Tampilkan postingan dengan label Sastra dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Belajar Bercerita Bersama Kak Bimo: Ketika Waktu Menemukan Jodohnya

11:10:00 PM 0

 

“Waktu itu ada jodohnya.”

Mungkin ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan perjumpaan saya dengan seorang maestro dongeng yang selama ini hanya saya kenal melalui cerita, video, dan karya-karyanya. Tepat pada 19 September 2026, akhirnya saya berjumpa langsung dengan Kak Bimo, seorang trainer, motivator, dan dikenal luas sebagai master dongeng nasional.  Bagi sebagian orang, perjumpaan itu mungkin hanya sebuah pertemuan biasa dalam sebuah pelatihan. Tetapi bagi saya, ada cerita panjang di baliknya.

Saya memang sengaja datang. Saya mengikuti pelatihan bercerita bersama Kak Bimo yang diinisiasi oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Cabang Bondowoso bersama IGTKI Bondowoso. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas guru TK, SD, RA, MI, PAUD, dan para pendidik lainnya. Di antara ratusan peserta itu, mungkin saya termasuk salah satu yang agak “berbeda”.

Saya bukan guru resmi.Setidaknya bukan guru yang setiap pagi memakai seragam, masuk kelas dengan daftar hadir, kemudian pulang setelah bel berbunyi. Saya mengajar secara lepas. Di mana ada ruang, di situ saya bisa belajar dan mengajar. Saya memiliki sebuah ruang belajar sederhana bernama Sakola Pekarangan. Sebuah ruang belajar nonformal yang saya bayangkan sebagai tempat siapa saja boleh menjadi guru dan siapa saja boleh menjadi murid. Karena bagi saya, belajar tidak selalu harus menunggu ruang kelas. dan guru tidak selalu harus berdiri di depan papan tulis.

Beruntung Bisa Duduk di Tengah Para Guru

Terus terang, saya merasa sangat terhormat berada di tengah ratusan guru yang hadir dalam pelatihan tersebut.Saya melihat para pendidik yang setiap hari berhadapan dengan anak-anak.Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga ikut membentuk karakter, imajinasi, keberanian, dan cara anak memandang dunia. Saya datang sebagai pembelajar.Dan mungkin justru karena itulah saya bisa duduk dengan tenang, mendengarkan, mencatat, dan menikmati setiap materi.

Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebab sebenarnya saya sudah cukup lama menantikan perjumpaan dengan Kak Bimo. Bahkan pernah terlintas dalam pikiran saya untuk datang ke Yogyakarta hanya untuk bisa bertemu dan belajar langsung kepada beliau. Tetapi ternyata waktu memang punya jodohnya. Saya tidak perlu pergi jauh ke Yogyakarta. Kak Bimo justru datang ke Bondowoso. Dan saya dipertemukan dengannya dalam sebuah ruang pelatihan.

Ilmunya “Daging” Semua

Ada satu kesan yang paling kuat saya rasakan setelah mengikuti pelatihan kemarin:Ilmunya daging semua. Bukan sekadar teori. Bukan sekadar motivasi. Bukan pula pelatihan yang membuat peserta duduk, mendengarkan, kemudian pulang membawa sertifikat. Sejak materi dimulai sampai praktik berlangsung, peserta seperti tidak ingin beranjak dari tempat duduk. Ada yang tertawa, Ada yang mencoba, Ada yang salah, Ada yang malu, Ada yang kemudian berani tampil.Dan di situlah saya merasakan bahwa bercerita ternyata bukan sekadar membuka mulut dan mengucapkan kalimat.

Bercerita adalah seni.

Ada teknik.

Ada penghayatan.

Ada ekspresi.

Ada suara.

Ada gerak tubuh.

Ada ritme.

Dan yang paling penting, ada kemampuan untuk membawa orang lain masuk ke dalam cerita.

