Tampilkan postingan dengan label #Catatanmasholidi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Catatanmasholidi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Belajar Bercerita Bersama Kak Bimo: Ketika Waktu Menemukan Jodohnya

11:10:00 PM 0

 

“Waktu itu ada jodohnya.”

Mungkin ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan perjumpaan saya dengan seorang maestro dongeng yang selama ini hanya saya kenal melalui cerita, video, dan karya-karyanya. Tepat pada 19 September 2026, akhirnya saya berjumpa langsung dengan Kak Bimo, seorang trainer, motivator, dan dikenal luas sebagai master dongeng nasional.  Bagi sebagian orang, perjumpaan itu mungkin hanya sebuah pertemuan biasa dalam sebuah pelatihan. Tetapi bagi saya, ada cerita panjang di baliknya.

Saya memang sengaja datang. Saya mengikuti pelatihan bercerita bersama Kak Bimo yang diinisiasi oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Cabang Bondowoso bersama IGTKI Bondowoso. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas guru TK, SD, RA, MI, PAUD, dan para pendidik lainnya. Di antara ratusan peserta itu, mungkin saya termasuk salah satu yang agak “berbeda”.

Saya bukan guru resmi.Setidaknya bukan guru yang setiap pagi memakai seragam, masuk kelas dengan daftar hadir, kemudian pulang setelah bel berbunyi. Saya mengajar secara lepas. Di mana ada ruang, di situ saya bisa belajar dan mengajar. Saya memiliki sebuah ruang belajar sederhana bernama Sakola Pekarangan. Sebuah ruang belajar nonformal yang saya bayangkan sebagai tempat siapa saja boleh menjadi guru dan siapa saja boleh menjadi murid. Karena bagi saya, belajar tidak selalu harus menunggu ruang kelas. dan guru tidak selalu harus berdiri di depan papan tulis.

Beruntung Bisa Duduk di Tengah Para Guru

Terus terang, saya merasa sangat terhormat berada di tengah ratusan guru yang hadir dalam pelatihan tersebut.Saya melihat para pendidik yang setiap hari berhadapan dengan anak-anak.Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga ikut membentuk karakter, imajinasi, keberanian, dan cara anak memandang dunia. Saya datang sebagai pembelajar.Dan mungkin justru karena itulah saya bisa duduk dengan tenang, mendengarkan, mencatat, dan menikmati setiap materi.

Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebab sebenarnya saya sudah cukup lama menantikan perjumpaan dengan Kak Bimo. Bahkan pernah terlintas dalam pikiran saya untuk datang ke Yogyakarta hanya untuk bisa bertemu dan belajar langsung kepada beliau. Tetapi ternyata waktu memang punya jodohnya. Saya tidak perlu pergi jauh ke Yogyakarta. Kak Bimo justru datang ke Bondowoso. Dan saya dipertemukan dengannya dalam sebuah ruang pelatihan.

Ilmunya “Daging” Semua

Ada satu kesan yang paling kuat saya rasakan setelah mengikuti pelatihan kemarin:Ilmunya daging semua. Bukan sekadar teori. Bukan sekadar motivasi. Bukan pula pelatihan yang membuat peserta duduk, mendengarkan, kemudian pulang membawa sertifikat. Sejak materi dimulai sampai praktik berlangsung, peserta seperti tidak ingin beranjak dari tempat duduk. Ada yang tertawa, Ada yang mencoba, Ada yang salah, Ada yang malu, Ada yang kemudian berani tampil.Dan di situlah saya merasakan bahwa bercerita ternyata bukan sekadar membuka mulut dan mengucapkan kalimat.

Bercerita adalah seni.

Ada teknik.

Ada penghayatan.

Ada ekspresi.

Ada suara.

Ada gerak tubuh.

Ada ritme.

Dan yang paling penting, ada kemampuan untuk membawa orang lain masuk ke dalam cerita.

Cerita, Dongeng, dan Kisah Ternyata Berbeda

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah ketika Kak Bimo mengajak peserta memahami perbedaan antara cerita, dongeng, dan kisah. Selama ini mungkin kita sering menggunakan ketiga istilah tersebut secara bergaantian, cerita merupakan rangkain peristiwa yang disampaikan secara utuh, sementara dongeng adalah karangan fiktif yang tidak benar-benar terjadi didunia nyata sementara kisah adalah cerita atau kejadian yang benar-benar terjadi baik pengalaman hidup atau sebuah peristiwa,

Saya kemudian berpikir: Ternyata selama ini saya banyak bercerita, tetapi belum tentu memahami hakikat bercerita. Ini seperti seseorang yang setiap hari memasak, tetapi belum tentu memahami ilmu memasak.Bisa memasak, tetapi belum tentu tahu mengapa sebuah bumbu harus dimasukkan lebih dahulu dan bumbu lainnya belakangan.Begitu pula dengan bercerita.Kita bisa bercerita.Tetapi untuk membuat orang lain tertarik, terlibat, tertawa, terharu, bahkan mengingat cerita, ternyata ada ilmunya.

Membongkar Dunia Dongeng

Materi berikutnya yang membuat saya semakin tertarik adalah ketika dongeng diurai menjadi beberapa jenis.

Kami belajar tentang:

1. Mitos

Cerita yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan atau berkaitan dengan asal-usul tertentu.

2. Legenda

Cerita yang berkembang di masyarakat dan biasanya dikaitkan dengan asal-usul suatu tempat, tokoh, atau peristiwa.

3. Hikayat

Cerita tradisional yang banyak berkembang dalam khazanah sastra lama dan sering berkaitan dengan kehidupan raja, kepahlawanan, atau tokoh luar biasa.

4. Fabel

Cerita yang menggunakan tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia dan biasanya membawa pesan moral.

5. Sage

Cerita yang berkaitan dengan kepahlawanan atau tokoh sejarah yang berkembang dalam tradisi masyarakat dan kemudian diwariskan sebagai cerita.

6. Epos

Cerita panjang yang mengangkat kepahlawanan, perjuangan, atau perjalanan besar seorang tokoh.

7. Parabel

Cerita yang menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan pesan atau nilai tertentu.

Ternyata dunia dongeng begitu luas, selama ini saya mengira dongeng hanyalah cerita untuk anak-anak sebelum tidur, ternyata tidak sesederhana itu. Dongeng adalah bagian dari kebudayaan manusia.

Ia membawa ingatan.

Ia membawa nilai.

Ia membawa pesan.

Bahkan bisa menjadi cara sebuah masyarakat mewariskan pandangan hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ketika Tubuh Ikut Bercerita

Hal lain yang membuat saya semakin menikmati pelatihan tersebut adalah materi praktik.Kak Bimo tidak hanya menjelaskan bagaimana menyusun atau membawakan cerita. Kami juga diajak mempraktikkan gestur atau olah gerak dan olah suara. Di sinilah saya baru benar-benar merasakan bahwa seorang pendongeng ternyata bekerja dengan seluruh tubuhnya.Tangan bisa berbicara.Mata bisa berbicara.Wajah bisa berbicara.Cara berdiri bisa berbicara. Bahkan diam pun bisa menjadi bagian dari cerita.Kemudian suara.Suara bukan hanya soal keras atau pelan.

Ada tekanan.

Ada tempo.

Ada jeda.

Ada karakter.

Ada perubahan suasana.

Suara seorang raksasa tentu tidak harus sama dengan suara seekor anak kecil.

Suara tokoh yang sedang marah tentu berbeda dengan tokoh yang sedang ketakutan.

Dan seorang pendongeng harus mampu membawa semua karakter itu hidup di hadapan penonton.

Saya jadi teringat:

Ternyata ketika bercerita, kita bukan hanya menyampaikan kata-kata. Kita menghidupkan kata-kata.

Saya Bukan Guru, Tetapi Saya Ingin Terus Belajar

Ada satu hal yang saya rasakan kuat dalam pelatihan itu.Saya mungkin bukan guru resmi.

Tetapi saya selalu ingin belajar menjadi manusia yang bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Sakola Pekarangan yang saya jalankan juga lahir dari semangat itu.

Saya percaya bahwa pendidikan tidak harus selalu berada di gedung sekolah.

Belajar bisa berlangsung di halaman.

Di kebun.

Di teras rumah.

Di bawah pohon.

Di warung.

Di ruang komunitas.

Bahkan di tempat-tempat yang tidak pernah kita sebut sebagai sekolah.

Dan bercerita adalah salah satu cara paling sederhana untuk membuka pintu belajar.

Sebuah cerita bisa membuat anak bertanya.

Pertanyaan membuat anak berpikir.

Berpikir membuat anak ingin tahu.

Dan rasa ingin tahu adalah salah satu pintu menuju pengetahuan.

Pertemuan yang Sudah Lama Ditunggu

Ketika pelatihan selesai, saya semakin menyadari bahwa pertemuan dengan Kak Bimo bukan sekadar pertemuan antara seorang peserta dan trainer.

Bagi saya, ini adalah pertemuan dengan sebuah penantian.

Ada banyak hal yang ingin saya pelajari.

Ada banyak hal yang selama ini hanya saya bayangkan.

Dan akhirnya kesempatan itu datang.

Bukan di Yogyakarta.

Bukan di tempat yang jauh.

Tetapi di Bondowoso.

Di sebuah ruang yang dipenuhi para guru.

Di sana saya duduk sebagai pembelajar.

Mendengarkan.

Mencatat.

Tertawa.

Berlatih.

Dan sesekali merasa malu ketika harus mempraktikkan gerakan atau suara.

Tetapi justru di situlah belajar terasa hidup.

Terima Kasih Kak Bimo

Saya berterima kasih kepada Kak Bimo atas ilmu yang dibagikan.

Bukan hanya karena saya akhirnya bisa bertemu dengan sosok yang selama ini ingin saya temui.

Tetapi karena pertemuan tersebut kembali mengingatkan saya bahwa menjadi pembelajar tidak mengenal usia dan status.

Saya datang bukan sebagai guru.

Saya datang sebagai murid.

