Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Ijen Geopark : Pesona Kaldera Ijen Purba di Bondowoso

6:21:00 AM 0

Bondowoso memiliki bentang alam yang luar biasa. Di wilayah timur kabupaten ini, kawasan pegunungan Ijen menghadirkan perpaduan antara lanskap vulkanik, hutan, perkebunan kopi, air terjun, sumber air panas,s avana, serta kehidupan masyarakat yang telah berabad-abad beradaptasi dengan lingkungan pegunungan.

Kawasan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari Ijen UNESCO Global Geopark, sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita tentang proses geologi, keanekaragaman hayati, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.

Ijen UNESCO Global Geopark berada di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. UNESCO menetapkan Ijen sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2023. Kawasan ini memiliki nilai geologi yang sangat penting, terutama karena bentang alamnya terbentuk dari aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Di kawasan ini terdapat konsentrasi kerucut vulkanik, kawah, dan aliran lava yang memperlihatkan bagaimana aktivitas gunung api membentuk wajah wilayah Ijen. Salah satu pusat perhatian utamanya tentu saja adalah Kawah Ijen. Bagi masyarakat Bondowoso, Ijen bukan sekadar gunung atau kawasan wisata. Ijen adalah ruang hidup yang mempertemukan alam, perkebunan, budaya, sejarah, dan aktivitas masyarakat.

Kawah Ijen, Pesona Kaldera yang Mendunia

Kawah Ijen merupakan salah satu ikon wisata alam Jawa Timur. Kawah ini berada di dalam sistem kaldera Ijen dan memiliki danau kawah berwarna biru kehijauan yang memiliki tingkat keasaman sangat tinggi. UNESCO menyebut Danau Kawah Ijen sebagai danau kawah paling asam di dunia.

Keindahan Kawah Ijen semakin lengkap dengan dinding-dinding kaldera yang menjulang dan membentuk lanskap dramatis. Ketika cahaya matahari pagi mulai menyentuh lereng dan permukaan kawah, warna-warna alam berubah perlahan. Kabut yang menggantung di antara pepohonan dan tebing menciptakan suasana yang sulit dilupakan. Namun, ada satu fenomena yang membuat Ijen begitu terkenal di dunia: blue fire atau api biru.

Fenomena tersebut bukanlah lava berwarna biru. Api biru muncul ketika gas sulfur bersuhu tinggi keluar dari kawasan vulkanik dan terbakar ketika bertemu dengan oksigen di atmosfer. Karena fenomena tersebut paling mudah terlihat pada malam hari, pengunjung yang ingin menyaksikannya biasanya harus melakukan perjalanan sebelum matahari terbit.

Fenomena api biru Ijen merupakan salah satu fenomena vulkanik yang sangat langka dan menjadi daya tarik utama kawasan ini. Tetapi Ijen bukan hanya tentang api biru. Ada perjalanan menuju puncak, udara dingin, suara langkah kaki, aktivitas penambang belerang, hutan pegunungan, matahari terbit, serta panorama kaldera yang perlahan terbuka ketika kabut mulai menipis. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari cerita perjalanan menuju Kawah Ijen.

Paltuding, Gerbang Pendakian Kawah Ijen

Salah satu titik penting dalam perjalanan menuju Kawah Ijen adalah Paltuding. Paltuding menjadi kawasan awal pendakian yang sangat dikenal oleh wisatawan yang hendak menuju Kawah Ijen. Dari sinilah perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan kawah.

Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas pendukung wisata di kawasan Ijen juga terus dikembangkan. Pemerintah Kabupaten Bondowoso, misalnya, telah mengembangkan fasilitas pelayanan kesehatan wisatawan di kawasan Paltuding melalui Pos Kesehatan Pariwisata Ijen Geopark.

Bagi wisatawan, Paltuding bukan hanya tempat memulai pendakian. Tempat ini juga menjadi titik untuk mempersiapkan kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan menuju kawah. Dan menariknya, Ijen dapat dinikmati dari berbagai sisi. Bagi wisatawan yang datang dari Bondowoso, perjalanan menuju Ijen membawa kita melewati kawasan pegunungan dan perkebunan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.

Menikmati Ijen dari Jalur Bondowoso

Perjalanan menuju kawasan Ijen dari Bondowoso menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebelum mencapai kawasan Paltuding, perjalanan melewati jalan pegunungan, perkebunan kopi, hutan, dan permukiman masyarakat. Semakin mendekati kawasan Ijen, udara semakin sejuk dan lanskap pegunungan semakin dominan. Inilah salah satu alasan mengapa perjalanan menuju Ijen dari Bondowoso layak dianggap sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar perjalanan menuju sebuah destinasi.

