Tampilkan postingan dengan label Blog & Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog & Tips. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2023

BRI Pahlawan UMKM Indonesia, UMKM Tumbuh agar Masyarakat Berdaya

11:49:00 AM 0

ILUSTRASI: Pelaku Usaha Mikro dan UMKM yang Dapat KUR di Kampung Nelayan Puger Jember

Indonesia menjadi salahsatu negara yang terdampak covid yang sangat luar biasa melemahkan perekonomian. dua tahun silam wabah covid yang sangat mematikan perekonomian, terutama yang terdampak adalah pelaku usaha besar bahkan usaha kecil menegah atau ultra mikro dan menengah juga terdampak sangat dahsyat. sangatlah banyak pengusaha yang bangkrut usahannya hanya dalam waktu sesingkat itu. Masa pandemi berangsur pulih, muncullah usahawan-usahawan baru, start up baru untuk membangkitkan perekonomian Indonesia. Munculnya UMKM dan usahawan baru ini menjadikan gairah perekonomian mulai pulih, begitupun dengan dukungan pemerintah melalui dunia permodalan dan perbankan milik BUMN dengan dana permodalan mulai dikucurkan, bukti keseriusan pemerintah mendukung ultra mikro dan  UMKM untuk naik level. salah satunya perbankan yang melakukan pemberdayaan Ultra mikro dan UMKM yakni Bank Rakyat Indonesia, dengan adanya pemberdayaan modal dan dukungan untuk penguatan usaha UMKM. Hadirnya BRI menjadi Pahlawan UMKM, hingga UMKM berkembang dan naik kelas dari sebelumnya, upaya pemberdayaan UMKM berkembang dan maju merupakan bukti keseriusan BRI untuk Indonesia yang lebih baik di masa akan datang.

Usaha Tumbuh dan Naik level Bersama Bank Rakyat Indonesia

Sejak hadirnya BRI 128 Tahun lalu telah banyak transformasi yang dilakukan mengikuti arah zaman dan kebutuhan rakyat Indonesia. Di ulang tahun yang ke 128 ini, BRI telah mencatat 34 Juta UMKM telah dilayani. Untuk tumbuhnya ekonomi yang lebih positif BRI menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai upaya mendorong roda Perekonomian Kelas Bawah untuk naik level, serta sebagai upaya penyediaan lapangan pekerjaan  bagi masyarakat. KUR diberikan kepada mereka yang membutuhkan modal usaha untuk melanjutkan usaha yang sebelumnya bakrut dan atau bagi mereka yang baru memulai usaha, utamanya usaha ultra mikro dan UMKM. Dengan dukungan 7.980 outlite jaringan kantor seluruh indoenesia, sangat memudahkan para nasabah dalam melakukan transaksi KUR dan Transaksi lainnya. Adanya KUR yang telah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dengan usaha tumbuh dan  usaha kelas bawah naik level, menjadikan BRI Pahlawan UMKM yang tentunya banyak membantu perekonomian mereka.

FOTO: Salahsatu UMKM Perbaikan Jaring nelayan yang mendapatkan pinjaman KUR 

salahsatu yang merasakan manfaat adanya KUR yakni masyarakat nelayan di Getem, Puger, Jember. Jasa usaha dilakukan adalah perbaikan jaringan ikan dan jual beli rakitan jaring baru yang dilakukan oleh ibu Kiki. “Kebutuhan untuk perbaikan ini membutuhkan beberapa alat, bahan jaring agar lebih cepat dan lebih nyaman ke nelayan yang melakukan perbaikan dan pesanan jaring ikan ke saya. Dengan adanya modal KUR BRI ini, saya merasa terbantu dalam mendapatkan modal, dengan bunga rendah dan Persyaratan yang mudah bagi usaha seperti saya” Akunya. 

Digitalisasi BRI Bentuk Transaksi yang lebih Mudah dan Efisien

Di era teknologi yang semakin tanpa batas ruang dan waktu, tentu banyak yang harus dilakukan dunia perbankan seperti BRI, dengan di dorong transaksi dan pelayanan berbasis digital. Menurut portal Kontan, 229 Outlite kantor pelayanan telah di tutup, bukan karena kerugian ataupun mengurangi pelayanan, akan tetapi karena akibat adanya digitalisasi BRI dan berahlinya pola perilaku masyarakat menuju digital, akibatnya keberadaaan dan fungsi outline kantor pelayanan konvensional akan terus berkurang. PT Bank Rakyat Indonesia sebenarnya telah banyak melakukan inovasi digital dengan terus meningkatkan kantor layanan berbasis digital, untuk meningkatkan layanan nasabah lebih nyaman bertransaksi dimanapun dan kapanpun. Melalui e-hannel, self service dan penyediaan platform digital lainnya.