Dan ternyata menjadi murid adalah sesuatu yang menyenangkan.

Saya juga berterima kasih kepada YDSF Cabang Bondowoso dan IGTKI Bondowoso yang telah menghadirkan ruang belajar tersebut.

Saya merasa beruntung bisa berada di tengah para guru hebat.

Saya belajar dari Kak Bimo.

Tetapi saya juga belajar dari para peserta.

Tentang kesungguhan.

Tentang keberanian.

Tentang bagaimana seorang guru terus belajar meskipun setiap hari dirinya sendiri menjadi tempat orang lain belajar.

Waktu Memang Ada Jodohnya

Mungkin benar.

Waktu memang ada jodohnya.

Ada orang yang kita tunggu bertahun-tahun, tetapi baru bisa bertemu ketika waktunya tiba.

Ada ilmu yang ingin kita pelajari, tetapi baru datang ketika kita benar-benar siap menerimanya.

Ada pertemuan yang kita rencanakan, tetapi Tuhan mempertemukannya melalui jalan yang tidak pernah kita duga.

Saya pernah ingin pergi ke Yogyakarta untuk bertemu Kak Bimo.

Ternyata tidak perlu.

Kak Bimo datang ke Bondowoso.

Dan saya datang sebagai peserta pelatihan.

Sederhana.

Tetapi berkesan.

Mungkin beginilah cara waktu menemukan jodohnya.

Bukan selalu seperti yang kita rencanakan.

Tetapi seperti yang akhirnya terjadi.

Pulang Membawa Cerita

Saya pulang dari pelatihan itu bukan hanya membawa sertifikat.

Saya membawa sesuatu yang jauh lebih penting:

semangat untuk terus bercerita.

Saya ingin membawa ilmu itu ke ruang-ruang kecil tempat saya mengajar.

Ke Sakola Pekarangan.

Ke anak-anak.

Ke masyarakat.

Ke siapa pun yang mau belajar.

Sebab mungkin suatu hari nanti, dari sebuah cerita sederhana yang kita sampaikan kepada seorang anak, lahir sebuah keberanian.

Dari sebuah dongeng, lahir imajinasi.

Dari sebuah kisah, lahir karakter.

Dan dari seorang pendongeng, lahir generasi yang mencintai cerita dan pengetahuan.

Kak Bimo mungkin telah bertemu dengan ratusan peserta pada hari itu.

Tetapi bagi saya, pertemuan itu akan saya simpan sebagai salah satu cerita penting dalam perjalanan belajar.

Sebuah cerita tentang guru dan murid.

Tentang dongeng dan kehidupan.

Tentang penantian dan pertemuan.

Dan tentu saja...

tentang waktu yang akhirnya menemukan jodohnya.

19 September 2026.

Hari ketika saya akhirnya bisa berkata:

“Saya pernah belajar bercerita langsung bersama Kak Bimo.”

Dan sekarang...

saatnya saya membawa cerita itu pulang.

Ijen Geopark : Pesona Kaldera Ijen Purba di Bondowoso

6:21:00 AM 0

Bondowoso memiliki bentang alam yang luar biasa. Di wilayah timur kabupaten ini, kawasan pegunungan Ijen menghadirkan perpaduan antara lanskap vulkanik, hutan, perkebunan kopi, air terjun, sumber air panas,s avana, serta kehidupan masyarakat yang telah berabad-abad beradaptasi dengan lingkungan pegunungan.

Kawasan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari Ijen UNESCO Global Geopark, sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita tentang proses geologi, keanekaragaman hayati, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.

Ijen UNESCO Global Geopark berada di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. UNESCO menetapkan Ijen sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2023. Kawasan ini memiliki nilai geologi yang sangat penting, terutama karena bentang alamnya terbentuk dari aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Di kawasan ini terdapat konsentrasi kerucut vulkanik, kawah, dan aliran lava yang memperlihatkan bagaimana aktivitas gunung api membentuk wajah wilayah Ijen. Salah satu pusat perhatian utamanya tentu saja adalah Kawah Ijen. Bagi masyarakat Bondowoso, Ijen bukan sekadar gunung atau kawasan wisata. Ijen adalah ruang hidup yang mempertemukan alam, perkebunan, budaya, sejarah, dan aktivitas masyarakat.

Kawah Ijen, Pesona Kaldera yang Mendunia

Kawah Ijen merupakan salah satu ikon wisata alam Jawa Timur. Kawah ini berada di dalam sistem kaldera Ijen dan memiliki danau kawah berwarna biru kehijauan yang memiliki tingkat keasaman sangat tinggi. UNESCO menyebut Danau Kawah Ijen sebagai danau kawah paling asam di dunia.

Keindahan Kawah Ijen semakin lengkap dengan dinding-dinding kaldera yang menjulang dan membentuk lanskap dramatis. Ketika cahaya matahari pagi mulai menyentuh lereng dan permukaan kawah, warna-warna alam berubah perlahan. Kabut yang menggantung di antara pepohonan dan tebing menciptakan suasana yang sulit dilupakan. Namun, ada satu fenomena yang membuat Ijen begitu terkenal di dunia: blue fire atau api biru.

Fenomena tersebut bukanlah lava berwarna biru. Api biru muncul ketika gas sulfur bersuhu tinggi keluar dari kawasan vulkanik dan terbakar ketika bertemu dengan oksigen di atmosfer. Karena fenomena tersebut paling mudah terlihat pada malam hari, pengunjung yang ingin menyaksikannya biasanya harus melakukan perjalanan sebelum matahari terbit.

Fenomena api biru Ijen merupakan salah satu fenomena vulkanik yang sangat langka dan menjadi daya tarik utama kawasan ini. Tetapi Ijen bukan hanya tentang api biru. Ada perjalanan menuju puncak, udara dingin, suara langkah kaki, aktivitas penambang belerang, hutan pegunungan, matahari terbit, serta panorama kaldera yang perlahan terbuka ketika kabut mulai menipis. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari cerita perjalanan menuju Kawah Ijen.

Paltuding, Gerbang Pendakian Kawah Ijen

Salah satu titik penting dalam perjalanan menuju Kawah Ijen adalah Paltuding. Paltuding menjadi kawasan awal pendakian yang sangat dikenal oleh wisatawan yang hendak menuju Kawah Ijen. Dari sinilah perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan kawah.

Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas pendukung wisata di kawasan Ijen juga terus dikembangkan. Pemerintah Kabupaten Bondowoso, misalnya, telah mengembangkan fasilitas pelayanan kesehatan wisatawan di kawasan Paltuding melalui Pos Kesehatan Pariwisata Ijen Geopark.

Bagi wisatawan, Paltuding bukan hanya tempat memulai pendakian. Tempat ini juga menjadi titik untuk mempersiapkan kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan menuju kawah. Dan menariknya, Ijen dapat dinikmati dari berbagai sisi. Bagi wisatawan yang datang dari Bondowoso, perjalanan menuju Ijen membawa kita melewati kawasan pegunungan dan perkebunan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.

Menikmati Ijen dari Jalur Bondowoso

Perjalanan menuju kawasan Ijen dari Bondowoso menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebelum mencapai kawasan Paltuding, perjalanan melewati jalan pegunungan, perkebunan kopi, hutan, dan permukiman masyarakat. Semakin mendekati kawasan Ijen, udara semakin sejuk dan lanskap pegunungan semakin dominan. Inilah salah satu alasan mengapa perjalanan menuju Ijen dari Bondowoso layak dianggap sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar perjalanan menuju sebuah destinasi.

Kawasan Bondowoso juga memiliki hubungan yang kuat dengan perkebunan kopi. UNESCO mencatat Kopi Bondowoso  sebagai salah satu bagian dari warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark, dengan perkebunan kopi yang juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Maka, perjalanan ke Ijen dapat menjadi sebuah perjalanan yang lengkap: 

dari kopi, perkebunan, pegunungan, hutan, hingga kawah vulkanik.

Kawah Wurung: Savana di Kaldera Ijen

Tidak jauh dari kawasan Kawah Ijen terdapat salah satu destinasi yang menjadi favorit wisatawan di Bondowoso, yaitu Kawah Wurung. Kawah Wurung merupakan bentang alam berupa cekungan yang dihiasi hamparan padang rumput. Pada musim tertentu, kawasan ini tampak hijau dan luas, sehingga sering diasosiasikan oleh wisatawan dengan sebutan “Bukit Teletubbies.”

Pemandangan Kawah Wurung sangat berbeda dengan Kawah Ijen. Jika Kawah Ijen menawarkan panorama kawah vulkanik dan danau berwarna biru kehijauan, Kawah Wurung menawarkan hamparan savana dan perbukitan. Di sekitar kawasan wisata, wisatawan juga dapat menikmati kopi Arabika yang menjadi salah satu komoditas khas pegunungan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri memasukkan Kawah Wurung sebagai salah satu kawasan pariwisata penting dalam kawasan Ijen-Raung. Kawah Wurung juga menjadi bagian dari pengembangan Ijen Caldera Adventure, termasuk paket perjalanan menggunakan jeep yang menyusuri kawasan savana dan lanskap Ijen.

Puncak Megasari: Menatap Ijen dari Ketinggian

Bagi mereka yang ingin menikmati kawasan Ijen dari sudut pandang yang berbeda, Puncak Megasari menawarkan pengalaman menarik.Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan bentang alam Ijen dari ketinggian.

Puncak Megasari juga telah menjadi salah satu destinasi yang mendapatkan perhatian dalam pengembangan pariwisata kawasan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkannya dalam kawasan pariwisata Ijen-Raung. Dari sini, Ijen tidak lagi sekadar terlihat sebagai sebuah kawah. Kita dapat melihatnya sebagai sebuah bentang alam besar yang tersusun atas gunung, lembah, hutan, perkebunan, dan permukiman masyarakat.