Kawasan Bondowoso juga memiliki hubungan yang kuat dengan perkebunan kopi. UNESCO mencatat Kopi Bondowoso  sebagai salah satu bagian dari warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark, dengan perkebunan kopi yang juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Maka, perjalanan ke Ijen dapat menjadi sebuah perjalanan yang lengkap: 

dari kopi, perkebunan, pegunungan, hutan, hingga kawah vulkanik.

Kawah Wurung: Savana di Kaldera Ijen

Tidak jauh dari kawasan Kawah Ijen terdapat salah satu destinasi yang menjadi favorit wisatawan di Bondowoso, yaitu Kawah Wurung. Kawah Wurung merupakan bentang alam berupa cekungan yang dihiasi hamparan padang rumput. Pada musim tertentu, kawasan ini tampak hijau dan luas, sehingga sering diasosiasikan oleh wisatawan dengan sebutan “Bukit Teletubbies.”

Pemandangan Kawah Wurung sangat berbeda dengan Kawah Ijen. Jika Kawah Ijen menawarkan panorama kawah vulkanik dan danau berwarna biru kehijauan, Kawah Wurung menawarkan hamparan savana dan perbukitan. Di sekitar kawasan wisata, wisatawan juga dapat menikmati kopi Arabika yang menjadi salah satu komoditas khas pegunungan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri memasukkan Kawah Wurung sebagai salah satu kawasan pariwisata penting dalam kawasan Ijen-Raung. Kawah Wurung juga menjadi bagian dari pengembangan Ijen Caldera Adventure, termasuk paket perjalanan menggunakan jeep yang menyusuri kawasan savana dan lanskap Ijen.

Puncak Megasari: Menatap Ijen dari Ketinggian

Bagi mereka yang ingin menikmati kawasan Ijen dari sudut pandang yang berbeda, Puncak Megasari menawarkan pengalaman menarik.Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan bentang alam Ijen dari ketinggian.

Puncak Megasari juga telah menjadi salah satu destinasi yang mendapatkan perhatian dalam pengembangan pariwisata kawasan Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkannya dalam kawasan pariwisata Ijen-Raung. Dari sini, Ijen tidak lagi sekadar terlihat sebagai sebuah kawah. Kita dapat melihatnya sebagai sebuah bentang alam besar yang tersusun atas gunung, lembah, hutan, perkebunan, dan permukiman masyarakat.

Air Terjun Blawan dan Aliran Kalipait

Perjalanan menyusuri kawasan Ijen tidak berhenti di gunung. Di Kecamatan Ijen terdapat Air Terjun Blawan, salah satu destinasi alam yang memiliki karakter unik. Air Terjun Blawan berada di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen. Air terjun ini memiliki hubungan dengan aliran air dari kawasan Ijen dan dikenal memiliki kandungan mineral serta sulfur yang membuat karakter airnya berbeda dari air terjun pada umumnya.

Yang membuat Air Terjun Blawan menarik adalah alirannya yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Karena karakter tersebut, masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai air terjun yang “hilang ke bumi”.

Tidak jauh dari kawasan ini terdapat Pemandian Air Panas Blawan. Setelah perjalanan menyusuri pegunungan dan berbagai destinasi Ijen, berendam di air hangat dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pemandian Air Hangat Blawan juga tercatat sebagai salah satu destinasi wisata alam di Kecamatan Ijen. Sementara itu, Kalipait juga menjadi bagian dari kawasan wisata Ijen. Pemerintah Kabupaten Bondowoso memasukkan Kalipait bersama Kawah Ijen, Kawah Wurung, Air Terjun Blawan, Puncak Megasari, dan agrowisata kopi sebagai bagian dari kawasan pariwisata Ijen-Raung.

Air Terjun Gentongan dan Pesona Alam di Lereng Ijen

Selain Blawan, kawasan Ijen juga menyimpan sejumlah air terjun dan bentang alam lain yang menarik untuk dijelajahi. Salah satunya adalah Air Terjun Gentongan.Keberadaan air terjun, aliran sungai, hutan, dan lembah menunjukkan bahwa kawasan Ijen tidak hanya memiliki kekayaan geologi, tetapi juga kekayaan hidrologi dan ekosistem.

