Tampilkan postingan dengan label berbagi Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berbagi Kopi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Ijen Geopark : Pesona Kaldera Ijen Purba di Bondowoso

6:21:00 AM 0

Bondowoso memiliki bentang alam yang luar biasa. Di wilayah timur kabupaten ini, kawasan pegunungan Ijen menghadirkan perpaduan antara lanskap vulkanik, hutan, perkebunan kopi, air terjun, sumber air panas,s avana, serta kehidupan masyarakat yang telah berabad-abad beradaptasi dengan lingkungan pegunungan.

Kawasan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari Ijen UNESCO Global Geopark, sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita tentang proses geologi, keanekaragaman hayati, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.

Ijen UNESCO Global Geopark berada di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. UNESCO menetapkan Ijen sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2023. Kawasan ini memiliki nilai geologi yang sangat penting, terutama karena bentang alamnya terbentuk dari aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Di kawasan ini terdapat konsentrasi kerucut vulkanik, kawah, dan aliran lava yang memperlihatkan bagaimana aktivitas gunung api membentuk wajah wilayah Ijen. Salah satu pusat perhatian utamanya tentu saja adalah Kawah Ijen. Bagi masyarakat Bondowoso, Ijen bukan sekadar gunung atau kawasan wisata. Ijen adalah ruang hidup yang mempertemukan alam, perkebunan, budaya, sejarah, dan aktivitas masyarakat.

Kawah Ijen, Pesona Kaldera yang Mendunia

Kawah Ijen merupakan salah satu ikon wisata alam Jawa Timur. Kawah ini berada di dalam sistem kaldera Ijen dan memiliki danau kawah berwarna biru kehijauan yang memiliki tingkat keasaman sangat tinggi. UNESCO menyebut Danau Kawah Ijen sebagai danau kawah paling asam di dunia.

Keindahan Kawah Ijen semakin lengkap dengan dinding-dinding kaldera yang menjulang dan membentuk lanskap dramatis. Ketika cahaya matahari pagi mulai menyentuh lereng dan permukaan kawah, warna-warna alam berubah perlahan. Kabut yang menggantung di antara pepohonan dan tebing menciptakan suasana yang sulit dilupakan. Namun, ada satu fenomena yang membuat Ijen begitu terkenal di dunia: blue fire atau api biru.

Fenomena tersebut bukanlah lava berwarna biru. Api biru muncul ketika gas sulfur bersuhu tinggi keluar dari kawasan vulkanik dan terbakar ketika bertemu dengan oksigen di atmosfer. Karena fenomena tersebut paling mudah terlihat pada malam hari, pengunjung yang ingin menyaksikannya biasanya harus melakukan perjalanan sebelum matahari terbit.

Fenomena api biru Ijen merupakan salah satu fenomena vulkanik yang sangat langka dan menjadi daya tarik utama kawasan ini. Tetapi Ijen bukan hanya tentang api biru. Ada perjalanan menuju puncak, udara dingin, suara langkah kaki, aktivitas penambang belerang, hutan pegunungan, matahari terbit, serta panorama kaldera yang perlahan terbuka ketika kabut mulai menipis. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari cerita perjalanan menuju Kawah Ijen.

Paltuding, Gerbang Pendakian Kawah Ijen

Salah satu titik penting dalam perjalanan menuju Kawah Ijen adalah Paltuding. Paltuding menjadi kawasan awal pendakian yang sangat dikenal oleh wisatawan yang hendak menuju Kawah Ijen. Dari sinilah perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan kawah.

Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas pendukung wisata di kawasan Ijen juga terus dikembangkan. Pemerintah Kabupaten Bondowoso, misalnya, telah mengembangkan fasilitas pelayanan kesehatan wisatawan di kawasan Paltuding melalui Pos Kesehatan Pariwisata Ijen Geopark.

Bagi wisatawan, Paltuding bukan hanya tempat memulai pendakian. Tempat ini juga menjadi titik untuk mempersiapkan kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan menuju kawah. Dan menariknya, Ijen dapat dinikmati dari berbagai sisi. Bagi wisatawan yang datang dari Bondowoso, perjalanan menuju Ijen membawa kita melewati kawasan pegunungan dan perkebunan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.

Menikmati Ijen dari Jalur Bondowoso

Perjalanan menuju kawasan Ijen dari Bondowoso menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebelum mencapai kawasan Paltuding, perjalanan melewati jalan pegunungan, perkebunan kopi, hutan, dan permukiman masyarakat. Semakin mendekati kawasan Ijen, udara semakin sejuk dan lanskap pegunungan semakin dominan. Inilah salah satu alasan mengapa perjalanan menuju Ijen dari Bondowoso layak dianggap sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar perjalanan menuju sebuah destinasi.

Kawasan Bondowoso juga memiliki hubungan yang kuat dengan perkebunan kopi. UNESCO mencatat Kopi Bondowoso  sebagai salah satu bagian dari warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark, dengan perkebunan kopi yang juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Maka, perjalanan ke Ijen dapat menjadi sebuah perjalanan yang lengkap: 

dari kopi, perkebunan, pegunungan, hutan, hingga kawah vulkanik.

Kawah Wurung: Savana di Kaldera Ijen

Tidak jauh dari kawasan Kawah Ijen terdapat salah satu destinasi yang menjadi favorit wisatawan di Bondowoso, yaitu Kawah Wurung. Kawah Wurung merupakan bentang alam berupa cekungan yang dihiasi hamparan padang rumput. Pada musim tertentu, kawasan ini tampak hijau dan luas, sehingga sering diasosiasikan oleh wisatawan dengan sebutan “Bukit Teletubbies.”