Cerita, Dongeng, dan Kisah Ternyata Berbeda

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah ketika Kak Bimo mengajak peserta memahami perbedaan antara cerita, dongeng, dan kisah. Selama ini mungkin kita sering menggunakan ketiga istilah tersebut secara bergaantian, cerita merupakan rangkain peristiwa yang disampaikan secara utuh, sementara dongeng adalah karangan fiktif yang tidak benar-benar terjadi didunia nyata sementara kisah adalah cerita atau kejadian yang benar-benar terjadi baik pengalaman hidup atau sebuah peristiwa,

Saya kemudian berpikir: Ternyata selama ini saya banyak bercerita, tetapi belum tentu memahami hakikat bercerita. Ini seperti seseorang yang setiap hari memasak, tetapi belum tentu memahami ilmu memasak.Bisa memasak, tetapi belum tentu tahu mengapa sebuah bumbu harus dimasukkan lebih dahulu dan bumbu lainnya belakangan.Begitu pula dengan bercerita.Kita bisa bercerita.Tetapi untuk membuat orang lain tertarik, terlibat, tertawa, terharu, bahkan mengingat cerita, ternyata ada ilmunya.

Membongkar Dunia Dongeng

Materi berikutnya yang membuat saya semakin tertarik adalah ketika dongeng diurai menjadi beberapa jenis.

Kami belajar tentang:

1. Mitos

Cerita yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan atau berkaitan dengan asal-usul tertentu.

2. Legenda

Cerita yang berkembang di masyarakat dan biasanya dikaitkan dengan asal-usul suatu tempat, tokoh, atau peristiwa.

3. Hikayat

Cerita tradisional yang banyak berkembang dalam khazanah sastra lama dan sering berkaitan dengan kehidupan raja, kepahlawanan, atau tokoh luar biasa.

4. Fabel

Cerita yang menggunakan tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia dan biasanya membawa pesan moral.

5. Sage

Cerita yang berkaitan dengan kepahlawanan atau tokoh sejarah yang berkembang dalam tradisi masyarakat dan kemudian diwariskan sebagai cerita.

6. Epos

Cerita panjang yang mengangkat kepahlawanan, perjuangan, atau perjalanan besar seorang tokoh.

7. Parabel

Cerita yang menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan pesan atau nilai tertentu.

Ternyata dunia dongeng begitu luas, selama ini saya mengira dongeng hanyalah cerita untuk anak-anak sebelum tidur, ternyata tidak sesederhana itu. Dongeng adalah bagian dari kebudayaan manusia.

Ia membawa ingatan.

Ia membawa nilai.

Ia membawa pesan.

Bahkan bisa menjadi cara sebuah masyarakat mewariskan pandangan hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ketika Tubuh Ikut Bercerita

Hal lain yang membuat saya semakin menikmati pelatihan tersebut adalah materi praktik.Kak Bimo tidak hanya menjelaskan bagaimana menyusun atau membawakan cerita. Kami juga diajak mempraktikkan gestur atau olah gerak dan olah suara. Di sinilah saya baru benar-benar merasakan bahwa seorang pendongeng ternyata bekerja dengan seluruh tubuhnya.Tangan bisa berbicara.Mata bisa berbicara.Wajah bisa berbicara.Cara berdiri bisa berbicara. Bahkan diam pun bisa menjadi bagian dari cerita.Kemudian suara.Suara bukan hanya soal keras atau pelan.

Ada tekanan.

Ada tempo.

Ada jeda.

Ada karakter.

Ada perubahan suasana.

Suara seorang raksasa tentu tidak harus sama dengan suara seekor anak kecil.

Suara tokoh yang sedang marah tentu berbeda dengan tokoh yang sedang ketakutan.

Dan seorang pendongeng harus mampu membawa semua karakter itu hidup di hadapan penonton.

Saya jadi teringat:

Ternyata ketika bercerita, kita bukan hanya menyampaikan kata-kata. Kita menghidupkan kata-kata.

Saya Bukan Guru, Tetapi Saya Ingin Terus Belajar

Ada satu hal yang saya rasakan kuat dalam pelatihan itu.Saya mungkin bukan guru resmi.

Tetapi saya selalu ingin belajar menjadi manusia yang bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Sakola Pekarangan yang saya jalankan juga lahir dari semangat itu.

Saya percaya bahwa pendidikan tidak harus selalu berada di gedung sekolah.

Belajar bisa berlangsung di halaman.

Di kebun.

Di teras rumah.

Di bawah pohon.

Di warung.

Di ruang komunitas.

