Tampilkan postingan dengan label Relawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Belajar Bercerita Bersama Kak Bimo: Ketika Waktu Menemukan Jodohnya

11:10:00 PM 0

 

“Waktu itu ada jodohnya.”

Mungkin ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan perjumpaan saya dengan seorang maestro dongeng yang selama ini hanya saya kenal melalui cerita, video, dan karya-karyanya. Tepat pada 19 September 2026, akhirnya saya berjumpa langsung dengan Kak Bimo, seorang trainer, motivator, dan dikenal luas sebagai master dongeng nasional.  Bagi sebagian orang, perjumpaan itu mungkin hanya sebuah pertemuan biasa dalam sebuah pelatihan. Tetapi bagi saya, ada cerita panjang di baliknya.

Saya memang sengaja datang. Saya mengikuti pelatihan bercerita bersama Kak Bimo yang diinisiasi oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Cabang Bondowoso bersama IGTKI Bondowoso. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas guru TK, SD, RA, MI, PAUD, dan para pendidik lainnya. Di antara ratusan peserta itu, mungkin saya termasuk salah satu yang agak “berbeda”.

Saya bukan guru resmi.Setidaknya bukan guru yang setiap pagi memakai seragam, masuk kelas dengan daftar hadir, kemudian pulang setelah bel berbunyi. Saya mengajar secara lepas. Di mana ada ruang, di situ saya bisa belajar dan mengajar. Saya memiliki sebuah ruang belajar sederhana bernama Sakola Pekarangan. Sebuah ruang belajar nonformal yang saya bayangkan sebagai tempat siapa saja boleh menjadi guru dan siapa saja boleh menjadi murid. Karena bagi saya, belajar tidak selalu harus menunggu ruang kelas. dan guru tidak selalu harus berdiri di depan papan tulis.

Beruntung Bisa Duduk di Tengah Para Guru

Terus terang, saya merasa sangat terhormat berada di tengah ratusan guru yang hadir dalam pelatihan tersebut.Saya melihat para pendidik yang setiap hari berhadapan dengan anak-anak.Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga ikut membentuk karakter, imajinasi, keberanian, dan cara anak memandang dunia. Saya datang sebagai pembelajar.Dan mungkin justru karena itulah saya bisa duduk dengan tenang, mendengarkan, mencatat, dan menikmati setiap materi.

Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebab sebenarnya saya sudah cukup lama menantikan perjumpaan dengan Kak Bimo. Bahkan pernah terlintas dalam pikiran saya untuk datang ke Yogyakarta hanya untuk bisa bertemu dan belajar langsung kepada beliau. Tetapi ternyata waktu memang punya jodohnya. Saya tidak perlu pergi jauh ke Yogyakarta. Kak Bimo justru datang ke Bondowoso. Dan saya dipertemukan dengannya dalam sebuah ruang pelatihan.

Ilmunya “Daging” Semua

Ada satu kesan yang paling kuat saya rasakan setelah mengikuti pelatihan kemarin:Ilmunya daging semua. Bukan sekadar teori. Bukan sekadar motivasi. Bukan pula pelatihan yang membuat peserta duduk, mendengarkan, kemudian pulang membawa sertifikat. Sejak materi dimulai sampai praktik berlangsung, peserta seperti tidak ingin beranjak dari tempat duduk. Ada yang tertawa, Ada yang mencoba, Ada yang salah, Ada yang malu, Ada yang kemudian berani tampil.Dan di situlah saya merasakan bahwa bercerita ternyata bukan sekadar membuka mulut dan mengucapkan kalimat.

Bercerita adalah seni.

Ada teknik.

Ada penghayatan.

Ada ekspresi.

Ada suara.

Ada gerak tubuh.

Ada ritme.

Dan yang paling penting, ada kemampuan untuk membawa orang lain masuk ke dalam cerita.