Pemandangan Kawah Wurung sangat berbeda dengan Kawah Ijen. Jika Kawah Ijen menawarkan panorama kawah vulkanik dan danau berwarna biru kehijauan, Kawah Wurung menawarkan hamparan savana dan perbukitan. Di sekitar kawasan wisata, wisatawan juga dapat menikmati kopi Arabika yang menjadi salah satu komoditas khas pegunungan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri memasukkan Kawah Wurung sebagai salah satu kawasan pariwisata penting dalam kawasan Ijen-Raung. Kawah Wurung juga menjadi bagian dari pengembangan Ijen Caldera Adventure, termasuk paket perjalanan menggunakan jeep yang menyusuri kawasan savana dan lanskap Ijen.

Puncak Megasari: Menatap Ijen dari Ketinggian

Bagi mereka yang ingin menikmati kawasan Ijen dari sudut pandang yang berbeda, Puncak Megasari menawarkan pengalaman menarik.Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan bentang alam Ijen dari ketinggian.

Puncak Megasari juga telah menjadi salah satu destinasi yang mendapatkan perhatian dalam pengembangan pariwisata kawasan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkannya dalam kawasan pariwisata Ijen-Raung. Dari sini, Ijen tidak lagi sekadar terlihat sebagai sebuah kawah. Kita dapat melihatnya sebagai sebuah bentang alam besar yang tersusun atas gunung, lembah, hutan, perkebunan, dan permukiman masyarakat.

Air Terjun Blawan dan Aliran Kalipait

Perjalanan menyusuri kawasan Ijen tidak berhenti di gunung. Di Kecamatan Ijen terdapat Air Terjun Blawan, salah satu destinasi alam yang memiliki karakter unik. Air Terjun Blawan berada di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen. Air terjun ini memiliki hubungan dengan aliran air dari kawasan Ijen dan dikenal memiliki kandungan mineral serta sulfur yang membuat karakter airnya berbeda dari air terjun pada umumnya.

Yang membuat Air Terjun Blawan menarik adalah alirannya yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Karena karakter tersebut, masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai air terjun yang “hilang ke bumi”.

Tidak jauh dari kawasan ini terdapat Pemandian Air Panas Blawan. Setelah perjalanan menyusuri pegunungan dan berbagai destinasi Ijen, berendam di air hangat dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pemandian Air Hangat Blawan juga tercatat sebagai salah satu destinasi wisata alam di Kecamatan Ijen. Sementara itu, Kalipait juga menjadi bagian dari kawasan wisata Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkan Kalipait bersama Kawah Ijen, Kawah Wurung, Air Terjun Blawan, Puncak Megasari, dan agrowisata kopi sebagai bagian dari kawasan pariwisata Ijen-Raung.

Air Terjun Gentongan dan Pesona Alam di Lereng Ijen

Selain Blawan, kawasan Ijen juga menyimpan sejumlah air terjun dan bentang alam lain yang menarik untuk dijelajahi. Salah satunya adalah Air Terjun Gentongan.Keberadaan air terjun, aliran sungai, hutan, dan lembah menunjukkan bahwa kawasan Ijen tidak hanya memiliki kekayaan geologi, tetapi juga kekayaan hidrologi dan ekosistem.

Daftar destinasi resmi Kabupaten Bondowoso mencatat sejumlah objek wisata alam di kawasan ini, termasuk Air Terjun Gentongan, Kalipait, Mini Niagara, Air Terjun Pelangi, serta sejumlah destinasi lainnya. Dengan demikian, wisata Ijen sebenarnya dapat dikembangkan menjadi perjalanan beberapa hari, bukan hanya kunjungan singkat untuk melihat kawah.

Kebun Kopi Arabika: Ijen dan Aroma yang Mendunia

Ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berbicara mengenai kawasan Ijen di Bondowoso: 

kopi. Perkebunan kopi Arabika tumbuh di kawasan dataran tinggi Bondowoso. Udara sejuk, kondisi tanah vulkanik, serta lingkungan pegunungan menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan perkebunan kopi. Kopi bukan hanya komoditas pertanian. Di kawasan Ijen, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas kawasan.

UNESCO secara khusus mencatat Bondowoso Coffee sebagai salah satu unsur warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark. Perkebunan kopi di kawasan tersebut juga memiliki hubungan dengan keanekaragaman flora dan fauna. Karena itu, perjalanan ke Ijen akan terasa lebih lengkap apabila disertai dengan pengalaman menikmati kopi Arabika di tengah perkebunan.

Bayangkan:

pagi yang dingin, kabut yang perlahan terangkat, hamparan kebun kopi, dan secangkir kopi Arabika hangat.

Itulah wajah lain Ijen yang mungkin tidak selalu terlihat dari puncak kawah.

Ijen Bukan Hanya Tentang Geologi

Keistimewaan Ijen UNESCO Global Geopark tidak hanya terletak pada gunung dan kawahnya. Konsep geopark menghubungkan warisan geologi dengan warisan alam dan budaya, serta menggunakannya sebagai sarana pendidikan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Karena itu, ketika kita berbicara mengenai Ijen Geopark, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah kawasan yang jauh lebih luas daripada Kawah Ijen.

Ada masyarakat.

Ada perkebunan.

Ada tradisi.

Ada cerita sejarah.

Ada flora dan fauna.

Ada situs geologi.

Ada situs budaya.

Dan semuanya saling berhubungan.

Situs Geologi, Biologi, dan Budaya

Kawasan Bondowoso yang termasuk dalam Ijen Geopark memiliki berbagai situs yang memperlihatkan hubungan antara alam dan kehidupan masyarakat. Dari sisi geologi, terdapat berbagai bentuk bentang alam vulkanik seperti kawah, lava, dinding kaldera, dan sumber air panas.