Daftar destinasi resmi Kabupaten Bondowoso mencatat sejumlah objek wisata alam di kawasan ini, termasuk Air Terjun Gentongan, Kalipait, Mini Niagara, Air Terjun Pelangi, serta sejumlah destinasi lainnya. Dengan demikian, wisata Ijen sebenarnya dapat dikembangkan menjadi perjalanan beberapa hari, bukan hanya kunjungan singkat untuk melihat kawah.

Kebun Kopi Arabika: Ijen dan Aroma yang Mendunia

Ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berbicara mengenai kawasan Ijen di Bondowoso: 

kopi. Perkebunan kopi Arabika tumbuh di kawasan dataran tinggi Bondowoso. Udara sejuk, kondisi tanah vulkanik, serta lingkungan pegunungan menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan perkebunan kopi. Kopi bukan hanya komoditas pertanian. Di kawasan Ijen, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas kawasan.

UNESCO secara khusus mencatat Bondowoso Coffee sebagai salah satu unsur warisan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark. Perkebunan kopi di kawasan tersebut juga memiliki hubungan dengan keanekaragaman flora dan fauna. Karena itu, perjalanan ke Ijen akan terasa lebih lengkap apabila disertai dengan pengalaman menikmati kopi Arabika di tengah perkebunan.

Bayangkan:

pagi yang dingin, kabut yang perlahan terangkat, hamparan kebun kopi, dan secangkir kopi Arabika hangat.

Itulah wajah lain Ijen yang mungkin tidak selalu terlihat dari puncak kawah.

Ijen Bukan Hanya Tentang Geologi

Keistimewaan Ijen UNESCO Global Geopark tidak hanya terletak pada gunung dan kawahnya. Konsep geopark menghubungkan warisan geologi dengan warisan alam dan budaya, serta menggunakannya sebagai sarana pendidikan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Karena itu, ketika kita berbicara mengenai Ijen Geopark, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah kawasan yang jauh lebih luas daripada Kawah Ijen.

Ada masyarakat.

Ada perkebunan.

Ada tradisi.

Ada cerita sejarah.

Ada flora dan fauna.

Ada situs geologi.

Ada situs budaya.

Dan semuanya saling berhubungan.

Situs Geologi, Biologi, dan Budaya

Kawasan Bondowoso yang termasuk dalam Ijen Geopark memiliki berbagai situs yang memperlihatkan hubungan antara alam dan kehidupan masyarakat. Dari sisi geologi, terdapat berbagai bentuk bentang alam vulkanik seperti kawah, lava, dinding kaldera, dan sumber air panas.

Dari sisi biologi, kawasan Ijen memiliki hutan pegunungan, perkebunan kopi, serta berbagai jenis flora dan fauna. UNESCO mencatat keberadaan beragam flora dan fauna di kawasan perkebunan kopi Bondowoso.

Sementara dari sisi budaya, Bondowoso memiliki berbagai tradisi dan kesenian masyarakat yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Dengan demikian, perjalanan Ijen bukan hanya perjalanan melihat pemandangan.

Ia adalah perjalanan untuk membaca cerita bumi dan manusia.

Ijen sebagai Ruang Belajar

Salah satu gagasan penting dalam konsep geopark adalah menjadikan kawasan sebagai ruang pendidikan. UNESCO menjelaskan bahwa UNESCO Global Geopark bukan sekadar kawasan wisata. Geopark juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bumi, warisan geologi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, perjalanan ke Ijen dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik.

Anak-anak dapat belajar mengenai gunung api. Pelajar dapat memahami proses pembentukan kaldera.

Wisatawan dapat melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan kawasan pegunungan.

Petani dapat memperkenalkan proses budidaya kopi. Dan masyarakat lokal dapat menjadi bagian penting dalam menjaga serta memperkenalkan warisan daerahnya.

Menikmati Ijen dari Bondowoso

Jika ingin menjelajahi kawasan Ijen dari sisi Bondowoso, banyak pilihan yang dapat disusun dalam sebuah perjalanan.

Misalnya:

Hari pertama

Bondowoso – Sumberwringin – perkebunan kopi – Kawah Wurung – Puncak Megasari.

Hari kedua

Paltuding – pendakian Kawah Ijen – menikmati panorama kaldera – turun menuju kawasan Blawan.

Hari ketiga

Pemandian Air Panas Blawan – Air Terjun Blawan – Kalipait – perjalanan kembali menuju Bondowoso.

