan crewet, pelitnya serta detailnya dia menangani masalah keuangan organisasi, organisasi bisa tetap survive dan lancar dalam berkegiatan. tak ayal, mantan bendahara ini, sekarang menjadi karyawan salah satu bank di Surabaya. Terima kasih bendahara umum yang selalu mengingatkan sisa anggaran kegiatan kepada kami. Sisa anggaran di saya sudah lunas ya buk hahaha

Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia

Dari Kiri ( Malik, Nisrina, Habibah, Syari, Andri)

Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia, ini merupakan divisi yang berperan penuh kepada pengkaderan dan pengeratan dalam jajaran organ diswayanaka, yang sering di istilahkan sebagai bapak dan ibu Swayanaka Jember. dari jajaran ini akan saya perkenalkan beberapa yang menjadi pemeran penuh dibalik suksesi kaderisasi di Swayanaka Jember.

Malik Naharul

Mosok lik ?

Nah , ini adalah Malik Naharul yang berperan penuh dalam pimpinan sebagai Kepala divisi PSDM Swayanaka regional Jember. Mahasiswa Fisip Universitas Jember jurusan Sosiologi ini, berasal dari Kota Blitar dan selama ini aktif di kegiatan olahraga sepak bola dan futsal selain kegiatannya sebagai kepala divisi PSDM. Mahkluk satu ini sangat absurd, dan sering membuat bingung anggotanya dalam bertindak. Ucapannya yang khas “ mosok”, mosok adalah kata ecean dia jika ada yang berpendapat. Dia adalah punggawa di divisi PSDM dan menjadi bapak bagi anggota swayanaka yang lainnya. dan pada akhirnya dia  menemukan ibu Negara di kapal besar ini, semoga mereka berjumpa untuk selamannya. Tak dunga’no lik, ndang budal neng Jeporo, arek arek Kurowo wis podo siap budal neng kono.

Nisrina

Nisrina ini merupakan anggota dari divisi PSDM, Gadis yang akrab disapa Irin ini merupakan mahasiswa Poltekes kemenkes Malang Di Jember, gadis penggemar eskrim ini,  merupakan mahasiswa satu-satunya yang berasal dari kemenkes malang yang bertahan sampai akhir dalam kepengurusan. Dia berasal dari kota Jember dan aktif berorganisasi sejak menempuh sekolah menegah Atas Di Madrasah Aliyah Negeri Jember yang terkenal karena sebuah pengungkapan bersejarah disekolahnya, membuat dia terus aktif berorganisasi. kesibukannya saat ini menempuh semester akhir sebagai calon Bidan professional.

Syarifatul Laili

Syarifatul laili, perempuan Jepara yang cukup mirip kisahnya dengan kartini, karena setiap berkegiatan sangat energik dan cukup feminis kalau saya liat. Dia sering disebut ibu dari swayanaka Jember kala itu, karena ke ibuannya dan ketelatennannya mengingatkan anggota yang menjadi tugasnya di PSDM membuat dia harus bekerja ektra membuat anggota terus rekat dengan banyak inovasi program yang dituangkan bersama di divisi PSDM. Syar, ojok lali lek wesan kakang prabu rawuh neng jeporo di sambut yo sar, eh koyok’e wes mari tekan kono. Semoga kalian jadi keluarga yaaa.

Habibah Z

Habibah , panggilan akrabnya bibah merupakan anggota dari divisi PSDM yang paling kritis jika ada kejadian internal yang tidak bagus, mahasiswa asal Jember Barat yang sampai saat inipun janji saya berkunjung tak kunjung sampai. Mahasiswa jurusan pendidikan fisika ini merupakan mahasiswa yang cukup aktif dalam selama kuliah dan di pengurusan saya ia mengikuti sampai akhir, kesibukan saat ini menjadi salah satu guru di daerah Tanggul. Lama tak ada kabar, semoga ada kabar baik ya bib yang datang ke Meja kerja saya ditahun depan, oiya kang jibur iniloh masih kosong hahaha

