Tampilkan postingan dengan label Kuliner Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso: Menelusuri Sejarah Para Pemimpin Bondowoso

5:44:00 AM 0



Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis dan sejarah yang menarik. Kabupaten ini menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai.

Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.

Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.

Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.

Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.

Jejak Para Pemimpin Bondowoso

No.Masa JabatanNama/Jabatan
11819–1830Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra)
21830–1850Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra)
31850–1866Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
41866–1879Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
51879–1891Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo
61891–1908Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail)
71908–1925Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro
81925–1928Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo
91928–1934Bupati RT. Prodjodininggrat
101934–1938Bupati RT. Herman Hidajat
111938–1945Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo
121945–1946Bupati R. Soetandoko
131946–1949Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo
141949–1950Bupati RT. Badroes Sapari
151950–1951Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo
161951–1956Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo
171957Bupati Soejarwo
181957–1958Bupati R. Soetowo
191958–1959Bupati Djomadi Moespan
201959–1964Bupati Soetowo
211964–1965Bupati Soemarto Partomihardjo
221965–1973Bupati Mayor R. Arifin Djauharman
231973–1978Bupati Kolonel R. Surono
241978–1983Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi
251983–1988Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai
261988–1993Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
271993–1998Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
281998–2003Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
292003–2008Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
302008–2013Bupati H. Amin Said Husni
312013–2018Bupati H. Amin Said Husni
322018–2023Bupati KH. Salwa Arifin
332025–2030Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag

Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini

Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.

Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.

Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.

Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.

Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Jejak itu masih ada.

Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

Selasa, 16 Oktober 2018

Ngartis Di Aula Apung Universitas Indonesia

12:35:00 PM 0

            Tepat pada hari Rabu 8 Maret 2017 saya dapat undangan mendadak oleh temen Mapala UI, untuk mengisi acara mereka. Sementara acara mereka mulai tanggal 9 maret atau keesokan harinya, bagamana tidak kaget dapet undangan mendadak, untuk berangkat ke UI Depok. Sementara mereka ingin saya mengisi materi mengenalkan potensi wisata kawasan Ijen, tetapi saya merasa belum memiliki kapasitas untuk menyampaikan itu. akhirnya dengan kepala tenang saya melakukan konfirmasi ke Pak Hary Patriantono selaku kadisparpora Bondowoso, untuk menjadi pemateri di acara temen Mapala UI, namun dengan berat hati waktu itu beliau ada acara diklat kenaikan jabatan di pemprov. Akhirnya dengan perasaan nekat sayapun memutuskan berangkat. sebenarnya acaranya ini adalah serangkaian dari acara perjalanan panjang jelajah pegunungan ijen, dengan tema “Belantara Ijen” yang disi dengan pameran foto, talkshow dan acaranya keren lainnya. oleh karena itu ini kesempatan emas untuk mengenalkakan potensi lain dari diskitar Kawasan Ijen melalui jalur tradisional yakni Bondowoso. Akan saya awali dengan beberapa cerita perjalanan mendadak yang banyak menyita waktu, tenaga , pikiran dan biaya.

Masih di hari Rabu, saya ditelpon oleh salah satu narahubung acara belanatara ijen, dia meminta kepada saya untuk membawa kopi untuk di display pada acara tersebut, dengan keadaan stok kopi di tempat pemasaran dalam keadaan offer stok, dan saya terdesak untuk berangkat hari kamisnya, tetapi saya menolak agar diundur Karena stok kopi sudah habis, akhirnya saya memutuskan mengambil kopi di petani, agar bisa memenuhi permintaan mereka. akhirnya kamis pagi saya berangkat untuk mengambil kopi di Petani tetapi baru ketemu petani sekitar Jam 2 Siang, dengan dikejar waktu akhirnya ambil kopi dengan menelan biaya yang cukup tinggi dan itupun masih membawa kopi rakyat dengan hutang dulu. Akhirnya diberikan dan dengan waktu yang terkejar karena harus berangkat Jum’at pagi. Dengan keadaan itu saya mencoba tenang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, mengingat perjalanan Bondowoso-Jember dengan keadaan tenaga sudah mulai tersita dan membawa kopi ke Jember untuk di packing, hingga packingnya memakan waktu hingga larut malam sekitar jam 01;00, karena hari itu  bertepatnya juga dengan salah satu ulang tahun sahabat saya , akhirnya jam satu nyamperin dia dikosan tetapi dia tidak ada, akhirnya balik lagi ke tempat packing. Sekitar jam 02;30, saya mulai terlelap karena besok paginya harus berangkat pagi. Akhirnya sudah beres semua untuk berangkat keesokan harinya.