Cerita, Dongeng, dan Kisah Ternyata Berbeda

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah ketika Kak Bimo mengajak peserta memahami perbedaan antara cerita, dongeng, dan kisah. Selama ini mungkin kita sering menggunakan ketiga istilah tersebut secara bergaantian, cerita merupakan rangkain peristiwa yang disampaikan secara utuh, sementara dongeng adalah karangan fiktif yang tidak benar-benar terjadi didunia nyata sementara kisah adalah cerita atau kejadian yang benar-benar terjadi baik pengalaman hidup atau sebuah peristiwa,

Saya kemudian berpikir: Ternyata selama ini saya banyak bercerita, tetapi belum tentu memahami hakikat bercerita. Ini seperti seseorang yang setiap hari memasak, tetapi belum tentu memahami ilmu memasak.Bisa memasak, tetapi belum tentu tahu mengapa sebuah bumbu harus dimasukkan lebih dahulu dan bumbu lainnya belakangan.Begitu pula dengan bercerita.Kita bisa bercerita.Tetapi untuk membuat orang lain tertarik, terlibat, tertawa, terharu, bahkan mengingat cerita, ternyata ada ilmunya.

Membongkar Dunia Dongeng

Materi berikutnya yang membuat saya semakin tertarik adalah ketika dongeng diurai menjadi beberapa jenis.

Kami belajar tentang:

1. Mitos

Cerita yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan atau berkaitan dengan asal-usul tertentu.

2. Legenda

Cerita yang berkembang di masyarakat dan biasanya dikaitkan dengan asal-usul suatu tempat, tokoh, atau peristiwa.

3. Hikayat

Cerita tradisional yang banyak berkembang dalam khazanah sastra lama dan sering berkaitan dengan kehidupan raja, kepahlawanan, atau tokoh luar biasa.

4. Fabel

Cerita yang menggunakan tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia dan biasanya membawa pesan moral.

5. Sage

Cerita yang berkaitan dengan kepahlawanan atau tokoh sejarah yang berkembang dalam tradisi masyarakat dan kemudian diwariskan sebagai cerita.

6. Epos

Cerita panjang yang mengangkat kepahlawanan, perjuangan, atau perjalanan besar seorang tokoh.

7. Parabel

Cerita yang menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan pesan atau nilai tertentu.

Ternyata dunia dongeng begitu luas, selama ini saya mengira dongeng hanyalah cerita untuk anak-anak sebelum tidur, ternyata tidak sesederhana itu. Dongeng adalah bagian dari kebudayaan manusia.

Ia membawa ingatan.

Ia membawa nilai.

Ia membawa pesan.

Bahkan bisa menjadi cara sebuah masyarakat mewariskan pandangan hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ketika Tubuh Ikut Bercerita

Hal lain yang membuat saya semakin menikmati pelatihan tersebut adalah materi praktik.Kak Bimo tidak hanya menjelaskan bagaimana menyusun atau membawakan cerita. Kami juga diajak mempraktikkan gestur atau olah gerak dan olah suara. Di sinilah saya baru benar-benar merasakan bahwa seorang pendongeng ternyata bekerja dengan seluruh tubuhnya.Tangan bisa berbicara.Mata bisa berbicara.Wajah bisa berbicara.Cara berdiri bisa berbicara. Bahkan diam pun bisa menjadi bagian dari cerita.Kemudian suara.Suara bukan hanya soal keras atau pelan.

Ada tekanan.

Ada tempo.

Ada jeda.

Ada karakter.

Ada perubahan suasana.

Suara seorang raksasa tentu tidak harus sama dengan suara seekor anak kecil.

Suara tokoh yang sedang marah tentu berbeda dengan tokoh yang sedang ketakutan.

Dan seorang pendongeng harus mampu membawa semua karakter itu hidup di hadapan penonton.

Saya jadi teringat:

Ternyata ketika bercerita, kita bukan hanya menyampaikan kata-kata. Kita menghidupkan kata-kata.

Saya Bukan Guru, Tetapi Saya Ingin Terus Belajar

Ada satu hal yang saya rasakan kuat dalam pelatihan itu.Saya mungkin bukan guru resmi.

Tetapi saya selalu ingin belajar menjadi manusia yang bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Sakola Pekarangan yang saya jalankan juga lahir dari semangat itu.

Saya percaya bahwa pendidikan tidak harus selalu berada di gedung sekolah.

Belajar bisa berlangsung di halaman.

Di kebun.

Di teras rumah.

Di bawah pohon.

Di warung.

Di ruang komunitas.

Bahkan di tempat-tempat yang tidak pernah kita sebut sebagai sekolah.

Dan bercerita adalah salah satu cara paling sederhana untuk membuka pintu belajar.