Air Terjun Blawan dan Aliran Kalipait

Perjalanan menyusuri kawasan Ijen tidak berhenti di gunung. Di Kecamatan Ijen terdapat Air Terjun Blawan, salah satu destinasi alam yang memiliki karakter unik. Air Terjun Blawan berada di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen. Air terjun ini memiliki hubungan dengan aliran air dari kawasan Ijen dan dikenal memiliki kandungan mineral serta sulfur yang membuat karakter airnya berbeda dari air terjun pada umumnya.

Yang membuat Air Terjun Blawan menarik adalah alirannya yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Karena karakter tersebut, masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai air terjun yang “hilang ke bumi”.

Tidak jauh dari kawasan ini terdapat Pemandian Air Panas Blawan. Setelah perjalanan menyusuri pegunungan dan berbagai destinasi Ijen, berendam di air hangat dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pemandian Air Hangat Blawan juga tercatat sebagai salah satu destinasi wisata alam di Kecamatan Ijen. Sementara itu, Kalipait juga menjadi bagian dari kawasan wisata Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkan Kalipait bersama Kawah Ijen, Kawah Wurung, Air Terjun Blawan, Puncak Megasari, dan agrowisata kopi sebagai bagian dari kawasan pariwisata Ijen-Raung.

Air Terjun Gentongan dan Pesona Alam di Lereng Ijen

Selain Blawan, kawasan Ijen juga menyimpan sejumlah air terjun dan bentang alam lain yang menarik untuk dijelajahi. Salah satunya adalah Air Terjun Gentongan.Keberadaan air terjun, aliran sungai, hutan, dan lembah menunjukkan bahwa kawasan Ijen tidak hanya memiliki kekayaan geologi, tetapi juga kekayaan hidrologi dan ekosistem.

Daftar destinasi resmi Kabupaten Bondowoso mencatat sejumlah objek wisata alam di kawasan ini, termasuk Air Terjun Gentongan, Kalipait, Mini Niagara, Air Terjun Pelangi, serta sejumlah destinasi lainnya. Dengan demikian, wisata Ijen sebenarnya dapat dikembangkan menjadi perjalanan beberapa hari, bukan hanya kunjungan singkat untuk melihat kawah.

Kebun Kopi Arabika: Ijen dan Aroma yang Mendunia

Ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berbicara mengenai kawasan Ijen di Bondowoso: 

kopi. Perkebunan kopi Arabika tumbuh di kawasan dataran tinggi Bondowoso. Udara sejuk, kondisi tanah vulkanik, serta lingkungan pegunungan menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan perkebunan kopi. Kopi bukan hanya komoditas pertanian. Di kawasan Ijen, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas kawasan.

UNESCO secara khusus mencatat Bondowoso Coffee sebagai salah satu unsur warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark. Perkebunan kopi di kawasan tersebut juga memiliki hubungan dengan keanekaragaman flora dan fauna. Karena itu, perjalanan ke Ijen akan terasa lebih lengkap apabila disertai dengan pengalaman menikmati kopi Arabika di tengah perkebunan.

Bayangkan:

pagi yang dingin, kabut yang perlahan terangkat, hamparan kebun kopi, dan secangkir kopi Arabika hangat.

Itulah wajah lain Ijen yang mungkin tidak selalu terlihat dari puncak kawah.

Ijen Bukan Hanya Tentang Geologi

Keistimewaan Ijen UNESCO Global Geopark tidak hanya terletak pada gunung dan kawahnya. Konsep geopark menghubungkan warisan geologi dengan warisan alam dan budaya, serta menggunakannya sebagai sarana pendidikan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Karena itu, ketika kita berbicara mengenai Ijen Geopark, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah kawasan yang jauh lebih luas daripada Kawah Ijen.

Ada masyarakat.

Ada perkebunan.

Ada tradisi.

Ada cerita sejarah.

Ada flora dan fauna.

Ada situs geologi.

Ada situs budaya.

Dan semuanya saling berhubungan.

Situs Geologi, Biologi, dan Budaya

Kawasan Bondowoso yang termasuk dalam Ijen Geopark memiliki berbagai situs yang memperlihatkan hubungan antara alam dan kehidupan masyarakat. Dari sisi geologi, terdapat berbagai bentuk bentang alam vulkanik seperti kawah, lava, dinding kaldera, dan sumber air panas.

Dari sisi biologi, kawasan Ijen memiliki hutan pegunungan, perkebunan kopi, serta berbagai jenis flora dan fauna. UNESCO mencatat keberadaan beragam flora dan fauna di kawasan perkebunan kopi Bondowoso.

Sementara dari sisi budaya, Bondowoso memiliki berbagai tradisi dan kesenian masyarakat yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Dengan demikian, perjalanan Ijen bukan hanya perjalanan melihat pemandangan.

Ia adalah perjalanan untuk membaca cerita bumi dan manusia.

Ijen sebagai Ruang Belajar

Salah satu gagasan penting dalam konsep geopark adalah menjadikan kawasan sebagai ruang pendidikan. UNESCO menjelaskan bahwa UNESCO Global Geopark bukan sekadar kawasan wisata. Geopark juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bumi, warisan geologi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, perjalanan ke Ijen dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik.

Anak-anak dapat belajar mengenai gunung api. Pelajar dapat memahami proses pembentukan kaldera.

Wisatawan dapat melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan kawasan pegunungan.

Petani dapat memperkenalkan proses budidaya kopi. Dan masyarakat lokal dapat menjadi bagian penting dalam menjaga serta memperkenalkan warisan daerahnya.

Menikmati Ijen dari Bondowoso

Jika ingin menjelajahi kawasan Ijen dari sisi Bondowoso, banyak pilihan yang dapat disusun dalam sebuah perjalanan.

Misalnya:

Hari pertama

Bondowoso – Sumberwringin – perkebunan kopi – Kawah Wurung – Puncak Megasari.

Hari kedua

Paltuding – pendakian Kawah Ijen – menikmati panorama kaldera – turun menuju kawasan Blawan.

Hari ketiga

Pemandian Air Panas Blawan – Air Terjun Blawan – Kalipait – perjalanan kembali menuju Bondowoso.

Tentu saja susunan perjalanan perlu menyesuaikan kondisi cuaca, aturan pengelola, kondisi jalur, serta status operasional masing-masing destinasi.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri pada 2025 memperkenalkan perjalanan GeoTrip Ijen Caldera Adventure yang menghubungkan beberapa destinasi, antara lain Paltuding, Kalipait, Kawah Wurung, Jabal Kirmit, dan Air Panas Blawan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Ijen dapat dinikmati sebagai satu rangkaian perjalanan, bukan sebagai destinasi yang berdiri sendiri.

Menjaga Pesona Ijen untuk Generasi Mendatang

Keindahan Ijen membawa tanggung jawab.

Semakin terkenal sebuah kawasan wisata, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga lingkungan dan mengatur aktivitas wisata secara berkelanjutan.

Kita datang ke Ijen untuk menikmati alam, tetapi pada saat yang sama kita juga harus menjaga alam tersebut.

Tidak membuang sampah.

Tidak merusak vegetasi.

Tidak mengambil bagian dari lingkungan sebagai cendera mata.

Mengikuti aturan kawasan konservasi.

Menghormati masyarakat lokal.

Dan yang tidak kalah penting, menghargai para pekerja serta masyarakat yang menggantungkan kehidupan mereka pada kawasan Ijen.

Inilah semangat penting dari sebuah geopark: menikmati, memahami, melestarikan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Ijen, Cerita Panjang di Bumi Bondowoso

Pada akhirnya, Ijen bukan hanya tentang foto di tepi kawah.

Bukan hanya tentang blue fire.

Bukan hanya tentang sunrise.

Bukan pula hanya tentang hamparan savana Kawah Wurung.

Ijen adalah sebuah cerita panjang tentang bumi.

Cerita tentang gunung api yang membentuk bentang alam.

Cerita tentang air dan lava.

Cerita tentang hutan dan perkebunan.

Cerita tentang kopi Arabika yang tumbuh di lereng pegunungan.

Cerita tentang masyarakat yang hidup dan bekerja di kawasan ini.

Dan cerita tentang bagaimana sebuah wilayah menjaga warisan alamnya untuk generasi berikutnya.

Dari Kawah Ijen, Kawah Wurung, Puncak Megasari, Kalipait, Air Terjun Blawan, Pemandian Air Panas Blawan, hingga perkebunan kopi, semuanya merupakan kepingan dari satu cerita besar bernama Ijen Geopark.

Bondowoso memiliki pintu untuk memasuki cerita itu.

Sebuah perjalanan yang dimulai dari kota, kemudian melewati perkebunan, menanjak menuju pegunungan, hingga akhirnya berhadapan dengan bentang alam vulkanik yang luar biasa.

Dan di sana kita akan memahami bahwa keindahan Ijen bukan hanya apa yang terlihat oleh mata.

Ijen adalah jejak panjang bumi yang dapat kita baca, kita nikmati, dan kita jaga bersama.

Senin, 27 November 2023

BRI Pahlawan UMKM Indonesia, UMKM Tumbuh agar Masyarakat Berdaya

11:49:00 AM 0

ILUSTRASI: Pelaku Usaha Mikro dan UMKM yang Dapat KUR di Kampung Nelayan Puger Jember

Indonesia menjadi salahsatu negara yang terdampak covid yang sangat luar biasa melemahkan perekonomian. dua tahun silam wabah covid yang sangat mematikan perekonomian, terutama yang terdampak adalah pelaku usaha besar bahkan usaha kecil menegah atau ultra mikro dan menengah juga terdampak sangat dahsyat. sangatlah banyak pengusaha yang bangkrut usahannya hanya dalam waktu sesingkat itu. Masa pandemi berangsur pulih, muncullah usahawan-usahawan baru, start up baru untuk membangkitkan perekonomian Indonesia. Munculnya UMKM dan usahawan baru ini menjadikan gairah perekonomian mulai pulih, begitupun dengan dukungan pemerintah melalui dunia permodalan dan perbankan milik BUMN dengan dana permodalan mulai dikucurkan, bukti keseriusan pemerintah mendukung ultra mikro dan  UMKM untuk naik level. salah satunya perbankan yang melakukan pemberdayaan Ultra mikro dan UMKM yakni Bank Rakyat Indonesia, dengan adanya pemberdayaan modal dan dukungan untuk penguatan usaha UMKM. Hadirnya BRI menjadi Pahlawan UMKM, hingga UMKM berkembang dan naik kelas dari sebelumnya, upaya pemberdayaan UMKM berkembang dan maju merupakan bukti keseriusan BRI untuk Indonesia yang lebih baik di masa akan datang.