            Jam dinding menunjukkan Jam 4.30 pagi, mata sudah terbangun dengan persiapan kopi yang di pakcing rapi dengan kardus dan dengan rasa lelah 1 hari penuh dengan tenaga yang tersisa, saya bangkit untuk berangkat ke Jakarta. Perjalanan kereta Jember-Jakarta tidak ada, saya  transit kereta di Purwakarta menuju stasiun Pasar senen. Sesampainya di stasiun pasar senen, dengan barang bawaan cukup banyak. Seperti orang mau mudik. Saya di jemput oleh salah satu calon anggota baru Mapala UI saat itu, yaitu Ghazi. Saya dijemput ke stasiun pasar senen dengan teman-teman kosnya, yang saya ingat saat itu nama temannya adalah Anis dan Abdul selebihnya saya lupa. Dengan keadaan Jakarta dan Depok malam hari yang terasa masih pukul sebelas malam kalau di Jember, saya di bawa menginap di kosannya Ghazi dan di kamarnya Anies sebagai tempat istirahat malam itu. Setelah itu pagi harinya saya di bawa ke skretariat MAPALA UI, terlebih dahulu.
Skertariat MAPALA UI

            Skretariat Mapala UI ini berada di sekitar danau yang memisah antara Fakultas Sastra dan Fakultas MIPA UI, yang dihubungkan dengan jembatan besi. berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA). Skretariat ini juga penuh dengan alat-alat yang berkaitan dengan Kepecinta alaman. Dari buku tua sampai alat untuk mendaki yang melegenda juga berada disana. Kalau mau disebut museum pendaki Indonesia cukup mewakililah. Yang membuat saya kaget waktu itu, pertama kali masuk kes skretariat Mapala UI melihat gambar yang cukup besar menghias dindingnya, setelah saya lihat dan baca quotesnya, ternyata digambar itu adalah Soe Hok Gie, dia alumni Fakultas Sastra UI dan merupakan salah satu orang yang mendirikan Mapala UI. Dia adalah seorang aktivis yang selalu mengkritisi pemerintah pada eranya. Dia adalah seorang tokoh pergerakan yang sangat nasionalis. Hingga saat ini nama Gie, masih melekat namanya di teman-teman aktivis. Gie meninggal dunia di puncak semeru dengan berbagai cerita. 
Sumber : www.goodreads.com

Lebih lengkapnya bisa baca sosok gie di Internet dan buku-buku, salah satunya terbitan TEMPO Edisi tokoh. 

Diskertatariat itu saya berjumpa dengan salah satu putra daerah dari Jember namanya Firman. Dan saya sedikit berdiskusi tentang Jember dengan dia,  menggunakan bahasa Madura dan menjadi pusat perhatian teman-teman disana. Dan saya juga berjumpa dengan putra daerah dari Lumajang, lupa namanya. Tetapi tidak begitu banyak diskusi dengan dia. diskertariat saya lanjut ke Aula Apung untuk menyampaikan misi, memperkenalkan potensi wisata dan potensi lainnya di kawasan lereng Ijen.

Tunggu cerita saya selanjutnya 

Jumat, 16 Maret 2018

Mendadak Survei: Jadi Pergi Berlibur Ke Kota Batu

10:04:00 PM 0


Selamat pagi, semoga kita masih menjadi manusia yang selalu bersyukur.
                Kali ini, saya akan bercerita perjalanan bekerja sebagai surveyor salah satu Lembaga survei dan sekaligus berwisata gratis ala surveyor.  Tepatnya pada tahun 2016, saya bersama sahabat-sahabat koerawa mendadak survei ke salah satu kota yang dikenal dengan kota wisata yaitu Kota Batu. Kota yang terletak di Malang Raya ini, merupakan kota yang baru saja di bangun dan baru saja berdiri sebagai kota. nah, waktu itu kita mendadak survei kesana untuk pelayan publik dan masalah sosial yang terjadi disana. Kita ditugaskan oleh salah satu lembaga survei swasta, dengan gaji cukup buat seorang mahasiswa tingkat galau waktu itu.