Dari sisi biologi, kawasan Ijen memiliki hutan pegunungan, perkebunan kopi, serta berbagai jenis flora dan fauna. UNESCO mencatat keberadaan beragam flora dan fauna di kawasan perkebunan kopi Bondowoso.

Sementara dari sisi budaya, Bondowoso memiliki berbagai tradisi dan kesenian masyarakat yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Dengan demikian, perjalanan Ijen bukan hanya perjalanan melihat pemandangan.

Ia adalah perjalanan untuk membaca cerita bumi dan manusia.

Ijen sebagai Ruang Belajar

Salah satu gagasan penting dalam konsep geopark adalah menjadikan kawasan sebagai ruang pendidikan. UNESCO menjelaskan bahwa UNESCO Global Geopark bukan sekadar kawasan wisata. Geopark juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bumi, warisan geologi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, perjalanan ke Ijen dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik.

Anak-anak dapat belajar mengenai gunung api. Pelajar dapat memahami proses pembentukan kaldera.

Wisatawan dapat melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan kawasan pegunungan.

Petani dapat memperkenalkan proses budidaya kopi. Dan masyarakat lokal dapat menjadi bagian penting dalam menjaga serta memperkenalkan warisan daerahnya.

Menikmati Ijen dari Bondowoso

Jika ingin menjelajahi kawasan Ijen dari sisi Bondowoso, banyak pilihan yang dapat disusun dalam sebuah perjalanan.

Misalnya:

Hari pertama

Bondowoso – Sumberwringin – perkebunan kopi – Kawah Wurung – Puncak Megasari.

Hari kedua

Paltuding – pendakian Kawah Ijen – menikmati panorama kaldera – turun menuju kawasan Blawan.

Hari ketiga

Pemandian Air Panas Blawan – Air Terjun Blawan – Kalipait – perjalanan kembali menuju Bondowoso.

Tentu saja susunan perjalanan perlu menyesuaikan kondisi cuaca, aturan pengelola, kondisi jalur, serta status operasional masing-masing destinasi.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri pada 2025 memperkenalkan perjalanan GeoTrip Ijen Caldera Adventure yang menghubungkan beberapa destinasi, antara lain Paltuding, Kalipait, Kawah Wurung, Jabal Kirmit, dan Air Panas Blawan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Ijen dapat dinikmati sebagai satu rangkaian perjalanan, bukan sebagai destinasi yang berdiri sendiri.

Menjaga Pesona Ijen untuk Generasi Mendatang

Keindahan Ijen membawa tanggung jawab.

Semakin terkenal sebuah kawasan wisata, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga lingkungan dan mengatur aktivitas wisata secara berkelanjutan.

Kita datang ke Ijen untuk menikmati alam, tetapi pada saat yang sama kita juga harus menjaga alam tersebut.

Tidak membuang sampah.

Tidak merusak vegetasi.

Tidak mengambil bagian dari lingkungan sebagai cendera mata.

Mengikuti aturan kawasan konservasi.

Menghormati masyarakat lokal.

Dan yang tidak kalah penting, menghargai para pekerja serta masyarakat yang menggantungkan kehidupan mereka pada kawasan Ijen.

Inilah semangat penting dari sebuah geopark: menikmati, memahami, melestarikan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Ijen, Cerita Panjang di Bumi Bondowoso

Pada akhirnya, Ijen bukan hanya tentang foto di tepi kawah.

Bukan hanya tentang blue fire.

Bukan hanya tentang sunrise.

Bukan pula hanya tentang hamparan savana Kawah Wurung.

Ijen adalah sebuah cerita panjang tentang bumi.

Cerita tentang gunung api yang membentuk bentang alam.

Cerita tentang air dan lava.

Cerita tentang hutan dan perkebunan.

Cerita tentang kopi Arabika yang tumbuh di lereng pegunungan.

Cerita tentang masyarakat yang hidup dan bekerja di kawasan ini.

Dan cerita tentang bagaimana sebuah wilayah menjaga warisan alamnya untuk generasi berikutnya.

Dari Kawah Ijen, Kawah Wurung, Puncak Megasari, Kalipait, Air Terjun Blawan, Pemandian Air Panas Blawan, hingga perkebunan kopi, semuanya merupakan kepingan dari satu cerita besar bernama Ijen Geopark.

Bondowoso memiliki pintu untuk memasuki cerita itu.

Sebuah perjalanan yang dimulai dari kota, kemudian melewati perkebunan, menanjak menuju pegunungan, hingga akhirnya berhadapan dengan bentang alam vulkanik yang luar biasa.

Dan di sana kita akan memahami bahwa keindahan Ijen bukan hanya apa yang terlihat oleh mata.

Ijen adalah jejak panjang bumi yang dapat kita baca, kita nikmati, dan kita jaga bersama.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso: Menelusuri Sejarah Para Pemimpin Bondowoso

5:44:00 AM 0



Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis dan sejarah yang menarik. Kabupaten ini menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai.

Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.

Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.

Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.

Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.

Jejak Para Pemimpin Bondowoso

No.Masa JabatanNama/Jabatan
11819–1830Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra)
21830–1850Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra)
31850–1866Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
41866–1879Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
51879–1891Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo
61891–1908Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail)
71908–1925Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro
81925–1928Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo
91928–1934Bupati RT. Prodjodininggrat
101934–1938Bupati RT. Herman Hidajat
111938–1945Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo
121945–1946Bupati R. Soetandoko
131946–1949Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo
141949–1950Bupati RT. Badroes Sapari
151950–1951Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo
161951–1956Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo
171957Bupati Soejarwo
181957–1958Bupati R. Soetowo
191958–1959Bupati Djomadi Moespan
201959–1964Bupati Soetowo
211964–1965Bupati Soemarto Partomihardjo
221965–1973Bupati Mayor R. Arifin Djauharman
231973–1978Bupati Kolonel R. Surono
241978–1983Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi
251983–1988Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai
261988–1993Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
271993–1998Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
281998–2003Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
292003–2008Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
302008–2013Bupati H. Amin Said Husni
312013–2018Bupati H. Amin Said Husni
322018–2023Bupati KH. Salwa Arifin
332025–2030Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag

Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini

Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.

Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.

Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.

Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.

Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Jejak itu masih ada.

Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

Minggu, 01 Maret 2020

Berjumpa Pemilik Hati Samudra, Mbah MH Ainun Najib ( Cak Nun)

5:57:00 AM 0


Foto Bersama Mbah Nun 

Alhamdulillah, itulah ucapan yang kerap disampaikan ketika merasakan kebahagian sebagai rasa syukur, atas nikmat Allah SWT yang telah melimpahkan segala bentuk nikmatNYA. Begitupun saya, kemarin ketika berjumpa dengan salah satu Tokoh Panutan yang selalu mengingatkan anak cucunya ini dengan senyuman, pelukan , bahkan guyonan. Bangsa ini sangat beruntung memiliki manusia seperti beliau yang setiap hari sibuk dengan tangisan anak cucu bangsanya. Setiap hari pindah lokasi, kadang di Jawa kadang diluar Jawa juga bahkan jadwalnya hampir penuh setiap bulannya, tetapi Yogyakarta menjadi pilihan beliau untuk menjadi lokasi perenungan mbah bersama anak cucunya. Tepatnya di kota Sleman, beliau bersama uti kami dan dulur-dulur kiaikanjeng selalu bersamanya.
                Saya bersyukur dapat berjumpa dengan keadaan beliau sehat wal afiat, mengingat salah satu nadzar saya menjumpai atau sowan para tokoh-tokoh bangsa, terutama Tokoh Nahdlatul Ulama setelah dinyatakan lulus dari kuliah yang cukup panjang ini. Alhamduillah, kemarin dapat berjumpa Mbah Nun dalam pelaksanaan  Festival Sains dan Budaya 2020  di komplek Kharisma Bangsa School tempat digelarnya acara Kompetisi tahunan bergengsi yakni Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia ( OSEBI). Berjumpa mbah Nun merupakan ketidak sengajaan yang harus disengaja untuk berjumpa dengan beliau,  sebagaimana disetiap maiyah acara sinau bareng biasanya bersalaman dengan beliau adalah moment sangat sulit, karena pengawalan ketat dari panitia.
Berjumpa langsung dengan beliau merupakan suatu moment yang tidak bisa dilupakan dan harapan semua sedulur maiyah disegala penjuru dunia, begitu juga saya yang masih amatiran jadi jamaah maiyahan menjadi moment spesial banget dalam perjalanan kelana selama di Jakarta. Kemarin penuh drama untuk ketemu beliau, karena tidak disengaja bahkan seperti mimpi ketemu beliau. Jadi, kemarin hari Ahad 23 Januari 2020, sekitar jam sebelas siang nyonya saya dihubungi kakak kelasnya yang kebetulan guru di Kharisma Bangsa School (KBS), dia bilang kalau acara itu dihadiri oleh Mbah Nun, tetapi temen nyonya biasa saja. Mendengar itu sayapun segera mandi, bersih diri dan tibalah sekitar jam 12 an saya berangkat ke lokasi acara FSB 2020 tersebut. Tanpa diduga, ada kabar  hampir sampai lokasi, kakak kelasnya nyonya bilang kalau acara udah hampir kelar, jadi agak lemes tubuh ini tetapi saya masih berusaha kesana, bagaimanpun yang penting bisa ketemu mbah Nun dan salaman dengan beliau. Syukur Alhamdulillah, acara sedikit diperpanjang dan masih menyempatkan diri melihat  persembahan medali Emas Bagi para pemenang FSB 2020. Mbah Nun menyampaikan orasi penutupan FSB 2020 tersebut, dengan banyak wejangan yang diberikan kepada adek-adek hebat dari seluruh Indonesia ini, yang nantinya mewakili Indonesia di olimpiade Internasional.
Foto Booth FSN 2020 