Tentu saja susunan perjalanan perlu menyesuaikan kondisi cuaca, aturan pengelola, kondisi jalur, serta status operasional masing-masing destinasi.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso sendiri pada 2025 memperkenalkan perjalanan GeoTrip Ijen Caldera Adventure yang menghubungkan beberapa destinasi, antara lain Paltuding, Kalipait, Kawah Wurung, Jabal Kirmit, dan Air Panas Blawan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Ijen dapat dinikmati sebagai satu rangkaian perjalanan, bukan sebagai destinasi yang berdiri sendiri.

Menjaga Pesona Ijen untuk Generasi Mendatang

Keindahan Ijen membawa tanggung jawab.

Semakin terkenal sebuah kawasan wisata, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga lingkungan dan mengatur aktivitas wisata secara berkelanjutan.

Kita datang ke Ijen untuk menikmati alam, tetapi pada saat yang sama kita juga harus menjaga alam tersebut.

Tidak membuang sampah.

Tidak merusak vegetasi.

Tidak mengambil bagian dari lingkungan sebagai cendera mata.

Mengikuti aturan kawasan konservasi.

Menghormati masyarakat lokal.

Dan yang tidak kalah penting, menghargai para pekerja serta masyarakat yang menggantungkan kehidupan mereka pada kawasan Ijen.

Inilah semangat penting dari sebuah geopark: menikmati, memahami, melestarikan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Ijen, Cerita Panjang di Bumi Bondowoso

Pada akhirnya, Ijen bukan hanya tentang foto di tepi kawah.

Bukan hanya tentang blue fire.

Bukan hanya tentang sunrise.

Bukan pula hanya tentang hamparan savana Kawah Wurung.

Ijen adalah sebuah cerita panjang tentang bumi.

Cerita tentang gunung api yang membentuk bentang alam.

Cerita tentang air dan lava.

Cerita tentang hutan dan perkebunan.

Cerita tentang kopi Arabika yang tumbuh di lereng pegunungan.

Cerita tentang masyarakat yang hidup dan bekerja di kawasan ini.

Dan cerita tentang bagaimana sebuah wilayah menjaga warisan alamnya untuk generasi berikutnya.

Dari Kawah Ijen, Kawah Wurung, Puncak Megasari, Kalipait, Air Terjun Blawan, Pemandian Air Panas Blawan, hingga perkebunan kopi, semuanya merupakan kepingan dari satu cerita besar bernama Ijen Geopark.

Bondowoso memiliki pintu untuk memasuki cerita itu.

Sebuah perjalanan yang dimulai dari kota, kemudian melewati perkebunan, menanjak menuju pegunungan, hingga akhirnya berhadapan dengan bentang alam vulkanik yang luar biasa.

Dan di sana kita akan memahami bahwa keindahan Ijen bukan hanya apa yang terlihat oleh mata.

Ijen adalah jejak panjang bumi yang dapat kita baca, kita nikmati, dan kita jaga bersama.

Minggu, 01 Maret 2020

Berjumpa Pemilik Hati Samudra, Mbah MH Ainun Najib ( Cak Nun)