Usaha Tumbuh dan Naik level Bersama Bank Rakyat Indonesia

Sejak hadirnya BRI 128 Tahun lalu telah banyak transformasi yang dilakukan mengikuti arah zaman dan kebutuhan rakyat Indonesia. Di ulang tahun yang ke 128 ini, BRI telah mencatat 34 Juta UMKM telah dilayani. Untuk tumbuhnya ekonomi yang lebih positif BRI menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai upaya mendorong roda Perekonomian Kelas Bawah untuk naik level, serta sebagai upaya penyediaan lapangan pekerjaan  bagi masyarakat. KUR diberikan kepada mereka yang membutuhkan modal usaha untuk melanjutkan usaha yang sebelumnya bakrut dan atau bagi mereka yang baru memulai usaha, utamanya usaha ultra mikro dan UMKM. Dengan dukungan 7.980 outlite jaringan kantor seluruh indoenesia, sangat memudahkan para nasabah dalam melakukan transaksi KUR dan Transaksi lainnya. Adanya KUR yang telah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dengan usaha tumbuh dan  usaha kelas bawah naik level, menjadikan BRI Pahlawan UMKM yang tentunya banyak membantu perekonomian mereka.

FOTO: Salahsatu UMKM Perbaikan Jaring nelayan yang mendapatkan pinjaman KUR 

salahsatu yang merasakan manfaat adanya KUR yakni masyarakat nelayan di Getem, Puger, Jember. Jasa usaha dilakukan adalah perbaikan jaringan ikan dan jual beli rakitan jaring baru yang dilakukan oleh ibu Kiki. “Kebutuhan untuk perbaikan ini membutuhkan beberapa alat, bahan jaring agar lebih cepat dan lebih nyaman ke nelayan yang melakukan perbaikan dan pesanan jaring ikan ke saya. Dengan adanya modal KUR BRI ini, saya merasa terbantu dalam mendapatkan modal, dengan bunga rendah dan Persyaratan yang mudah bagi usaha seperti saya” Akunya. 

Digitalisasi BRI Bentuk Transaksi yang lebih Mudah dan Efisien

Di era teknologi yang semakin tanpa batas ruang dan waktu, tentu banyak yang harus dilakukan dunia perbankan seperti BRI, dengan di dorong transaksi dan pelayanan berbasis digital. Menurut portal Kontan, 229 Outlite kantor pelayanan telah di tutup, bukan karena kerugian ataupun mengurangi pelayanan, akan tetapi karena akibat adanya digitalisasi BRI dan berahlinya pola perilaku masyarakat menuju digital, akibatnya keberadaaan dan fungsi outline kantor pelayanan konvensional akan terus berkurang. PT Bank Rakyat Indonesia sebenarnya telah banyak melakukan inovasi digital dengan terus meningkatkan kantor layanan berbasis digital, untuk meningkatkan layanan nasabah lebih nyaman bertransaksi dimanapun dan kapanpun. Melalui e-hannel, self service dan penyediaan platform digital lainnya.

BRI terus mendorong setiap nasabah migrasi dari kantor cabang maupun unit ke platrom elektronic channel ATM, Digital Customer Service, BRImo serta agen Brilink. Dengan layanan lebih banyak digital, dimaksudkan kantor cabang lebih fokus pada pejualan dan layanan nasabah yang bersifat komplek. Digitalisasi BRI ini, juga telah di barengi dengan peluncuran platform digital untuk UMKM yakni Busines to Customer, yang menghubungkan pelaku UMKM dengan para pembeli dalam aplikasi jual beli komoditas. 

Gerobak UMKM Minuman Kekinian yang ditempeli stiker BRImo KC Bondowoso 

Selain itu UMKM telah banyak dilakukan digitalisasi dengan hadirnya BRImo di setiap outlite UMKM yang bisa digunakan pembayaran, penjualan dan layanan lainnya secara self service yang bisa dilakukan oleh UMKM, ada nilai lebih dengan pemabyaran Qris yang langsung bisa diakses melalui BRImo oleh pelaku UMKM dalam pembayaran, serta bisa traksaksi lainnya untuk mendapatkan penghasilan lainnya, dari penjualan selain komoditas yang UMKM jual.

Inovasi BRI untuk Indonesia, Juga dilakukan digitalisasi yang berupa BRIlink dinilai menjadik kemudahan bagi nasabah dan agen untuk bertransaksi yang dilakukan dimanpun dan kapanpun, seperti yang penulis perhatikan dan tanyakan ke salasatu agen BRIlink di kecamatan Maesan, Bondowoso, hilir mudik orang tarik tunai, transfer, pemabayaran kredit dan transaksi lainnya yang dilayani dengan santai sambil diskusi dengan penulis, banyak kemudahan yang dirasakan nasabah. “saya tidak perlu jauh-jauh dan antri di atm untuk tarik tunai ambil gaji dari tempat perusahaan saya kerja, cukup ke Mbak Wiwin ini sudah mas” Ucapnya nasabah kepada penulis. selain itu juga menjadi nilai tambah bagi agen yang juga berprofesi sebagai guru honorer ini, seperti yang utarakan kepada penulis “ Alhamdulillah dek, dengan menjadi agen BRILink, cukup membantu nasabah tidak perlu jauh untuk tarik tunai, transfer dan saya pun mendapatkan keuntungan dari transaksi yang dilakukan ini dek” Ucapnya Agen BRIlink ini. 
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), juga memiliki tekat UMKM bisa bertransaksi dengan pasar Dunia, atau bisa melakukan Ekport komoditasnya untuk meningkatkan usaha mikro dan UMKM agar naik kelas. Tercatat banyak inovasi yang sedang dilakukan dan disiapkan BRI untuk UMKM Indonesia ditahun ini dan Mendatang.

Senin, 26 Juni 2023

Bondowoso dan Persoalan Sampah: Jangan Semua Berakhir di TPA

9:12:00 PM 0

Bank Sampah Batu Katak Edit By Canva


Oleh: Holidi

Persoalan sampah tidak pernah bisa dipisahkan dari aktivitas manusia sehari-hari. Di mana manusia hidup, di situ sampah dihasilkan. Persoalannya bukan semata-mata tentang berapa banyak sampah yang kita hasilkan, tetapi bagaimana kita memperlakukannya setelah tidak lagi kita gunakan.

Manusia diberi akal dan kemampuan untuk mengelola kehidupan. Karena itu, seharusnya kecerdasan tersebut juga mendorong kita untuk lebih arif memperlakukan lingkungan. Namun dalam banyak keadaan, hubungan manusia dengan alam justru berubah menjadi hubungan eksploitatif: gunung dikeruk, hutan ditebang, sungai dijadikan tempat pembuangan, sementara pola konsumsi terus meningkat dan menghasilkan sampah dalam jumlah yang semakin besar.

Sampah akhirnya menjadi konsekuensi dari cara kita menjalani kehidupan.

Masalah ini bukan hanya milik kota-kota besar. Kabupaten kecil pun menghadapinya, termasuk Bondowoso.

Di sejumlah tempat, persoalan sampah masih mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tempat penampungan yang penuh, sampah yang meluber, serta sampah yang masuk ke saluran air dan sungai menjadi pemandangan yang seharusnya tidak kita anggap biasa.

Sampah plastik, popok sekali pakai, kemasan makanan, dan berbagai jenis sampah rumah tangga lainnya dapat dengan mudah berpindah dari halaman rumah ke selokan, dari selokan ke sungai, dan akhirnya menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar.

Pertanyaannya kemudian:

Apakah semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir?

Menurut saya, jawabannya adalah tidak.

TPA Bukan Satu-Satunya Jawaban

Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA memang tetap diperlukan. Akan selalu ada residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dan membutuhkan tempat pengelolaan akhir.

Namun, menjadikan TPA sebagai tujuan hampir seluruh sampah bukanlah solusi jangka panjang.

Sampah seharusnya mulai dikelola sejak dari sumbernya.

Rumah tangga harus menjadi titik pertama.

Kemudian lingkungan RT.

Desa atau kelurahan.

Pasar.

Sekolah.

Perkantoran.

Hotel.

Restoran.

Perusahaan.

Semua menghasilkan jenis sampah yang berbeda dan karena itu membutuhkan pola pengelolaan yang berbeda pula.

Jika seluruh sampah dikumpulkan tanpa pemilahan sejak dari sumbernya, beban pengelolaan di tingkat TPS maupun TPA tentu menjadi semakin berat.

Karena itu, saya melihat persoalan sampah Bondowoso bukan hanya persoalan “di mana sampah dibuang?”, tetapi lebih jauh:

“Mengapa sampah harus dibuang seluruhnya?”


Mulai dari Rumah

Saya membayangkan pengelolaan sampah Bondowoso dimulai dari sesuatu yang sederhana: pemilahan di rumah.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan bahan mudah terurai dapat diproses menjadi kompos atau pupuk organik.

Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan dikumpulkan melalui bank sampah.

Sementara sampah residu yang memang tidak dapat dimanfaatkan dapat diarahkan ke sistem pengangkutan dan pengolahan akhir.

Dengan pola seperti itu, sampah yang masuk ke TPS dan TPA dapat dikurangi sejak awal.

Konsepnya sederhana:

Kurangi dari sumbernya.
Pilah sejak rumah.
Olah yang masih bisa dimanfaatkan.
Buang hanya residunya.

Memang, praktiknya tidak semudah menuliskannya.

Dibutuhkan kebiasaan baru.

Dibutuhkan fasilitas.

Dibutuhkan petugas.

Dibutuhkan edukasi.