Bahkan di tempat-tempat yang tidak pernah kita sebut sebagai sekolah.

Dan bercerita adalah salah satu cara paling sederhana untuk membuka pintu belajar.

Sebuah cerita bisa membuat anak bertanya.

Pertanyaan membuat anak berpikir.

Berpikir membuat anak ingin tahu.

Dan rasa ingin tahu adalah salah satu pintu menuju pengetahuan.

Pertemuan yang Sudah Lama Ditunggu

Ketika pelatihan selesai, saya semakin menyadari bahwa pertemuan dengan Kak Bimo bukan sekadar pertemuan antara seorang peserta dan trainer.

Bagi saya, ini adalah pertemuan dengan sebuah penantian.

Ada banyak hal yang ingin saya pelajari.

Ada banyak hal yang selama ini hanya saya bayangkan.

Dan akhirnya kesempatan itu datang.

Bukan di Yogyakarta.

Bukan di tempat yang jauh.

Tetapi di Bondowoso.

Di sebuah ruang yang dipenuhi para guru.

Di sana saya duduk sebagai pembelajar.

Mendengarkan.

Mencatat.

Tertawa.

Berlatih.

Dan sesekali merasa malu ketika harus mempraktikkan gerakan atau suara.

Tetapi justru di situlah belajar terasa hidup.

Terima Kasih Kak Bimo

Saya berterima kasih kepada Kak Bimo atas ilmu yang dibagikan.

Bukan hanya karena saya akhirnya bisa bertemu dengan sosok yang selama ini ingin saya temui.

Tetapi karena pertemuan tersebut kembali mengingatkan saya bahwa menjadi pembelajar tidak mengenal usia dan status.

Saya datang bukan sebagai guru.

Saya datang sebagai murid.

Dan ternyata menjadi murid adalah sesuatu yang menyenangkan.

Saya juga berterima kasih kepada YDSF Cabang Bondowoso dan IGTKI Bondowoso yang telah menghadirkan ruang belajar tersebut.

Saya merasa beruntung bisa berada di tengah para guru hebat.

Saya belajar dari Kak Bimo.

Tetapi saya juga belajar dari para peserta.

Tentang kesungguhan.

Tentang keberanian.

Tentang bagaimana seorang guru terus belajar meskipun setiap hari dirinya sendiri menjadi tempat orang lain belajar.

Waktu Memang Ada Jodohnya

Mungkin benar.

Waktu memang ada jodohnya.

Ada orang yang kita tunggu bertahun-tahun, tetapi baru bisa bertemu ketika waktunya tiba.

Ada ilmu yang ingin kita pelajari, tetapi baru datang ketika kita benar-benar siap menerimanya.

Ada pertemuan yang kita rencanakan, tetapi Tuhan mempertemukannya melalui jalan yang tidak pernah kita duga.

Saya pernah ingin pergi ke Yogyakarta untuk bertemu Kak Bimo.

Ternyata tidak perlu.

Kak Bimo datang ke Bondowoso.

Dan saya datang sebagai peserta pelatihan.

Sederhana.

Tetapi berkesan.

Mungkin beginilah cara waktu menemukan jodohnya.

Bukan selalu seperti yang kita rencanakan.

Tetapi seperti yang akhirnya terjadi.

Pulang Membawa Cerita

Saya pulang dari pelatihan itu bukan hanya membawa sertifikat.

Saya membawa sesuatu yang jauh lebih penting:

semangat untuk terus bercerita.

Saya ingin membawa ilmu itu ke ruang-ruang kecil tempat saya mengajar.

Ke Sakola Pekarangan.

Ke anak-anak.

Ke masyarakat.

Ke siapa pun yang mau belajar.

Sebab mungkin suatu hari nanti, dari sebuah cerita sederhana yang kita sampaikan kepada seorang anak, lahir sebuah keberanian.

Dari sebuah dongeng, lahir imajinasi.

Dari sebuah kisah, lahir karakter.

Dan dari seorang pendongeng, lahir generasi yang mencintai cerita dan pengetahuan.

Kak Bimo mungkin telah bertemu dengan ratusan peserta pada hari itu.

Tetapi bagi saya, pertemuan itu akan saya simpan sebagai salah satu cerita penting dalam perjalanan belajar.