                Tidak hanya sampai disana, selepas acara saya coba lihat mbah Nun turun panggung dari sebelah mana. Beliau turun dari sebelah kiri panggung, saya pun menuju pintu keluar acara, ternyata beliau tidak lewat jalan itu. Lalu sayapun menuju pintu masuk utama sekolah tersebut, bertanya kepada satpam, kendaraan yang membawa mbah Nun yang mana, ternayata masih berada diparkiran dengan Nopol Bogor (F ), selang beberapa menit ada juga salah satu guru pendamping lomba puisi ingin menemui mbah Nun juga, untuk bertanya Puisi yang dibawakan anak didiknya dibuat tahun berapa. Saya bersama mas Opic nama guru tersebut, menunggu hingga kurang lebih jam setengah dua, tetapi mbah Nun belum juga tampak keluar dari sekolah tersebut, dan kita tunggu di depan mobil yang dimaksud, karena sangat mepet dengan waktu sholat dhuhur, secara gentian sholat di Mushollah, sampai mas Opic selesai sholat, beliau belum juga meninggalkan lokasi acara. Akhirnya saya sholat dhuhur dulu, sekitar 10 menitan, dan ketika keluar selesai sholat terasa surprise banget, ternyata mbah Nun udah berada dipintu keluar sekolah dengan banyak Guru dan tentunya mas-mas yang tadi ikutan foto bersama beliau. Tanpa pikir panjang, saya langsung salim ke beliau, ternyata ada momen lainnya yang mebuat saya tidak bisa ngomong, ketika saya ingin memeluk beliau dan beliau memegang kedua pundak saya, menatap mata saya dan tanpa mengatakan apa-apa beliau seperti menyasehati. Luas banget hati beliau,  dengan sibuknya yang luar biasa, masih bisa memanusiakan cucunya yang penuh amarah, dan dosa ini. Dengan Niatan, tadinya selain salaman dan meminta nasehat “pernikahan “ bagi kami berdua, dengan kejadian luar bisa tersebut saya tidak bisa berbicara apa-apa, hanya bersalaman dan berfoto dengan beliau sebagai catatan momen bersama beliau.
“Segala pertemuan itu adalah percintaan_Cak Nun”
                Ini merupakan moment luar biasa bagi saya, moment sangat langka berjumpa dengan beliau dan salaman langsung dengan beliau bahkan dipeluk, di tepuk pundak saya dua kali oleh beliau. Dengan tatapan beliau yang membuat saya optimis, sekaligus badan gemeter menahan rasa haru yang luar biasa bisa berjumpa dengan beliau. Moment ini juga dirasakan oleh teman dan sahabat saya dengan perasaan “cemburu dan iri “ katanya. Sampai tulisan ini terbit, telah ada 3 sahabat dan teman yang bilang seperti itu. Insyallah dilain waktu kalian bisa berjumpa beliau ya, dengan keadaan beliau sehat wal afiat. Terima kasih mbah Nun, telah memberikan optimis kepada kami cucumu ini.

Kamis, 20 Februari 2020

SARJANA TUA : Almamater Tercecer Di Ruang Busuk

11:24:00 PM 0

Wisuda Unej 2020 edit By Canva

Menjadi sarjana dambaan anak-anak desa yang ingin merubah jalan hidupnya lebih baik (katanya), begitupun saya sebagai anak desa yang ingin merubah mindset , perilaku bahkan ekonomi keluarga di masa yang akan datang. Meskipun dulu keinginan menjadi Tentara Nasional Indonesia dengan prestise yang didambakan oleh anak-anak desa dimasa itu,  menginginkan punya tambang dan penguasaan lahan seperti Jendral-jendral di Ibukota sana. Beruntungnya, meskipun tidak menjadi TNI akan tetapi saya memiliki harapan besar menjadi seorang sarjana Sosial lebih tepatnya Sosiolog bidang lingkungan dan bencana, meskipun perjalanan berliku selama perjalanan yang saya lalui selama ini di dunia akademisi.

Tepat pada tanggal 26 Januari 2020, saya dinyatakan lulus dengan wisuda pertama sampai saat ini.  perjalanan berdarah-darah menuju wisuda menjadi kenangan tersendiri selama menempuh strata satu di kampus, dengan lama studi 7 Tahun 3 Bulan 28 hari hampir dua periode penuh menemani rektor saya. Perjalanan ini memang sangat melelahkan tapi menjadi kenangan indah yang mungkin tidak terulang dalam catur kehidupan saya. Almamater yang saya rasakan lusuh saat wisuda menjadi bukti bahwa telah lama tercecer diruang busuk perpolitikan kampus, yang membuat saya merasa bahwa ilmu yang didapat dibangku kuliah itu hanya 30 persen, sisanya mendapatkan di sudut-sudut ruang hampa kehidupan luar kampus dan entitas yang penuh makna di segala  pelosok-pelosok bersamai mereka yang katanya tidak berpendidikan.

Ruang-ruang dikampus mungkin sangatlah menjunjung tinggi akademik dan sering dibilang kalau setiap akademisi itu agent perubahan, nyatanya tidak begitu juga. Kegelisahan yang saya rasakan ketika berada di dalam kampus dan dipisah jarak antara mereka yang butuh akan pendidikan, dibatasi pagar betis akademik dan menjadi kesombongan diri ketika baru menjadi mahasiswa membuat saya menyebutnya ruang busuk yang penuh dengan kehampaan. Seiring berjalannya waktu, saya juga belajar pada masyarakat yang katanya tidak berpendidikan menjadikan almamater itu  tercecer diruang busuk hingga lama.

"Terima Kasih Ruang Entitas, Menjadikan Lebih Bijak Dalam Berpijak" 
Tapi, saya tidak akan terlalu mengutuk ruang-ruang itu, sedikit banyak juga membuat perubahan di hidup saya salah satunya membuat tulisan ini. tetapi saya juga tidak melupakan ucapan terima kasih ruang-ruang entitas yang telah menjadikan lebih bijak dalam berpijak. terima kasih para manusia-manusia yang telah peduli dengan kehidupan manusia lainnya, sehingga membuatku berkaca kepada anda, bahwa bukan hanya gelar yang menjadi kebanggaan akan tetapi kebermanfaatan terhadap manusia lainnya yang menjadi catatan dihadapan pemilik semesta. Selamat di wisuda dan sampai jumpa kehidupan yang penuh ketidakpastian di masa akan datang. Semoga engkau menjalani dengan kemerdekaan!
"Baca Juga; Sarjana Gagal, Gagal Sarjana, atau Pengangguran Bergelar"