Dan yang paling penting, dibutuhkan sistem yang membuat masyarakat merasa bahwa memilah sampah bukan pekerjaan sia-sia.


Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah

Salah satu gagasan yang menurut saya layak dipertimbangkan adalah mendorong konsep “Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah.”

Tidak harus selalu berupa fasilitas besar.

Setiap desa dapat memiliki sistem pengelolaan sesuai kemampuan dan karakter wilayahnya.

Misalnya:

Sampah organik → kompos atau pupuk.

Sampah plastik dan anorganik bernilai → bank sampah.

Sampah yang masih dapat digunakan → didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Sampah residu → dikirim ke fasilitas pengolahan akhir.

Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi tempat penghasil sampah, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.

Bank sampah dapat menjadi salah satu instrumennya.

Namun bank sampah jangan berhenti pada kegiatan menimbang dan menjual sampah. Jika memungkinkan, pengelolaannya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi masyarakat: pemilahan, pengolahan, kerajinan, kompos, hingga produk daur ulang.

Dengan begitu, sampah tidak selalu dipandang sebagai beban.

Sebagian dapat berubah menjadi sumber ekonomi.


Sampah Plastik: Jangan Berhenti pada “Dibuang”

Salah satu tantangan terbesar adalah sampah plastik.

Plastik memiliki nilai guna yang tinggi, tetapi sekaligus menjadi persoalan ketika digunakan secara berlebihan dan tidak dikelola dengan benar.

Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif.

Sampah plastik tertentu dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, sepanjang memenuhi standar keamanan dan teknis. Salah satu gagasan yang dapat diteliti lebih lanjut adalah pemanfaatan material plastik tertentu sebagai bagian dari bahan produk konstruksi atau material alternatif.

Tetapi saya kira kita juga harus berhati-hati.

Tidak semua plastik dapat begitu saja dijadikan bahan bangunan. Harus ada kajian teknis mengenai jenis plastik, komposisi, keamanan, ketahanan, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Artinya, prinsipnya bukan:

“Semua sampah plastik harus dibuat menjadi barang.”

Tetapi:

“Sampah yang masih memiliki potensi harus dicari nilai gunanya melalui teknologi yang aman.”

Di sinilah perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dapat bekerja bersama.


Sungai Bukan Tempat Sampah

Ada satu persoalan yang menurut saya harus mendapat perhatian khusus:

sungai.

Sungai bukan tempat pembuangan sampah.

Sesederhana itu.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampah masih dapat ditemukan di sekitar aliran sungai dan sempadannya.

Ketika sampah dibuang ke sungai, persoalannya tidak selesai.

Ia hanya berpindah tempat.

Sampah yang dibuang hari ini mungkin akan menjadi masalah di hilir beberapa hari kemudian.

Plastik dapat menyumbat aliran.

Popok dan sampah rumah tangga mencemari lingkungan.

Sampah organik yang menumpuk dapat menurunkan kualitas lingkungan perairan.

Ketika hujan besar datang, sampah yang menumpuk di saluran air dapat memperbesar persoalan banjir dan pencemaran.

Karena itu, perlu ada kampanye yang konsisten dan sederhana:

“Sungai dan sempadannya bukan tempat sampah.”

Kampanye tersebut jangan hanya dilakukan melalui spanduk.

Harus ada pendidikan.

Harus ada pengawasan.

Harus ada fasilitas pembuangan yang memadai.

Dan ketika aturan sudah dibuat, harus ada penegakan yang konsisten.


Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Pengelolaan sampah bukan pekerjaan satu dinas.

Dinas Lingkungan Hidup tentu memiliki peran penting, tetapi persoalan sampah jauh lebih luas.

Pemerintah desa memiliki peran.

Sekolah memiliki peran.

Dunia usaha memiliki peran.

Pengelola pasar memiliki peran.

Hotel dan restoran memiliki peran.

Komunitas memiliki peran.

Dan masyarakat sebagai penghasil sampah juga memiliki tanggung jawab.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya program pemerintah, melainkan ekosistem pengelolaan sampah.

Pemerintah menyediakan regulasi dan infrastruktur.

Desa mengembangkan sistem pengelolaan di tingkat lokal.

Masyarakat memilah dari rumah.

Bank sampah mengelola sampah bernilai ekonomi.

Pelaku usaha mengurangi penggunaan bahan sekali pakai.

Sekolah mendidik generasi muda.

Perguruan tinggi membantu penelitian dan inovasi.

Komunitas menggerakkan kesadaran publik.

Sementara pemerintah melakukan pengawasan dan memastikan sistem berjalan.


APBD Harus Mendorong Perubahan Sistem

Pengelolaan sampah membutuhkan anggaran.

Tetapi menurut saya, anggaran tidak seharusnya hanya habis untuk mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lain.

Anggaran juga perlu diarahkan pada perubahan sistem.

Misalnya untuk:

  • fasilitas pemilahan sampah;

  • penguatan TPS berbasis pengolahan;

  • bank sampah desa;

  • pengolahan sampah organik;

  • pelatihan pengelola sampah;

  • edukasi masyarakat;

  • pengembangan teknologi daur ulang;

  • penguatan sistem pengangkutan;

  • pemeliharaan fasilitas;

  • serta pengawasan terhadap pembuangan sampah ilegal.

Dengan demikian, APBD tidak sekadar membiayai “sampah yang sudah menjadi masalah”, tetapi juga membiayai upaya agar sampah tidak menjadi masalah sejak awal.


Jangan Hanya Menyalahkan Masyarakat

Saya juga tidak sepakat jika persoalan sampah selalu dikembalikan kepada perilaku masyarakat.

Memang, membuang sampah sembarangan adalah perilaku yang harus diperbaiki.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan sistem.

Sulit meminta orang memilah sampah jika tidak tersedia tempat pemilahan.

Sulit meminta warga mengolah sampah jika tidak ada pendampingan.

Sulit meminta masyarakat menggunakan bank sampah jika sistem pengambilannya tidak berjalan.

Dan sulit meminta orang menjaga sungai jika sungai itu sendiri tidak pernah dibersihkan dan diawasi.

Karena itu, perubahan perilaku dan perubahan sistem harus berjalan bersamaan.

Jangan hanya berkata:

“Masyarakat harus sadar.”

Tetapi pemerintah juga harus bertanya:

“Apakah sistem yang kita bangun sudah memungkinkan masyarakat untuk sadar dan bertindak?”


Bondowoso Bisa Memulai dari Hal Sederhana

Saya tidak sedang membayangkan Bondowoso memiliki teknologi pengolahan sampah paling canggih di Indonesia.

Tidak harus.

Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana.

Satu rumah memilah.

Satu RT mengelola.

Satu desa memiliki bank sampah.

Sekolah memiliki sistem pemilahan.

Pasar mengurangi sampah sekali pakai.

Warung menyediakan pilihan penggunaan ulang.

Hotel mengelola sampah organiknya.

Pemerintah memperbaiki TPS.

Sungai dijaga.

Dan sampah residu benar-benar menjadi bagian terakhir yang dikirim ke TPA.

Jika satu desa berhasil, desa lain dapat belajar.

Jika satu kecamatan berhasil, kecamatan lain dapat meniru.

Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari proyek besar.

Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.


Sampah Adalah Cermin Peradaban

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya persoalan lingkungan.

Sampah adalah cermin bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan ruang hidupnya.

Kita dapat membangun jalan yang bagus.

Membangun gedung yang megah.

Membangun destinasi wisata.

Mempromosikan kota.

Tetapi jika sungai dipenuhi sampah, TPS meluber ke jalan, dan sampah rumah tangga dibuang sembarangan, maka ada sesuatu yang belum selesai dalam pembangunan kita.

Pembangunan tidak cukup hanya membuat lingkungan terlihat maju.

Pembangunan juga harus membuat masyarakat mampu hidup berdampingan dengan lingkungannya.

Bondowoso memiliki alam yang layak dijaga.

Pegunungan.

Sungai.

Pertanian.

Perkebunan.

Kawasan wisata.

Dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada semuanya.

Karena itu, pengelolaan sampah seharusnya menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah, bukan sekadar urusan mengangkut sampah setiap hari.

Kita perlu mengubah cara berpikir:

Sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

Sampah adalah material yang harus dikurangi, dipilah, dimanfaatkan, diolah, dan hanya sisanya yang dibuang.

Mungkin inilah saatnya Bondowoso berhenti bertanya:

“Di mana kita akan membuang sampah?”

Dan mulai bertanya:

“Bagaimana agar sampah yang kita buang semakin sedikit?”

Karena kota yang bersih bukan kota yang paling banyak memiliki tempat pembuangan.

Kota yang bersih adalah kota yang masyarakatnya mampu menghasilkan lebih sedikit sampah, mengelolanya dengan benar, dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan mereka sendiri.

Dan perubahan itu...

bisa dimulai dari rumah kita masing-masing.