BRI terus mendorong setiap nasabah migrasi dari kantor cabang maupun unit ke platrom elektronic channel ATM, Digital Customer Service, BRImo serta agen Brilink. Dengan layanan lebih banyak digital, dimaksudkan kantor cabang lebih fokus pada pejualan dan layanan nasabah yang bersifat komplek. Digitalisasi BRI ini, juga telah di barengi dengan peluncuran platform digital untuk UMKM yakni Busines to Customer, yang menghubungkan pelaku UMKM dengan para pembeli dalam aplikasi jual beli komoditas. 

Gerobak UMKM Minuman Kekinian yang ditempeli stiker BRImo KC Bondowoso 

Selain itu UMKM telah banyak dilakukan digitalisasi dengan hadirnya BRImo di setiap outlite UMKM yang bisa digunakan pembayaran, penjualan dan layanan lainnya secara self service yang bisa dilakukan oleh UMKM, ada nilai lebih dengan pemabyaran Qris yang langsung bisa diakses melalui BRImo oleh pelaku UMKM dalam pembayaran, serta bisa traksaksi lainnya untuk mendapatkan penghasilan lainnya, dari penjualan selain komoditas yang UMKM jual.

Inovasi BRI untuk Indonesia, Juga dilakukan digitalisasi yang berupa BRIlink dinilai menjadik kemudahan bagi nasabah dan agen untuk bertransaksi yang dilakukan dimanpun dan kapanpun, seperti yang penulis perhatikan dan tanyakan ke salasatu agen BRIlink di kecamatan Maesan, Bondowoso, hilir mudik orang tarik tunai, transfer, pemabayaran kredit dan transaksi lainnya yang dilayani dengan santai sambil diskusi dengan penulis, banyak kemudahan yang dirasakan nasabah. “saya tidak perlu jauh-jauh dan antri di atm untuk tarik tunai ambil gaji dari tempat perusahaan saya kerja, cukup ke Mbak Wiwin ini sudah mas” Ucapnya nasabah kepada penulis. selain itu juga menjadi nilai tambah bagi agen yang juga berprofesi sebagai guru honorer ini, seperti yang utarakan kepada penulis “ Alhamdulillah dek, dengan menjadi agen BRILink, cukup membantu nasabah tidak perlu jauh untuk tarik tunai, transfer dan saya pun mendapatkan keuntungan dari transaksi yang dilakukan ini dek” Ucapnya Agen BRIlink ini. 
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), juga memiliki tekat UMKM bisa bertransaksi dengan pasar Dunia, atau bisa melakukan Ekport komoditasnya untuk meningkatkan usaha mikro dan UMKM agar naik kelas. Tercatat banyak inovasi yang sedang dilakukan dan disiapkan BRI untuk UMKM Indonesia ditahun ini dan Mendatang.

Senin, 26 Juni 2023

Bondowoso dan Persoalan Sampah: Jangan Semua Berakhir di TPA

9:12:00 PM 0

Bank Sampah Batu Katak Edit By Canva


Oleh: Holidi

Persoalan sampah tidak pernah bisa dipisahkan dari aktivitas manusia sehari-hari. Di mana manusia hidup, di situ sampah dihasilkan. Persoalannya bukan semata-mata tentang berapa banyak sampah yang kita hasilkan, tetapi bagaimana kita memperlakukannya setelah tidak lagi kita gunakan.

Manusia diberi akal dan kemampuan untuk mengelola kehidupan. Karena itu, seharusnya kecerdasan tersebut juga mendorong kita untuk lebih arif memperlakukan lingkungan. Namun dalam banyak keadaan, hubungan manusia dengan alam justru berubah menjadi hubungan eksploitatif: gunung dikeruk, hutan ditebang, sungai dijadikan tempat pembuangan, sementara pola konsumsi terus meningkat dan menghasilkan sampah dalam jumlah yang semakin besar.