Sebuah cerita bisa membuat anak bertanya.

Pertanyaan membuat anak berpikir.

Berpikir membuat anak ingin tahu.

Dan rasa ingin tahu adalah salah satu pintu menuju pengetahuan.

Pertemuan yang Sudah Lama Ditunggu

Ketika pelatihan selesai, saya semakin menyadari bahwa pertemuan dengan Kak Bimo bukan sekadar pertemuan antara seorang peserta dan trainer.

Bagi saya, ini adalah pertemuan dengan sebuah penantian.

Ada banyak hal yang ingin saya pelajari.

Ada banyak hal yang selama ini hanya saya bayangkan.

Dan akhirnya kesempatan itu datang.

Bukan di Yogyakarta.

Bukan di tempat yang jauh.

Tetapi di Bondowoso.

Di sebuah ruang yang dipenuhi para guru.

Di sana saya duduk sebagai pembelajar.

Mendengarkan.

Mencatat.

Tertawa.

Berlatih.

Dan sesekali merasa malu ketika harus mempraktikkan gerakan atau suara.

Tetapi justru di situlah belajar terasa hidup.

Terima Kasih Kak Bimo

Saya berterima kasih kepada Kak Bimo atas ilmu yang dibagikan.

Bukan hanya karena saya akhirnya bisa bertemu dengan sosok yang selama ini ingin saya temui.

Tetapi karena pertemuan tersebut kembali mengingatkan saya bahwa menjadi pembelajar tidak mengenal usia dan status.

Saya datang bukan sebagai guru.

Saya datang sebagai murid.

Dan ternyata menjadi murid adalah sesuatu yang menyenangkan.

Saya juga berterima kasih kepada YDSF Cabang Bondowoso dan IGTKI Bondowoso yang telah menghadirkan ruang belajar tersebut.

Saya merasa beruntung bisa berada di tengah para guru hebat.

Saya belajar dari Kak Bimo.

Tetapi saya juga belajar dari para peserta.

Tentang kesungguhan.

Tentang keberanian.

Tentang bagaimana seorang guru terus belajar meskipun setiap hari dirinya sendiri menjadi tempat orang lain belajar.

Waktu Memang Ada Jodohnya

Mungkin benar.

Waktu memang ada jodohnya.

Ada orang yang kita tunggu bertahun-tahun, tetapi baru bisa bertemu ketika waktunya tiba.

Ada ilmu yang ingin kita pelajari, tetapi baru datang ketika kita benar-benar siap menerimanya.

Ada pertemuan yang kita rencanakan, tetapi Tuhan mempertemukannya melalui jalan yang tidak pernah kita duga.

Saya pernah ingin pergi ke Yogyakarta untuk bertemu Kak Bimo.

Ternyata tidak perlu.

Kak Bimo datang ke Bondowoso.

Dan saya datang sebagai peserta pelatihan.

Sederhana.

Tetapi berkesan.

Mungkin beginilah cara waktu menemukan jodohnya.

Bukan selalu seperti yang kita rencanakan.

Tetapi seperti yang akhirnya terjadi.

Pulang Membawa Cerita

Saya pulang dari pelatihan itu bukan hanya membawa sertifikat.

Saya membawa sesuatu yang jauh lebih penting:

semangat untuk terus bercerita.

Saya ingin membawa ilmu itu ke ruang-ruang kecil tempat saya mengajar.

Ke Sakola Pekarangan.

Ke anak-anak.

Ke masyarakat.

Ke siapa pun yang mau belajar.

Sebab mungkin suatu hari nanti, dari sebuah cerita sederhana yang kita sampaikan kepada seorang anak, lahir sebuah keberanian.

Dari sebuah dongeng, lahir imajinasi.

Dari sebuah kisah, lahir karakter.

Dan dari seorang pendongeng, lahir generasi yang mencintai cerita dan pengetahuan.

Kak Bimo mungkin telah bertemu dengan ratusan peserta pada hari itu.

Tetapi bagi saya, pertemuan itu akan saya simpan sebagai salah satu cerita penting dalam perjalanan belajar.

Sebuah cerita tentang guru dan murid.

Tentang dongeng dan kehidupan.

Tentang penantian dan pertemuan.

Dan tentu saja...

tentang waktu yang akhirnya menemukan jodohnya.

