Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.
Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.
Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.
Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.
Jejak Para Pemimpin Bondowoso
| No. | Masa Jabatan | Nama/Jabatan |
|---|---|---|
| 1 | 1819–1830 | Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra) |
| 2 | 1830–1850 | Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra) |
| 3 | 1850–1866 | Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman) |
| 4 | 1866–1879 | Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman) |
| 5 | 1879–1891 | Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo |
| 6 | 1891–1908 | Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail) |
| 7 | 1908–1925 | Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro |
| 8 | 1925–1928 | Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo |
| 9 | 1928–1934 | Bupati RT. Prodjodininggrat |
| 10 | 1934–1938 | Bupati RT. Herman Hidajat |
| 11 | 1938–1945 | Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo |
| 12 | 1945–1946 | Bupati R. Soetandoko |
| 13 | 1946–1949 | Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo |
| 14 | 1949–1950 | Bupati RT. Badroes Sapari |
| 15 | 1950–1951 | Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo |
| 16 | 1951–1956 | Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo |
| 17 | 1957 | Bupati Soejarwo |
| 18 | 1957–1958 | Bupati R. Soetowo |
| 19 | 1958–1959 | Bupati Djomadi Moespan |
| 20 | 1959–1964 | Bupati Soetowo |
| 21 | 1964–1965 | Bupati Soemarto Partomihardjo |
| 22 | 1965–1973 | Bupati Mayor R. Arifin Djauharman |
| 23 | 1973–1978 | Bupati Kolonel R. Surono |
| 24 | 1978–1983 | Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi |
| 25 | 1983–1988 | Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai |
| 26 | 1988–1993 | Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa |
| 27 | 1993–1998 | Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa |
| 28 | 1998–2003 | Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si. |
| 29 | 2003–2008 | Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si. |
| 30 | 2008–2013 | Bupati H. Amin Said Husni |
| 31 | 2013–2018 | Bupati H. Amin Said Husni |
| 32 | 2018–2023 | Bupati KH. Salwa Arifin |
| 33 | 2025–2030 | Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag |
Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini
Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.
Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.
Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.
Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.
Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.
Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.
Jejak itu masih ada.
Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.
Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