Minggu, 01 Maret 2020

Berjumpa Pemilik Hati Samudra, Mbah MH Ainun Najib ( Cak Nun)

5:57:00 AM 0


Foto Bersama Mbah Nun 

Alhamdulillah, itulah ucapan yang kerap disampaikan ketika merasakan kebahagian sebagai rasa syukur, atas nikmat Allah SWT yang telah melimpahkan segala bentuk nikmatNYA. Begitupun saya, kemarin ketika berjumpa dengan salah satu Tokoh Panutan yang selalu mengingatkan anak cucunya ini dengan senyuman, pelukan , bahkan guyonan. Bangsa ini sangat beruntung memiliki manusia seperti beliau yang setiap hari sibuk dengan tangisan anak cucu bangsanya. Setiap hari pindah lokasi, kadang di Jawa kadang diluar Jawa juga bahkan jadwalnya hampir penuh setiap bulannya, tetapi Yogyakarta menjadi pilihan beliau untuk menjadi lokasi perenungan mbah bersama anak cucunya. Tepatnya di kota Sleman, beliau bersama uti kami dan dulur-dulur kiaikanjeng selalu bersamanya.
                Saya bersyukur dapat berjumpa dengan keadaan beliau sehat wal afiat, mengingat salah satu nadzar saya menjumpai atau sowan para tokoh-tokoh bangsa, terutama Tokoh Nahdlatul Ulama setelah dinyatakan lulus dari kuliah yang cukup panjang ini. Alhamduillah, kemarin dapat berjumpa Mbah Nun dalam pelaksanaan  Festival Sains dan Budaya 2020  di komplek Kharisma Bangsa School tempat digelarnya acara Kompetisi tahunan bergengsi yakni Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia ( OSEBI). Berjumpa mbah Nun merupakan ketidak sengajaan yang harus disengaja untuk berjumpa dengan beliau,  sebagaimana disetiap maiyah acara sinau bareng biasanya bersalaman dengan beliau adalah moment sangat sulit, karena pengawalan ketat dari panitia.
Berjumpa langsung dengan beliau merupakan suatu moment yang tidak bisa dilupakan dan harapan semua sedulur maiyah disegala penjuru dunia, begitu juga saya yang masih amatiran jadi jamaah maiyahan menjadi moment spesial banget dalam perjalanan kelana selama di Jakarta. Kemarin penuh drama untuk ketemu beliau, karena tidak disengaja bahkan seperti mimpi ketemu beliau. Jadi, kemarin hari Ahad 23 Januari 2020, sekitar jam sebelas siang nyonya saya dihubungi kakak kelasnya yang kebetulan guru di Kharisma Bangsa School (KBS), dia bilang kalau acara itu dihadiri oleh Mbah Nun, tetapi temen nyonya biasa saja. Mendengar itu sayapun segera mandi, bersih diri dan tibalah sekitar jam 12 an saya berangkat ke lokasi acara FSB 2020 tersebut. Tanpa diduga, ada kabar  hampir sampai lokasi, kakak kelasnya nyonya bilang kalau acara udah hampir kelar, jadi agak lemes tubuh ini tetapi saya masih berusaha kesana, bagaimanpun yang penting bisa ketemu mbah Nun dan salaman dengan beliau. Syukur Alhamdulillah, acara sedikit diperpanjang dan masih menyempatkan diri melihat  persembahan medali Emas Bagi para pemenang FSB 2020. Mbah Nun menyampaikan orasi penutupan FSB 2020 tersebut, dengan banyak wejangan yang diberikan kepada adek-adek hebat dari seluruh Indonesia ini, yang nantinya mewakili Indonesia di olimpiade Internasional.
Foto Booth FSN 2020 

                Tidak hanya sampai disana, selepas acara saya coba lihat mbah Nun turun panggung dari sebelah mana. Beliau turun dari sebelah kiri panggung, saya pun menuju pintu keluar acara, ternyata beliau tidak lewat jalan itu. Lalu sayapun menuju pintu masuk utama sekolah tersebut, bertanya kepada satpam, kendaraan yang membawa mbah Nun yang mana, ternayata masih berada diparkiran dengan Nopol Bogor (F ), selang beberapa menit ada juga salah satu guru pendamping lomba puisi ingin menemui mbah Nun juga, untuk bertanya Puisi yang dibawakan anak didiknya dibuat tahun berapa. Saya bersama mas Opic nama guru tersebut, menunggu hingga kurang lebih jam setengah dua, tetapi mbah Nun belum juga tampak keluar dari sekolah tersebut, dan kita tunggu di depan mobil yang dimaksud, karena sangat mepet dengan waktu sholat dhuhur, secara gentian sholat di Mushollah, sampai mas Opic selesai sholat, beliau belum juga meninggalkan lokasi acara. Akhirnya saya sholat dhuhur dulu, sekitar 10 menitan, dan ketika keluar selesai sholat terasa surprise banget, ternyata mbah Nun udah berada dipintu keluar sekolah dengan banyak Guru dan tentunya mas-mas yang tadi ikutan foto bersama beliau. Tanpa pikir panjang, saya langsung salim ke beliau, ternyata ada momen lainnya yang mebuat saya tidak bisa ngomong, ketika saya ingin memeluk beliau dan beliau memegang kedua pundak saya, menatap mata saya dan tanpa mengatakan apa-apa beliau seperti menyasehati. Luas banget hati beliau,  dengan sibuknya yang luar biasa, masih bisa memanusiakan cucunya yang penuh amarah, dan dosa ini. Dengan Niatan, tadinya selain salaman dan meminta nasehat “pernikahan “ bagi kami berdua, dengan kejadian luar bisa tersebut saya tidak bisa berbicara apa-apa, hanya bersalaman dan berfoto dengan beliau sebagai catatan momen bersama beliau.
“Segala pertemuan itu adalah percintaan_Cak Nun”
                Ini merupakan moment luar biasa bagi saya, moment sangat langka berjumpa dengan beliau dan salaman langsung dengan beliau bahkan dipeluk, di tepuk pundak saya dua kali oleh beliau. Dengan tatapan beliau yang membuat saya optimis, sekaligus badan gemeter menahan rasa haru yang luar biasa bisa berjumpa dengan beliau. Moment ini juga dirasakan oleh teman dan sahabat saya dengan perasaan “cemburu dan iri “ katanya. Sampai tulisan ini terbit, telah ada 3 sahabat dan teman yang bilang seperti itu. Insyallah dilain waktu kalian bisa berjumpa beliau ya, dengan keadaan beliau sehat wal afiat. Terima kasih mbah Nun, telah memberikan optimis kepada kami cucumu ini.

Kamis, 20 Februari 2020

SARJANA TUA : Almamater Tercecer Di Ruang Busuk

11:24:00 PM 0

Wisuda Unej 2020 edit By Canva

Menjadi sarjana dambaan anak-anak desa yang ingin merubah jalan hidupnya lebih baik (katanya), begitupun saya sebagai anak desa yang ingin merubah mindset , perilaku bahkan ekonomi keluarga di masa yang akan datang. Meskipun dulu keinginan menjadi Tentara Nasional Indonesia dengan prestise yang didambakan oleh anak-anak desa dimasa itu,  menginginkan punya tambang dan penguasaan lahan seperti Jendral-jendral di Ibukota sana. Beruntungnya, meskipun tidak menjadi TNI akan tetapi saya memiliki harapan besar menjadi seorang sarjana Sosial lebih tepatnya Sosiolog bidang lingkungan dan bencana, meskipun perjalanan berliku selama perjalanan yang saya lalui selama ini di dunia akademisi.

Tepat pada tanggal 26 Januari 2020, saya dinyatakan lulus dengan wisuda pertama sampai saat ini.  perjalanan berdarah-darah menuju wisuda menjadi kenangan tersendiri selama menempuh strata satu di kampus, dengan lama studi 7 Tahun 3 Bulan 28 hari hampir dua periode penuh menemani rektor saya. Perjalanan ini memang sangat melelahkan tapi menjadi kenangan indah yang mungkin tidak terulang dalam catur kehidupan saya. Almamater yang saya rasakan lusuh saat wisuda menjadi bukti bahwa telah lama tercecer diruang busuk perpolitikan kampus, yang membuat saya merasa bahwa ilmu yang didapat dibangku kuliah itu hanya 30 persen, sisanya mendapatkan di sudut-sudut ruang hampa kehidupan luar kampus dan entitas yang penuh makna di segala  pelosok-pelosok bersamai mereka yang katanya tidak berpendidikan.

Ruang-ruang dikampus mungkin sangatlah menjunjung tinggi akademik dan sering dibilang kalau setiap akademisi itu agent perubahan, nyatanya tidak begitu juga. Kegelisahan yang saya rasakan ketika berada di dalam kampus dan dipisah jarak antara mereka yang butuh akan pendidikan, dibatasi pagar betis akademik dan menjadi kesombongan diri ketika baru menjadi mahasiswa membuat saya menyebutnya ruang busuk yang penuh dengan kehampaan. Seiring berjalannya waktu, saya juga belajar pada masyarakat yang katanya tidak berpendidikan menjadikan almamater itu  tercecer diruang busuk hingga lama.

"Terima Kasih Ruang Entitas, Menjadikan Lebih Bijak Dalam Berpijak" 
Tapi, saya tidak akan terlalu mengutuk ruang-ruang itu, sedikit banyak juga membuat perubahan di hidup saya salah satunya membuat tulisan ini. tetapi saya juga tidak melupakan ucapan terima kasih ruang-ruang entitas yang telah menjadikan lebih bijak dalam berpijak. terima kasih para manusia-manusia yang telah peduli dengan kehidupan manusia lainnya, sehingga membuatku berkaca kepada anda, bahwa bukan hanya gelar yang menjadi kebanggaan akan tetapi kebermanfaatan terhadap manusia lainnya yang menjadi catatan dihadapan pemilik semesta. Selamat di wisuda dan sampai jumpa kehidupan yang penuh ketidakpastian di masa akan datang. Semoga engkau menjalani dengan kemerdekaan!
"Baca Juga; Sarjana Gagal, Gagal Sarjana, atau Pengangguran Bergelar"

Kamis, 13 Februari 2020

Menghargai Proses Bersama Swayanaka Jember II

7:55:00 PM 0

Struktur Organisasi Swayanaka Indonesia regional Jember

Foto By Panitia Oprec, Edit by Canva


Divisi Kesehatan

Divisi kesehatan merupakan divisi yang menangani dengan masalah kesehatan tumbuh kembang anak serta lingkungan sekitar desa binaan. Banyak program yang muncul dalam kepengurusan periode saya saat itu, salah satunya pembuatan Taman Toga bersama anaka-anak dan cek kesehatan mata anak. Divisi diisi oleh orang –orang berkompeten dibidangnya saat itu. karena saya rasa ketika itu Jember masih tinggkan kebersihan anak dll masih rendah, mari ikuti saya untuk mengenal siapa saja yang menjadi bagian divisi ini. silakan simak!