Moh. Andri F

Panggilan akrabnya andri atau landro, dia merupakan mahasiswa angkatan saya dan saya menyeret ke swayanaka waktu awal sawayanaka di dirikan, berawal dari penelitiannya tentang swayanaka regional Jember, lambat laun ia mengikuti kegiatannya swayanaka. Mahasiswa ini adalah pasukan dari kurowo “pasukan berani mati, takut lapar”. Sahabat yang baik ini sering memberikan saya utangan ketika saya susah diperantauan. Beberapa kali saya meminjam kalau tidak salah sampai saaat ini masih ada sisa ke dia. selain aktif berorganisasi ia juga aktif dalam bisnis online (dulu) sewaktu masih bersama sang mantan. Mahasiswa ini merupakan salahsatu sahabat kurowo yang dari Genteng, kalau saya ke Banyuwangi pasti ia jemput saya, bahkan suatu hari pernah mengantarkan saya ke daerah songgon, sahabat sangat baik bagi saya. Saat ini ia sibuk menjadi Bos dan NgGojek di sekitar Genteng, lagi mencari tambatan hati kembali, karena kegagalan ditinggal rabi. Sabaro yo ndri, sisa utangku engko yoo…

Fahmi N.H

Panggilan akrabnya Parmai, pria asal Ajung Jember yang memiliki berhektar tanah yang sering telat hadir ketika ada kegiatan. Dia merupakan sahabat baik saya juga di Kurowo, meskipun kadang sering ngilang saat dipengurusan saya. Sewaktu menjabat di pengurusan saya, ia juga aktif di organisasi yang lain serta kesibukannya menjadi surveyor professional. Dia merupakan penyelamat kami "kurowo" disaat uang kita menipis di perantauan dengan penawaran berangkat survei ke luar kota. pernah kita bareng survei ke Kota Batu Malang, waktu itu Edi rumpoko masih belum menjadi tersangka. Selain sibuk dengan organisasi, survei dan olahraga ia juga aktif bertani. Ia pengurus yang paling tinggi tubuhnya dan di kurowo juga sepertinya. Bagi saya dia banyak berperan penuh di ekternal kepengurusan meskipun posisinya di PSDM. Saat ini ia sibuk mengurusi sawahnya yang hektaran bertani sereh. Ojok lali skripsi yukk men..

        Divisi yang lain mana? kok cuma divisi PSDM yang ada, ditunggu ya di up date selanjutnya, masih ada divisi Kesehatan, divisi Pendidikan, divisi DANUS dan divisi HUMAS.. ditunggu ya....
Selamat Baraktifitas 

Selasa, 16 Oktober 2018

Ngartis Di Aula Apung Universitas Indonesia

12:35:00 PM 0

            Tepat pada hari Rabu 8 Maret 2017 saya dapat undangan mendadak oleh temen Mapala UI, untuk mengisi acara mereka. Sementara acara mereka mulai tanggal 9 maret atau keesokan harinya, bagamana tidak kaget dapet undangan mendadak, untuk berangkat ke UI Depok. Sementara mereka ingin saya mengisi materi mengenalkan potensi wisata kawasan Ijen, tetapi saya merasa belum memiliki kapasitas untuk menyampaikan itu. akhirnya dengan kepala tenang saya melakukan konfirmasi ke Pak Hary Patriantono selaku kadisparpora Bondowoso, untuk menjadi pemateri di acara temen Mapala UI, namun dengan berat hati waktu itu beliau ada acara diklat kenaikan jabatan di pemprov. Akhirnya dengan perasaan nekat sayapun memutuskan berangkat. sebenarnya acaranya ini adalah serangkaian dari acara perjalanan panjang jelajah pegunungan ijen, dengan tema “Belantara Ijen” yang disi dengan pameran foto, talkshow dan acaranya keren lainnya. oleh karena itu ini kesempatan emas untuk mengenalkakan potensi lain dari diskitar Kawasan Ijen melalui jalur tradisional yakni Bondowoso. Akan saya awali dengan beberapa cerita perjalanan mendadak yang banyak menyita waktu, tenaga , pikiran dan biaya.

Masih di hari Rabu, saya ditelpon oleh salah satu narahubung acara belanatara ijen, dia meminta kepada saya untuk membawa kopi untuk di display pada acara tersebut, dengan keadaan stok kopi di tempat pemasaran dalam keadaan offer stok, dan saya terdesak untuk berangkat hari kamisnya, tetapi saya menolak agar diundur Karena stok kopi sudah habis, akhirnya saya memutuskan mengambil kopi di petani, agar bisa memenuhi permintaan mereka. akhirnya kamis pagi saya berangkat untuk mengambil kopi di Petani tetapi baru ketemu petani sekitar Jam 2 Siang, dengan dikejar waktu akhirnya ambil kopi dengan menelan biaya yang cukup tinggi dan itupun masih membawa kopi rakyat dengan hutang dulu. Akhirnya diberikan dan dengan waktu yang terkejar karena harus berangkat Jum’at pagi. Dengan keadaan itu saya mencoba tenang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, mengingat perjalanan Bondowoso-Jember dengan keadaan tenaga sudah mulai tersita dan membawa kopi ke Jember untuk di packing, hingga packingnya memakan waktu hingga larut malam sekitar jam 01;00, karena hari itu  bertepatnya juga dengan salah satu ulang tahun sahabat saya , akhirnya jam satu nyamperin dia dikosan tetapi dia tidak ada, akhirnya balik lagi ke tempat packing. Sekitar jam 02;30, saya mulai terlelap karena besok paginya harus berangkat pagi. Akhirnya sudah beres semua untuk berangkat keesokan harinya.