Sampah akhirnya menjadi konsekuensi dari cara kita menjalani kehidupan.

Masalah ini bukan hanya milik kota-kota besar. Kabupaten kecil pun menghadapinya, termasuk Bondowoso.

Di sejumlah tempat, persoalan sampah masih mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tempat penampungan yang penuh, sampah yang meluber, serta sampah yang masuk ke saluran air dan sungai menjadi pemandangan yang seharusnya tidak kita anggap biasa.

Sampah plastik, popok sekali pakai, kemasan makanan, dan berbagai jenis sampah rumah tangga lainnya dapat dengan mudah berpindah dari halaman rumah ke selokan, dari selokan ke sungai, dan akhirnya menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar.

Pertanyaannya kemudian:

Apakah semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir?

Menurut saya, jawabannya adalah tidak.

TPA Bukan Satu-Satunya Jawaban

Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA memang tetap diperlukan. Akan selalu ada residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dan membutuhkan tempat pengelolaan akhir.

Namun, menjadikan TPA sebagai tujuan hampir seluruh sampah bukanlah solusi jangka panjang.

Sampah seharusnya mulai dikelola sejak dari sumbernya.

Rumah tangga harus menjadi titik pertama.

Kemudian lingkungan RT.

Desa atau kelurahan.

Pasar.

Sekolah.

Perkantoran.

Hotel.

Restoran.

Perusahaan.

Semua menghasilkan jenis sampah yang berbeda dan karena itu membutuhkan pola pengelolaan yang berbeda pula.

Jika seluruh sampah dikumpulkan tanpa pemilahan sejak dari sumbernya, beban pengelolaan di tingkat TPS maupun TPA tentu menjadi semakin berat.

Karena itu, saya melihat persoalan sampah Bondowoso bukan hanya persoalan “di mana sampah dibuang?”, tetapi lebih jauh:

“Mengapa sampah harus dibuang seluruhnya?”


Mulai dari Rumah

Saya membayangkan pengelolaan sampah Bondowoso dimulai dari sesuatu yang sederhana: pemilahan di rumah.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan bahan mudah terurai dapat diproses menjadi kompos atau pupuk organik.

Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan dikumpulkan melalui bank sampah.

Sementara sampah residu yang memang tidak dapat dimanfaatkan dapat diarahkan ke sistem pengangkutan dan pengolahan akhir.

Dengan pola seperti itu, sampah yang masuk ke TPS dan TPA dapat dikurangi sejak awal.

Konsepnya sederhana:

Kurangi dari sumbernya.
Pilah sejak rumah.
Olah yang masih bisa dimanfaatkan.
Buang hanya residunya.

Memang, praktiknya tidak semudah menuliskannya.

Dibutuhkan kebiasaan baru.

Dibutuhkan fasilitas.

Dibutuhkan petugas.

Dibutuhkan edukasi.

Dan yang paling penting, dibutuhkan sistem yang membuat masyarakat merasa bahwa memilah sampah bukan pekerjaan sia-sia.


Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah

Salah satu gagasan yang menurut saya layak dipertimbangkan adalah mendorong konsep “Satu Desa, Satu Sistem Pengelolaan Sampah.”

Tidak harus selalu berupa fasilitas besar.

Setiap desa dapat memiliki sistem pengelolaan sesuai kemampuan dan karakter wilayahnya.

Misalnya:

Sampah organik → kompos atau pupuk.

Sampah plastik dan anorganik bernilai → bank sampah.

Sampah yang masih dapat digunakan → didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Sampah residu → dikirim ke fasilitas pengolahan akhir.

Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi tempat penghasil sampah, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.

Bank sampah dapat menjadi salah satu instrumennya.

Namun bank sampah jangan berhenti pada kegiatan menimbang dan menjual sampah. Jika memungkinkan, pengelolaannya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi masyarakat: pemilahan, pengolahan, kerajinan, kompos, hingga produk daur ulang.

Dengan begitu, sampah tidak selalu dipandang sebagai beban.

Sebagian dapat berubah menjadi sumber ekonomi.


Sampah Plastik: Jangan Berhenti pada “Dibuang”

Salah satu tantangan terbesar adalah sampah plastik.

Plastik memiliki nilai guna yang tinggi, tetapi sekaligus menjadi persoalan ketika digunakan secara berlebihan dan tidak dikelola dengan benar.

Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif.

Sampah plastik tertentu dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, sepanjang memenuhi standar keamanan dan teknis. Salah satu gagasan yang dapat diteliti lebih lanjut adalah pemanfaatan material plastik tertentu sebagai bagian dari bahan produk konstruksi atau material alternatif.

Tetapi saya kira kita juga harus berhati-hati.

Tidak semua plastik dapat begitu saja dijadikan bahan bangunan. Harus ada kajian teknis mengenai jenis plastik, komposisi, keamanan, ketahanan, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Artinya, prinsipnya bukan:

“Semua sampah plastik harus dibuat menjadi barang.”

Tetapi:

“Sampah yang masih memiliki potensi harus dicari nilai gunanya melalui teknologi yang aman.”

Di sinilah perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dapat bekerja bersama.


Sungai Bukan Tempat Sampah

Ada satu persoalan yang menurut saya harus mendapat perhatian khusus:

sungai.

Sungai bukan tempat pembuangan sampah.

Sesederhana itu.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampah masih dapat ditemukan di sekitar aliran sungai dan sempadannya.

Ketika sampah dibuang ke sungai, persoalannya tidak selesai.

Ia hanya berpindah tempat.

Sampah yang dibuang hari ini mungkin akan menjadi masalah di hilir beberapa hari kemudian.

Plastik dapat menyumbat aliran.

Popok dan sampah rumah tangga mencemari lingkungan.

Sampah organik yang menumpuk dapat menurunkan kualitas lingkungan perairan.

Ketika hujan besar datang, sampah yang menumpuk di saluran air dapat memperbesar persoalan banjir dan pencemaran.

Karena itu, perlu ada kampanye yang konsisten dan sederhana:

“Sungai dan sempadannya bukan tempat sampah.”

Kampanye tersebut jangan hanya dilakukan melalui spanduk.

Harus ada pendidikan.

Harus ada pengawasan.

Harus ada fasilitas pembuangan yang memadai.

Dan ketika aturan sudah dibuat, harus ada penegakan yang konsisten.


Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Pengelolaan sampah bukan pekerjaan satu dinas.

Dinas Lingkungan Hidup tentu memiliki peran penting, tetapi persoalan sampah jauh lebih luas.

Pemerintah desa memiliki peran.

Sekolah memiliki peran.

Dunia usaha memiliki peran.

Pengelola pasar memiliki peran.

Hotel dan restoran memiliki peran.

Komunitas memiliki peran.

Dan masyarakat sebagai penghasil sampah juga memiliki tanggung jawab.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya program pemerintah, melainkan ekosistem pengelolaan sampah.

Pemerintah menyediakan regulasi dan infrastruktur.

Desa mengembangkan sistem pengelolaan di tingkat lokal.

Masyarakat memilah dari rumah.

Bank sampah mengelola sampah bernilai ekonomi.

Pelaku usaha mengurangi penggunaan bahan sekali pakai.

Sekolah mendidik generasi muda.

Perguruan tinggi membantu penelitian dan inovasi.

Komunitas menggerakkan kesadaran publik.

Sementara pemerintah melakukan pengawasan dan memastikan sistem berjalan.


APBD Harus Mendorong Perubahan Sistem

Pengelolaan sampah membutuhkan anggaran.

Tetapi menurut saya, anggaran tidak seharusnya hanya habis untuk mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lain.

Anggaran juga perlu diarahkan pada perubahan sistem.

Misalnya untuk:

  • fasilitas pemilahan sampah;

  • penguatan TPS berbasis pengolahan;

  • bank sampah desa;

  • pengolahan sampah organik;

  • pelatihan pengelola sampah;

  • edukasi masyarakat;

  • pengembangan teknologi daur ulang;

  • penguatan sistem pengangkutan;

  • pemeliharaan fasilitas;

  • serta pengawasan terhadap pembuangan sampah ilegal.

Dengan demikian, APBD tidak sekadar membiayai “sampah yang sudah menjadi masalah”, tetapi juga membiayai upaya agar sampah tidak menjadi masalah sejak awal.


Jangan Hanya Menyalahkan Masyarakat

Saya juga tidak sepakat jika persoalan sampah selalu dikembalikan kepada perilaku masyarakat.