5:57:00 AM 0


Foto Bersama Mbah Nun 

Alhamdulillah, itulah ucapan yang kerap disampaikan ketika merasakan kebahagian sebagai rasa syukur, atas nikmat Allah SWT yang telah melimpahkan segala bentuk nikmatNYA. Begitupun saya, kemarin ketika berjumpa dengan salah satu Tokoh Panutan yang selalu mengingatkan anak cucunya ini dengan senyuman, pelukan , bahkan guyonan. Bangsa ini sangat beruntung memiliki manusia seperti beliau yang setiap hari sibuk dengan tangisan anak cucu bangsanya. Setiap hari pindah lokasi, kadang di Jawa kadang diluar Jawa juga bahkan jadwalnya hampir penuh setiap bulannya, tetapi Yogyakarta menjadi pilihan beliau untuk menjadi lokasi perenungan mbah bersama anak cucunya. Tepatnya di kota Sleman, beliau bersama uti kami dan dulur-dulur kiaikanjeng selalu bersamanya.
                Saya bersyukur dapat berjumpa dengan keadaan beliau sehat wal afiat, mengingat salah satu nadzar saya menjumpai atau sowan para tokoh-tokoh bangsa, terutama Tokoh Nahdlatul Ulama setelah dinyatakan lulus dari kuliah yang cukup panjang ini. Alhamduillah, kemarin dapat berjumpa Mbah Nun dalam pelaksanaan  Festival Sains dan Budaya 2020  di komplek Kharisma Bangsa School tempat digelarnya acara Kompetisi tahunan bergengsi yakni Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia ( OSEBI). Berjumpa mbah Nun merupakan ketidak sengajaan yang harus disengaja untuk berjumpa dengan beliau,  sebagaimana disetiap maiyah acara sinau bareng biasanya bersalaman dengan beliau adalah moment sangat sulit, karena pengawalan ketat dari panitia.
Berjumpa langsung dengan beliau merupakan suatu moment yang tidak bisa dilupakan dan harapan semua sedulur maiyah disegala penjuru dunia, begitu juga saya yang masih amatiran jadi jamaah maiyahan menjadi moment spesial banget dalam perjalanan kelana selama di Jakarta. Kemarin penuh drama untuk ketemu beliau, karena tidak disengaja bahkan seperti mimpi ketemu beliau. Jadi, kemarin hari Ahad 23 Januari 2020, sekitar jam sebelas siang nyonya saya dihubungi kakak kelasnya yang kebetulan guru di Kharisma Bangsa School (KBS), dia bilang kalau acara itu dihadiri oleh Mbah Nun, tetapi temen nyonya biasa saja. Mendengar itu sayapun segera mandi, bersih diri dan tibalah sekitar jam 12 an saya berangkat ke lokasi acara FSB 2020 tersebut. Tanpa diduga, ada kabar  hampir sampai lokasi, kakak kelasnya nyonya bilang kalau acara udah hampir kelar, jadi agak lemes tubuh ini tetapi saya masih berusaha kesana, bagaimanpun yang penting bisa ketemu mbah Nun dan salaman dengan beliau. Syukur Alhamdulillah, acara sedikit diperpanjang dan masih menyempatkan diri melihat  persembahan medali Emas Bagi para pemenang FSB 2020. Mbah Nun menyampaikan orasi penutupan FSB 2020 tersebut, dengan banyak wejangan yang diberikan kepada adek-adek hebat dari seluruh Indonesia ini, yang nantinya mewakili Indonesia di olimpiade Internasional.
Foto Booth FSN 2020 

                Tidak hanya sampai disana, selepas acara saya coba lihat mbah Nun turun panggung dari sebelah mana. Beliau turun dari sebelah kiri panggung, saya pun menuju pintu keluar acara, ternyata beliau tidak lewat jalan itu. Lalu sayapun menuju pintu masuk utama sekolah tersebut, bertanya kepada satpam, kendaraan yang membawa mbah Nun yang mana, ternayata masih berada diparkiran dengan Nopol Bogor (F ), selang beberapa menit ada juga salah satu guru pendamping lomba puisi ingin menemui mbah Nun juga, untuk bertanya Puisi yang dibawakan anak didiknya dibuat tahun berapa. Saya bersama mas Opic nama guru tersebut, menunggu hingga kurang lebih jam setengah dua, tetapi mbah Nun belum juga tampak keluar dari sekolah tersebut, dan kita tunggu di depan mobil yang dimaksud, karena sangat mepet dengan waktu sholat dhuhur, secara gentian sholat di Mushollah, sampai mas Opic selesai sholat, beliau belum juga meninggalkan lokasi acara. Akhirnya saya sholat dhuhur dulu, sekitar 10 menitan, dan ketika keluar selesai sholat terasa surprise banget, ternyata mbah Nun udah berada dipintu keluar sekolah dengan banyak Guru dan tentunya mas-mas yang tadi ikutan foto bersama beliau. Tanpa pikir panjang, saya langsung salim ke beliau, ternyata ada momen lainnya yang mebuat saya tidak bisa ngomong, ketika saya ingin memeluk beliau dan beliau memegang kedua pundak saya, menatap mata saya dan tanpa mengatakan apa-apa beliau seperti menyasehati. Luas banget hati beliau,  dengan sibuknya yang luar biasa, masih bisa memanusiakan cucunya yang penuh amarah, dan dosa ini. Dengan Niatan, tadinya selain salaman dan meminta nasehat “pernikahan “ bagi kami berdua, dengan kejadian luar bisa tersebut saya tidak bisa berbicara apa-apa, hanya bersalaman dan berfoto dengan beliau sebagai catatan momen bersama beliau.
“Segala pertemuan itu adalah percintaan_Cak Nun”
                Ini merupakan moment luar biasa bagi saya, moment sangat langka berjumpa dengan beliau dan salaman langsung dengan beliau bahkan dipeluk, di tepuk pundak saya dua kali oleh beliau. Dengan tatapan beliau yang membuat saya optimis, sekaligus badan gemeter menahan rasa haru yang luar biasa bisa berjumpa dengan beliau. Moment ini juga dirasakan oleh teman dan sahabat saya dengan perasaan “cemburu dan iri “ katanya. Sampai tulisan ini terbit, telah ada 3 sahabat dan teman yang bilang seperti itu. Insyallah dilain waktu kalian bisa berjumpa beliau ya, dengan keadaan beliau sehat wal afiat. Terima kasih mbah Nun, telah memberikan optimis kepada kami cucumu ini.