            Jam dinding menunjukkan Jam 4.30 pagi, mata sudah terbangun dengan persiapan kopi yang di pakcing rapi dengan kardus dan dengan rasa lelah 1 hari penuh dengan tenaga yang tersisa, saya bangkit untuk berangkat ke Jakarta. Perjalanan kereta Jember-Jakarta tidak ada, saya  transit kereta di Purwakarta menuju stasiun Pasar senen. Sesampainya di stasiun pasar senen, dengan barang bawaan cukup banyak. Seperti orang mau mudik. Saya di jemput oleh salah satu calon anggota baru Mapala UI saat itu, yaitu Ghazi. Saya dijemput ke stasiun pasar senen dengan teman-teman kosnya, yang saya ingat saat itu nama temannya adalah Anis dan Abdul selebihnya saya lupa. Dengan keadaan Jakarta dan Depok malam hari yang terasa masih pukul sebelas malam kalau di Jember, saya di bawa menginap di kosannya Ghazi dan di kamarnya Anies sebagai tempat istirahat malam itu. Setelah itu pagi harinya saya di bawa ke skretariat MAPALA UI, terlebih dahulu.
Skertariat MAPALA UI

            Skretariat Mapala UI ini berada di sekitar danau yang memisah antara Fakultas Sastra dan Fakultas MIPA UI, yang dihubungkan dengan jembatan besi. berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA). Skretariat ini juga penuh dengan alat-alat yang berkaitan dengan Kepecinta alaman. Dari buku tua sampai alat untuk mendaki yang melegenda juga berada disana. Kalau mau disebut museum pendaki Indonesia cukup mewakililah. Yang membuat saya kaget waktu itu, pertama kali masuk kes skretariat Mapala UI melihat gambar yang cukup besar menghias dindingnya, setelah saya lihat dan baca quotesnya, ternyata digambar itu adalah Soe Hok Gie, dia alumni Fakultas Sastra UI dan merupakan salah satu orang yang mendirikan Mapala UI. Dia adalah seorang aktivis yang selalu mengkritisi pemerintah pada eranya. Dia adalah seorang tokoh pergerakan yang sangat nasionalis. Hingga saat ini nama Gie, masih melekat namanya di teman-teman aktivis. Gie meninggal dunia di puncak semeru dengan berbagai cerita. 
Sumber : www.goodreads.com

Lebih lengkapnya bisa baca sosok gie di Internet dan buku-buku, salah satunya terbitan TEMPO Edisi tokoh. 

Diskertatariat itu saya berjumpa dengan salah satu putra daerah dari Jember namanya Firman. Dan saya sedikit berdiskusi tentang Jember dengan dia,  menggunakan bahasa Madura dan menjadi pusat perhatian teman-teman disana. Dan saya juga berjumpa dengan putra daerah dari Lumajang, lupa namanya. Tetapi tidak begitu banyak diskusi dengan dia. diskertariat saya lanjut ke Aula Apung untuk menyampaikan misi, memperkenalkan potensi wisata dan potensi lainnya di kawasan lereng Ijen.