Memang, membuang sampah sembarangan adalah perilaku yang harus diperbaiki.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan sistem.

Sulit meminta orang memilah sampah jika tidak tersedia tempat pemilahan.

Sulit meminta warga mengolah sampah jika tidak ada pendampingan.

Sulit meminta masyarakat menggunakan bank sampah jika sistem pengambilannya tidak berjalan.

Dan sulit meminta orang menjaga sungai jika sungai itu sendiri tidak pernah dibersihkan dan diawasi.

Karena itu, perubahan perilaku dan perubahan sistem harus berjalan bersamaan.

Jangan hanya berkata:

“Masyarakat harus sadar.”

Tetapi pemerintah juga harus bertanya:

“Apakah sistem yang kita bangun sudah memungkinkan masyarakat untuk sadar dan bertindak?”


Bondowoso Bisa Memulai dari Hal Sederhana

Saya tidak sedang membayangkan Bondowoso memiliki teknologi pengolahan sampah paling canggih di Indonesia.

Tidak harus.

Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana.

Satu rumah memilah.

Satu RT mengelola.

Satu desa memiliki bank sampah.

Sekolah memiliki sistem pemilahan.

Pasar mengurangi sampah sekali pakai.

Warung menyediakan pilihan penggunaan ulang.

Hotel mengelola sampah organiknya.

Pemerintah memperbaiki TPS.

Sungai dijaga.

Dan sampah residu benar-benar menjadi bagian terakhir yang dikirim ke TPA.

Jika satu desa berhasil, desa lain dapat belajar.

Jika satu kecamatan berhasil, kecamatan lain dapat meniru.

Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari proyek besar.

Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.


Sampah Adalah Cermin Peradaban

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya persoalan lingkungan.

Sampah adalah cermin bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan ruang hidupnya.

Kita dapat membangun jalan yang bagus.

Membangun gedung yang megah.

Membangun destinasi wisata.

Mempromosikan kota.

Tetapi jika sungai dipenuhi sampah, TPS meluber ke jalan, dan sampah rumah tangga dibuang sembarangan, maka ada sesuatu yang belum selesai dalam pembangunan kita.

Pembangunan tidak cukup hanya membuat lingkungan terlihat maju.

Pembangunan juga harus membuat masyarakat mampu hidup berdampingan dengan lingkungannya.

Bondowoso memiliki alam yang layak dijaga.

Pegunungan.

Sungai.

Pertanian.

Perkebunan.

Kawasan wisata.

Dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada semuanya.

Karena itu, pengelolaan sampah seharusnya menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah, bukan sekadar urusan mengangkut sampah setiap hari.

Kita perlu mengubah cara berpikir:

Sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

Sampah adalah material yang harus dikurangi, dipilah, dimanfaatkan, diolah, dan hanya sisanya yang dibuang.

Mungkin inilah saatnya Bondowoso berhenti bertanya:

“Di mana kita akan membuang sampah?”

Dan mulai bertanya:

“Bagaimana agar sampah yang kita buang semakin sedikit?”

Karena kota yang bersih bukan kota yang paling banyak memiliki tempat pembuangan.

Kota yang bersih adalah kota yang masyarakatnya mampu menghasilkan lebih sedikit sampah, mengelolanya dengan benar, dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan mereka sendiri.

Dan perubahan itu...

bisa dimulai dari rumah kita masing-masing.

Minggu, 28 April 2019

Bagus Sajiwo : Catatan Sang Juara, Dedikasikan Diri Untuk Menulis

1:55:00 PM 0
Foto penganugerahan Dari Kementerian Pendidikan

           
Bagus Sajiwo itu nama penanya, tempaan demi tempaan yang ia rasakan semenjak nyantri di Pondok pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, menghantarkan dia menjadi sang juara dalam berbagai tulisan karya jurnalistik. Saat ini dia bekerja di Jawa Pos Radar Jember,  penghargaan demi penghargaan dia raih dengan beberapa honorarium yang telah mengantarkan ia pada kehidupan lebih mapan, dengan Menulis ia dapat mewakili Indonesia dalam salah satu forum Internasional di Polandia. Karya jurnalistiknya sangat apik dan sangat menarik disetiap karya yang ia sajikan, ada beberapa karya yang sempat di bukukan bersama penulis atau jurnalis lainnya.