19 September 2026.

Hari ketika saya akhirnya bisa berkata:

“Saya pernah belajar bercerita langsung bersama Kak Bimo.”

Dan sekarang...

saatnya saya membawa cerita itu pulang.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso: Menelusuri Sejarah Para Pemimpin Bondowoso

5:44:00 AM 0



Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis dan sejarah yang menarik. Kabupaten ini menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai.

Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.

Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.

Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.

Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.

Jejak Para Pemimpin Bondowoso

No.Masa JabatanNama/Jabatan
11819–1830Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra)
21830–1850Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra)
31850–1866Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
41866–1879Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
51879–1891Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo
61891–1908Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail)
71908–1925Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro
81925–1928Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo
91928–1934Bupati RT. Prodjodininggrat
101934–1938Bupati RT. Herman Hidajat
111938–1945Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo
121945–1946Bupati R. Soetandoko
131946–1949Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo
141949–1950Bupati RT. Badroes Sapari
151950–1951Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo
161951–1956Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo
171957Bupati Soejarwo
181957–1958Bupati R. Soetowo
191958–1959Bupati Djomadi Moespan
201959–1964Bupati Soetowo
211964–1965Bupati Soemarto Partomihardjo
221965–1973Bupati Mayor R. Arifin Djauharman
231973–1978Bupati Kolonel R. Surono
241978–1983Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi
251983–1988Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai
261988–1993Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
271993–1998Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
281998–2003Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
292003–2008Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
302008–2013Bupati H. Amin Said Husni
312013–2018Bupati H. Amin Said Husni
322018–2023Bupati KH. Salwa Arifin
332025–2030Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag

Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini

Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.

Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.

Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.

Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.

Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Jejak itu masih ada.

Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

Kamis, 05 Maret 2020

KECAMATAN IJEN : Bencana Banjir dan Krisis Lingkungan Yang Terulang Kembali

3:49:00 PM 0
Kecamatan Ijen, merupakan nama baru yang diberikan kepada Kecamatan Sempol (dulu). Kecamatan Ijen adalah kecamatan yang berada dilereng Gunung Ijen dan dikelilingi pegunungan Ijen  Raung, sehingga layaklah kecamatan ini disematkan sebagai kecamatan Ijen. Kantor kecamatan Ijen terletak di Desa Sempol yang merupakan pusat keramaian dilereng Ijen, terdapat beberapa tempat layanan kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. Menurut Peraturan daerah Kabupaten Bondowoso Nomor 8 Tahun 2016,  tentang perubahan nama kecamatan sempol menjadi kecamatan Ijen. kecamatan ini menangui beberapa desa, diantaranya Desa Sempol, Desa Jampit, Desa Kalianyar, Desa Kaligedang, Desa Kalisat dan Desa Sumberrejo. Dari sekian ribu  penduduk dikecamatan Ijen mata pencaharian mereka adalah buruh tani dan petani, sebagian besar dari mereka merupakan pegawai, buruh lepas PTPN XII yang merupakan perusahaan milik BUMN dalam pengelolaan Kopi Arabika yang sudah tidak asing lagi, dan masyarakat dikecamatan Ijen berada di atas tanah tanpa pajak atau hanya hak guna yang diberikan oleh PTPN XII dan perhutani. Kecamatan Ijen juga sering disebut salahsatu Surga diketinggian yang ada dikabupaten Bondowoso, karena memiliki kawasan wisata yang cukup indah, beberapa diantaranya adalah kawah ijen, kawah wurung, air terjun Niagara mini dan lainnya. Tetapi, dibalik keindahan ini terdapat ancaman yang selalu menghantui mereka berupa kebakaran Hutan, Banjir bandang , Longsor, zat berhabaya dari kawah ijen seperti yang terjadi tahun 2018, dan kegagalan teknologi jika Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Geothermal) benar-benar dibangun di kawasan tersebut. Bahkan, kawasan yang berada di aliran sungai maupun dilereng yang cukup jauh dari Kecamatan Ijen, yakni Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Situbondo.
            Ancaman tersebut memang tidak sepenuhnya terbukti, akan tetapi dengan terjadi banjir bandang diawal Tahun 2020 ini, tentu membuat pembelajaran bagi kita semua bahwa bencana itu bisa cegah terjadinya dengan dilihat dari aspek lingkungan dan topografi wilayah. Seharusnya masyarakat dan pemerintah belajar dari kejadian serupa ditahun 2015 silam, dimana banjir bandang yang melanda kawasan tersebut merupakan krisis kearifan dalam mengelola lingkungan. Menurut Romlah (2016) bahwa bencana banjir yang melanda kawasan kecamatan di tahun 2015, merupakan bentuk ketidak arifan mengelola lingkungan, dengan menjadikan hutan sebagai lahan perkebunan baik secara legal maupun illegal. Terjadinya pembakaran hutan yang disengaja oleh oknum tertentu untuk mengambil keuntungan dari perbuatannya. Hal ini menjadi pembelajaran untuk kita semua bagaimana pengelolaan lingkungan hutan dan kawasan hutan. Terjadinya bencana di tahun 2015 silam ternyata cukup punya kesamaan dengan kejadian 2020 ini, akan tetapi bencana banjir bandang 2020 ini lebih besar dari tahun 2015. Kejadian banjir bandang 29 Januari 2020 ini, ditengarai sama dengan kejadian 2015 dengan adanya kerusakan hutan di hulu atau gunung diselatan kecamatan ini, yakni gunung suket. Diakhir tahun 2019 memang terjadi kebakaran dahsyat disekitar gunung ijen dan raung, bahkan yang tersangka pembakarnya sebagian sudah di tangkap oleh pihak berwajib.
“Bencana ini sebenarnya bisa di mitigasi, asal kita semua mau mengambil peran”