Rabu, 23 Oktober 2019

Gus Dur, Aku merindukanmu Gus

7:39:00 PM 0
Sewindu Gus Dur

KH. Abdurahman Wahid yang akrab di panggil Gus Dur,  Merupakan presiden Keempat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Beliau terlahir di Jombang di kalangan keluarga pesantren. Kakeknya merupakan pendiri dari Ormas Islam Nahdlatul Ulama, yang Bergelar Hadrasyatussyeh sementara Gus Dur  di kenal sebagai Guru Bangsa. Mengajarkan toleransi antar umat di muka bumi, Memanusiakan manusia seutuhnya. Gus Dur yang dikenal dan Cintai oleh penghuni alam semesta, dari berbagai golongan, ras , etnis Agama, diantara meraka banyak yang mengenang bahkan mencintai seorang Gus Dur yang sangat toleransi, dan merawat dengan sungguh kemanusiaan dalam diri manusia diatas muka bumi. Di Bumi Papua beliau di Cintai karena memeluk erat saudara kita disana bahkan mengembalikan kepercayaan masyarakat papua kepada pemerintah dan menjadikan hari Raya Imlek sebagai libur Nasional. Menurut Manuel Kaisiepo , yang saya kutip dari nu.or.id, “saya sangat bersyukur memiliki presiden seperti beliau”.
Dalam diri ini terkadang merasa sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa bangsa ini. yang tak pelak berbagai perselisihan antar anak bangsa. Setiap hari dihadapkan dengan cemoohan antar anak bangsa karena perpolitikan yang sangat panas dan buas, bahkan ulama dijelekkan karena urusan politik, bahkan Tuhan pun ditegur oleh CiptaanNya karena alasan politik. Intoleransi juga semakin hari semakin banyak, mengkhawatirkan negeri ini. Apa yang mereka perebutkan sebenarnya. Sementara sarapan pagi cukup makan sepiring sudah kenyang. Haruskah mengorbankan nilai kemanusiaan untuk membangun negeri ini, haruskah hilang kepekaan diri hingga runtuh negeri ini. pertikaian tanpa henti, perpecahan diciptakan dan membuat kekeruhan dalam negeri, dahi mengkerut seakan negeri ini hanya dititipkan pada nenek moyang mereka. Semua dijadikan serba repot, tak seperti dulu semenjak ada engkau, Gus! Dulu engkau mengatakan “gitu aja Kok repot” semua jadi tidak repot gus dan penuh guyu (tawa) diantara kami. Akan tetapi semenjak kau meninggalakan kami kami tidak sering guyu gus, karena melihat peliknya antar anak negeri saling maki.
Yang Lebih Penting dari Politik adalah Kemanusiaan
Mungkin sampai saat ini namamu masih terukir dihati Orang Papua, karena perjuangan kemanusiaan yang kau lakukan, engkau memanusiakan manusia Papua gus. Sekarang kita merindukan itu gus, sajak yang membuat kami bahagia ketika melihat antar anak negeri bergembira,  hari ini kami melaporkan gus, bahwa tanah  papua yang mulai tenang kemarin sempat berdebar kembali gus, kami hanya mendo’akan ning Alysa keluarga besar panjenengan dan seluruh Gusdurian tetap diberi kesehatan merawat negeri ini , Toleransi antar anak bangsa yang engkau ajarkan gus. Kami memang merindukanmu gus, nilai-nilai yang kau ajarkan kami pahami dengan cara kami ngopi santai saat ini gus. “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” yang pernah engkau ucapkan saat ini benar adanya gus. Tetapi saat ini banyak yang lebih mementingkan politik daripada kemanusiaan gus, Bukan politiknya tapi manusianya yang berpolitik tidak memeiliki kesopanan dalam berpolitik gus. Beberapa kejadian bulan yang lalu mengajarkan bahwa kemanusiaan memang lebih penting daripada politik, maka pantaslah kau kami sebut Guru bangsa, karena kau mengajarkan kami kasih sayang tanpa melihat warna kulit, ras, suku dan agama. Tingkah lucu menghadapi politik negeri ini saat engkau masih ada, membuat kami merindukannya gus. Kami rindu tertawa gus dengan perbedaan di negeri ini gus, Gus Dur Aku merindukanmu! 

Selasa, 16 Oktober 2018

Ngartis Di Aula Apung Universitas Indonesia

12:35:00 PM 0

            Tepat pada hari Rabu 8 Maret 2017 saya dapat undangan mendadak oleh temen Mapala UI, untuk mengisi acara mereka. Sementara acara mereka mulai tanggal 9 maret atau keesokan harinya, bagamana tidak kaget dapet undangan mendadak, untuk berangkat ke UI Depok. Sementara mereka ingin saya mengisi materi mengenalkan potensi wisata kawasan Ijen, tetapi saya merasa belum memiliki kapasitas untuk menyampaikan itu. akhirnya dengan kepala tenang saya melakukan konfirmasi ke Pak Hary Patriantono selaku kadisparpora Bondowoso, untuk menjadi pemateri di acara temen Mapala UI, namun dengan berat hati waktu itu beliau ada acara diklat kenaikan jabatan di pemprov. Akhirnya dengan perasaan nekat sayapun memutuskan berangkat. sebenarnya acaranya ini adalah serangkaian dari acara perjalanan panjang jelajah pegunungan ijen, dengan tema “Belantara Ijen” yang disi dengan pameran foto, talkshow dan acaranya keren lainnya. oleh karena itu ini kesempatan emas untuk mengenalkakan potensi lain dari diskitar Kawasan Ijen melalui jalur tradisional yakni Bondowoso. Akan saya awali dengan beberapa cerita perjalanan mendadak yang banyak menyita waktu, tenaga , pikiran dan biaya.