            Sebenarnya saya baru mengenal dia pada bulan November 2015, waktu itu saya masih awal menjadi ketua umum Swayanaka regional Jember yang secara kebetulan meliputan kagiatan kami bersama Migrant Care pada acara Jambore buruh Migran di Universitas Jember. saya juga tahu dia merupakan jurnalis produktif saat itu ketika mleihat beberapa artikel dan diberitahu salah satu Teman. Ia merupakan jurnalis yang terlahir dari rahim Lembaga Pers Mahasiswa ( Persma) Al Fikr, di Institut Agama Islam Nurul Jadid yang saat ini telah menjadi Unversitas Nurul Jadid ( UNUJA) Paiton Probolinggo. Tepat pada tahun 2017 saya dihubungi kembali oleh dia, entah waktu itu dikira oleh saya berkenaan dengan berita yang mungkin butuh kontak narasumbernya, tetapi beda. Saat itu saya dihubungi dalam rangka syukuran atas Rumah Baru yang ia beli di perumahan sekitar Tegal gede, Semeejak itu ia juga mempersilahkan saya untuk tinggal di rumah barunya. Dengan benyaknya kegiatan full dikantor sehingga tak jarang ia hanya pulang tidur dalam artian, (liputan, Menulis dan ngopi) jadi memang hidupnya di dedikasikan untuk menulis. Selain itu ia juga sempat menjadi Humas bidang media disalahsatu ormas pemberdayaan masyarakat.  kadang banyak obrolan atau diskusi menarik saat saya ulik darinya dari hal yang bersumber dari buku maupun berita yang ia liput. Di sela kesibukannya sebagai Jurnalis profesional Pria bernama asli Bagus Supriyadi ini, juga masih menyempatkan menempuh pendidikan strata dua di IAIN Jember. dengan minat Tulis yang tinggi, tentunya harus dibarengi dengan minat Baca juga, maka tak heran jika hidupnya tidak bisa dipisahkan dengan buku.

Beberapa Foto Piagam Penghargaan Karya
Hidupnya pun tidak luput dari yang namanya Buku, buku merupakan teman terbaiknya dalam segala hal. yang menarik dari Pria kelahiran Bondowoso 28 April 30 Tahun lalu ini, ketika sebagian dari gajinya harus menjadi buku, jadi setiap lepas gajian, buku itu pasti dia beli. Dalam satu hari dia bisa menghabiskan membaca satu buku disela-sela kesibukannya dalam melakukan ativitas sebagai jurnalis. Beberapa penghargaaan telah ia raih merupakan buah dari kegigihannya dalam membaca dan menuliskan yang ia baca. Dengan passion yang ia miliki dalam dunia kepenulisan menghantarkan ia menjadi sang juara. Prestasi terakhir yang menghantarkan dia ke Eropa Mewakili Indonesia dalam forum Perubahan Iklim yang dilakukan oleh PBB, prestasi ICCTF Media Award 2018 ia menjadi pemenang 1, ICCTF Media Award merupakan sabuah ajang pengharagaan karya jurnalistik tentang program-program penanggulangan perubahana iklim, yang dberikan kepada jurnalis media cetak maupun olnline yang ikut berperan menyebarluaskan tentang perubahan iklim di Indonesia. 

Diusianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun, mas Jiwo sapaan akrabnya di laman website ini, telah menorehkan banyak prestasi, dan berjuta pengalaman di dunia kepenulisan. dihari kelahirannya ini saya hanya mendo'akan semoga segera mendapatkan pendamping hidup yang sholehah yang bisa mendukung karir dan masa depannya. ucapan terima kasih juga saya sampaikan, yang telah memberikan tempat sekaligus perpustakaan yang nyaman dirumah pribadinya selam dua tahun ini.  