Sebuah cerita tentang guru dan murid.

Tentang dongeng dan kehidupan.

Tentang penantian dan pertemuan.

Dan tentu saja...

tentang waktu yang akhirnya menemukan jodohnya.

19 September 2026.

Hari ketika saya akhirnya bisa berkata:

“Saya pernah belajar bercerita langsung bersama Kak Bimo.”

Dan sekarang...

saatnya saya membawa cerita itu pulang.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso: Menelusuri Sejarah Para Pemimpin Bondowoso

5:44:00 AM 0



Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis dan sejarah yang menarik. Kabupaten ini menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai.

Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.

Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.

Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.

Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.

Jejak Para Pemimpin Bondowoso

No.Masa JabatanNama/Jabatan
11819–1830Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra)
21830–1850Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra)
31850–1866Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
41866–1879Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
51879–1891Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo
61891–1908Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail)
71908–1925Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro
81925–1928Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo
91928–1934Bupati RT. Prodjodininggrat
101934–1938Bupati RT. Herman Hidajat
111938–1945Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo
121945–1946Bupati R. Soetandoko
131946–1949Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo
141949–1950Bupati RT. Badroes Sapari
151950–1951Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo
161951–1956Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo
171957Bupati Soejarwo
181957–1958Bupati R. Soetowo
191958–1959Bupati Djomadi Moespan
201959–1964Bupati Soetowo
211964–1965Bupati Soemarto Partomihardjo
221965–1973Bupati Mayor R. Arifin Djauharman
231973–1978Bupati Kolonel R. Surono
241978–1983Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi
251983–1988Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai
261988–1993Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
271993–1998Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
281998–2003Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
292003–2008Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
302008–2013Bupati H. Amin Said Husni
312013–2018Bupati H. Amin Said Husni
322018–2023Bupati KH. Salwa Arifin
332025–2030Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag

Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini

Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.

Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.

Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.

Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.

Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Jejak itu masih ada.

Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

Sabtu, 29 Juni 2019

Banyak Orang Tau "Carok" Madura tapi tak Paham Lebih Dalam!

2:42:00 AM 0
Photo By Me, Edit By Canva

Madura merupakan sebuah pulau yang berada di sebelah Ibukota  Jawa Timur, Surabaya yang dihubungkan dengan Jembatan Terpanjang yang memebelah selat Madura yakni Jembatan Suramadu. Pulau Madura memiliki Empat kabupaten yang terbentang dari ujung Timur sampai Ujung Barat  dan merupakan tempat lahirnya Ulama Khos yang menjadi Guru dari dua pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia yakni syeikhona Kiyai Muhammad Kholil di kabupaten Bangkalan. Selain itu di ujung barat juga ada keraton Asta tenggi di Kabupaten Sumenep serta Sayyid Yusuf di Talango. Masyarakat Madura di Tanah kelahirannya memiliki ke khasan khusus yakni bisa dilihat dari tata letak rumah yang memiliki halaman memanjang atau yang disebut “Tanean Lanjheng” dan disebelah barat ada Musholla atau langgar yang digunakan untuk sarana peribadahan mereka serta tempat berkumpul keluarga besar. Rumah memanjang merupakan sebuah identitas masyarakat Madura menjaga anak cucu, karena biasanya dalam satu Pekarangan terdapat beberapa rumah sanak  saudara dan keluarga besar.

Posisi Perempuan di Madura

Perempuan memiliki penghargaan tertinggi di dalam adat dan budaya Madura, mereka menjadi perhiasan dalam keluarga sehingga tak jarang remaja perempuan yang telah beranjak dewasa sangat di jaga oleh orang tuanya. Bahkan sedari lulus SD mereka dikirim ke pondok yang sangat ketat aturannya agar terlindungi dan salah satu cara melindungi serta memberikan pengetahuan pada anak sebagai bekal menuju kehidupan ke depan. Selain penghargaan terhadap anak remaja perempuan yang luar biasa, penghargaan terhadap wanita juga tercermin dari salah satu perilaku dalam memposisikan seorang istri menjadi seorang yang sangat spesial setelah “bepak, Ibu’, guruh, Ratoh” yang artinya posisi itu menjadi spesial setelah bapak, ibu, guru dan pemimpin.