Berbagai presepsi terjadinya bencana ini salah satunya topografi wilayah yang berupa cekungan di daerah Sempol, terjadinya kebakaran dahsyat dipegunungan ijen dan raung, serta intesitas hujan yang tinggi sehingga tidak bisa menahan air yang mengalir ke hilir. Pembabatan hutan menjadi lahan pertanian yang tidak bisa mengikat banyak air. Bencana ini sebenarnya bisa di mitigasi, asal kita semua mau mengambil peran untuk penyelamatan kawasan ijen. Dengan adanya bencana ini saya merasakan hal yang cukup unik dalam penanganan bencana  yang terjadi di Sempol kemarin, tanggap darurat begitu cepat dan solidaritas kemanusiaan masyarakatnya sangat tinggi. Bahkan sehari selepas kejadian beredar pengumuman di salah satu Whatsapp Group, untuk memberhentikan bantuan Logistik sementara, dari perusahaan sampai remaja masjid pun turut andil dalam penanganan bencana banjir bandang kemarin, bersyukurnya masyarakat telah mampu hidup harmony dengan bencana banjir bandang ini. dengan melakukan tindakan-tindakan yang telah mereka miliki, karena cukup sama dengan kejadian 2015, masyarakat telah memiliki kapasitas dalam menejemen diri ketika terjadi bencana, kemana mereka harus pergi untuk menyelamtkan diri, dan siapa yang di dahulukan dalam penyelamatan diri. Bersyukurnya tidak ada korban jiwa pada kejadian bencana banjir bandang di kecamtan ijen kemarin.
Dengan adanya bencana yang mengancam tersebut, tentu bisa dilakukan mitigasi bencana dengan upaya multistakholder untuk melakukan aksi tersebut. Peran pemerintah dalam hal ini merupakan sentral untuk mengketatkan kebijakan agar masyarakat, tidak melakukan pembabatan hutan secara berlebih. Begitupun, masyarakat sadar dan mampu mengendalikan dirinya untuk tidak menggarap lahan secara berlebih. Mungkin tidak berlebihan harapan saya, jika muncul lokal heros penyelamat hutan seperti yang terjadi dibeberapa daerah. Local heroes ini muncul atas dasar diri mereka bukan karena terpaksa apalagi karena hanya dibayar.
Lokal heroes itu bisa terekspose atau tidak, itu hal yang terpenting. Pada bulan Desember 2019, sebenarnya telah ada kegiatan penanaman bibit Pohon yang dilakukan oleh satu komunitas yang bergerak di bidang lingkungan yakni Hijau Madani bersama Komunitas paralayang Bondowoso, yang di nahkodai oleh salah satu aktivis lingkungan yakni Slamet Riyadi yang popular dengan nama Mas Slam. Ia merupakan aktivis lingkungan yang baru saya kenal, mutiara penyelamat bumi. Setelah terjadinya bencanan bajir bandang dikecamtan ijen, beberapa opini mulai di gulirkan, salahsatunya adalah bagaimana mengembalikan fungsi hutan yang sebenarnya.
“Bijaklah memperlakukan alam, agar kita dipelakukan sama olehnya”
Dengan menghimpun diri beberapa komunitas di Bondowoso akan melakukan Reboisasi Massal dengan satkorlap Kodim 0822 Bondowoso, yang dilaksanakan tanggal 1 Maret 2020 dengan mengabil momentum nama, "Serangan Reboisasi 1 Maret" . Tetapi, pada dasarnya gerakan ini muncul dari bawah, yakni Komunitas, ini menjadi harapan besar sebenarnya bagi pemerintah untuk berperan aktif dalam pengelolaan lingkungan kedepannya. Adanya gerakan ini bukan tanpa alasan, berdasarkan assement memang sangat perlu dilakukan reboisasi. kalau perlu pemerintah juga ikut berperan dalam melakukan pemetaan masalah ini, dengan menghadirkan semua stakeholder atau pemangku kepentingan, agar hutan kembali pada fungsinya. Serta saling kontrol dalam pengelolaan lingkungan ini sangat perlu, jika memang ada yang melanggar ditindak secara tegas. Jangan hanya meninggalkan cerita tentang bencana terhadap anak cucu kita nanti, akan tetapi warisi mereka kawasan asri  yang bisa menjadikan mereka sadar, mereka memiliki leluhur yang patriotik menjaga alamnya.
Sekian ulasan ini, sebagai pengingat bagi saya juga dalam mengola lingkungan dengan arif tidak serakah, tamak dan merusak alam ini. renungan ini mungkin bukan hanya tulisan belaka, akan tetapi kami tengah berupaya untuk melakukan aksi nyata dilakukan bersama Komunitas dan mengajak pribadi ini untuk lebih arif meperlakukan alam semesta ini. Terima kasih dan sampai jumpa kajian berikutnya.