Sabtu, 29 Juni 2019

Banyak Orang Tau "Carok" Madura tapi tak Paham Lebih Dalam!

2:42:00 AM 0
Photo By Me, Edit By Canva

Madura merupakan sebuah pulau yang berada di sebelah Ibukota  Jawa Timur, Surabaya yang dihubungkan dengan Jembatan Terpanjang yang memebelah selat Madura yakni Jembatan Suramadu. Pulau Madura memiliki Empat kabupaten yang terbentang dari ujung Timur sampai Ujung Barat  dan merupakan tempat lahirnya Ulama Khos yang menjadi Guru dari dua pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia yakni syeikhona Kiyai Muhammad Kholil di kabupaten Bangkalan. Selain itu di ujung barat juga ada keraton Asta tenggi di Kabupaten Sumenep serta Sayyid Yusuf di Talango. Masyarakat Madura di Tanah kelahirannya memiliki ke khasan khusus yakni bisa dilihat dari tata letak rumah yang memiliki halaman memanjang atau yang disebut “Tanean Lanjheng” dan disebelah barat ada Musholla atau langgar yang digunakan untuk sarana peribadahan mereka serta tempat berkumpul keluarga besar. Rumah memanjang merupakan sebuah identitas masyarakat Madura menjaga anak cucu, karena biasanya dalam satu Pekarangan terdapat beberapa rumah sanak  saudara dan keluarga besar.

Posisi Perempuan di Madura

Perempuan memiliki penghargaan tertinggi di dalam adat dan budaya Madura, mereka menjadi perhiasan dalam keluarga sehingga tak jarang remaja perempuan yang telah beranjak dewasa sangat di jaga oleh orang tuanya. Bahkan sedari lulus SD mereka dikirim ke pondok yang sangat ketat aturannya agar terlindungi dan salah satu cara melindungi serta memberikan pengetahuan pada anak sebagai bekal menuju kehidupan ke depan. Selain penghargaan terhadap anak remaja perempuan yang luar biasa, penghargaan terhadap wanita juga tercermin dari salah satu perilaku dalam memposisikan seorang istri menjadi seorang yang sangat spesial setelah “bepak, Ibu’, guruh, Ratoh” yang artinya posisi itu menjadi spesial setelah bapak, ibu, guru dan pemimpin.

 Lebbhi Bhegus Pote Tolang , Etembheng Pote Mata 

Pun penghargaan tertinggi juga bisa dilihat dari grafik tertinggi duel sampai mati atau “carok”  di pulau Madura disebabkan oleh diganggunya seorang perempuan seperti anak perempuan terlebih istri mereka, terjadinya carok juga sebagai sebuah perlawan membela diri karena perempuannya di ganggu oleh pihak ketiga, karena dalam diri orang Madura mengganggu perempuannya merupakan penghinaan terhadap harga diri seorang laki-laki. hal ini juga di Tulis oleh salah satu akademisi Madura, A. Latief Wiyata dalam bukunya yang berjudul "Carok" bahwa angka tertinggi terjadinya carok karena permasalahan perempuan, karena orang Madura memiliki prinsip yang mengatakan" Lebbhi bagus pote tolang etembheng pote mata “ maksudnya lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu. Ungkapan ini berlaku demi untuk mempertahankan martabat, hak dan harga diri sebagai orang Madura Dan biasanya timbulnya perselisihan tidak lepas dari permasalahan Perempuan dan Lingkungan. Selain penyebab tertinggi carok karena permasalahan posisi perempuan, juga karena warisan , pemilihan kepala desa atau klebun. Tetapi, lambat laut Carok mulai bisa diminimalisir dengan adanya penengah dari Tokoh agama, karena mereka sangat menghormati tokoh agama atau kiyai, dan masyarakat Meninggalkan Carok karena tingkat kesadaran dan kedewasaan dalam berfikir.  Bagi saya sebagai keturunan keempat dari Madura Asli, dulunya juga merasakan ketakutan kalau sudah mendengar kata Carok di Tanah nenek Moyang saya itu. Tetapi, saya dipahamkan dengan karakter yang juga melekat dengan gaya bicara yang keras dan nyaring serta semua budaya, perilaku orang Madura, sayapun yang tinggal dan lahir di Jawa gaya bicarapun masih sama dengan Tretan saya di Pulau Garam tersebut.