 Lebbhi Bhegus Pote Tolang , Etembheng Pote Mata 

Pun penghargaan tertinggi juga bisa dilihat dari grafik tertinggi duel sampai mati atau “carok”  di pulau Madura disebabkan oleh diganggunya seorang perempuan seperti anak perempuan terlebih istri mereka, terjadinya carok juga sebagai sebuah perlawan membela diri karena perempuannya di ganggu oleh pihak ketiga, karena dalam diri orang Madura mengganggu perempuannya merupakan penghinaan terhadap harga diri seorang laki-laki. hal ini juga di Tulis oleh salah satu akademisi Madura, A. Latief Wiyata dalam bukunya yang berjudul "Carok" bahwa angka tertinggi terjadinya carok karena permasalahan perempuan, karena orang Madura memiliki prinsip yang mengatakan" Lebbhi bagus pote tolang etembheng pote mata “ maksudnya lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu. Ungkapan ini berlaku demi untuk mempertahankan martabat, hak dan harga diri sebagai orang Madura Dan biasanya timbulnya perselisihan tidak lepas dari permasalahan Perempuan dan Lingkungan. Selain penyebab tertinggi carok karena permasalahan posisi perempuan, juga karena warisan , pemilihan kepala desa atau klebun. Tetapi, lambat laut Carok mulai bisa diminimalisir dengan adanya penengah dari Tokoh agama, karena mereka sangat menghormati tokoh agama atau kiyai, dan masyarakat Meninggalkan Carok karena tingkat kesadaran dan kedewasaan dalam berfikir.  Bagi saya sebagai keturunan keempat dari Madura Asli, dulunya juga merasakan ketakutan kalau sudah mendengar kata Carok di Tanah nenek Moyang saya itu. Tetapi, saya dipahamkan dengan karakter yang juga melekat dengan gaya bicara yang keras dan nyaring serta semua budaya, perilaku orang Madura, sayapun yang tinggal dan lahir di Jawa gaya bicarapun masih sama dengan Tretan saya di Pulau Garam tersebut.

Stereotipe Terhadap Orang Madura

Mungkin itu yang menjadikan kami suku Madura disebutkan keras oleh banyak pihak, bahkan pernah ada kawan saya keturunan Madura tidak mau disebut keturunan orang Madura. Stereotipe itu melekat kepada kami Keturunan Madura yang sudah terlahir dan bermukim di Jawa bahkan mungkin di Luar Negeri. Bahkan saking keras gaya bicara kami, sempat suatu ketika seorang teman pergi ke kota Saya di Bondowoso melihat orang Madura berinterikasi dengan memakai bahasa Madura, dia meminta melerai dua orang tersebut ia menyangka sedang bertikai, saya maklumi Ia terlahir dan besar di Jawa tengah dan saya bilang kalau itu bicara biasa, dan setelah saya tanyakan memang teman saya itu hampir jarang berinterkasi dengan orang Madura sebelum ia Rantau ke Kota Jember.
 Ada juga kejadian yang membuat saya tersenyum karena seorang kawan, waktu itu  saya berkunjung ke Surabaya stereotipe negatif tentang Orang Madura itu dibicarakan kepada saya, bagaimana orang Madura disekitar Surabaya Utara, saya hanya tersenyum dan menyimak apa yang ia bicarakan, Cuma dia salut kagum atas kekompakannya orang-orang Madura. Selepas ia membicarakan itu, sayapun bilang kalau saya keturunan Madura, saya hanya memberikan pemahaman tentang orang Madura yang sesungguhnya, mungkin ada saudara saya yang berbuat buruk disuatu tempat, tapi jangan menggeneralisir kalau orang Madura itu seperti itu semua, Cuma itu yang saya sampaikan hingga diujung pembicaraan kami menemukan titik persaudaraan baru antara suku Madura dan Suku Jawa. Karena saya memahami sebagaimana orang Madura yang terlahir dan Besar di Pulau Jawa ini.Mungkin ini tidak begitu ekstrem dalam pergaulan orang Madura dan Jawa, ada cerita ekstream dari Seorang sahabat saya yang tidak boleh menikah dengan orang Madura karena  perbedaan adat, kebiasaan dan Budaya, pesan orangtuanya sebelum berangkat ke Jember memang tidak boleh mencari Jodoh orang Madura, tetapi, didalam pergaulannya selama di Jember, sahabat saya sangat senang berinteraksi dengan kami orang Madura bahkan kita saling tukar bahasa, jadi saya bicara dengannya memakai bahasa Jawa dan dia harus menjawab dengan bahasa  Madura, sangat akrab dan Lucu interaksi dalam persahabatan kami.