Masih di hari Rabu, saya ditelpon oleh salah satu narahubung acara belanatara ijen, dia meminta kepada saya untuk membawa kopi untuk di display pada acara tersebut, dengan keadaan stok kopi di tempat pemasaran dalam keadaan offer stok, dan saya terdesak untuk berangkat hari kamisnya, tetapi saya menolak agar diundur Karena stok kopi sudah habis, akhirnya saya memutuskan mengambil kopi di petani, agar bisa memenuhi permintaan mereka. akhirnya kamis pagi saya berangkat untuk mengambil kopi di Petani tetapi baru ketemu petani sekitar Jam 2 Siang, dengan dikejar waktu akhirnya ambil kopi dengan menelan biaya yang cukup tinggi dan itupun masih membawa kopi rakyat dengan hutang dulu. Akhirnya diberikan dan dengan waktu yang terkejar karena harus berangkat Jum’at pagi. Dengan keadaan itu saya mencoba tenang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, mengingat perjalanan Bondowoso-Jember dengan keadaan tenaga sudah mulai tersita dan membawa kopi ke Jember untuk di packing, hingga packingnya memakan waktu hingga larut malam sekitar jam 01;00, karena hari itu  bertepatnya juga dengan salah satu ulang tahun sahabat saya , akhirnya jam satu nyamperin dia dikosan tetapi dia tidak ada, akhirnya balik lagi ke tempat packing. Sekitar jam 02;30, saya mulai terlelap karena besok paginya harus berangkat pagi. Akhirnya sudah beres semua untuk berangkat keesokan harinya.

            Jam dinding menunjukkan Jam 4.30 pagi, mata sudah terbangun dengan persiapan kopi yang di pakcing rapi dengan kardus dan dengan rasa lelah 1 hari penuh dengan tenaga yang tersisa, saya bangkit untuk berangkat ke Jakarta. Perjalanan kereta Jember-Jakarta tidak ada, saya  transit kereta di Purwakarta menuju stasiun Pasar senen. Sesampainya di stasiun pasar senen, dengan barang bawaan cukup banyak. Seperti orang mau mudik. Saya di jemput oleh salah satu calon anggota baru Mapala UI saat itu, yaitu Ghazi. Saya dijemput ke stasiun pasar senen dengan teman-teman kosnya, yang saya ingat saat itu nama temannya adalah Anis dan Abdul selebihnya saya lupa. Dengan keadaan Jakarta dan Depok malam hari yang terasa masih pukul sebelas malam kalau di Jember, saya di bawa menginap di kosannya Ghazi dan di kamarnya Anies sebagai tempat istirahat malam itu. Setelah itu pagi harinya saya di bawa ke skretariat MAPALA UI, terlebih dahulu.
Skertariat MAPALA UI

            Skretariat Mapala UI ini berada di sekitar danau yang memisah antara Fakultas Sastra dan Fakultas MIPA UI, yang dihubungkan dengan jembatan besi. berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA). Skretariat ini juga penuh dengan alat-alat yang berkaitan dengan Kepecinta alaman. Dari buku tua sampai alat untuk mendaki yang melegenda juga berada disana. Kalau mau disebut museum pendaki Indonesia cukup mewakililah. Yang membuat saya kaget waktu itu, pertama kali masuk kes skretariat Mapala UI melihat gambar yang cukup besar menghias dindingnya, setelah saya lihat dan baca quotesnya, ternyata digambar itu adalah Soe Hok Gie, dia alumni Fakultas Sastra UI dan merupakan salah satu orang yang mendirikan Mapala UI. Dia adalah seorang aktivis yang selalu mengkritisi pemerintah pada eranya. Dia adalah seorang tokoh pergerakan yang sangat nasionalis. Hingga saat ini nama Gie, masih melekat namanya di teman-teman aktivis. Gie meninggal dunia di puncak semeru dengan berbagai cerita. 
Sumber : www.goodreads.com

Lebih lengkapnya bisa baca sosok gie di Internet dan buku-buku, salah satunya terbitan TEMPO Edisi tokoh. 

Diskertatariat itu saya berjumpa dengan salah satu putra daerah dari Jember namanya Firman. Dan saya sedikit berdiskusi tentang Jember dengan dia,  menggunakan bahasa Madura dan menjadi pusat perhatian teman-teman disana. Dan saya juga berjumpa dengan putra daerah dari Lumajang, lupa namanya. Tetapi tidak begitu banyak diskusi dengan dia. diskertariat saya lanjut ke Aula Apung untuk menyampaikan misi, memperkenalkan potensi wisata dan potensi lainnya di kawasan lereng Ijen.

Tunggu cerita saya selanjutnya 

Jumat, 03 Mei 2013

Wawancara Dengan RT/RW Mengenai Alasan dan Program

1:36:00 PM 0
RT YANG INGIN MEMBAWA PERUBAHAN
Sumber : Me Edit by Canva
Saya    :mengapa anda mau jadi ketua RT ?
Pak RT:karena saya di pilih oleh rakyat sebenarnya saya tidak mau jadi pak rt karena ini sudah tuntutan dan desakan dari masyarakat sekitar ya saya mau tidak mau  ya..... harus mau. Mungkin ini adalah rejeki atau beban tugas yang berat, Saya sendiri belum paham juga. Dikatakan rejeki mungkin, karena mulai dulu saya punya keinginan untuk menjadi seorang aparatur negara karena saya tidak tamat smp jadi saya hanya bisa jadi rt dulu saya ingin calon pak kampong ( pak lurah di desa ) karena masalah ijazah jadi saya tidak bisa mencalonkan diri maka dari itu saya anggap ini semua rejeki meskipun saya tidak bisa jadi pak kampong hanya jadi pak rt yang penting jadi seorang aparatur negara. Selanjutnya dibilang beban tugas yang berat memang, karena saya sebagai rt bukan hanya sebagai tempat warga berapresiasi, saya juga sebagai pemberi kebijakan di lingkungan masyarakat oleh karena itu saya katakan ini tugas yang sangat berat dan tidak hanya sebagai penentu kebijakan sebagai rt kadang ada pembagian bantuan pemerintah saya juga ikut andil untuk mengatur semua itu semua maka di sana peran rt yang sangat di butuhkan untuk mendukung program pemerintah.