Stereotipe Terhadap Orang Madura

Mungkin itu yang menjadikan kami suku Madura disebutkan keras oleh banyak pihak, bahkan pernah ada kawan saya keturunan Madura tidak mau disebut keturunan orang Madura. Stereotipe itu melekat kepada kami Keturunan Madura yang sudah terlahir dan bermukim di Jawa bahkan mungkin di Luar Negeri. Bahkan saking keras gaya bicara kami, sempat suatu ketika seorang teman pergi ke kota Saya di Bondowoso melihat orang Madura berinterikasi dengan memakai bahasa Madura, dia meminta melerai dua orang tersebut ia menyangka sedang bertikai, saya maklumi Ia terlahir dan besar di Jawa tengah dan saya bilang kalau itu bicara biasa, dan setelah saya tanyakan memang teman saya itu hampir jarang berinterkasi dengan orang Madura sebelum ia Rantau ke Kota Jember.
 Ada juga kejadian yang membuat saya tersenyum karena seorang kawan, waktu itu  saya berkunjung ke Surabaya stereotipe negatif tentang Orang Madura itu dibicarakan kepada saya, bagaimana orang Madura disekitar Surabaya Utara, saya hanya tersenyum dan menyimak apa yang ia bicarakan, Cuma dia salut kagum atas kekompakannya orang-orang Madura. Selepas ia membicarakan itu, sayapun bilang kalau saya keturunan Madura, saya hanya memberikan pemahaman tentang orang Madura yang sesungguhnya, mungkin ada saudara saya yang berbuat buruk disuatu tempat, tapi jangan menggeneralisir kalau orang Madura itu seperti itu semua, Cuma itu yang saya sampaikan hingga diujung pembicaraan kami menemukan titik persaudaraan baru antara suku Madura dan Suku Jawa. Karena saya memahami sebagaimana orang Madura yang terlahir dan Besar di Pulau Jawa ini.Mungkin ini tidak begitu ekstrem dalam pergaulan orang Madura dan Jawa, ada cerita ekstream dari Seorang sahabat saya yang tidak boleh menikah dengan orang Madura karena  perbedaan adat, kebiasaan dan Budaya, pesan orangtuanya sebelum berangkat ke Jember memang tidak boleh mencari Jodoh orang Madura, tetapi, didalam pergaulannya selama di Jember, sahabat saya sangat senang berinteraksi dengan kami orang Madura bahkan kita saling tukar bahasa, jadi saya bicara dengannya memakai bahasa Jawa dan dia harus menjawab dengan bahasa  Madura, sangat akrab dan Lucu interaksi dalam persahabatan kami.

Cintai dan rawat budaya sendiri yang baik, pelajari dan niat khusnuzdzon memahami budaya lain,