                Sehari sebelum kita berangkat, kita diberi kabar oleh satu sahabat kita di koerawa kalau mau ada survei ke kota Batu. Setelah itu, kita semua mendaftar kecuali beberapa yang tidak ikut mendadak survei. Kita training untuk melakukan survei setelah itu ternyata kita tandom kerjanya, jadi satu desa dua surveyor. Dan pada akhirnya Kita berangkat bareng ke Batu menggunakan Bis Akas Malang-Jember. waktu itu kita sempatkan dulu berswafoto di dalam bis, kita berangkat bertujuh yang salah satunya merupakan surveyor sejati diantara sahabat-sahabat koerawa yang lain yaitu si jangkung Fahmi. Kebetulan saya pada saat itu tandem dengan salah satu surveyor cewek dari kota lain. Dengan membawa kuesioner dan hadiah untuk responden berupa kaus, saya berangkat dari Jember dengan 20 kuesioner di dalam tas dan 20 lembar kaus di tangan.
Rekan Tandem

                Sesampainya di kota Malang, saya masih mencari tempat beristirahat sejenak sebelum berangkat ke Desa yang di tuju. Kebetulan waktu itu saya diajak ke kontrakan temennya Bli Irham yang waktu itu kontrakannya deket UMM. Dengan rasa lelah Jember-Malang, kita masih istirahat meluruskan otot yang tegang. Pada akhirnya, kita sudah siap tempur untuk turun ke desa masing -masing.  Kalau tidak salah waktu itu bli Irham ke daerah Tretes, sementara saya berangkat ke Desa Tulungrejo Kecamatan Bumi aji. Kita berpencar kesemuanya mulai melakukan rekam data ke balai desa, bahkan ada yang di tolak meminta surat dari bakesbangpol kota batu, sementara waktu itu kita sudah memiliki surat ijin dari bakesbangpol Jawa Timur. Dengan perasaan capek kita meloby perangkat desa, mereka masih ngotot minta surat dari  Bakesbangpol Kota Batu. Akhinya saya berangkat ke balai kota untuk meminta kepada tim yang telah mengurus disana. akhirnya dengan perasaaan lega kita dapat meloby perangkat desa dengan menghubungi kepala desa langsung dan yang menjadi pihak lobiying saat itu temen tandem saya yang cewek tersebut.

                Setelah itu kita mulai mengacak Dusun untuk dibagi menjadi dua dengan tandem saya. Akhirnya kita mendapatkan lokasi yang akan menjadi objek dan responden kita. tetapi hari telah sore, dengan secepatnya saya dan kawan tandem saya, yang waktu itu saya belum tau asalnya darimana dan namanya siapa, ikut saya mencari tempat berteduh untuk beberapa hari ke depan. Kita menuju rumah Kasun yang berada tidak jauh dari Selecta. Selecta merupakan tempat wisata yang terkenal di kota Batu. Tepatnya dirumah pak kasun Khamim, orangnya tinggi besar dan kasun yang perlu di contoh oleh kasun dikota saya mungkin. Akhirnya, kita di terima langsung oleh beliau, beliau merupakan kasun yang memiliki jiwa politik yang tinggi dan juga pengusaha.
Visi dan Misi Perusahaan Roti Pak Kasun

                Waktu itu, kita dipersilahkan menempati rumah ketiganya. Untuk beberapa hari kedepan dengan ditemani oleh Sam Wawan yang waktu penuh tato di tubuhnya, tetapi dia baik banget. Dia mengatakan dia menyukai seni tattoo, tapi sudut pandangku waktu itu orang bertatto pasti orang gak bener, tetapi sejak itu saya baru menyadari bahwa otak saya selama ini sakit, mengenal orang Cuma melalui penampilan dhohirnya. Mas wawan mempersilahkan kita untuk memilih kamarnya, yang kebetulan waktu itu rumah tersebut juga sebagai tempat produksi kripik Apel. Ya, pak kasun Khamim ini merupakan kasun sekaligus pengusaha beberapa usaha, dari kontraktor sampai produksi makanan. Tiga rumah yang di miliki itu, dua diantaranya merupakan rumah usahanya. Rumahnya berdekatan, antra satu dengan yang lain, Rumah utama merupakan rumah untuk pak kasun sekeluarga dan yang dua rumah produksinya merupakan tempat memproduksi kripik dan roti.