Finty Arfian

Panggilan akrabnya Finty, perempuan asal Magetan ini merupakan mahasiswa Kedokteran yang secara nanti dia akan menjadi dokter. Ia menjabat sebagai Kepala divisi Kesehatan, cukup ekuavalenkan dengan jurusannya dia. anggota satu ini merupakan anggota yang sangat aktif dalam berswayanaka. Selain kesibukannya dia di swayanaka ia juga sibuk di organisasi internal kampusnya. Dia juga perekat anggota ketika anggota waktu menjadi blok-blok, dengan upaya dia bisa menjadi anggota rekat. Sebelum menjadi kadiv, ia pernah menjadabat sebagai anggota saya di Danus di pengurusan sebelumnya. Selain itu ia juga idaman di swayanaka, idaman kakak-kakak dan beberapa anggota tetapi  tidak ada yang berani ta’aruf sama dia hehehe. Anggota yang pernah nangis karena acaranya tidak berjalan dengan baik ketika menjadi penanggung jawab acara di sekolah binaan. Kesibukan saat ini Dokter Muda dan selain itu sepertinya sangat sibuk dirumah sakit.. sukses terus ya  Dokter, ojok nangisan maneh yo….hehehe

Alfita Rahmawati

Alfita panggilan akrabnya, perempuan ini berasal dari kota Tulungagung dan notabane ia merupakan satu kota sama mbak Emma ketua swayanaka periode sebelum saya. Dia mahasiswa farmasi yang cukup satu jalur dengan divisi yang ia tangani. Dia merupakan anggota satu-satunya dari farmasi setelah generasi seangkatannya pada hilang entah kemana, selain aktif diswayanaka ia juga katif dibanyak kegiatan salah satunya di UKM kesenian fakultasnya. Ia juga sangat hobi menari. Terkahir ia menajabat ketua swayanaka periode setelah saya, anggota yang sering telat kalau janjian karena ketiduran hehehe. Kesibukan saat ini mungkin berada di Tulungagung apa Blitar dengan persiapan menjadi apoteker Handal.. sukses yoo sering ngeracik obat anti Tidur ya dekk biar tidurnya gak kelewatan...

Rima Aprilia H

Rima panggilan akrbanya Rima, mahasiwa asal Blitar ini merupakan mahasiwa kedokteran yang satu angkatan sama finty, sewaktu dipengurusan saya dia sangat aktif dalam memenej sesuatu, terkahir ia mengikuti kegiatan pada Oprec anggota baru, alasannya karena sangat sibuk di organisasi dlam kampus karena juga tuntutan kuliah yang berat. Perempuan satu ini tidak banyak saya ketahui karena jarang berkomunikasinya dengan saya dan mengikuti proses di swayanaka tidak sampai akhir dan ia mengajukan pengunduran diri setelah nilai ujian Bloknya menurun. Menurut saya dibalik kesibukannya ia masih bisa membagi waktu dengan baik.. baik baik ya DMnya .. kalau ketemu dijalan sapa yaa sukses terus menjadi Dokternya.

Presesiaji

Aji panggilan akrabnya, merupakan satu-satunya anggota laki-laki yang berasala dari Kedokteran waktu itu. Pria asli Sidoarjo ini merupakan mahasiswa sangat aktif, selain menjadi bagian dari swayanaka ia juga menjadi bagian penting organisasi BEM kampusnya. Ia juga aktif dalam kegiaatan rohanian di kampus bahkan setiap langkahnya ia pegang Al Qur’an. Oleh karena itu waktu itu menjadi idaman perempuan diswayanaka. Kesibukan saat ini menjalani Praktek Dokter Muda, sukses terus yo ji, pertahankan sikap Cool mu yo hehe

Divisi Pendidikan

Divisi pendidikan merupakan divisi yang bertugas menyelenggarakan Belajar Mengajar di Desa Binaan dengan metode belajar, bermain dan berkarya. Disini adek-adek di desa binaan diajak berkreativitas, menngenali sesuatu dan berkarya Sesutu yang tidak ia dapatkan di pendidikan formal. Salah satu contoh adek-adek diberikan kesempatan untuk mendongeng dan mebuat kreasi dari barnag bekas. Selain itu tantangnanya juga banyak ketika kami dihadapakan dengan adek-adek di desa binanan yang superaktif, tingkat keingintahuannya tinggi dan masih mencari jati diri mereka. Tak jarang dulu sewaktu kami di desa binaan sebelum mengajar adek-adek ini mengusir kami dari desa, tidak mau terbuka kepada kami bahkan kami sempat dihadang dan ditantang berkalahi oleh adek-adek yang menamakan dirinya “panitia Hari Kiamat”, padahal mereka masih kelas 4-6 sekolah dasar. Darisana kami belajar pendekatan emosional dengan mereka, dan pendekatan secara manusiawi kita lakukan, mereka tumbuh dan berkembang bersama kami, lamban laut mereka sangat terbuka dengan kami, bahkan kalau jadwal ke desa binaan kami tidak hadir diminggu berikutnya mereka menyanyakan kami. Bahkan seperti hubungan kakak dan adik. Tujuan kami tidak banyak, cuckup memberikan ruang bagi mereka, dan menjadi kakak penyayang bagi mereka. Alhamdulillah, ketika mereka lulus dari sekolah dan berpamitan mau mondok dan melanjutkan sekolah ke menengah pertama, kami merasa sangat bahagia dan ada tangis haru bahagia diantara kami. Sampai saat inipun mereka masih sering menyapa kami di Media Sosial dan tak jarang ketika mereka dirumah menanyakan kapan kami bisa bertemu mereka. Mungkin itu sedikit kisah di desa binaan yang menjadi memori dan kebanggan tersendiri bagi kami. Selanjutnya saya menyebutkan satu-persatu yang berkecipung di divisi pendidikan.

Faiz Al Amjad

Pemuda asal Jogja ini merupakan Kepala divisi pendidikan yang selanjutnya menggantikanku menjabat ketua Umum setelahku tetapi tidak berjalan mulus, dia hanya bisa mempertahankan jabatannya hanya beberapa bulan, karena beberapa alasan yang menjadikan dia mundur dari jabatan terserbut. Dia ikut swayanaka mulai ketua umumnya masih mbak Emma. Selang berapa bulan setelah ia memundurkan diri daya dapati ia tengah memeperdalam ilmu Al Qur’ann dan dia menjadi perwakilan Kampusnya untuk mengikuti lomba MTQ Nasional. Selain itu waktu diswayanaka di memang tidak banyak bicara jadi dia memiliki skretaris divisi yang bantu komunikasi denganku yakni Ella. Pria ini merupakan mahasiswa jurusan Hubungan Internasional. Terima kasih Iz, wes sanggup dadi kepala divisi Pendidikan sek jamanku yo.. lek ketemu ndek ndi ae nyopo iz, ra usah sungkan-sungkan…

Ella Izza Asfarina

Mahasiswi asal Lumajang ini merupakan anggota divisi pendidikan yang juga sering membuat ide mengembangkan pendidikan anak. Pernah menulis buku dongeng anak yang iya tulis dengan temen-temen UKM Kesenian Universitas Jember. dia sangat cerdas menejemen waktu antara kuliah dan beberapa organisasi. Dia menjadi perantara komunikasiku dengan faiz ketika dipengurusan, karena dia merupakan anggota yang cukup sering obrak-abrik divisinya untuk berkegiatan. Kalau tidak salah jabatan terakhir di swayanaka regional jember adalah sebagai kadiv pendidikan. cukup sabar menghadapi adek-adek binaan, mungkin karena memang sesuai jurusannya PG PAUD UNEJ. Mungkin banyak lagi yang tidak bisa saya tulis tentang perempuan ini. el, baik-baik dengan gelar terbarunya ya, dan semoga semangatmu sek ndek Jember, iso di gowo neng kotamu Lumajang .

Muhlisin

Mahasiswa Magister Hukum Universitas Jember ini merupakan pemuda asli Kota Gandrung Banyuwangi dan sekaligus Pendekar Tapak Suci. Saat ini dia aktif sebagai penasehat hukum disalahsatu lembaga Bantuan Hukum di Banyuwangi. Semasa bersama diswayanaka banyak kritikan yang membangun untuk berkembangnya swayanaka saat itu. dibalik kesibukannya kuliah dna kerja dia masih aktif berorganisasi, didalam kejombloan saat itu juga ingin meminang swayanakers juga tetapi, tidak ada jalan kesana. Sin lek dadi pangacara kudu adil, tetap menjadi pengacara yang baik hati dan tidak sombong yo sin. Mugo tahun iki wes entuk jodoh lan rabi hehehe

Lika indria

Perempuan cantik mungil ini merupakan anggota swayanaka pada periode saya yang sempat tidak aktif beberapa bulan di karena tidak malu untuk bergabung kembali sejak vakum pasca oprec saat itu. perempuan asal Kota Gresik ini merupakan sarjana pendidikan Fisika Universitas Jember. setelah beberapa lama tidak mengikuti kegiatan swayanaka kala itu, terbayar dengan  aktifnya berkegitan setelah itu. saat ini dia kembali ke kampung halamannya di Gresik sekitar Kecamatan cermee yang merupakan lokasi yang pernah saya singgahi sewaktu bekerja disana. masio adoh teko Jember, tetep bermanfaat bagi sesame yo lik, menowo enek kegitan swayanaka Surabaya iso melok lan kontak bu Yessy senior swayanaka sing stay ndek Gresik pisan lik. Lek rabi undang-undang yoo.. insyaallah teko kok hehe


Divisi Dana Dan Usaha

                Divisi ini merupakan divisi yang bertanggung jawab atas pendanaan yang diberikan dari pusat dan dana dari donatur untuk di kelola dan dikembangkan, Untuk menunjang operasional kita berkegiatan selama kepengurusan. Ketika itu kegiatan mereka usaha mandiri, EO kegitan kecil-kecilan, dan beberapa kegiatan untuk mendapatkan sponsor dan dana dari luar donasi tetap. Saat itu ada yang bergerak memebuat lukisan, jualan cilok sampai jualan bros, krudung serta usaha lain yang halalan toyibban. Untuk berkenalan dengan beberapa orang yang telah berjasa kala itu mari saya kenalkan satu-satu;

Aprilian Dwi Cahyono

            Pria Gentlemen kelahiran Jember ini merupakan koordinator divisi ini atau ketua divisi Danus ini. dia merupakan salahsatu sahabat saya di Perkumpulan anak muda kala itu bernama KOERAWA, yang sampai ini masih aktif berkontribusi menelong umat yang sedang kelaparan diperantauan. Dia merupakan satu-satunya cowok yang berada di Divisi tersebut. seorang sahabat yang sama-sama berjuang menjalani masa akhir purna kampus saat itu, salahsatu sahabat yang super kalem dalam segala hal, panggilan akrabnya adalah Pak RT, dia merupakan seorang mahasiswa Sosiologi dan calon S.Sos tahun ini, selain kesibukannya tugas akhir, saat ini sibuk menata masa depan untuk menjadi bapakable. Perannya di Danus waktu itu sangatlah strategis, saya memilih mempercayakan danus kepada dia, karena dia pernah menjadi anggota danus ketika saya masih menjadi Kadiv danus di periode sebelumnya. Pokok’e pak RT iki kalem-kalem menghanyutkan dalam memimpin divisinya. Ayo te semangat, Insyaallah sukses bareng kok, ojok baperan lan putus asaan, sukses sukses.. lek gak sukses yo kudu sukses te…

Arlin M.