Senin, 11 Maret 2019

Mengubah Tanggal Lahir di Ijazah

11:09:00 PM 2

Sumber : Me edit by Canva 

Bulan November merupakan bulan yang dikenal dengan bulan pahlawan yang mana didalamnya terdapat hari bersejarah yakni Hari Pahlawan. Pada setiap tanggal 10 November merupakan selalu diperingati sebagai hari pahlawan, hari pahlawan ini tidak lepas dari sebuah sejarah seruan resolusi Jihad oleh salah satu tokoh NU yakni Hadratussyeih KH. Hasyim Asy’ari, yang ditandai dengan pergerakan kaum santri di Jawa Timur memasuki Kota Surabaya untuk menyerang Penjajah, Kaum santri berlebur menjadi satu-kesatuan dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Komando Perang Soetomo atau yang lebih dikenal dengan Panggilan Bung Tomo, menyulutkan Semangat Nasionalisme dengan arahan Mbah Hasyim untuk mengumandangkan Takbir diakhir pidatonya agar semangat perjuangan Arek-arek Suroboyo dan sekitarnya menyala-nyala.
            Mungkin di Bulan November kita diingatkan dengan peristiwa tersebut, tetapi dibalik itu saya juga menemukan sesuatu dibulan Pahlawan ini yakni peristiwa tanggal lahir saya. Di dalam dokumen administrasi Resmi saya, baik Akte Kelahiran sampai Ijazah saya terlahir di Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia yakni Agustus, tepatnya di semua dokumen tersebut 09 Agustus 1994. Sementara saya baru tahu kalau bulan lahir yang sesungguhnya adalah bulan Pahlawan, Tepatnya Ahad Legi 28 November 1993/ 14 Jumadil Akhir 1414. Jadi dari tanggal lahir di Ijazah lebih Muda setahun dari tanggal lahir yang sebenarnya, bukan tanpa alasan terjadi kesalahan tanggal lahir tersebut. Ceritanya begini, jadi pada waktu saya masuk sekolah dasar (SD). Saya didaftarkan oleh kakek  yang lebih tahu tanggal dan bulan Hijriah atau penanggalan Jawa dalam tanggal lahir saya, akhirnya oleh guru di catatlah tanggalnya tersebut sesuai permintaan kakek saya, tanggal 09 Agustus 1994. Berjalannya waktu  setiap mengisi isian tanggal lahir pasti saya mengisi tanggal tersebut, sampai hampir lulus dari perkuliahan tanggal lahir itu kesemuanya tanggal 09 Agustus 1994. Entah apa yang membuat saya masih penasaran dengan tahun lahir saya, sehingga saya bertanya pada sepupu saya yang lahir lebih muda dari saya dia lahir di bulan januari 1994. Setelah saya Tanya sama orang tua saya, ternyata benar aku lebih tua dari sepupu saya. begitu kata mereka.
          Dengan rasa penasaran sebulan yang lalu saya bongkar-bongkar dokumen lama termasuk dokumen Buku nikah orangtua saya. Di halaman terakhir ada kolom kelahiran anak disana hanya ada tulisan “tanggal 28, 14 hari Ahad Legi dan Tahun 1994 , nama Holidi Tulisan Arab ”, nah dari tanggal lahir saya di akte Kelahiran kok tidak ada yang sama tanggalnya Cuma tahunnya cocok. Setelah melalui penelusuran Google, akhirnya saya menemukan tanggal lahir Ahad legi 28 dan 14 tersebut ditahun 1993, saya masih belum percaya dengan penelusuran google tersebut sampai saya minta bantuan calon Teman Hidup (asyekk), untuk menyelusuri di google, akhirnya temuannya tetap sama “Terima kasih Google”. Setelah saya konfirmasi kembali bulan kelahiran saudara yang lebih muda dari saya tersebut akhirnya saya percaya kalau saya benar-benar lahir 28 November 1993. Tetapi, tidak mungkin juga saya menghapus atau merubah semua dokumen administratif saya tersebut. jalan yang saya tempuh adalah mengingat dan mencatat saja tanggal lahir saya yang sebenarnya tersebut.
            Tanpa mengubah tanggal Lahir Ijazah, saya tetap menggunakan semua dokumen resmi administrasi saya. Karena kalau mengubah semuanya pasti akan memakan banyak waktu, tenaga dan lainnya. cukuplah disimpan dengan rapi data saya yang sesungguhnya tersebut. bagi yang menunggu info cara mengubah kolom tanggal lahir di Ijazah mohon maaf, belum bisa mendapatkan info tersebut. info tersebut bisa dilakukan di Dinas Pendidikan setempat dengan membawa KTP dan identitas lainnya. 
Mulai sekarang kalau ditanya kelahiran tahun berapa ? tetap tahun 1994 hehe. Kalau ditanya 2019 milih Presiden siapa? Rahasia hehehe