Merek Roti Milik Pak Kasun

                Pagi selepas jam tujuh waktu itu, datang beberapa ibu-ibu dengan membawa pisau kecil untuk mengupas kulit apel di rumah yang saya tempati semalam tersebut. Tidak lupa saya mengabadikan moment tersebut. di tempat ini yang menjadi penaggung jawab produksi adalah mas wawan, mas wawan yang mengatur beberapa kegiatan disini dengan di temani beberapa karyawan lainnya di produksi. Dalam produksi keripik ini ada sisi pemberdayaan ibu-ibu lanjut yang menjadi pekerja harian di dalam produksi ini. waktu itu saya tidak bertanya berapa gaji mereka, tetapi waktu yang terlintas bagi otak saya adalah bagaimana saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan seperti pak khamim tersebut. selepas dari rumah respon yang dekat-dekat, malam hari itu saya diajak mas wawan untuk melihat langsung prosuksi diruangan belakang dan sekaligus menikmati kripik apel sepuasnya. Waktu itu saya di tunjukkan satu persatu prosesnya dari pencucian sampai bisa di nikmati dan menjadi oelh-oleh khas kota Wisata Batu.
Ibu-ibu yang asyik mengupas Apel

                Selepas itu, saya juga dipersilahkan oleh Pak Khamim untuk melihat usaha yang di rumah keduanya yaitu Roti. Roti tersebut bermerek Roterdam yang beralamatkan Jalan Selecta Kota Batu. Saya masuk ke bagian gudang tepung yang berada dia lantas atas dan masuk ke ruang produksi di bawah, kebetulan rumahnya ini berada di bukit, jadi ruang produksinya berada di bawah. Saya melihat bagaimana prosesnya sampai di kemas dengan higenis. Setelah saya Tanya sudah sampai mana produknya tersebut, ternyata sudah sampai ke luar kota Batu dan Malang. Di rumah produksi Roti ini, banyak karyawan laki-laki beda dengan di rumah produksi kripiknya. Mungkin karena yang memiliki usaha roti ini atas nama Pak Khamim dan Produksi kripik kata pak khamim di pasrah kepada sang istri.  Setelah itu, berlanjut menjelaskan beberapa visi misi perusahaannya dan beberapa tujuan yang ingin memberdayakan orang-orang sekitarnya.
Perusahaan Roti Pak Kasun

                Dua hari telah berlalu di lokasi dusun dekat saya tinggal, saya masih memiliki tugas mewawancarai dua responden di Dusun terjauh yakni Dusun Wonorejo yang berada di jalan menuju Wisata Coban Talun. Dari dusun dekat balai Tulungrejo rumah pak Khamim tersebut, saya berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilo meter. Waktu itu mau naik ojek eman uangnya sudah mepet. Akhirnya berjalan kaki sejauh itu, tetapi kurang sepertiga perjalan bertemu bapak yang baik hati, dengan mempersilahkan bonceng sampai ke dusun Wonorejo. Akhirnya, saya sampai disana sekitar jam dua siang, akhirnya saya mengacak siapa yang mau diwawancarai, dengan cuaca dingin kota Batu kalau sudah menjelang malam, mulai terasa. Saya memewancai baru selesai sekitar jam delapan malam, dengan cuaca berkabut disana, akhirnya saya memutuskan untuk tidur di Masjid terdekat. Karena, sampai saat ini, tempat teraman sepanjang berkelana adalah masjid. Meskipun akhir-akhir ini masih terjadi kekerasan dirumah ibadah, Tetapi waktu itu tidak.  Saya berpamitan untuk tinggal di masjid tersebut ke RT setempat, tetapi malah waktu itu diajak ngobrol dan di suguhi apel segar malam-malam dengan suasana dinginnya Kota Batu dan makanan ringan bernuansa pedesaan. Kita ngobrol sampai kira-kira sampai jam 9, akhirnya dengan besar hati dan baik hati saya diantarkan oleh pak RT Tersebut kerumah Pak Khamim, karena keesokan harinya saya harus menyelesaikan di dusun yang berada di tengah, karena mengejar target juga. Akhirnya, sesampainya di rumah produksi kripik apel tersebut sudah di siapkan nasi Goreng dan teh panas yang mulai dingin karena sejuknya kota Batu.
 Bahan Kripik Apel