Rabu, 05 Desember 2018

Gagal sarjana , Sarjana Gagal, atau Pengangguran Bergelar

9:19:00 PM 2

Disalahsatu sudut kampus terdapat perkumpulan anak muda yang sedang menunggu Dosen Pembimbing, mereka duduknya cukup jauh dari ruang tunggu dosen depan Kantor Jurusan, bukan tanpa alasan meraka duduknya cukup jauh, mereka merasa aman jika duduk dikejauhan karena kursi ruang tunggu di depan Kajur Sudah dipenuhi adek-adek mereka dan setidaknya mereka tidak ketahuanlah kalau mereka semester tua, Alias mahasiswa abadi. Dikursi itu mereka mendiskusikan semester yang sudah berada ujung tanduk dan tuntutan untuk segera menyelesaikan tanggung jawab yang membuat mereka galau. Terkadang diantara mereka juga tertawa lepas, ketika berkumpul karena menertawakan diri mereka masing-masing dan bahkan diantara mereka menertawakan masa lalu yang cukup pesimis untuk lulus, tetapi malah lulus duluan. kalau aku gambarkan perbincangan mereka kurang lebih seperti ini. Simak baik-baik mungkin diantara kalian pernah merasakan hal yang sama.

Arip : Hallo kek, ngapain kalian disini? (Tanya Arip)
Mereka : yo ngenteni Dosenlah (nunggu Dosenlah). Kon lapo rene, mak cek Tumbennya ( timpal Su’udi dengan logat jemberannya)
Arip : aku yo Golek dosen pisan, jaluk tanda tangan Bendel skripsi iki.
Adit : mak megaya kon, wes mari kabeh tah, arep nang ndi kon ( kok gaya kamu, memang sudah selesai semua, mau keman kamu).
Su’udi ; Iyo arep nang ndi arek iki, jhare dulur kok ra bareng luluse (iya mau kemana nak ini, katanya saudara tapi lulusnya kok duluan) timpal  Su’udi.
Arip ; Mboh pisan rek, koyok’e marine aku iki lulus yo golek kerjo ngunu rek, ngebbe’I antrian penggangguran bergelar. (gak tahu juga ya bro, paling ya cari kerja gitu, memperpanjang antrian pengangguran bertitel sarjana). Hehehe
Adit dan Su’udi ; hahahahhahahahahahahhaa (mereka tertawa lepas dengan jawabn Arip, padahal mereka berdua juga belum lulus, jangankan lulus BAB 4 saja sudah hampir satu semester mereka lewati).
Arip ; Ojok nguyu, engko lek di takoni kalian jawabe ngunu pisan.( jangan ketawa nanti kalau ditanya jawabnya kalian juga begitu.