Perempuan asli Jember ini merupakan mahasiswa dari Jurusan Fisika, di fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan. merupakan anggota danus yang memiliki bakat dalam karya seni lukis dan gambar. Saat menjadi anggota swayanaka dikepengurusan dia cukup aktif memebriakn kontribusi, selain kesibukannya kuliah dan swayanaka dia juga sering ikutan lomba yang mewakili kampus di luar kota serta pernah menjadi peserta pepsiminal category seni. Ia juga aktif kegitan di UKM kesenian UNEJ. Dari skill melukisnya ia jual melalui swayanaka dan beberapa penghasilnya masuk ke kas Swayanaka, sebuah skill yang membawa berkah. Lin, lek ketemu aku maneh sopo yo, kapan-kapan aku tak tuku lukisanmu maneh..

Lely Yuliati

Perempuan asli pulau Garam ini tetaptnya Kota Sumenep, merupakan mahasiswi dari FKIP Fisika Unej yang saat ini stay di Kota Malang. Dia merupakan bagian dari beberapa anggota swayanaka yang berasal dari Fisika, memang kebetulan squad kepengurusan saya banyak dari pendidikan fisika ketika itu, dan selaluaktif membantu mbak siti dalam melakukan kegiatan.Semasa di Jember kita kalau ketemu sering memakai bahasa ibu yakni bahasa Madura, dan Alhamdulillah dia juga sebagai penerjemah bagi temen-temen yang tidak mengerti bahasa Madura ketika turun ke Desa Binaan. Dia bertahan dari oprec sampai akhir kepengurusan, terima kasih ya lek.. telah meluangkan waktu untuk berswayanaka. Jek kalopaaen lek, insyallah sukses masenah bede e malang, le bileh mun bedeh bektoh kok nyepperah lek..

Siti Maimunah

Siti Maimunah nama Aslinya, teman-temannya se angkatannya memanggilnya Mbak Siti dan swayanakers yang lainnya biasanya memanggilnya mbak My Moon. Perempuan asal Probolinggo ini merupakan mahasiswi Jurusan FKIP Fisika dan merupakan yang  dituakan diantara beberapa swayanakers asal jurusan fisika. Ia menjabat sebagai Ibu DANUS yang seringkali mau direpotkan membuat kreasi untuk pengadan kas. Kos-kosannya yang menjadi tempat Inventaris Swayanaka. Kisahnya diswayanaka memang slow-slow but Sure, dia cepat tanggap sigap dalam melaksanakan program kerja, kalau bagian nagih uang baju kepengurusan serahkan dia, pasti dipepet terus.. cocoklah jadi bagian penagihann.. pepet terus sitt. Baru-baru ini ia menyandang status baru yakni sebagai seorang istri, lelaki yang selalu dicuekin ketika telpon dan selalu kurang direspon kita ngomong sekarang menjadi imam dalam berkeluarga. Sepurane yo sit durung iso teko neng Probolinggo langgeng yo sama mas Arif.. ojok lali uang baju yang belum lunas di tagih ya hehe..

Faiq Najibur

Mas faiq banyak swayankers perempuan memanggilnya, pria kelahiran Banyuawangi dan mahasiswa jurusan Kesejahteraan sosial ini merupakan anggota paling cool di divisi Danus. Ia tidak banyak bicara dalam melaksanakan proker, tetapi lebih banyak bekerja dan full inisiatif, tentatif dalam bekerja. Dia salah satu anggota siaga yang kapanpun bisa dipanggil untuk kegiatan kami. Ketika swayanaka hampir mendapatkan seseorang tetapi, diagantung dalam hubungannya hehe. Beberapa kali saya pernah singgah dirumahnya dan menumpang nginep disana, perawakananya tetap cool sampai saat ini. Kesibukannya setelah ia lulus menjadi seorang pengusaha ayam dan Driver ojol yang enerjik.. kabar terbaru sih sudah bekerja di Finance salah satu bank di Banyuwangi. Ojok lali kang tak enteni ndek Bondowoso, samean sing durung teko omahku, lek sek mau berjuang yang itu tuh masih kosong kabarnya kemarin kang hehe

Yeri Suhartin

Yeri itu panggilan akrabnya, perempuan asal Jmebr ini merupakan mahasiswa dari jurusan fisika 2013, sewaktu dikepengurusan jarang berargumen, berebeda dengan anggota yang lainnya. Waktu itu pernah membantu Danus dalam inovasi produk untuk mnunjang perekonomian organisasi eyaaaa.. kalau tidak salah ketiak itu membuat es pisang ijo yang di Jual waktu acara Bulan Berbagi atau Lebih di Kenal Baksos yang adakan setahun sekali. Yari cukup pendian, sangat jarang ngobrol dengan saya. Samapai demesioner kalau dihitung jari masih bisa, ngobril dengna saya. Yer kalau masih di Jember sering-sering ya lihat swayanakanya, terus kalau ketemu nyapa yaa.. ojok macak gak kenal hehe
       

Divisi Hubungan Masyarakat

Divisi Humas merupakan divisi untuk publikasi kegiatan dan penghubung organisasi dengan masyarakat, komunitas lainnya. Publikasi kegiatan oleh tim humasBaik dalam bentuk foto, video, informasi grafis dan dapat diakses oleh semua. Selain itu humas dalam bekerja selama periode kepengurusan saya, cukup banyak prestasi yang mereka berikan. Berupa penghubung dengan pihak sponsor, media online maupun cetak dan video kegiatan selama satu periode tersebut. dan biasanya tim humas jarang muncul di media sendiri. Baik saya akan kenalkan anggota yang keren-keren dari Humas ini satu-satu.

Sendy Martin

Pria kelahiran Kota Santri Jombang ini merupakan kepala divisi Hubungan Masyarakat periode saya. Dia merupakan sarjana Sosiologi yang saat ini telah bekerja di salah satu perusahaan semen bertempat di Solo. Dia membantu saya sebagai ketua Hubunganj masyarakat, dan telah muncul karya-karya dia ketika berproses diswayanaka bisa kalian akses di Youtube.  2019 kemarin dia menikah dan selamat sen, wes entok konco dewe. Semoga tahun ini bisa main ke Jombang aku bro,,

Siti Nailatul

Perempuan kelahiran Ambulu, Jember ini merupakan sarjana Biologi yang saat ini sibuk-berproses ditempat lainnya. Dia merupakan salah dua mahasiswa yang bertahan dengan dikepengurusan saya bersama Syari, tak lain merupakan sahabatnya yang sekarang telah menjadi Istri dari bapak SDM yakni Malik naharul. Perempuan ini paling sering memberikan masukan terhadap swayanaka khususnya ketika tim humas kendor. Tak do’akan nai semoga segera menyusul bapak ibu PSDM ya, biar bisa double date.

Hikmah Yanti

Perempuan kelahiran Puger Jember ini merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Fisika, yang tak laia pasukan terbesar dikepngurusan saya. Diluar kegiatannya menjalani kuliah di FKIP dia juga memeiliki skill desain grafis yang menjadikan dia seorang Humas bagian desain pada masanya, sering sekali saya hubungi ketika desainnya belum muncul di Instagram kami. Saat ini dia telah sibuk menajdai seorang guru di salahsatu sekolah SMA di kecamatan Puger, dan semoga ada kabar baik ditahun ini, tentang laki-laki yang sering saya lihat di status Whatsappnya.  

Hendrik

Pria asal Jember ini merupakan mahasiswa jurusan fisika dan satu-satunya anggota humas yang laki-laki, sehingga menjadikan dia lebih sering diminta tolong oleh kang sendi untuk membantunya, terlebih jika tugas calon istrinya tidak terselasaikan, pada saaat ini dia sibuk menjadi seorang pengusaha. Semoga ditahun ini dapat menikmati pelaminan bersama itu-tuh yaa

Ervina


Perempuan asal Sidoarjo ini merupakan mahasiswa FKIP yang telah lulus ditahun 2017 bersama teman-teman pasukan dari pendidikan fisika, dia membantu sendy di humas sebagai anggota yang memilki tugas mengelola media sosial swaanaka regional saat itu, nah uniknya ervina ini merupakan pasangan dari hendrik yang juga anggota Humas, dimana ada rapat humas, mereka harus lengkap kalau tidak lengkap biasanya pada tidak hadir. Vina, semoga tahun ini bisa bersma dipelaminan bersama hendrik yaaa

Sekian catatan saya tentang orang-orang hebat yang telah mendidikasikan paruh waktunya, disamping kewajiban untuk menimba ilmu dan segera lulus, tetapi mereka memilih mendidikasikan paruh waktunya untuk kamanusiaan, masa depan pendidikan anak indonesia.
terima kasih atas dedikasi kalian para pejuang kemerdekaan hak anak Indonesia!