                Kamipun makan bersama di akhir malam-malam bersama sebelum besok siang cabut, untuk cleaning data bersama bang Muhlisin. Bercerita banyak dengan mas wawan dan rekan tandem saya sampai larut malam, banyak yang kita bicarakan mulai produksi sampai masalah tattoo sebagai seni. Dengan keadaaan malam yang dingin itu, aku masih menyempatkan untuk ke tempat produksi lagi dibelakang  menemani mas wawan. Dengan mesin berkapasitas kurang lebih 20 liter minyak nabati.
 Tulungrejo

                Mentaripun meyingsing, pagi saat itu seakan menjadi hal yang indah dikota orang dengan beban survei masih belum rampung keseluruhan. Setelah sarapan saya berpamitan kepada Pak Khamim dan keluarga di Rumah utama untuk melanjutkan di dusun yang belum selesai sekaligus pamit untuk pulang ke Jember. kamipun masih di suruh membawa beberapa apel segar untuk cemilan, dengan sigap saya memasukkan apel-apel segar tersebut ke dalam tas saya yang mulai luas, karena kuesioner sudah berkurang dan kaus sudah tinggal beberapa.
Desa Sejuta Apel

        Setelah saya pamit, HP saya bunyi ternyata kabar dari sahabat-sahabat koerawa mereka sudah selesai dan beberapa yang lainnya tinggal satu. Saya mengabari mereka kalau punya saya masih tinggal beberapa, karena kendala tidak ada kendaraan. Akhirnya mereka yang selesai, meyusul saya dengan membawa kendaraan pribadi. Fauzi, lian dan Bli Irham ketempat saya. Kebetulan pas telpon saya lagi berada dirumah responden, yang kebetulan juga saya harus bersuara lirih menerima telpon dari mereka. Akhirnya mereka dengan rasa khawatir mereka menjemput saya. Tapi waktu itu saya lagi menikmati buah apel dan beberapa buah hasil kebun responden. Kebetulan yang saya wawancarai anak SMA kelas tiga waktu itu, mereka datang lalu dengan suara lirih ketelinga saya bilang “ tak Kiro wes smaput kon, suaramu barusan seperti orang mari smaput, malah wawancarai wedok ayu  kon iki”. Saya Cuma bisa senyum kecil ke mereka. Oiya ada yang lupa, kota batu ini merupakan tempat pejuang HAM Munir, disana saat ini berada Omah Munir yang terletak di kanan jalan dari arah kota Batu Menuju Rumah Pak khamim.
Akhirnya semua telah selesai, kitapun berempat balik ke kota dan melakukan cleaning data. Tidak lupa kita masih mampir ke ketan legenda yang antrinya  Masyallah. Kita mulai kembali berkemas diri untuk balik lagi malam itu ke jember, tetapi kita putuskan balik pagi hari, malah itu kita menginap di rumah saudara dan teman-teman kenalan di Malang.
                Perjalan ini sunggguh berkesan bagi saya, banyak pelajaran dan tentunya ini yang dinamakan mendadak survei dan traveling gratis ala surveyor.  Terima Kasih Saiful Mujani, Ngalam,Kota Batu, Pak Kasun Khamim, Pak Amri Selecta, Pak RT di Wonorejo, responden dan semua pihak yang telah berbuat baik pada saat itu. kapan-kapan saya kesana lagi, Insyallah dengan cerita berbeda.

Batu, itu namamu.
Kota dengan seribu cerita.
Meskipun, hanya beberapa hari aku berada di pelukanmu.
Kota Wisata, Julukanmu.
Penuh inspirasi yang tumbuh dalam otakku ketika aku menyertaimu.
Omah munir, menjadi saksi bahwa kamu kota pahlawan HAM.
Roti Roterdam Dan Kripik Apel, menjadi saksi bahwa kamu kota berdikari.
Batu, itu namamu.
Alam nan indah, elok menawan hati.
Dinginmu, seakan menyihirku untuk memelukmu.
Batu, baik-baiklah dengan pemimpin barumu.
Suatu saat aku akan kembali menyambangimu dengan cerita baru.