Tunggu cerita saya selanjutnya 

Rabu, 16 Mei 2018

Pemilik Rahim

1:08:00 PM 2

Pemilik rahim itu menagis
Menangis karena air hina yang pernah singgah di rahimnya
Air hina itupun tumbuh menjadi daging keras
Bahkan sekeras Batuan Karst
Pemilik rahim itu menangis 
Menangis bukan karena kerasnya airhina yang menjelma itu
Tetapi, menagis karena daging yang ia harapkan pernah bersanding dengan daging lembut
Iya, daging lembut yang hampir membusuk itu.
Pemilik rahim itu menangis
Karena, aroma tak sedap dari daging lembut itu
Daging lembut yang selama ini disangka akan menjadi pelembut daging keras yang pernah singgah dirahimnya
Daging lembut itu telah diangkat menjadi darah dagingnya sendiri.
Karena, prasangka baik pemilik rahim yang menangis.
Pemilik rahimpun gelisah
Gelisah daging keras itu tidak seperti dahulu
Tak sepeti karst menghadapi hidupnya
Karst yang dididik oleh kehidupan
Karst yang menjelma dari daging keras itu mulai tangguh karena daging lembut yang hampir membusuk.
Pemilik rahimpun seakan ikut tangguh
Setelah melihat karst yang masih berdirik tegak di tengah kemarau
Kemarau yang melanda tiga tahun lamanya.
Selamat pagi, pemilik rahim

Jember, 13 April 2018

Sabtu, 12 Mei 2018

Perjalanan Panjang Pegunungan Ijen Bondowoso MAPALA UI

5:06:00 PM 0

Alam bukan  untuk ditaklukkan tetapi untuk beradaptasi dengannya. Sekitar  awal januari  2017 dunia kepencitaalaman mengalami duka dan sekaligus membuat tercoreng kegiatan Pecinta Alam karena telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat diklatsar di salah satu Universitas ternama di jogja. Tetapi hal beda ditunjukkan oleh temen Mapala UI, Di waktu yang bersamaan selang beberapa hari dari kejadian tersbut, di Bondowoso menjadi tujuan untuk diklatsar (diklat dasar ) dari sahabat sahabat Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (MAPALA UI). Dengan memboyong calon anggota barunya untuk melakukan “jelajah Pegunungan Ijen” dengan Dipandu oleh Badan Khusus Pelantikan Mapala UI yang ke -16. 
Sebelum meninggalkan Dusun Tol-tol Timur bersama Keluarga Pak Kasun Kece

Sebagai salah satu Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam alam tertua di Indonesia, menjadi hal yang wajib untuk dilakukan kaderisasi dan keberlanjutan sebuah organisasi. Kurang lebih  lima belas hari mereka melakukan perjalanan jauh dari UI Depok sampai lereng raung tepatnya dusun terakhir sebelum memasuki perkampungan milik PTPN dua belas yakni Dusun Tol-tol Timur yang saat ini menjadi binaan Relawan Muda Bondowoso dan Menumbuhkan Ide Book Adventure.
Ini merupakan awal saya mengenal Dulur (saudara) dari mapala UI BPKP enam belas. Sewaktu itu saya mendapatkan kabar dari salah satu group Kebencanaan Jember, bahwa akan ada pendakian panjang yang akan di lakukan dulur dulur mapala UI. Darisana saya forward info tersebut ke salah seorang teman, yang aktif mendaki gunung Raung, kebetulan juga yang akan menjadi rute pendakian ini juga gunung Raung dan Suket. Secara tidak sengaja ternyata teman saya telah mengantongi info juga dari teman briker radio lokal. Selang beberapa hari sebelum keberangkatan, dia bermain ke salah satu dusun yang menjadi entry Point yakni dusun Tol-Tol Timur, yang sebelumnya dia sudah kenal dengan kasunnya “mas Tony”, kenal sewaktu masih menjadi anggota radio amatir lokal. 
Diantara Mentor (Irvan) dan calon anggota (Pipit)

Di minggu selanjutnya, dia mengajak saya  kesana karena ada kabar, teman-teman sudah akan pindah dari tol-tol timur ke dusun jampit untuk menyambut teman-temen yang lain yang telah berada di dekat dusun jampit. Dengan mengendarai motor sendiri-sendiri kami langsung mengantarkan saudara Pipit dan ervan serta beberapa alat yang sudah dipacking dengan rapi untuk dibawa ke exit point di dusun Jampit. Sepanjang perjalanan kami melawati perkebunan kopi dusun Krepekan dan sampailah ke dusun Jampit dengan selamat serta disambut oleh teman-teman di basecom Jampit oleh Nisya Dkk. Tak lama disana kami langsung memutuskan untuk turun ke Kota, karena masih banyak kegiatan di daerah kota.
Selang beberapa hari, kita kesana lagi untuk menemui semua calon anggota baru kala itu, karena meraka akan cekout ke Depok lagi. Dengan menggunakan kereta dari Jember dan sebelum cekout mereka masih singgah di teman-teman Mahapena FEB Unej. Tak lupa kami menyempatkan diri untuk berswafoto dengan mereka dengan keadaan letih, lesu dan masih dengan keadaan dihantui salah satu kegagalan mencapai cek point. 
Swafoto dengan Peserta dan Mentor BKP 16 MAPALA UI