Saya    : program apa saja yang akan atau sudah anda jalankan mulai jadi ketua RT ?
Pak RT:
1.      Mensejahterakan warga khususnya ruang lingkup lingkungan sekitar rt 15 ini.
2.      Setiap bulan diadakan pengajian rutin yang dilakukan setiap satu bulan sekali  yang dilaksanakan pada jum’at legi .
3.      Setiap senen malam di adakan diba’iyah bagi ibu-ibu pengajian rutin untuk mempererat silaturrahmi antar warga.
4.      Membuat struktur kerja bakti dikalangan RT.15 khususnya diadakannya acara bersama warga sekitar yaitu gotong royong  JUM’AT BERSIH.
5.      Pada hari jum’at setelah ba’dah shalat jum’at , akan diadakan hari relawan atau hari sumbang-menyumbang tujuannya untuk membantu warga yang sekiranya kurang mampu dan atau bagi kifayah warga rt 15. Mungkin dengan seperti itu akan ada keringan bagi warga sekitar dan mengadakan zakat maal bagi warga yang sudah mamapu dengan harta yang melimpah sebagai kas untuk pembelian tempat penguburan bahkan ini wajib bagi sebagian wilayah RT oleh kepala desa.
6.      Apabila ada warga yang mengalami berpedaan pendapat  dengan warga lain, sebagai ketua RT yang menginginkan kemakmuran warganya , saya lakukan tindakan mediasi, yaitu memperdamaikan kedua belah pihak dengan ada pihak lain sebagai penengah yang turut andil dalam menyelesaikan masalah pada keduanya .saya lakukan ini kalau masih bisa mediasi di tingkat RT tetapi, kalau saya sudah tidak mampu saya serahkan pada kelurahan atau langsung ke kepala desa.
7.      Sebagai ketua RT saya tidak memilih-milih warga, karena seorang ketua RT ini harus adil pada setiap warganya .
8.      Melayani permintaan warga dengan baik dan jujur dalam urusan tentang masalah desa  misal :

1.      Permintaan keterangan pembuatan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu ) biasanya surat ini banyak di minta oleh siswa atau mahasiswa untuk meringankan biaya pendidikan.
2.      Permintaan keterangan pembuatan kartu AK (Akta Kelahiran) surat keterangaan ini biasanya di gunakan  untuk  membuat akte kelahiran bagi bayi yang baru lahir.
3.      Permintaan keterangan pembuatan kartu KK (Kepala Keluarga) biasanya KK di butuhkan saat pindah dan atau pecah dari orang tua atau memiliki keluarga baru.
4.      Pelayanan pengurusan perlengkapan untuk KTP (Kartu Tanda Penduduk). Biasanya yang ramai buat kalau mau ada bantuan dari pemerintah baru buat KTP jadi, saya melayani warga kadang sampai kewalahan.
5.      Pembagian beras RASKIN yang biasanya ketua RT-lah yang melakukan pembagian tersebut , dan intinya sebagai ketua RT ini harus jujur dan tidak memilih siapa yang mendapatkannya serta tidak mengurangi atau melebihi batas ketentuan pembagian .
6.      Melindungi warga daerah sekitar kawasan RT.15, intinya ketua RT itu adalah sebagai sarana dan pra sarana informasi.
7.      Mengayomi semua warga yang bermukim di RT.15 dengan memper erat hubungan atau pendekatan warga agar warga tidak terlalu sungkan melapor apabila suatu permasalahan permasalahan di lingkungan sekitar RT15.
8.      Saya mengutamakan kepentingan warga daripada kepentingan yang lain, ini yang di katakan beban tugas berat tadi.
9.      Melaksanakan tugas sepenuhnya dengan jujur dan berpegang teguh  pada nilai nilai pancasila.
10.  Saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi di daerah sekitar RT 15 dan ini merupakan beban terberat saya sebagai ketua RT.                                                                                           
9.      Menjadikan lingkungan RT15 adalah kawasan yang TERBINA yaitu Tertib , Bersih , Indah dan Aman .
10.  Saya Bekerjasama dengan warga  RT15 untuk membangun komplek yang yang tentram  dan menindak  mereka yang tindakan asusila.
11.  Saya Membuat kawasan RT yang nyaman tanpa gangguan . misalnya diadakannya ronda malam .      

Saya:   Berapa lama anda menjabat ketua RT atau mungkin ada program yang belum  terealisasikan ?
Pak RT: saya sudah sekitar 4 tahun menjadi RT.
 ada beberapa program yangbelum terealisasikan  diantaranya:
1.      Ingin menjadikan warga melek huruf semua tetapi mulai saya jadi ketua RT tidak pernah terealisasikan karena kurangnya dukungan dari kepala desa dan lurah setempat akhirnya pada awal 2009 saya menyuruh salah satu warga saya yang kebetulan sekolahnya sampai SMA untuk mendidik warga yang buta aksara agar bisa bca tulis.
2.      Selanjutnya saya merencanakan desa internet ruang lingkup yang tidak mudah ini  bukan hanya di lingkungan RT 15 tetapi di tingkat desa di canangkan atau di bangun sarana internet agar masyarakat bisa tau apa yang terjadi di luar sana . tetapi program ini juga tidak di dukung  oleh tingkat desa dengan alasan dana ADD yang sangat  kecil kata kepala desa disini. Saya ingin warga RT 15 ini khususnys dan warga desa ini umumnya agar lebih maju dan ada perubahan .
Demikian hasil wawancara saya dengan salah satu RT  di Desa Pengarang Dusun Lucu Kecamatan Jambesari Darussholah Kabupaten Bondowoso.