Cintai dan rawat budaya sendiri yang baik, pelajari dan niat khusnuzdzon memahami budaya lain,

Pernah juga seorang teman tidak mendapatkan restu dari orang tua perempuan Jawa Karena yang laki-laki berdarah Madura, seorang teman tersebut memiliki niatan untuk menikahi setelah kurang lebih empat tahun saling kenal dan alasannya karena gaya bicara kami serta beberapa stereotipe terhadap orang Madura itu. Mungkin karena alasan itu juga banyak kejadian lelaki Madura tidak direstui oleh orang tua perempuan Jawa. Dari beberapa kejadian kandasnya sebuah Tali cinta lelaki Madura dengan Jawa terutama Jawa Kulonan karena perbedaan itu, tetapi juga tak jarang dari mereka ada yang jadi menikah karena perempuan jawa tersebut masih memiliki darah Madura, kalau yang sama-sama murni Suku tak jarang kandas. Memang ada mitos ataupun kayakinan di Jawa bahwa perempuan Jawa tidak boleh menikah dengan lelaki Madura. Tak Jarang pernikahan antar suku ini kandas hanya karena mitos tersebut, kalau dicermati dengan baik sebenarnya pernikahan itu bukan tentang dengan suku dan perbedaan itu semua. Kalau memang niatan baik untuk menikah dan tidak ada niatan yang lain selain karena niatan karena Allah SWT, menjalankan kebaikan, melanjutkan keturunan baik,dan  meperjuangkan kebaikan,tentunya hal seperti itu tidak perlu terjadi. Pernikahan bukan gerbang menuju kebaikan kenapa harus dibatasi oleh mitos yang berujung stereotipe tersebut. Insyaallah kalau semua niatannya baik, menikah dengan suku manapun Endingnya akan baik. Hilangkan stereotipe tidak baik dibenak anda, tidak semuanya seperti itu. Cintai dan rawat budaya sendiri yang baik, pelajari dan niat khusnuzdzon memahami budaya lain, alangkah eloknya bila saling memahami antar suku, agama, ras dan golongan di Negeri Bhineka ini.


Jumat, 01 Maret 2019

TERIAKKU

12:30:00 AM 0

Sumber

Jangan mencari dalam sunyi
Karena aku tak berada disana
Jangan mencari di keramaian
Karena aku juga tak berada disana
Tapi, aku berada diantaranya, iya diantara
Aku berada diatas rusuk kananmu,
Bersemayam di dalam qolbu

Teriakku padamu!
Hentikan pertikaian
Hentikan permusuhan
Hentikan olok-olokan
Hentikan! Hentikan ! hentikan!
Tapi, kau tak pernah mendengar
Aku dipenjara  nafsumu
Aku digembok akalmu
hingga kau tak dengar lagi, teriakku.

Bondowoso, 17 November 2018

Rabu, 16 Mei 2018

Pemilik Rahim

1:08:00 PM 2

Pemilik rahim itu menagis
Menangis karena air hina yang pernah singgah di rahimnya
Air hina itupun tumbuh menjadi daging keras
Bahkan sekeras Batuan Karst
Pemilik rahim itu menangis 
Menangis bukan karena kerasnya airhina yang menjelma itu
Tetapi, menagis karena daging yang ia harapkan pernah bersanding dengan daging lembut
Iya, daging lembut yang hampir membusuk itu.
Pemilik rahim itu menangis
Karena, aroma tak sedap dari daging lembut itu
Daging lembut yang selama ini disangka akan menjadi pelembut daging keras yang pernah singgah dirahimnya
Daging lembut itu telah diangkat menjadi darah dagingnya sendiri.
Karena, prasangka baik pemilik rahim yang menangis.
Pemilik rahimpun gelisah
Gelisah daging keras itu tidak seperti dahulu
Tak sepeti karst menghadapi hidupnya
Karst yang dididik oleh kehidupan
Karst yang menjelma dari daging keras itu mulai tangguh karena daging lembut yang hampir membusuk.
Pemilik rahimpun seakan ikut tangguh
Setelah melihat karst yang masih berdirik tegak di tengah kemarau
Kemarau yang melanda tiga tahun lamanya.
Selamat pagi, pemilik rahim