Pernah juga seorang teman tidak mendapatkan restu dari orang tua perempuan Jawa Karena yang laki-laki berdarah Madura, seorang teman tersebut memiliki niatan untuk menikahi setelah kurang lebih empat tahun saling kenal dan alasannya karena gaya bicara kami serta beberapa stereotipe terhadap orang Madura itu. Mungkin karena alasan itu juga banyak kejadian lelaki Madura tidak direstui oleh orang tua perempuan Jawa. Dari beberapa kejadian kandasnya sebuah Tali cinta lelaki Madura dengan Jawa terutama Jawa Kulonan karena perbedaan itu, tetapi juga tak jarang dari mereka ada yang jadi menikah karena perempuan jawa tersebut masih memiliki darah Madura, kalau yang sama-sama murni Suku tak jarang kandas. Memang ada mitos ataupun kayakinan di Jawa bahwa perempuan Jawa tidak boleh menikah dengan lelaki Madura. Tak Jarang pernikahan antar suku ini kandas hanya karena mitos tersebut, kalau dicermati dengan baik sebenarnya pernikahan itu bukan tentang dengan suku dan perbedaan itu semua. Kalau memang niatan baik untuk menikah dan tidak ada niatan yang lain selain karena niatan karena Allah SWT, menjalankan kebaikan, melanjutkan keturunan baik,dan  meperjuangkan kebaikan,tentunya hal seperti itu tidak perlu terjadi. Pernikahan bukan gerbang menuju kebaikan kenapa harus dibatasi oleh mitos yang berujung stereotipe tersebut. Insyaallah kalau semua niatannya baik, menikah dengan suku manapun Endingnya akan baik. Hilangkan stereotipe tidak baik dibenak anda, tidak semuanya seperti itu. Cintai dan rawat budaya sendiri yang baik, pelajari dan niat khusnuzdzon memahami budaya lain, alangkah eloknya bila saling memahami antar suku, agama, ras dan golongan di Negeri Bhineka ini.


Sabtu, 04 Februari 2017

KEINDAHAN DAN SEJARAH NUSANTARA BUMI PATRIA #3

12:49:00 AM 0
          Belum puas sampai disitu  aku diajak keliling kota Blitar, sama temenku. Masih tak luput dengan rutinitas kita yakni ngopi, kita singgah disudut kota dengan harga murah meriah dan menikmati senja di sudut kota Blitar. Kiranya kurang afdol kalau ke suatu kota belum main ke titik pusat kota tersebut, selanjutnya kita memutuskan ke alun-alun kota dengan cuaca yang gerimis kita menyusuri jalanan. Karena belum melaksanakan sholat magrib, kita memutuskan meneduh dan melakasanakan sholat di masjid Agung, setelah cukup lama memotret sudut Masjid Agung ini. dan mengelililingi sudut kota patria ini dengan hamparan alun-alun kota yang berhadapan dengan kantor Bupati, Walikota Blitar dan masjid Agung, tak selang beberapa lama kita balik kerumah temenku, karena masih ada titipan dari ibunya temenku.
Ruang Depan Masjid Agung Blitar

Sesampai dirumah mulai istirahat karena keesokan harinya ada rencana ke candi Panataran dan rumah bungkarno, tetapi dengan berat hati mengurungakan niat itu, karena keesokan harinya hujan seharian mengguyur Blitar. Sampailah pada hari terakhir aku di Blitar, malam minggu aku diajak kerumah temenku, dan paginya persiapan balik Kota Suwar Suwir.
Gong Perdamaian Di Komplek Makam Bung Karno

Pagi Jam 6.13 WIB, kita  pulang ke Jember disepanajng perjalanan saya disuguhi perbicangan temenku ala pemandu wisata. Ditunjukkan Kampung Coklat yang tak jauh dari desa temenku dan masih satu kecamatan dengan desanya. Setelah itu tak luput banyak cerita tentang bukit yang mirip Raja Ampat di Papua, cerita Desa di Lereng gunung kelud yang penuh mistis sampai Goa yang konon ada seekor macannya. Sesampainya di bendungan Waduk karangkates kita sempat berselfie ria disana. Kita lanjutkan perjalanan menuju jember dengan Sepeda Motor Honda Supra Mesin 1900an ini.

Teman Perjalanan Si Gresik 


sepanjang perjalanan saya mencoba menghitung berapa truk pasir yang beropersi tersbut kurang lebih 30an itu hari libur, apalagi hari aktif bisa dibayangkan. Sesampainya di Pronojiwo Lumajang kita menyempatkan diri membeli oleh-oleh  Salak dari kebun langsung,  untuk oleh-oleh camer dan temen-temen kebetulan aku tak langsung pulang ke Jember, karena masih singgah ke rumah camer dan ke resepsiannya temen. Sekitar pukul 4 sore kita sampai dikosan jawa 6, kita tepar sebentar karena setelah magrib masih ada agenda bantu-bantu dirumah temen juga. Perjalanan Jember-Blitar-Jember cukup mengesankan dan cukup menghilangkan penat di tahun 2016.
Kawasan Waduk Karang Kates (Malang-Blitar)

Karena masih banyak tempat wisata di Blitar yang belum tersinggahi, nantia anterkan aku ya Rul menyusuri kotamu Kembali.


Sampai Jumpa lagi di #catatanholidy selanjutnya,….