Selanjutnya, kegiatan mereka tidak terhenti hanya mendaki pegunungan Ijen. Tetapi mereka masih harus melewati serangkaian acara yakni mendokumentasikan kegiatan mereka selama di Bondowoso dan  mempublikasikan kepada khalayak dengan dikemas  talkshow dan pameran BKP 16.  Pada saat itu , saya hadir diundang oleh teman-teman MAPALA UI Untuk mengenalkan Potensi Lereng Ijen di Aula Apung Perpusat Universitas Indonesia. Yang sekaligus memepertemukan saya dengan orang-orang hebat yang berkiprah di dunianya masing-masing dengan karya-karya luar biasa. Harapan besar dengan hadirnya teman-teman dan hadirnya saya ke UI bisa sharing pengetahuan untuk kemaslahatan masyarkat Bondowoso di Pelosok seperti dususn Tol-tol Timur dan masyarakat Bondowoso secara umum. Karena dengan hadirnya mereka diharapkan, ada multi efek untuk kesejahteraan masyarakat Bondowoso.

Sabtu, 28 April 2018

Kartini Masa Kini, Kartini Zaman Now

11:59:00 PM 0

Pada hari sabtu kemarin  21 April 2018, sahabat di Relawan Muda Bondowoso melaksanakan kegiatan Memperingati hari Kartini. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang di inisisasi oleh srikandi-srikandi Relawan Muda Bondowoso. dalam kegiatan pada hari itu membagikan bunga yang terbuat dari kain flannel warna merah muda dan merah maroon, sekitar 100 bunga yang akan mereka bagikan di sekitar alun-alun dan sekaligus penggalangan dana Ekpedisi Pelosok Negeri ke 9 yang akan dilaksanakan pada tanggal 05-06 Mei 2018, Kegiatan EPN kali ini kan dilaksanakan di Dusun Leduk Desa Petung Kecamatan Pakem Bondowoso. selain membagikan bunga pada hari kartini tersebut tema-teman juga disibukkan dengan pengumpulan buku bacaan dan baju layak pakai. Di hari yang sama saya sendiri disibukkan dengan kegiatan seleksi pemilihan pemuda pelopor 2018 Kabupaten Bondowoso. sayapun tidak bisa ikut dengan teman-teman untuk membagikan bunga tersebut yang dipusatkan di sekitar alun-alun Ki Bagus Asra.

Dengan berat hati, saya meninggalkan kegiatan tersebut tetapi saya membeli 2 potong bunga tersebut untuk mengurangi beban dan sebagai tanda terima kasih saya kepada teman teman atas kerja kerasnya untuk Hari kartini dan Ekpedisi pelosok Negeri kali ini. Akan tetapi, dua potong bunga tersebut saya simpan di jok Motor. Tetapi saya bingung mau dihadiahkan kepada siapa, sementara saya sibuk dengan kegiatan seleksi tersebut. Sepanjang perjalanan dari kota sampai rumah terus mikir, bunga ini akan di hadiahkan atau ditinggal begitu saja. Akhirnya sesampainya dirumah sayapun istirahat, pagi itu ditanggal 21 saya kepikir hanya kepada ibu dan di buat kejutan di hari minggu tanggal 22, pas acara di disparpora. Akhirnya kedua bunga itu sold out.