Jember, 13 April 2018

Sabtu, 14 April 2018

PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI

6:54:00 PM 0

PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI


PEREMPUAN BERPAYUNG PELANGI
Garis tak selalu sejajar, ketika makhluk Tuhan sampaikan.
Bahkan bumi dan langitpun ia jauhkan,  agar ia belajar tentang kehidupan.
Begitupun pria bertuhan saat menyampaikan, kepadamu perempuan berpayung pelangi.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Jangan pernah menangis karena Tuhan mendidikmu
Saat makhluk Tuhan  dari jenis sebangsamu menyampaikan kisahnya.
Karena, takkan pernah berhenti menangis  sampai kisah itu berakhir.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Jangan pernah berjanji bertuhan, ketika kau masih dalam pelukan kisah itu.
Karena, janji bertuhan seakan tak jelas bersamamu sampai kau menemukan hakikatnya.
Janji dalam pelukan kisah pilu itu mengajarkan bahwa, Tuhan masih bersama pemilik kisah itu.
Untukmu perempuan berpayung pelangi,
Seakan tiada henti kau mencoba untuk menghiasi bumi dan langit dengan payungmu
Meskipun bumi seakan hancur melihat langit memeluk warna itu.
Kau abadikan Tuhan dalam kisah payungmu, seakan  warna itu menjadi penghias dalam diri makluk Tuhan yang lain.
Akan tetapi, pemilik kisah itu masih dalam didikan Tuhan yang tetap di peluk bumi yang hancur karena warna payungmu.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Malam itu, Tuhan mendidik langsung pemilik kisah yang pernah menjadi warna payungmu.
Tapi, sayang warna itu tak muncul karena di tutupi gelapnya malam.
Hanya cahaya bintang yang menjadi perantara dialog pemilik kisah dengan Tuhannya.
Ia tak memikirkan warna itu kembali, karena Tuhan mendidik pemilik kisah itu.
Pemilik kisah itu dididik dengan mengenalkan Ibrahim dan Musa agar dieja di waktu subuhnya.
Untukmu perempuan berpayung pelangi
Pemilik kisah itu telah berdamai dengan bulan perjuangan, yang kau sebut rembulan di hari rabu.
Bulan perjuangan itu menjadi saksi kekejamanmu dengan dalih bertuhan.
Pemilik kisah itupun menyadari, bumipun tak akan bisa memeluk warna pelangi itu, kecuali langit yang bisa memeluknya.
Untukmu Perempuan berpayung pelangi
Saatnya kau berdamai dengan mimpimu dalam pelukan langit yang kau pancarkan dari warna payungmu.
Pelukan yang kau nisbahkan sebagai kesempurnaan yang di semogakan.
Kesempurnaan yang kau libatkan Tuhan dalam janjimu.
Selamat pagi, perempuan berpayung pelangi.
Semoga selamat dengan janjimu, selamat jalan dengan hantaran curhat Subuh pemilik kisah.
                                                                                               
Jember, 13 April 2018

Jumat, 03 Februari 2017

KEINDAHAN DAN SEJARAH NUSANTARA BUMI PATRIA #2

12:29:00 AM 0
          Pagipun menyambut di tanggal 12 suasana Kota Blitar, dengan alarm hape dan alarm ala maknya temenku. Setelah itu berlanjut mengantarkan ponaan temenku ke sekolahTanpa rencana awal dengan muka yang masih kumus-kumus dan memakai celana pendek kita menyusuri kecamatan Kademangan, entah kemana aku di ajak masuk ke suatu gang oleh temenku. akhirnya sampai di perbukitan yang baru di gali, Sepertinya sudah menjadi tempat wisata alternatif yaitu Bukit Bunda dengan keindahan bukit ini disulap menjadi tempat wisata. Dari bukit cadas di desain sedemikian rupa agar bisa menarik perhatian dan menjadi instragamable gitu.
 Meja Santai Love "Bukit Bunda"