Stsssssssssssssssstttttttttttt ( Tiba-tiba Mata mereka tertuju pada Mahasiswi adek angkatan, lalu adik tingkat itu tanya)

Mirna ; Assalamu'alaikum mas-mas, ngapain mas- mas ini masih disini, bukan seharusnya sudah lulus ya?
Arip :  Mampus Kalian (Bisik dalam Hati Arip).
Adit :  Kalau Masalah Lulus urusan belakang dek, yang penting itu pekerjaan. Biar tidak bingung setelah lulus, kamu sudah mau lulus juga ternyata.
Mirna ; Iya dong, emang mas-mas ini. pada males ngerjakan skripsi.
Adit ; Jangan salah dek, mas sekarang pengusaha. Ijazah itu nomer sekian tetapi ilmunya yang mas perlukan. Tetapi untuk melengkapi administrasikan harus punya ijazah baru dikatakan sarjana. Sebenarnya kalau diluar negeri aku ini sudah sarjanaloh. Mau nikahin kamu sekarang, mas itu mampuloh dek. Hahahaha
Mirna ; Gak ah, meskipun pengusaha tapi bukan sarjana. Kan ortuku pengen menantu minimal sarjana  strata 2. (sambil melenggokan kepalanya, beri isyarat sombong).
Adit : Meskipun sarjana Strata 2 tapi  tak tahu sama lingkungan dan tetangganya apa gunanya dek, kan iya Di (meyakinkan dengan melibatkan Su’udi dalam perbincangan mereka).
Su’udi ; Iya betul itu dek. Kalau aku sih dek sudah lulus secara keilmuan, Cuma secara administrasi aku belum lulus. (Dengan nada membenarkan dan membela harga diri mahasiswa tua)
Mirna : Kok begitu mas.?
Su’udi ; Iya dek, aku sudah bisa memberdayakan masyarakat sekitarku dengan cara pembuatan kripik yang aku kemas dan menjadi merk serta oleh-oleh khas dari Desaku. Aku sudah membuat Tempat belajar buat anak-anak kurang mampu dilingkunganku. Dan membantu memajukan desa sebelah dengan pembinaan pariwisatanya. Lah kalau aku kuliahnya diluar negeri mungkin aku diluluskan administrasi juga dek. Seperti yang baru-baru ini terjadi pada Bayu Skak, yang lulus karena karya  membuat film bukan hasil depan kursi dan debat teori tetek bengik itu. Aku punya prinsip dek, mending aku tidak menjadi sarjana daripada aku menajdi sarjana yang gagal. Gagal mencerdaskan sesamaku di Desa, gagal menjadikan lingkunganku sejahtera dan gagal dalam menjadi role model di Desaku dek. Tapi, aku saranin ya, kamu jangan niru kita, cepetan lulus kamu, UKTmu mahalkan? Hahaha (dengan Sombongnnya dia membeberkan prestasi non-akademiknya, padahal sudah semeter tua)
Arip ; iyo dek, pokok’e ojok niru mereka berdua dek.  Mereka mahasiwa tua yang Gendeng dek. Hehehe
Mirna ; owalah begitu ya mas, iyo mas UKTku larang yoo. Yo wes ndang lulus mas. Selak diputus mbek pacare lan selak ditinggal Rabi mbek calone. Lah iyo mas, kabare mas Tiyo itu gimana mas, soale ditanya Pak Nuha terus yo mas, kan satu bimbingan karo aku mas.?
Arip ; sopo dek, Tiyo koncoku iku {iyo koncone samean “sahut mirna}. Tiyo itu sudah bilang berhenti dek, kan anaknya sudah besar, lagian sekarang dia sudah memiliki usaha ternak lele, rental PS dan Jual ikan segar di pasar kota Sigrea. Ya dia juga bilang kalau dia gagal sarjana tapi sakti mandraguna dalam mencari uang kata dia.
Mirna ; lah lek mbak Yuni iku mas?
Adit ; Aku yang jawab ya dek, kalau Yuni itukan sudah lulus pas semester delapan.
Mirna ; Mosok mas? Dia dikelas pasif gitu, Cuma nunut ae, ya iyo ngunu perasaane aku delok wonge.
Adit ; Iyo iku dek, yo mungkin wes rejekine dan kerja kerasnya beda, tapi dia jaringannya kan terbatas. Organisasi ya tidak ikut, kampus kosan kampus warung paling itu rutinitasnya Cuma dek, wajarlah dia lulus duluan dan nilai memuaskan.  Tapi entah ijazahnya jadi apa, kabar kemarin dia masih nganggur sudah tiga tahun. Sampai nangis kata sahabatnya minta dicarikan pekerjaan, karena malu katanya.
Mirna ;  lek sing sahabate samena iku mas Arip, mas Angga iku, ndi saiki mas?
Arip : Angga iku, wes meh mari dek, tapi kemarin itu dia diputus sama pacarnya gara-gara dia gak lulus-lulus dan pacarnya dapet kenalan lagi temen Kerjanya. Dia kemarin cerita kalau dia diputus saat H-3 wisuda mantanya itu. dia udah beli hadiah dan udah nemenin mantannya penelitian sampai dia melupakan punya dia sendiri bahkan dia rela bantuin masuk kelas ngajar objek penelitian dan nganterin untuk keperluan penelitian mantannya itu. dan dia juga cerita katanya orangtuanya gak suka sama keturunan Madura, Anngga kan ada keturunan Maduranya dek. Ya Tiga tahun lebih dia dimanfaatin sama mantannya itu. kasian sama dia aku dek. Ealah malah curhatin Angga!
Mirna : yah kasian ya mas, padahal mas angga itu gak macem-macem ya orangnya. Ya udah mas, dosen pembibingku wes teko iku mas. Makasih ya mas-mas keren… Semangat yaa.. mas-mas
Arip, Adit dan Su,udi : Oke dek, sama-sama.
Su’udi : ayo muleh wes, koyo’e Dosene gak kiro teko iki.
         Tadi itu gambaran obrolan mereka para penghuni kampus terakhir, disemeseter yang sudah berada diujung tanduk mereka selalu mencari pembenaran. Tetapi dalam diri mereka selalu memiliki prinsip yang harus mereka perjuangkan. Seperti contoh Tiyo teman mereka yang sadar kalau Gagal sarjana tetapi sakti mandraguna mencari uang. Ada juga yang takut menjadi sarjana gagal,  dengan prinsipnya memiliki karya sebelum menjadi seorang sarjana dan memilih menjadi relawan di banyak tempat. Ada juga Yuni yang lulus lebih awal, tetapi sampai 3 tahun belum memiliki pekerjaan sehingga menjadi penggangguran bergelar. ijazah itu membuktikan bahwa dia pernah kuliah, tetapi belum tentu dia pernah berfikir. Ada juga Angga yang ditinggal karena tidak lulus-lulus karena membela kelulusan pacarnya, perbedaan suku dan kasta keluarga. Dan ada juga yang berprinsip menjadi pengusaha sukses dulu baru lulus agar tidak bingung mencari pekerjaan tetapi menciptkan pekerjaan.

Ijazah itu bukti bahwa dia pernah kuliah, tetapi belum tentu dia pernah berfikir

       Mungkin itu sebuah gambaran mahasiswa semester akhir yang terjadi di jaman sekarang, atau peranah terjadi dizaman lampau tetapi beda cerita. Mereka memiliki prinsip sendir-sendiri dalam berjuang menjadi sarjana. Tetapi jangan sampai gagal sarjana, serjana gagal bahkan menjadi pengangguran bergelar. Tidak usah gengsi dengan gelarmu untuk melakukan semua pekerjaan, dan jangan jadi sarjana gagal karena akan membebeni belanja Negara.  Aku Do’akan semua mahasiswa yang berada diujung tanduk agar segera selesai semuanya dan segera rampung segala beban skripsinya. Menunda skripsi sama dengan menunda resepsi hahaha. Mohon do’anya juga ya rek.. Btw aku juga belum lulus nih.