Kartini Masa Kini Yang Tangguh


Pada tanggal 21 April 2018, satu bunga hari Kartini sampai di tangan perempuan yang hampir dua puluh lima tahun menyayangiku tanpa pamrih dan meminjamkan rahimnya untuk saya singgahi selama beberapa bulan itu. pada pagi hari, sewaktu beliau masih di dapur dengan baju emak-emak yang lagi masak dan sibuk dengan kegiatan pagi saya sempatkan memberikan bunga tersebut, sebelum berangkat untuk mengikuti ajang pemilihan pemuda pelopor di kabupaten. Mengapa saya memberikan bunga Hari Kartini itu kepada Ibu, karena selama ini sosok kartini masa kini berada pada beliau.
Ibu bagi saya merupakan sosok kartini masa kini yang tangguh, dengan keterbatasan waktu beliau masih menyempatkan melakukan kegiatan kerja di sektor publik dengan menjadi penjual barang pecah belah dan alat rumah tangga  ke daerah pelosok yang amat jauh dengan pasar. Tetapi, tidak meninggalkan kewajiban sebgai sosok seorang ibu dan isteri, beliau sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknyan, baik pendidikan saya dan adik-adik. Beliau sangat tahu apa kegitan kami dan semua tentang kami. Sementara dibalik semua perhatian dan pantau terhadap pendidikan kami, beliau sangat demokratis dalam mendidik kami, dengan memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk menggeluti atau menekuni apapun keinginan kami. Tidak pernah menuntut menjadi apa ataupun menjadi siapapun.
Sampai saat inipun, pendidikan saya yang hampir di ujung tanduk beliau tetap support dengan memberikan nasehat yang tidak memeojokkan tetapi, nasehat bagaimana saya harus tetap berdiri tegak menerjeng semua tantangan ini. beliau tidak menuntut banyak tentang hasil akhir dari pendidikan kami. Tidak harus PNS ataupun menjadi Dosen. Beliau menyerahkan semuanya kepada kami dan beliau menyerahkan karir kami kepada sang Pemilik Semesta, Allah SWT. Beliau memang pemilik rahim yang tangguh, Kartini Masa KIni. Meskipun beliau tidak sampai lulus SD beliau sangat mendukung apapun yang menjadi keinginan kami dalam menempuh pendidikan bahkan harta satu-satunya waktu itu dihibahkan untuk pendidikan kami. Rela naik turun pegunungan berjualan demi pendidikan kami.
Dengan saya memberikan bunga di hari kartini ini, menjadi pengobat rindu ibu pada anaknya, yang selama ini selalu ditinggal dan selalu di abaikan oleh anak pertamanya ini. Andai hari ini Kartini masih hidup, akan saya bilang kalau Hari Kartini itu tidak usah dirayakan, cukup merayakan hari Ibu saja. Karena bagi saya, Kartini hidup dalam sosok seorang ibu saya. Terima kasih pemilik rahim, Kartini kami dalam keluaga Al- Angwari .
Di hari yang sama sebenarnya saya akan memberikan kejutan di aula disparpora, karena timingnya belum tepat, akhirnya saya memberikan kejutan tersebut di hari selanjutnya. Yakni tanggal 22 April 2018, kebetulan pada hari itu ada salah satu peserta yang ulang tahun juga dan  menjadi kejutan bagi kami yang mengikuti acara pada hari itu.

Jumpa dengan Kartini Zaman Now

Di hari kartini sebenarnya saya ingin memberikan kejutan memberikan bunga tersebut pada salah satu  peserta ataupun panitia yang perempuan. Tetapi, yang menjadi bidikan pada hari tersebut adalah Kartini Zaman Now, saya menyebutnya. Pertama jumpa, saya sempat ngobrol tapi lupa namanya. dia lebih muda sekitar 4 tahun dari saya, tetapi dia memeiliki kepedulian tinggi terhadap pendidik anak dan perempuan di pelosok, Cukup miriplah dengan Kartini yang dahulu.
Sepertinya dia juga terlahir dari kalangan bangsawan seperti Kartini yang terlahir di keluarga kerajaan. Tetapi penuh pingitan. Berbeda dengan #kartinizamannow ini, dia anak salah satu tumengunglah kalau di tranformasi ke jaman kerjaan. Dia sangat peduli pada pendidikan di pelosok Bondowoso. tapi saya tidak ingin  banyak tahu tentang dia, alahmdulillah, saya masih ingat asal dia menuntut ilmu.
Rencana di hari 21 itu, satu bunga itu akan saya berikan pada dia. tetapi, waktunya tidak memungkinkan karena setelah tes , masih ada latian mars Pemuda Pelopor yang baru selesai sekiatar jam 2. Bunga itu tidak jadi berlabuh di tangan #kartinijamannow itu, tetapi aku berikan kepada salah satu peseta yang ulang tahun tersebut, meskipun dengan perasaan kurang enak, karena tidak sesuai harapan. Kenapa bunga itu tidak berlabuh pada dia #kartinizamannow.

Mungkin, itu saja cerita hari Kartini di tahun ini. Selamat hari Kartini kepada seluruh Kartini masa kini dimanapun kalian berada. Dan kepada pria dimanapun, mari menjadi seperti Kartono (kakak Kartini) dan menjadi Raden Aryo (Bupati Rembang suami kartini). Berikan ruang pada perempuan untuk mengkpresikan karyanya dan gagasannya.