Petunjuk Arah Kota Di "Bukit Bunda"

 Tidak berhenti di situ berlanjut aku di bawah kearah kanan oleh temenku, ternyata aku mau diajak kerumah mbahnya temenku itu, ehh Ternyata di bawa ke lokasi yang cukup bersejarah bagi Desa temenku ini. Karena ini merupakan sebuah candi yang sudah menjadi reruntuhan yang konon adalah persemayaman abu jenazah Raden Wijaya, namanya Candi Simping yang bangunan tinggal lantai candid dan reruntuhan saja. Sempat ngorol cukup lama dengan penjaga lokasi ini. Sungguh kagum ketika melihat relief yang cukup indah di setiap reruntuhan tersebut. tak begitu luas area candi ini tetapi cukup puas berkunjung ke candi ini. Melengkapi sejarah nusantara yang menandakan kejayaan dimasa lampau.

 sebenarnya masih ada lagi yang ingin  disinggahi yaitu Candi Panataran, tetapi dengan keadaan cuaca yang tidak memungkinkan akhirnya hari jum’at 13 januari 2017 setelah sholat jum’at kita mengunjungi beberapa ikon kota patria.
 kawasan Candi Simping 

            Kita melanjutkan mengunjungi makam sang Proklamator (Bung Karno) di daerah kota. karena kota dibagi menjadi 2 bagian, yakni kota Blitar dan kabupaten Blitar. Di makam bung karno kita pertama  masuk diberikan karcis parkir sebesar 2000. Setelah itu kita masuk ke museum dan perpustakaannya, berhubung jam kerja sudah akan berakhir, Saya Cuma mendapatkan beberapa gambar, salah satunya gambar yang menunjukkan kalau bung Karno selalu pamit kepada sang ibu, setiap mau kemanapun. Karena museum dibatasi waktu  jam kerja, akhirnya kami mengelilingi komplek pemakaman. Menikmati es strup yang cukup lendaris di Daerah Blitar hanya dengan merogok kocek 2000 kita sudah bisa menikamtinya dan befoto ria di depan gong perdamaian. Tak afdol rasanya sudah sampai di Blitar tidak melakuakan tawasul di makam sang proklamator ini, Kita masuk dengan tiket 2000 rupiah. Jarum Jam menunjukkan sekitar  jam 5,  kita melakasanakan do’a bersama di makam bung Karno dan pengambilan gambar dibantu fotografer pemakaman,terima kasih pak.
Komplek Pemakaman Bung Karno

Perjalanan ini masih berlanjut, tetapi karena mendung sehari penuh apa yang akan lakukan dengan perjalanan kita selanjutnya..
tunggu ceritanya selanjutnya..
ستتا  خلدي 

Selasa, 12 Juli 2016

LAMUNAN

10:23:00 AM 0
LAMUNAN
                                                                                                [puisi]
Pagi demi pagi Ku jalani
Hari demi hari kulalui
Hanya lamunan yang menemani
Hanya sendiri menjalani hidup
Dinginnyanya malam selalu menyiksa
Tiupan angin yang selalu menyakitkan
Termenung dalam lamunan
Ku pandang sesaat rembulan
Hanya separuh yang dia tampakkan
Yang setia menemani


                                                                                                              Bondowoso, 25 Agustus 2011

Minggu, 10 Juli 2016

KEINDAHAN ;)

9:37:00 PM 0
KEINDAHAN
[PUISI]
Hidup Ini takkan Selurus garis Vertikal
Hidup ini tak sebening Mutiara
Hidup Ini Takkan seindah langit
Keindahan takkan selalu bersama
                Ada kala Keindahan itu datang
                Ada kala Keindahan itu pergi
                Bersyukurlah kala keindahan datang
                Bersabarlah kala keindahan itu pergi
Karena keindahan takkan selalu bersama
                Kau akan terseyum kala keindahan itu datang
                Kegelisahan akan menyertaimu kala keindahan itu tak lagi bersama
Tetaplah bersyukur walau keindahan tak selalu bersama.


                                                                                                                Bondowoso, 13 April 2011