Minggu, 20 September 2026

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso: Menelusuri Sejarah Para Pemimpin Bondowoso

5:44:00 AM 0



Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis dan sejarah yang menarik. Kabupaten ini menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai.

Secara geografis, Bondowoso merupakan daerah yang didominasi kawasan pegunungan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung yang telah menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini, antara lain Gunung Raung di sebelah selatan, kawasan Gunung Ijen di sebelah timur, serta Pegunungan Iyang di bagian barat. Kondisi geografis tersebut menjadikan Bondowoso dikenal dengan sebutan “The Highland Paradise”, sebuah gambaran tentang daerah dataran tinggi yang menyimpan kekayaan alam, perkebunan, budaya, dan sejarah.

Bondowoso juga berada di antara tiga wilayah yang memiliki hubungan erat secara geografis maupun historis, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Posisi tersebut membuat Bondowoso menjadi bagian penting dari kawasan Tapal Kuda dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Salah satu bagian menarik dari perjalanan sejarah Bondowoso adalah kisah mengenai para pemimpin yang pernah memegang tampuk pemerintahan. Nama Ronggo memiliki tempat tersendiri dalam sejarah awal Bondowoso. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro.

Dari masa ke masa, Bondowoso terus mengalami pergantian kepemimpinan. Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya masing-masing dalam perjalanan daerah ini.

Berikut adalah daftar nama para pemimpin Bondowoso sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah yang menjadi sumber tulisan ini.

Jejak Para Pemimpin Bondowoso

No.Masa JabatanNama/Jabatan
11819–1830Ronggo Mas Ngabehi Kerto Negoro (Raden Bagus Asra)
21830–1850Ronggo II Mas Ngabehi Kertokoesoemo (Djoko Sridin, putra Raden Bagus Asra)
31850–1866Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
41866–1879Regent van Bondowoso Raden Tumenggung Wirodipuro (Abdurrachman)
51879–1891Regent, Hoofd van Regentschap Raden Tumenggung Wondokoesoemo
61891–1908Regent, Hoofd van Regentschap Adipati Raden Tumenggung Kertosoebroto (Ismail)
71908–1925Regent, Hoofd van Regentschap RP. Sentot Sastroprawiro
81925–1928Regent, Hoofd van Regentschap RTA. Tirtohadisewojo
91928–1934Bupati RT. Prodjodininggrat
101934–1938Bupati RT. Herman Hidajat
111938–1945Bupati RT. Sjafiodin Admosoedirjo
121945–1946Bupati R. Soetandoko
131946–1949Bupati RT. Saleh Soejaningprodjo
141949–1950Bupati RT. Badroes Sapari
151950–1951Bupati R. Koesno Koesoemowidjojo
161951–1956Bupati RH. Iskandar Z. Soedarmo Soemodiprodjo
171957Bupati Soejarwo
181957–1958Bupati R. Soetowo
191958–1959Bupati Djomadi Moespan
201959–1964Bupati Soetowo
211964–1965Bupati Soemarto Partomihardjo
221965–1973Bupati Mayor R. Arifin Djauharman
231973–1978Bupati Kolonel R. Surono
241978–1983Bupati Kolonel Mochammad Suwardhi
251983–1988Bupati Kolonel H. Mohammad Rivai
261988–1993Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
271993–1998Bupati Kolonel H. M. Agus Sarosa
281998–2003Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
292003–2008Bupati Dr. H. Mashoed, M.Si.
302008–2013Bupati H. Amin Said Husni
312013–2018Bupati H. Amin Said Husni
322018–2023Bupati KH. Salwa Arifin
332025–2030Bupati Dr.K.H Abdul Hamid Wahid, M.Ag

Dari Ronggo Menuju Bondowoso Masa Kini

Perjalanan panjang Bondowoso menunjukkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan, jalan, perkebunan, atau bentang alamnya. Sejarah juga terbentuk dari manusia-manusia yang pernah hadir dan memimpin, serta masyarakat yang terus menjaga kehidupan daerah tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Ronggo menjadi salah satu pintu untuk mengenang awal perjalanan pemerintahan Bondowoso. Dari masa pemerintahan tradisional hingga masa pemerintahan modern, Bondowoso terus tumbuh dan mengalami berbagai perubahan.

Jejak tersebut dapat kita temukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan pemerintahan lama, kawasan perkebunan, tradisi masyarakat, hingga cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Bondowoso hari ini bukan hanya tentang sebuah kabupaten di kawasan Tapal Kuda. Bondowoso adalah perpaduan antara sejarah, alam, budaya, perkebunan, dan kehidupan masyarakat.

Kopi Bondowoso yang tumbuh di kawasan pegunungan, tape yang telah menjadi salah satu identitas kuliner daerah, kawasan Kawah Ijen yang menjadi bagian dari bentang alamnya, serta berbagai peninggalan sejarah merupakan bagian dari mozaik yang membentuk wajah Bondowoso.

Karena itu, mengenal Bondowoso tidak cukup hanya dengan melihat keadaan Bondowoso hari ini. Kita juga perlu menelusuri jejak masa lalunya.

Dari kisah Raden Bagus Asra, perjalanan para Ronggo dan bupati setelahnya, hingga Bondowoso masa kini, semuanya merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Jejak itu masih ada.

Ia hidup dalam nama-nama tempat, bangunan bersejarah, perkebunan, tradisi, makanan, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif orang-orang Bondowoso.

Jejak Ronggo di Bumi Bondowoso adalah upaya kecil untuk mengenang perjalanan tersebut—agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita Bondowoso yang terus berjalan menuju masa depan.

Selasa, 21 Oktober 2025

Menumbuhkan Suara, Imajinasi, dan Cinta Buku: Catatan dari Bimbingan Teknis Membaca Nyaring di Bondowoso

9:42:00 AM 0


Ada yang istimewa di bulan Oktober ini bagi dunia literasi Bondowoso. Selama sepekan penuh, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso menggelar Bimbingan Teknis Membaca Nyaring (Reading Aloud) — sebuah kegiatan yang bukan hanya mengajarkan cara membaca, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk mencintai buku dan berbagi cerita. Kegiatan ini dibagi menjadi tiga gelombang dengan total 150 peserta dari berbagai kalangan.

Gelombang pertama (13–14 Oktober 2025) diikuti oleh para ibu rumah tangga yang tergabung dalam anggota PKK dari 5 kecamatan, yakni Kecamatan Kota, Curahdami, Tegalampel, Tenggarang, dan Grujugan

Gelombang kedua (15–16 Oktober 2025) diikuti oleh guru PAUD dan TK Kabupaten Bondowoso.

Gelombang ketiga (17 dan 20 Oktober 2025) melibatkan pegiat literasi dari berbagai taman baca, komunitas, dan lembaga pendidikan.

Belajar dari Para Narasumber Inspiratif

Pada kegiatan ini, dua narasumber utama hadir membawakan materi yang begitu bernas dan menggugah. 

Materi pertama berjudul “Memasyarakatkan Literasi untuk Membangun Negeri” disampaikan oleh Ibu Evy Yulistiowati Pramono, S.Pd. Beliau adalah fasilitator Parenting dari Save the Children Indonesia, guru Bimbingan Konseling, Instruktur Nasional Bimbingan Konseling, sekaligus pengelola PAUD dan TK Anak Sholeh Bondowoso.

Dalam paparannya, Ibu Evy mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kecakapan hidup — bekal untuk berpikir kritis, bijak menggunakan informasi, dan menjadi manusia yang berdaya. Beliau juga membagikan tips-tips sejahtera dengan literasi, membangun kebiasaan membaca dalam keluarga, dan bagaimana menumbuhkan anak-anak yang cinta ilmu.

Materi kedua, “Reading Aloud (Membaca Nyaring)”, dibawakan oleh Ibu Ludfi Dian Wahyuni G., S.Pd., M.Pd. Seorang pegiat literasi, guru TK, pencipta lagu anak, penulis buku cerita anak, sekaligus praktisi pendidikan yang sangat berpengalaman. Dengan gaya ceria dan interaktif, Ibu Dian mengajak peserta mempraktikkan langsung membaca nyaring — bagaimana memainkan intonasi, logat, tempo, dan karakter suara saat bercerita. Suasana pelatihan berubah menjadi penuh tawa, antusiasme, dan energi positif.

Transparansi dan Komitmen: Literasi dari Dana ke Aksi

Menurut Ibu Nuriya Ima Shinta, S.T., M.T., atau yang akrab disapa Ibu Ita, selaku Kepala Bidang Perpustakaan, kegiatan ini didanai melalui DAK Non Fisik.
Beliau menegaskan bahwa seluruh penggunaan dana dilaksanakan secara transparan dan terbuka, dan yang lebih penting, kegiatan ini memiliki dampak nyata bagi penguatan gerakan literasi di Bondowoso.

“Ibu-ibu PKK, guru PAUD, TK, dan pegiat literasi adalah ujung tombak dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat,” ujar beliau.
“Dengan membaca nyaring, anak-anak bisa tumbuh dengan imajinasi yang lebih luas, dan para pendidik bisa menjadi fasilitator yang inspiratif. Ini juga bagian dari dukungan terhadap Perda Gerakan Literasi Daerah (GELIDA), agar literasi benar-benar hidup sampai ke akar rumput.”

Sambutan dan Harapan untuk Gerakan Literasi Daerah

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bondowoso, Ibu Nunung Setianingsih, M.M., menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan ini. Beliau berharap agar hasil bimtek tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi bisa diterapkan di sekolah, taman baca, dan komunitas masing-masing.

“Semoga kegiatan seperti ini menjadi bagian dari gerakan literasi yang berkelanjutan, mendukung Perda Literasi, dan menguatkan Bondowoso sebagai daerah yang cakap literasi.”


Refleksi Pribadi: Small is Beautiful

Sebagai salah satu pegiat literasi dan pendongeng dari TBM Sakola Pekarangan sekaligus pendiri Pekarangan Institute, saya merasa kegiatan ini seperti menanam benih di taman pengetahuan. Setiap peserta membawa pulang semangat baru, dan saya percaya dari ruang-ruang kecil inilah perubahan besar berawal.

Saya sering menyebutnya, “Small is Beautiful.” Dari membaca satu buku bersama anak, dari satu dongeng yang dibacakan dengan cinta, dari satu guru yang berani mencoba membaca nyaring di kelas — semua itu bisa menumbuhkan gelombang literasi yang indah.

Semoga ke depan, kegiatan seperti ini terus berkembang menjadi Festival Literasi, Talkshow Buku, dan pelatihan relawan literasi, melibatkan orang tua, guru,ustadz, aktivis, dan tentu saja anak-anak Bondowoso. 
Karena literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi tentang menyemai harapan dan menumbuhkan manusia yang berdaya.

____

Salam Literasi, 
Holidi
Pegiat Literasi | Pendongeng | Pendiri Pekarangan Institute
Bondowoso, Oktober 2025